Law of Attraction atau Law of Distraction (1)

Belakangan ini, saya sering bertemu dengan teman atau kenalan yang berbicara tentang law of attraction (LOA). Sebagian berapi-api menggambarkan kehebatan hukum ini, sebagian lain hanya bisa bingung. Saya pun akhirnya membaca satu dua buku yang membahas LOA, terutama buku-buku yang ditulis oleh para motivator, bukan ilmuwan atau filosof.

Hasilnya: saya benar-benar bingung dan bertanya-tanya tentang betapa besar oversimplifikasi yang menghantam hukum ini. Dalam teks-teks filsafat, hukum ini sebenarnya termasuk dalam diskusi luas ihwal prinsip kausalitas. Istilah law of attraction itu sendiri sepertinya serupa (meski mungkin tak persis sama) dengan hukum sinkhiyyah—sebuah istilah yang dikenal luas dalam terminologi filsafat Islam.

LOA yang sudah dibuktikan dan dipradugakan kebenarannya itu kerap diplintir dan diplesetkan oleh buku-buku motivasional siap-saji ini. Konsepsi dan konteks hukum itu pun jauh terpelanting dari proporsinya. Misalnya, satu hal yang sering terlupakan dalam diskusi ihwal law of attraction adalah hukum lawannya, yakni hukum daya tolak. Biar keren, hukum daya tolak kita sebut saja dengan law of distraction. Kedua daya ini telah dibahas luas oleh para filosof, termasuk para filosof Muslim, dalam kajian-kajian tentang hukum kausalitas.  

Hukum daya tolak bekerja di alam semesta seiring dengan hukum daya tarik. Tulisan ini tidak dibuat untuk menentang LOA, tapi untuk mengembalikan LOA pada proporsi ilmiahnya. Pasalnya, saya sering bertemu orang yang begitu mabuk dengan pseudo-LOA yang kini ramai dijajakan oleh para motivator. Pemelintiran itu menurut saya membodohkan, mendegradasikan dan mengkanvaskan akal sehat kita.

Hukum kausalitas mengajarkan kita untuk tidak sekedar memikirkan yang kita inginkan, melainkan mengisi semua pikiran itu dengan program perilaku dan tindakan yang konsisten. Asumsi-asumsi yang diajukan buku-buku motivasional yang mengadopsi hukum daya tarik sering kali bersifat oversimplistik, sehingga seolah-olah hanya dengan serangkaian visualisasi dan konsentrasi mental tertentu, segala harapan bisa dicapai. Anggapan seperti ini jelas menyesatkan.

Marilah kita dobrak dulu penjara yang kini sedang dibangun oleh buku-buku yang menyuguhkan law of attraction (LOA) sebagai menu utama. Setelah membaca sejumlah buku berkenaan dengan LOA, saya malah merasa bahwa LOA itu sendiri telah berbalik menjadi law of distraction (LOD), lantaran LOA ala para motivator itu sebenarnya mengganggu (menolak) orang mencapai tujuannya. Ia merusak dinamika alamiah dari hukum kausalitas, yang mau tak mau mengakomodasi daya tarik sekaligus daya tolak.

Lebih jauh, buku-buku para motivator yang mempermainkan LOA itu telah sedikit demi sedikit melepas intervensi dan kehadiran Ilahi dalam kesadaran manusia. Menurut saya, ini bagian dari apa yang oleh Prof. Hussein Nasr diistilahkan dengan desakralisasi. Saya pernah menulis sekilas masalah ini dalam tulisan berjudul, “Kematian Manusia: Sebuah Karikatur”.

Lebih dari itu, saya ingat kata-kata Imam Ali seribu tahun lebih yang lalu berkenaan dengan peran asasi Tuhan dalam proses perwujudan segala sesuatu di alam. Beliau berkata, “Aku mengenal Allah dengan gagalnya rencana-rencana.” Di sini, beliau ingin mengingatkan manusia bahwa “daya-tarik-Anda” terlalu kecil dibanding intervensi Ilahi, sehingga manusia yang mau mewujudkan keinginannya harus menyambungkan keinginannya dengan keinginan Ilahi. Jelasnya, dia harus menjadi hamba yang taat sedemikian sehingga apa yang dia maukan sama dengan kemauan Tuhannya.

Bagaimanapun, daya tolak memang bekerja seiring dengan daya tarik. Tanpa mengenali masing-masing karakter dan implikasi daya ini, maka kita tak mungkin mendapat apapun yang kita inginkan. Apalagi, bila apa yang kita menginginkan adalah sesuatu yang tidak mungkin atau tidak sesuai dengan hukum-hukum Allah yang bekerja dalam kekuatan yang mutlak.

Nah, sekarang saya akan mencoba menyediakan kritik untuk berbagai definisi yang umum dipakai oleh buku-buku motivasional itu terkait dengan LOA. Dalam posting-posting lanjutan, saya akan memberikan kritik-kritik lain terhadap prinsip-prinsip LOA itu. Barulah kemudian saya akan menulis berkaitan dengan LOA yang benar, sesuai dengan paparan para filosof.  

Definisi: Orang pasti menemukan manifestasi dari apa-apa yang memenuhi pikirannya.

Kritik: Ada begitu banyak hal yang bisa kita jadikan contoh sebaliknya. Dari sejak zaman prasejarah, banyak manusia yang menginginkan keadilan di bumi. Tapi, rasanya manifestasi keadilan itu tidak juga terwujud. Para advokat LOA mungkin akan menjawab bahwa keadilan itu terlalu abstrak untuk diwujudkan, sehingga ia perlu lebih dikonkretkan, atau divisualisasikan. Tapi, upaya konkretisasi atau visualisasi ini jelas bertentangan dengan prinsip umum yang diterima oleh kalangan filosof dan ilmuwan. Bahwa kenyataan empiris/konkret mengandung banyak reduksi dibanding konsep ideal yang kita pikirkan. Ujung-ujungnya, perwujudan keadilan yang kita pikirkan itupun tidak mungkin terjadi! 

Definisi: Orang bisa mengendalikan realitas dan hidupnya semata-mata melalui pikirannya.

Kritik: Memang pikiran memiliki pengaruh yang sangat kuat, terkadang lebih berpengaruh ketimbang tindakan. Tapi, faktor yang mengubah dan menciptakan sesuatu di dunia fisik ini tak lain adalah tubuh kita, bukan pikiran itu. Jika tidak demikian, maka kita harus berhadapan dengan paradoks yang oleh kalangan filosof disebut dengan inqilab atau peralihan konsep mental menjadi benda material secara non-kausal. Dan paradoks ini ternyata memang dipercayai secara luas oleh kalangan awam. Misalnya, anggapan keliru bahwa jin (sebagai substansi non-material) bisa menjelma menjadi tikus, ular atau sejenisnya. Aaah, takhayul lagi bukan?!

11 thoughts on “Law of Attraction atau Law of Distraction (1)

  1. ranrose says:

    baru setengah isi saya baca LOA , saya ga mudeng2 juga, hehheh hampir setipe dengan buku2 motivasional lainnya. Tapi saya ga se-skeptis pa ustaz terhadap buku2 motivasi lainnya, bahkan satu yang saya bilang sangat bagus adalah judulnya ‘You’re Smarter Thank you think”

  2. musakazhim says:

    Saya ga skeptis, tapi kritis:-)
    Jelas tidak semua buku motivasional jelek dan awut-awutan. Buku “40 Hadis” karya Imam Khomeini menurut saya adalah buku motivasi yang sangat bagus–Afifah kasi rekomendasi, saya juga kasi satu.

  3. Frodo says:

    Tad’ ane “pribadi” kalo-pun memiliki manifestasi dari pikiran2 kayak gitu malezzz dikait-kaitin sama terminologi Law2-an….malez ajahh…….

    Gak “nge-pop” gak papa kok …

  4. indhra says:

    Contoh jelas bahwa semua yang kita pikirkan tidak selama nya akan terwujud adalah saat kita memikirkan ingin jadi presiden.Jika satu negara ada 5 orang saja yang menginginkan jadi presiden dalam satu saat, pasti tidak akan mungkin lima lima nya jadi.
    Tapi .Loa sebagai perenungan jangan diartikan persis seperti itu.Intinya adalah bahwa kita harus selaras dengan kekuatan yang tidak terbatas.Jangan dendam jangan syirik.jangan tidak bersyukur.jangan merasakan hal hal yangnegatif .bersyukurlah.sya pikir loa tidak usah dipertentangkan seperti tulisan nya pak musa kazhim, karna view nya sudah berbeda antara yang dimaksud loa versi buku dan pencetusnya, dg loa versi apa yang dipahami oleh pak musa kazhim.

  5. musakazhim says:

    Anda memahami begitu, ga masalah. Dan saya pada dasarnya tidak menentang LOA, karena hukum itu memang sahih secara ilmiah dan filosofis. Yang ingin saya uji adalah penerapannya yang tdk proporsional: seolah2 hukum itu adalah satu2nya hukum yang berlaku universal dan mutlak. Sepaham saya, begitulah presentasi para motivator berkaitan dengan hukum ini. Dan ini berarti out of proportion. Kritik saya hanya bertujuan meluruskan, menempatkan LOA pada porsinya…singkatnya mencoba berlaku fair terhadap hukum2 lain yang juga bekerja di alam.
    Saya masih akan melanjutkan uraian, jadi sabar dulu ya:-)

  6. Frodo says:

    LOA …. aduh apalagi berasal dari versi orang2 yang baru2 ngerasain kalo itu ada.

    20 tahun lalu juga sudah ada dan gak “KOMERSIL” gini. Karena kuantitatif approach ‘Trus tiap orang disuruh percaya ?
    Masih banyak hukum lain yang “JUGA” berpengaruh dalam dunia materialistik model gini, dan Tuhan juga “main” ditingkatan yang lainnya.
    Gimana mungkin “Yang Maha ADA” cuma dukung model “feeling2-an”gini, jelas Dia juga membuka hal lainnnya.

    Buat yang baru masuk dalam “Genit Psy”

    Gimana kalo moodnya jelek terus, bisa gak’ yahh dikait-kaitin dengan beginian, which refers to an emotional state of duration intermediate between an emotion and a disposition (depressed, euphoric, neutral, or irritable mood).

    FEELING’, which usually refers to the subjective, phenomenological aspect of emotion (the internal experience of anxiety, sadness, love, pride, and so forth)

    Sejauh2nya hal demikian mesti subjektif ya ‘Tad ?
    Gak ada tuh empirical abstraction dari pikiran … sedemikian sehebat subyektifitas itu sendiri !!!

    Atau model Michael Commons, bisa dipake tuh … jangan2 ada yang lompat2 stepnya. Bisa motor sarafnya yang kena’ atau jangan2 abstraksinya yang kelebihan tegangan !!!

    Ust’ penjelasan dong ????????

  7. Ema Rachman says:

    Subhanallah, setuju dengan kritikannya…karena memang menurut saya , apabila segala sesuatu yang ada di alam dunia ini bila tidak kita hubungkan dengan Sang SUMBER Alam semesta ini akan terjadi ketidak seimbangan, kekacauan, apapun tanpa seizin Sang Empunya memang akan kacau, tertolak ( afwan, pendapat saya tidak ilmiah, hanya menggunakan cara berpikir yang simpel, using my common sense aja, maklum ‘am not a scientist nor filosof)

  8. musakazhim says:

    Frodo Baggins son of Drogo Baggins: saya rasa memang problem ilmiah yang menjerat aplikasi LOA adalah bagaimana menjembatani luasnya alam subjektif dan objektif?

    Mbak Ema: kritik terbesar saya pada LOA adalah desakralisasinya yang tegas, dan upayanya menghindarkan orang dari ajaran2 agama. And this is yet to come…just wait-;)

  9. “Lebih dari itu, saya ingat kata-kata Imam Ali seribu tahun lebih yang lalu berkenaan dengan peran asasi Tuhan dalam proses perwujudan segala sesuatu di alam. Beliau berkata, “Aku mengenal Allah dengan gagalnya rencana-rencana.Di sini, beliau ingin mengingatkan manusia bahwa “daya-tarik-Anda” terlalu kecil dibanding intervensi Ilahi, sehingga manusia yang mau mewujudkan keinginannya harus menyambungkan keinginannya dengan keinginan Ilahi. Jelasnya, dia harus menjadi hamba yang taat sedemikian sehingga apa yang dia maukan sama dengan kemauan Tuhannya.”
    ——————————————————————–
    Setuju buanget…
    tanpa penyelarasan keinginan kita dg keinginan Ilahi yg ada hanya angan-2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s