Kado Maulid—Kritik atas Ulil Absar ihwal Kemaksuman Nabi (Terakhir)

Dalam tulisan yang berjudul “Doktrin-doktrin yang Kurang Perlu dalam Islam”, Sdr. Ulil Absar berpendapat begini, “Menurut saya, doktrin ini sama sekali tak berkaitan dengan inti dan esensi agama Islam, dan karena itu kurang perlu. Jika doktrin ini dihilangkan, Islam tidak menjadi kurang nilainya sebagai sebuah agama. Mengatakan bahwa manusia, apapun namanya (entah Nabi, Rasul, Imam [dalam Syiah], Paus [dalam Katolik]) sebagai “infallible“, tidak bisa berbuat salah, jelas tak masuk akal.” 

Gugatan Sdr. Ulil terhadap doktrin kemaksuman ini ternyata sama sekali tidak didukung oleh bukti apapun. Padahal, penggugat seharusnya mengajukan bukti untuk setiap gugatannya. Saya sendiri hanya akan menunjukkan 12 kelemahan gugatan ini, tanpa perlu mengajukan dalil baru sesuai prinsip necessitas probandi incumbit ei qui agit (keharusan mengajukan bukti berada pada pihak penggugat). 

(1) Gugatan ini sebenarnya menunjukkan pesimisme—untuk tidak menyebut agnotisme—terhadap batas akhir kesempurnaan manusia. Seluruh fakta ilmiah yang menunjukkan ketidakterbatasan potensi manusia seketika runtuh dihantam palu godam “manusia pasti bersalah”. Kita tahu bahwa konsekuensi pernyataan “manusia pasti bersalah” adalah “manusia tak mungkin sempurna”. Padahal, secara prima facie, ilmu terus mengguyur bukti potensi kesempurnaan manusia yang tidak terbatas.  

(2) Segenap fakta ilmiah di atas tidak bisa kita buang begitu saja lantaran kita tidak pernah menemukan orang sempurna. Siapa kita gitu lho? Apa kita sudah bertemu seluruh manusia yang pernah hidup di masa lalu hingga akhir masa? Atau jangan-jangan induksi kita amat sangat terbatas? Atau mungkin kita tidak punya gambaran tentang kesempurnaan (manusia) yang definitif? Atau, dan ini lebih gawat, kita sudah terlalu negative thinking terhadap kemanusiaan hingga tak mampu lagi memberi peluang adanya manusia sempurna yang tidak bersalah itu? 

(3) Sampai di sini, secara res ipsa loquitur, gugatan itu sepertinya justru menunjukkan kelemahan penggugat dalam mengabstraksi konsep kesempurnaan. Misalnya, begitu ada orang yang menyebut Nabi Muhammad sebagai manusia sempurna yang tak bersalah, maka daya abstraksinya langsung lumpuh dan berubah menjadi negatif. Dia puncaknya memproyeksikan kekurangan-kekurangan dirinya pada Sang Nabi tersebut.  

(4) Selanjutnya, salah satu alasan yang sering diajukan penggugat konsep kemaksuman ialah asumsi keliru bahwa ketakbersalahan merupakan sifat khusus Allah. Tapi, benarkah demikian? Sama sekali tidak! Kesalahan itu adalah konsep dalam pikiran manusia, lantaran “salah” itu bergantung pada sesuatu yang lain. Misalnya, saat kita berbicara tentang arah, barulah kita bisa berbicara tentang “arah yang benar” dan “arah yang salah”. Padahal, di sisi lain, sifat-sifat Allah jelas tidak bergantung dan mutlak.  

(5) Nah, dalam konteks manusia, ungkapan “salah” itu bisa memiliki banyak makna, yang semuanya bergantung pada sesuatu yang lain. Misalnya, “salah” dalam hubungannya dengan akal, kita sebut “sesat”; “salah” dalam hubungannya denga moralitas, kita sebut “buruk”; “salah” dalam hubungannya dengan tubuh, kita sebut “sakit” atau “cacat”; dan demikian seterusnya. Jadi, “salah” itu adalah istilah yang mesti memiliki relasi dengan objek lain: salah pikir; salah paham; salah duga; salah kerja; salah tulis; salah omong; salah obat; salah makan dan sebagainya. 

(6) Sekarang, coba kita ambil pernyataan “manusia pasti bersalah” secara apa adanya, lalu kita lihat implikasinya. Jika pernyataan yang mengandung kepastian itu benar, maka hasil akhirnya adalah seperti ini: pernyataan itu pasti salah karena manusia yang menyatakannya juga pasti bersalah! Eh, kok jadi begini ya?  

(7) Berhadapan dengan dilema di atas, sebenarnya kita punya alternatif yang melegakan: sebagian manusia pasti tidak bersalah, lantaran pernyataan “semua manusia pasti bersalah” adalah mutlak salah. Masalahnya kemudian adalah siapa mereka? Bagaimana kita tahu bahwa mereka tidak mungkin bersalah? Kedua pertanyaan ini tidak akan saya jawab, mengingat sudah jelas yang kita maksud di sini adalah para nabi, terutama Nabi Muhammad dan semua manusia suci lain yang secara ketat berproses mendaki ambang akhir kesempurnaan. 

(8) Pertanyaan selanjutnya: Apakah alam ini adalah sistem yang sempurna? Kalau iya, kita bertanya lagi: Apakah manusia termasuk dalam sistem yang sempurna itu? Rasanya tidak sulit untuk membuktikan bahwa manusia adalah sempurna—sesempurna atau lebih sempurna dari ciptaan lain. Bahkan, secara prima facie, manusia memiliki potensi kesempurnaan yang tak terbatas. Orang yang menolak fakta ini harus mengajukan bukti, sementara yang menerimanya hanya cukup duduk santai menunggu.

(9) Di sini saya ingin mengambil ilustrasi dari desain sebuah pesawat. Jika ada pesawat yang bisa terbang sejauh 60.000 kaki di atas permukaan laut, maka tentu secara logis kita mesti menerima fakta bahwa pesawat itu minimal bisa terbang. Anggapan bahwa pesawat itu pasti jatuh (error) sebelum terbang serta merta gugur saat pesawat itu telah kita postulatkan mampu terbang di atas 60.000 kaki.  

(10) Dalam konteks manusia, anggapan bahwa “manusia pasti bersalah” bertentangan dengan seluruh temuan saintifik menyangkut ketakterbatasan potensi manusia. Jadi, pertanyaan yang benar ialah sebagai berikut: Siapakah manusia-manusia yang tidak bersalah dan terus melejit mendaki puncak-puncak kesempurnaan itu?  

(11) Orang-orang beragama percaya, tentu berdasarkan bukti-bukti logis-filosofis-teologis, bahwa para nabi dan imam tidak mungkin bersalah lantaran “tidak bersalah” itu adalah syarat minimal bagi mereka untuk menjadi nabi dan berhubungan dengan wilayah transenden Ilahi. Tanpa syarat minimal itu, mereka tidak akan menjadi nabi atau imam. Fungsi kenabian dan keimaman itu pun gugur. Lebih dari itu, para nabi dan imam adalah model kesempurnaan manusia. Jika model itu saja sudah pasti error, maka tentu Tuhan Pencipta manusia ini jauh di bawah kemampuan seorang insinyur atau desainer yang setidak-tidaknya mampu memproduksi model yang bebas-cacat atau bebas-galat (error-proof). 

(12) Terakhir, ini adalah salah satu argumen teologis paling sederhana: sebagai utusan, nabi sudah sewajarnya mendapat perlindungan khusus dari Allah. Jika Anda bekerja untuk badan keamanan nasional, maka negara akan menjamin dengan segenap kekuatannya untuk menjaga dan menyukseskan tugas Anda. Apapun bentuknya. Nah, bukankah para nabi (dan imam menurut mazhab Syiah) lebih patut secara logis mendapat perlindungan dari Allah dari segala sesuatu yang dapat menghalangi pelaksanaan tugas-tugasnya, terutama lantaran tugas-tugasnya memiliki cakupan yang universal?

26 thoughts on “Kado Maulid—Kritik atas Ulil Absar ihwal Kemaksuman Nabi (Terakhir)

  1. Ema Rachman says:

    Allah telah memberikan kita akal yang harus dimaksimalkan potensinya terus-menerus dengan kebersihan hati (salah satunya), terlihat ada cara berpikir yang ‘cacat’ dalam diri Ulil yang merasa dirinya liberal, tetapi liberal di sebelah mananya, sungguh kontradiksi, seorang yang membatasi cara berpikirnya sementara Allah telah memberikan kebebasan berpikir. Masalahnya dia tidak mencari ‘kebenaran’ , tetapi demi ego nya atau ego siapa lah sehingga membuat dia sedemikian ‘kerdil’nya. Kebenaran itu tidak mungkin diraih dengan adanya campur tangan kehendak ‘ego’, apalagi bila ingin MENUTUPI kebenaran itu sendiri!!

  2. Frodo says:

    Susah Ust, kalo ngomong gak mateng dan POWERFULL model mereka dibandingin seperti uraian antum yang “cuma” 12 rangkaian.

    Kalimat “asal2″-an mereka Sine Qua Non … BEASISWA US !!! (Hmmm, $ $ $ $ $ banyaksekalionnn’)

    Abis apa lagi … link sosial politik nggak ada, demonstrasi–takut ketangkeppp’, basis kulturnya abangan ke-santri-santrian(Gertz), yaahhh …
    akhirnya kayak gitu itu. Ngomongnya ‘rodho” ‘nGawur … tapi kelihatan sepintas “rodho” solehh …

    Lha’ kok soleh-soleh bahlul sama konten agama yang memang gak semuanya bisa di akses “perkampungan” di sekitar “perkauman” mereka sehari2. Belum lagi, strata legitimasi mereka sejak kecil sudah menunjukkan–kata thomas negel–keyakinan (penuh prasangka) yang mirip2 BENAR. Jadi cuma mirip2 DOoooooaaAAAnNGG !!
    Yang pergi jauh2 ke negeri pusat kajian ke-Islaman saja banyak yang kesulitan, ‘pa lagi yang cuma plesiran kesono-kemari.

    Karena kesimpulan yang dibikin serba mirip2, sudah pasti keliru. Dalam tendensi waktu yang lebih lama bisa “gokil” juga. Menclok sana-sini. Jadi “parapraxis” merujuk kepada “physical action” yang super … keliru(Freud).

    Buas mas ulil dan anggota ,… belajar lagi yahh.

  3. musakazhim says:

    Trixi,
    Sudah begitu banyak temuan riset saintifik yang menunjukkan betapa tidak terbatasnya potensi manusia: mulai dari riset2 mengenai otak dan emosi, sampai organ2 tubuh manusia lain. Sebelumnya saya pernah menulis di blog ini juga tentang betapa manusia itu bisa hidup tak terbtas, dng membuang dan menambah unsur2 tertentu dalam tubuh. Rujuk posting saya sebelumnya.
    Berikut ini, saya cuplik tulisan dari http://www.itp-life.com/chronicles/partone.html yang berkaitan dengan organ otak manusia. Tentu saja ini semua saintifik, empiris. Kalau secara rasional filosofis, masalahnya sudah jauh lebih jelas dan umum diterima oleh para filosof sejak masa jauh sebelum Socrates.

    “Before discussing the evolutionary leveraging that has made us what we are, let’s examine the organ which in terms of size, function, and consequences most sets us off from our primate predecessors. Imagine your brain: three-and-a-quarter compact pounds of wet, slippery, blood-drenched protein and fat: the most complex, highly organized entity in the known universe. Weighing in at some two percent of our total body weight, it uses some 20 percent of our cardiac output. It is populated by as many as 100 billion twinkling neurons (brain cells), some with up to 10,000 or even more connections to other neurons.

    Over 70 percent of the neocortex, the outer layer of the brain, is committed to no particular function and is thus available for learning beyond anything we could presently imagine. The neo-cortex alone has some 10 billion neurons, with at least a million billion connections. If you tried to count just those connections, one per second, you’d finish counting 32 million years from now. The sum total of possible connections among all the neurons in the brain greatly exceeds the number of atoms in the known universe.”

  4. Saya setuju dengan pendapat anda. Tapi saya cuma ingin mengutip pendapat Quraish Shihab tentang firman Allah Swt yang berbunyi, “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu,” (QS Muhammad [47]: 19). Menurut Shihab (tafsir Al-Misbah, maaf, saya lupa jilid berapa), menyatakan bahwa ayat ini merupakan bukti bahwa Nabi Muhammad Saw pernah melakukan dosa. Karena itu, Allah memerintah Nabi Muhammad Saw untuk beristighfar.

    Namun, meskipun Nabi Muhammad pernah melakukan dosa, beliau langsung ditegur oleh Allah. Teguran langsung dari Allah saat Nabi Muhammad Saw melakukan “keteledoran” ini adalah bukti kemaksuman (maksum:dijaga) dari kesalahan.

  5. musakazhim says:

    Waduh…Bung Deny kayaknya seorang polemisis yang lazimnya memulai dengan kata, “saya setuju, tapi…”🙂
    Mengutip pandangan ahli biasanya (biasanya ini lho) membawa kesalahan berpikir yg disebut dengan argumentum ad verecundiam. Maksudnya, argumen yg membawa2 otoritas (Al-Qur’an) atau tokoh (Ustad Quraish).
    Dalam pandangan negatif-pesimistis, Tuhan pun dianggap pernah “berdosa” karena telah menciptakan setan dan manusia….he, he, he, he.
    Kata orang negatif-pesimistis, tanpa ada setan kan hidup manusia jadi jauh lebih mudah…hehehehehehe.
    Kalau kita ambil pandangan negatif-pesimistis tadi, kita bisa juga berpikir bahwa Tuhan gagal “menjaga” (memaksumi) Nabi-Nya, karena toh Nabi itu tetap juga berdosa.
    Tapi, pola pandang yang demikian ini sebenarnya menutup segala kemungkinan lahirnya potensi2 sempurna manusia–yang telah diakui oleh sains-sains rasional dan empiris. Dan semua itu, tentu juga didukung oleh Al-Qur’an dan hadis2. Tapi lain waktu saja kita masuk ke dua wilayah itu.

  6. sudiyono says:

    seperti halnya Om Deny sampaikan, soal Nabi Muhammad bisa berbuat salah justru didokumentasikan juga dalam Surat ‘Abasa (Surat 80), dimana Nabi berpaling ketika kedatangan seorang buta dan Nabi memilih menemui pembesar Quraisy. Teguran dari Allah itulah yang menjadi bukti sifat ma’shum Nabi Muhammad (10:15). Oleh sebab itu sikap/perbuatan/prilaku Nabi Muhammad sebagai manusia biasa ternyata selalu dibawah kendali wahyu Allah, dan pantaslah kalau para hamba Allah itu jika taat kepada Muhammad Rasulullah berarti taak kepada Allah.
    Bukan Allah gagal menjaga kema’shuman Nabi-Nya. Justru Allah menunjukkan bukti bahwa Allah selalau menjaga Nabi-Nya dari kesalahan, sehingga Nabi selalu terkendali wahyu (53: 1 s/d 4) dan Nabi terlindung oleh wahyu (QS. 46 : 9).

  7. salam,
    Saya hanya menguraikan fakta yang diabadikan dalam Alquran bahwa–sebagai manusia biasa–Rasulullah Saw pernah melakukan “keteledoran”. Seperti tanggapan Om Joko atas tulisan anda di milis INSISTS (saya menjadi pendengar setia dalam milis ini), disebutkan bahwa dalam surat ‘Abasa (80) rasulullah Saw ditegur Allah Swt lantaran berpaling ketika kedatangan seorang buta dan Nabi memilih menemui pembesar Quraisy. Dalam ayat lain (QS at-Tahrim [66]: 1) disebutkan teguran Allah kepada Rasulullah Saw saat beliau mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah, yakni mengharamkan isteri beliau (hafshah) karena saat beliau datang ke rumah Hafshah, Hafshah tidak ada. Kemudian Rasulullah berkata, “ia (Hafshah) haram atas ku” (Tafsir al-Jalalain).

    Apakah dengan adanya fakta yang dikemukakan Alquran saya menjadi ragu atas kemaksuman Nabi? Jelas tidak. Malah, dengan adanya teguran Allah tersebut, saya tambah yakin dengan kemaksuman Rasulullah, bahwa beliau benar-benar dijaga Allah. Fakta “keteldoran” Rasulullah Saw juga tidak menurunkan keyakinan saya bahwa beliau adalah manusia yang paripurna atau al-insan al-kamil dalam bahasa agama. Menurut saya, “keteledoran” Rasulullah yang langsung ditegur Allah Swt, adalah sebuah “tangga kehidupan” yang harus beliau lalui atau sebuah proses menuju al-insan al-kamil. wallahu a’lam.

  8. musakazhim says:

    Maaf, supaya jelas sejak awal. Tulisan saya di atas ingin menunjukkan bahwa kemaksuman adalah doktrin yang memiliki dasar2 logis dan saintifik yang kuat dan kokoh. Konsep ini adalah sebuah rigour yang diterima oleh banyak pemikir Islam.
    Ayat2 Al-Qur’an yang dipahami oleh sebagian mufasir sebagai tanda2 “keberdosaan” atau “kesalahan” Nabi, semuanya adalah asumsi. Sekitar 16 tahun lalu, Ayah saya pernah mebuat buku yang menjawab tiap kesalahpahaman itu. Tapi, yang lebih penting, tafsir Al-Qur’an membutuhkan pada metodologi yg tepat, sehingga semua penafsiran itu mengikuti metode yang tepat tadi. Kalau tidak, maka kita akan mengubah-ubah sudut-pandang seenaknya, dan menjadikan diskusi ilmiah seputar rigour kemaksuman Nabi Muhammad dan semua nabi lain menjadi ngalor ngidul. Katakanlah bisa kusut:-)
    Jadi, sebaiknya kita menjaga jarak dari memasuki medan tasfir yang luas itu, dan bertahan di tataran argumentasi rasional dan saintifik berkaitan dengan konsep kemaksuman.
    Kalo sudah cukup tuntas dan konklusif, barulah kita masuk ke detail2 ayat yang dimiskonsepsi dan dimisinterpretasi sebagai bukti Al-Qur’an yang menunjukkan atau merekam “kesalahan”, “keteledoran” atau “keberdosaan” Nabi Muhammad maupun nabi2 Allah lain.

  9. Badari says:

    Pak Musa, apa judul buku yg ditulis oleh ayah Anda utk menjawab kesalahpahaman tafsir “keberdosaan” Nabi dalam Al-Quran? Siapa nama ayah Anda? Di mana saya bisa beli buku tsb? Saya masih puyeng nih dgn tema ini. Salam ‘alaykum.

  10. musakazhim says:

    Buku yang menjawab kesalahpahaman itu rasanya sudah tidak ada lagi di pasaran. Saya sendiri sudah tidak punya naskahnya. Yg jelas, setelah mengarang buku itu, almarhum Ayah saya “diadili” oleh sekitar 200 kiai NU Jatim. Ironis, orang yang mencoba membela para nabi Allah menerima pengadilan dari kalangan yang merasa menjadi pengikut mereka.

  11. ranrose says:

    Saya kebetulan masih ada buku nya “Nabi Bermuka Manis TIDAK bermuka masam” By Ust. Husein Alhabsyi …..Boleh Dipinjam koq 😉

  12. ustadz, saya cari di wikipedia agnotisme itu gak ada. setelah saya cari agnostisisme, baru ada definisinya. apakah yang ustad maksud itu agnostisisme?

  13. musakazhim says:

    Iya, betul Ressay. Saya salah tulis. Tapi, yang saya maksud sebenarnya adalah a-gnosis = tanpa gnosis. Dan “gnosis” adalah kata Latin untuk irfan=pengetahuan metafisik. Wah, terlalu rumit? Ga juga kok. Tinggal pelan-pelan aja dikunyah, semuanya akan jadi gamoh.

  14. Badari says:

    @sanrose
    Saya tertarik meminjam buku “Nabi Muhammad saw. Bermuka Manis, tidak Bermuka Masam”. Apakah Sdr. ranrose bersedia meminjamkannya kpd. saya? Bila bersedia, mohon info via email ke saya: bajuri_badr@yahoo.com
    Saya mohon izin juga utk memfotokopinya. Terima kasih & Salam ‘alaykum.

  15. Lanang says:

    Klo saya tidak salah ingat ada tuh bab yang membahas penjelasan mengenai ayat2 Al Qur’an yang seolah-olah menggiring kita untuk menyimpulkan ketidakmaksuman para Nabi.
    Syeikh Ja’far Subhani membahas maslah ini dalam kitabnya Mafahimul Qur’an.

  16. denjaka syiah says:

    ulil ini apa ilmuwan beneran yah? terus gimana dengan Al-Quran yang di bawa oleh nabi Muhammad. Apakah dijatuhkan Allah dari langit, gedebuk? pas! jatuhnya di depan Rasulullah.
    kesadaran Allah itu tidak terinderawi oleh makhluk, maka Al-Quran adalah kontemplasi, monolog beliau dengan Nurani. Allah pasti menitipkan pegangan-Nya di alam penciptaan ini bagi makhluk lain, karena ketersembunyian-Nya. Kalau tidak hancurlah alam, berbenturan kayak bombomcar. Rasulullah adalah pegangan-Nya bagi makhluk lain itu. Rancangan alam yang sempurna ini berpusat pada rancangan penciptaan pegangan-Nya ini, maka kesempurnaan alam ini meniscayakan keberadaan figur yang maksum.

  17. saya pernah punya bukunya “Muhammad bermuka manis tidak bermuka masam” suatu hari dipinjam, trus dipijam,trus dipinjam…trus entah kemana lagi…dan hilang.hehehe sayang sekali karena susah dapatnya hari ini di pasaran. dan yang terpenting pada lembar pertama ditanda tangani langsung sama ust.muza saat ketemu di rausyan fikr jogja.

  18. baranng Siapa yang menolak bahwa ada mausia yang biasa terbebas dari keslahan Maka SEsungguhnya Ia Tidak pernah mempelajari Ilmu Islam yang sesunguhnya! (Sabda Said). saya sarankan Untuk Masa Ulil Absar Abdallah. untuk selalu belajar dan jangan hanya melahab Buku-buku dari Barat Juga Buku2 Islam kalasic donk… biara lebih elegan berbicara Nabi Khususnya Nabi Muahammad SAW. saya juga berupaya membaca buku2 islam…

  19. bob says:

    sebenarnya saya sangat berharap ustad musa membahas klaim “kebersalahan” nabi saww dari aspek nahwu shorof dan bahasa arab ttg ayat2 yg diselengkang penafsirannya oleh kebanyakan mufasirrin. sekaligus menjelaskan beda antara salah dan dosa…
    wassalam

  20. momod says:

    [quote=said] saya sarankan Untuk Masa Ulil Absar Abdallah. untuk selalu belajar dan jangan hanya melahab Buku-buku dari Barat Juga Buku2 Islam kalasic donk… biara lebih elegan berbicara Nabi Khususnya Nabi Muahammad SAW. saya juga berupaya membaca buku2 islam…[/quote]

    susah degh kang said kayanya, apalagi kalo sudah menjadi mata pencaharian ulil absar.

    perihal Nabi, saya sih yakin kalo nabi bebas dari dosa.
    kesalahan yg pernah dilakukan Nabi langsung ditegur ALLAH ini membuktikan kalau Nabi dijaga oleh ALLAH tidak terjerumus dalam kesalahan yg sama dan selamanya. ada juga yg menyebutkan dalam ranah pembelajaran.

  21. hendro says:

    Ustad, saya kebetulan beberapa hari yg lalu mendapatkan buku tersebut, cetakan kedua 1412H.
    Saya mendapatkan manfaat yg sangat besar sekali setelah membacanya.
    Kalau diperkenankan, saya berniat mempublish di internet, biar bermanfaat buat yg lain.
    Saat ini Bab I sudah ready.
    Bagaimana ustad…boleh ya

    Matur nuwun,
    Hendro

  22. SHANTI says:

    Preman itu bukan cuma ada pasar atau terminal, tapi di mana-mana juga ada, termasuk pada orang2 yang mengaku sebagai ahli pikir (pemikir) muslim. Saya tidak bermaksud menyebut Ulil Absar Abdalla dan teman2nya di JIL itu preman lho…Maaf ya…

  23. SHANTI says:

    He he he he he…., anak saya yang baru berumur 7 tahun langsung ngomong : “Mah, berarti orang ini (Ulil Absar Abdalla) nggak bisa dipercaya dong omongannya ya Mah? Kan dia bilang semua orang nggak ada yang tidak bersalah, termasuk diakan Mah..?”

  24. fuad says:

    saya kok ragu dengan keihlasan Mas Ulil dlm cari ilmu, kalo ilmu sudah menyatakan kemampuan manusia untuk menjaga kesalahannya/ kesempurnaannya, mengapa masih tidak percaya.
    mungkin saya bisa memberi pencerahan sedikit untuk Mas Ulil : contoh mas ulil ini bisa menjaga diri untuk tidak mencuri sejak mulai akil baligh. ini artinya mas ulil ma’sum dari mencuri dan kemampuan inipun diakui oleh akal bukan? kemudian mas ulil berlatih juga untuk tidak akan menyakiti orang lain melalui latihan sedikit demi sedikit dan ahirnya bisa menjaga diri untuk tidak menyakiti orang lain dan akalpun menerima hal ini dan mas ulil sudah mendapat dua sifat kema’suman/ menjaga diri dari mencuri dan menyakiti orang lain.demikian ini dan seterusnya tergantung dari kesungguhan orang dalam berusaha dan allah swt akan mengabulkan keinginan hambanya. allah swt memberikan amanah yg berat ini kepada hambanya ( Nabi dan para imam suci) yg sebelumnya ditawarkan kpd makhluq Nya dan tidak ada yg bersedia, maka untuk menjaga kepastian risalah ini dibutuhkan orang yg terbebas dari kesalahan / maksum. tanpa kemaksuman orang akan ragu apakah risalah ini benar adanya dan melalui para orang2 suci ini yang akan menjaga risalah suci ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s