Kado Maulid—Kritik atas Ulil Absar ihwal Kemaksuman Nabi (2)

Bahasan tentang sudut-pandang di bagian sebelumnya saya pakai sebagai pengantar sederhana untuk membahas masalah inti yang saya potong dalam dua bagian. Sekitar awal bulan kemarin, saya membaca tulisan Sdr. Ulil di situs Jaringan Islam Liberal (07/01/08) yang berjudul “Doktrin-doktrin yang Kurang Perlu dalam Islam”. Dalam esai itu, Sdr. Ulil mencampur-adukkan dua sudut-pandang yang menurut saya agak ribet: sudut-pandang terhadap orang beragama (Muslim) dan sudut-pandang terhadap konsep agama (Islam).

Akibatnya, ajakan moral pada kaum beragama (Muslim) untuk rendah hati itu bisa dianggap sebagai kritik ambisius atas konsep agama (Islam). Malah, rasanya tidak berlebihan jika ada orang yang beranggapan bahwa kalimat pembuka di awal paragraf yang mengajak orang beragama (Muslim) untuk merendahkan hati itu sekadar pemanis mulut, lantaran sasaran kritik Sdr. Ulil sebenarnya adalah Islam itu sendiri.

Marilah kita periksa paragraf pertama tulisan Sdr. Ulil tersebut. Di awal paragraf, dia menulis begini, “Saya hanya ingin menganjurkan suatu corak keberagamaan yang rendah hati, yang tidak arogan dengan mengemukakan kleim-kleim yang berlebihan tentang agama. Jika Islam menganjurkan etika “tawadlu’”, atau rendah hati, maka etika itu pertama-tama harus diterapkan pada Islam sendiri. Mengaku bahwa agama yang paling benar adalah Islam jelas menyalahi etika tawadlu’ itu.”

Dalam paragraf awal ini, Sdr. Ulil telah memunculkan dua ajakan yang berangkat dari dua sudut-pandang yang berbeda. Bila tidak menyadari bahwa Sdr. Ulil telah mengubah sudut-pandang, tentu kita bisa pusing tujuh sampai beberapa belas keliling. Pertama, dia ingin “menganjurkan suatu corak keberagamaan yang rendah hati” dan ingin kerendah-hatian itu diberlakukan pada “kleim-kleim yang berlebihan tentang agama”. Kedua, bertolak dari ajakan moral yang dapat dengan mudah kita terima itu, dia berjibaku dengan mengambil sudut-pandang lain, “Jika Islam menganjurkan etika “tawadlu'”, atau rendah hati, maka etika itu pertama-tama harus diterapkan pada Islam sendiri.”

Di sini, menurut saya, telah terjadi perubahan sudut-pandang yang terlalu melompat. Mengapa? Karena, corak keberagamaan yang rendah hati menyangkut pola seseorang dalam beragama, demikian pula dengan “kleim-kleim yang berlebihan tentang agama”. Meskipun dalam dua kalimat itu saja kita sudah merasakan pergeseran sudut-pandang secara halus, tapi kedua ajakan rendah hati itu samar-samar masih menyasar pada pribadi orang yang beragama.

Sayangnya, dalam kalimat lanjutan yang dirames seolah-olah sebagai lanjutan dari ajakan moral rendah hati yang dengan mudah bisa diterima semua orang itu, Sdr. Ulil mengajak kita untuk menerapkan etika rendah hati itu pada Islam sendiri. Melalui kalimat terakhir ini, Sdr. Ulil rupanya inign mengajak kita merendahkan “hati” Islam. Sasaran ajakan rendah hati Sdr. Ulil kini sudah bukan lagi terkait dengan pribadi orang beragama yang memang memiliki hati, tapi dia melempar lembing kritiknya pada Islam itu sendiri. Sebagai rangkaian konsep abstrak, rasanya agak berlebihan bila Islam kita minta untuk rendah hati.

Lebih dari sekadar berlebihan, ajakan ini sebenarnya mengandung sejumlah kesesatan logika. Antara lain, cum hoc ergo propter hoc, yaitu karena orang beragama banyak yang tidak rendah hati, berarti agama itu sendiri tidak rendah hati. Atau, meminjam istilah Pak Alfred North Whitehead, terdapat kesalahan berpikir yang umum berlaku dalam diskusi-diskusi filsafat dan teologi yang disebut dengan misplaced concreteness (konsep agama ditempatkan setara dengan pola orang beragama).

Bila kita mau melangkah lebih jauh dengan kesalahan berpikir ini, mungkin kita harus lebih “berani” lagi dengan mengajak rendah hati untuk lebih merendahkan hati—semata-mata dengan argumen “Jika rendah hati itu menganjurkan etika rendah hati, maka rendah hati itu pertama-tama harus diterapkan pada konsep rendah hati sendiri.” Nah, kalau sudah begini, apa kata dunia coba? Cara berpikir ini akan membawa kita pada daur yang tidak berujung: siapakah yang seharusnya merendahkan hati terlebih dahulu dalam usaha menciptakan rendah hati kolosal ini?

Jadi, di paragraf pertama ini saja, Sdr. Ulil telah menggonta-ganti sudut-pandang argumennya dari ajakan rendah hati pada orang yang beragama (Islam) menjadi ajakan merendahkan “hati” agama (Islam) itu sendiri. Bahkan, jika kita anggap ajakan untuk merendahkan hati Islam itu sahih secara logika, cara berargumen dari sesuatu yang umum diterima (musallam) berupa sikap rendah hati menuju ajakan “merendahkan hati” Islam itu mengandung sophistry yang mencolok.

Sebenarnya, saat pertama kali membaca paragraf awal itu, saya tak ingin buru-buru menyimpulkan perubahan sudut-pandang Sdr. Ulil yang sangat dramatis ini. Tapi, apa mau dikata, saya dikejutkan oleh penegasan perubahan itu pada paragraf-paragraf selanjutnya. Misalnya, Sdr.Ulil seterusnya menulis begini, “Banyak hal dalam agama yang jika dibuang sebetulnya tidak mengganggu sedikitpun watak dasar agama itu. Oleh para pemeluk agama, banyak ditambahkan hal baru terhadap esensi agama itu, sekedar untuk menjaga aura agama itu agar tampak “angker” dan menakutkan di mata pemeluknya. Saya akan mengambil contoh Islam.”

Nah, pada paragraf kedua ini, Sdr. Ulil kembali menegaskan bahwa ajakannya untuk rendah hati itu bukan ditujukan pada pribadi orang yang beragama atau katakanlah konsep keberagamaan belaka, tapi pada Islam sebagai konsep keagamaan itu sendiri. Penggantian sudut-pandang semacam ini jelas merugikan halusnya tutur bahasa Sdr. Ulil di awal paragraf yang ingin mengubah cara beragama umat menjadi kritik irelevan atas Islam sebagai konsep agama itu sendiri.

Pada bagian 3 rangkaian tulisan ini, saya akan mengambil satu saja dari doktrin yang menurut Sdr. Ulil perlu diubah demi mewujudkan Islam yang “rendah hati”– whatever that means! Doktrin itu tak lain ihwal kemaksuman Nabi.

4 thoughts on “Kado Maulid—Kritik atas Ulil Absar ihwal Kemaksuman Nabi (2)

  1. jika tulisan ini sudah selesai, kami mohon izin untuk memuat tulisan Antum ustadz. Karena isinya terkait dengan materi sekolah revolusi kesadaran yang kami adakan bagi kader-kader kami, yaitu materi fallacy.

    Hormat kami
    Pengurus HMI Komisariat Hukum UNS

    Ahmad Marthin H.
    Adilla Prasetyo W.
    Yasser Arafat (http://www.ressay.wordpress.com)

  2. Frodo says:

    JIL Guy …

    (I announced before) … Guy from Village that lookin’ for free scholarship to US.

    Work hard guys … Easy to say, your all theories come from ASS !!

  3. Badari says:

    Salam ‘alaykum.
    Saya menunggu dgn antusias lanjutan tulisan Pak Musa perihal doktrin kemaksuman para nabi, yg dipandang oleh Ulil sebagai tidak perlu.
    Bagi saya, ini merupakan bahasan yg cukup pelik karena dalam umat Islam sendiri terjadi perbedaan yg cukup mencolok mengenai tafsir atas tema kemaksuman, cakupan & contoh-contohnya. Tiap pendapat tentang kemaksuman menggunakan ayat2 Al-Quran (& hadis) utk membuktikan, menunjukkan kebenaran sudut pandangnya tentang kemaksuman.
    Saya harap tulisan Pak Musa perihal doktrin kemaksuman bisa memberikan kepuasan intelektual, terutama bagi saya yg masih bingung dan belum 100% terpuaskan secara intelektual. Ditunggu tulisannya, Pak.
    Salam ‘alaykum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s