Saladin, “Mentega” dan “Teori Relativitas Siwak”

Siang hari tadi, seorang ustad asal Betawi yang memiliki sense of humour tinggi menghaturkan kisah unik berikut ini. Saya ingin bagikan di sini, tentu saja tanpa bisa menghadirkan nikmatnya menyaksikan gerakan teatrikal ustad itu saat berkisah.

Dalam suatu undangan ceramah maulid di daerah Jakarta, satu dari 15 khatib yang tampil di panggung mengisahkan peristiwa yang terjadi di masa Salahudin al-Ayubi. Jenderal perang yang di dikenal dengan panggilan Saladin itu suatu kali pernah kalah perang.  

Dirundung penasaran, dia menyebar orang-orang kepercayaannya untuk memantau pasukan dan memberikan kesimpulan tentang sebab kekalahan perang.  

Setelah beberapa hari mengumpulkan data lapangan secara diam-diam, tim pencari fakta ini akhirnya menemukan suatu poin penting untuk diutarakan kepada Saladin.  

“Hormat Komandan! Selidik punya selidik, kami menemukan bahwa gigi pasukan kita padanya umumnya telah menguning  seperti mentega. Dan ini artinya mereka telah meninggalkan sunah Nabi.” 

“Sunah apa itu?” tanya Salahuddin makin penasaran. 

“Mereka meninggalkan sunah bersiwak!” 

Geram mendengar laporan ini, Saladin segera memerintahkan tim khusus untuk merambah hutan dan menebang ratusan pohon untuk diserut menjadi ribuan batang siwak. 

“Prajurit yang tidak bersiwak akan dihukum keras!” seru Saladin di hadapan ratusan kepala unit. 

Keesokan harinya, ratusan ribuan prajurit yang berkemah di padang pasir segera menggosok gigi mereka masing-masing. Setiap menjelang shalat lima waktu, sehabis makan, dan mau tidur.  

Saat inspeksi lapangan, Saladin memeriksa satu per satu keadaan gigi pasukannya. Meski belum sepenuhnya puas, tapi dia lumayan lega melihat “mentega” di gigi pasukannya sudah mulai terkikis. Gigi-gigi mereka kini sudah mulai memutih. 

Beberapa hari selanjutnya, pihak musuh mengirim tim pengintai untuk mengamati pasukan Saladin. Melihat pasukan Saladin yang tidak henti-hentinya menggosok gigi, setidaknya sembilan kali sehari, tim pengintai jelas menemukan adegan yang sama sekali di luar dugaan. 

Tak tahu harus memberikan laporan apa pada komandan, tim pengintai secara cerdas menyimpulkan begini, “Hormat, Komandan! Pasukan Muslim bukan saja sedang bergiat mengasah pedang, tapi kini mereka telah mulai juga mengasah gigi. Boleh jadi, mereka akan menghadapi kita dengan segala cara, termasuk strategi gigit-menggigit dengan gigi-gigi tajam mereka.” 

Sang khatib pun kemudian mengajukan moral ceritanya, “Jadi, sunah Rasulullah untuk bersiwak itu bukan saja untuk membersihkan gigi, tapi juga untuk menakut-nakuti musuh. Terbukti, Salahuddin akhirnya menang menghadapi musuh.” 

Selamat, Pak Khatib! Kesimpulan di atas mungkin bisa dijadikan pijakan awal untuk merumusan “teori relativitas siwak” sebagai tandingan atas “relativitas” Einstein yang Yahudi itu. Nyok kita berdoa bersama-sama.   

2 thoughts on “Saladin, “Mentega” dan “Teori Relativitas Siwak”

  1. musakazhim says:

    Meski pernah dengar cara bernalar yang liar2, tapi kalo ada yang mau bikin MURI untuk kategori penalaran liar ana nominasikan buah nalar pak ustadz di atas ini….hehehehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s