Law of Attraction atau Law of Distraction (2)

Pesan pembuka: kritikus itu sering menjadi sasaran kecaman (dan ancaman). Mungkin orang mengira kritik tentang sesuatu sebagai ungkapan iri, sakit hati, kalah bersaing, cari sensasi dan popularitas, dan sejenisnya. Memang itu adalah risiko yang harus ditanggung.

Tapi, jika kita timbang sejenak, maka kita bakal paham bahwa kritik itu menu yang sehat. Jika kritik itu ternyata keliru, maka setidaknya ia akan mempertajam pemahaman dan menghaluskan budi kita. Dan jika kritik itu tepat dan sahih, maka ia akan menjadi penyelamat kita. Nah, selain harus selalu mengkritik diri sendiri, kita juga harus selalu siap bahkan girang mendengar kritik orang lain. Terutama yang bersifat ilmiah dan tidak berisi sarkasme belaka.

 

Definisi: Pikiran (disadari atau tidak), emosi, keyakinan dan tindakan bisa mengatraksi (menarik) pengalaman-pengalaman positif atau negatif yang selaras dengannya “melalui resonansi getaran energinya.”


Kritik: Sekarang mari kita berpikir sejenak. Kalau memang itu yang terjadi, lantas mengapa para filosof agama membanjiri dalil-dalil logis bahwa manusia membutuhkan program-program partikular (ritual, verbal, dll) yang diketengahkan oleh agama. Maksudnya, untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan sejati, manusia perlu mengikuti semua rincian program Tuhan, lantaran sebenarnya manusia tidak tahu (tidak bisa memikirkan) kebahagiaan dan kesejahteraan hakiki mereka di dunia apalagi akhirat.

Coba kita lihat juga mengapa semua orang yang ingin sehat perlu mengikuti rincian program yang diajukan oleh dokter? Mengapa ilmu kedokteran itu tetap menjadi bagian dari kehidupan manusia, padahal semua orang pastilah selalu memikirkan, menginginkan dan memvisualisasikan hidup yang sehat wal afiat?

Dan satu dari sekian banyak contoh lain: Mengapa semua perempuan yang ingin bertubuh ramping perlu mengikuti program diet yang rutin dan ketat agar segala pikiran, keinginan dan visualisasi dietnya terwujud?

Mengapa para penulis buku motivasional yang memakai gagasan LOA—saya tekankan “memakai” karena jelas mereka tidak “mencetuskan” ide yang sudah ada sejak zaman pra Yunani itu—tidak menawarkan teknik-teknik “gelembung getaran” atau sejenisnya pada Angkatan Bersenjata AS yang kini berguguran di Irak atau Afghanistan? Sudah barang tentu teknik-teknik itu kiranya bisa menghemat anggaran militer AS yang kini mendekati angka fantastis 3 trilyun dolar? Lebih penting lagi, kalau memang mujarab seperti yang disugestikan para motivator, teknik-teknik ini harusnya bisa mengurangi angka kematian prajurit AS di Irak jauh di bawah angka 4000 nyawa saat ini?

Apa mereka berani ya???

Para pendukung LOA mungkin menjawab: Tentu saja pikiran, visualisasi dan konsentrasi mental itu membutuhkan pada sejumlah tindakan. Tapi, sayangnya, pembobotan berlebihan pada efek pikiran yang ditimbulkan oleh buku-buku motivasional membuat banyak orang lebih sering “melamun” ketimbang “bekerja keras”. Pastinya “melamun” di bidang pengetahuan lebih sederhana dibanding di bidang “mencari duit” dan barang-barang konkret lainJ

Singkatnya, realitas dan hukum-hukum yang bekerja di alam tidak menyambut anggapan ini: “Pikiran dan keinginan saya bakal mewujud dengan cara sesering melamunkannya.” Asyiiiiiiik, yuk kita melamun!!! Melamun apa aja, yang penting asyiiiik!!!

  

Definisi: “Kau akan mendapatkan apa yang kau pikirkan; pikiran-pikiranmu membentuk nasibmu.”

Kritik: Saya hanya mau bertanya, “Kalau pikiran belaka bisa membentuk nasib kita, berarti nasib kita ini akan berubah setiap detik? Bukankah pikiran manusia berubah-ubah setiap detik atau lebih cepat dari itu—sesuai milyaran rangsangan yang menerpanya? Jika demikian, di mana letak pengaruh LOA dalam menentukan nasib akhir manusia yang pikirannya berubah tiap-tiap detik itu?”

Lebih jauh, berdasarkan fitrahnya, tiap-tiap manusia memikirkan nasib yang baik untuk dirinya masing-masing. Hanya saja, sebagai makhluk super kompleks, satu pikiran yang timbul dari salah satu daya manusia bisa digerus oleh pikiran lain yang timbul dari daya lainnya. Bila tidak terkelola dengan tepat, konflik batin bisa memunculkan berbagai gejala penyakit jiwa, termasuk split personality, disintegritas mental atau sejenisnya.

Nah, saat terjadi disintegrasi itu, bagaimana LOA bekerja? Pikiran manakah yang ia pilih? Tentu jawabnya adalah yang terkuat. Nah, jika yang terkuat itu sebenarnya bertentangan dengan prinsip-prinsip alam lainnya, seperti prinsip evolusi spiritual manusia, lantas apa yang bakal terjadi?

Ungkapan “Pikiran-pikiranmu membentuk nasibmu” memang sedap didengar. Tapi, ungkapan ini baru setengah kebenaran. Lantaran manusia hidup di dalam sistem alam yang sangat cerdas, sehingga pikiran-pikirannya yang tidak sesuai dengan keseluruhan sistem alam bakal hangus terbakar.

 

Sekarang, apakah para motivator yang memainkan kartu LOA sanggup menjawab dengan jeli mana pikiran yang mungkin terwujud dan yang tidak mungkin terwujud? Di antara yang mungkin terwujud, manakah yang kemungkinannya paling besar? Tanpa jawaban jelas tentang soal ini, rasanya umur kita yang pendek ini terlalu berharga untuk mengejar semua pikiran kita sendiri. Apalagi, setiap orang pasti pernah merasakan pahitnya kegagalan mencapai keinginan yang sejak lama dipikirkannya. Dia terpaksa mencari yang lebih atau bahkan paling realistis (baca: paling mungkin dicapai).

 

 

 

7 thoughts on “Law of Attraction atau Law of Distraction (2)

  1. Ema Rachman says:

    Setuju….para motivator tidak berpikir terlalu dalam dan hanya sesaat…like most of us who loves this world.. nanti gimana, itu urusan belakangan….kalo bicara pahitnya kehidupan tidak akan mungkin laku , so ujung2 ya marketing untuk kepentingan sesaat yang dikemas sedemikian rupa sehingga terlihat ‘wah’ . Aneh memang manusia senang dengan dunia ‘khayal’ dan senang di tipu…Sesuatu yang sakral, it’s a taboo…jauh2 dari itu…belum apa2 mereka udah ketakutan duluan…padahal itu yang lebih ‘nyata’ dan masuk akal dan kita pastinya akan selamat dunia &akhirat. Tapi menu sehat kan , memang jarang yang sentuh, karena too boring…too dull etc. walau tau itu tidak sehat manusia tetap senang makan cepat saji …C’est lavie!!

  2. Mushadiq Ali says:

    “…Tapi, ungkapan itu baru setengah kebenaran.”

    Aku suka kalimat ini. Ini baru penilaian yang adil dan seimbang. Adalah tak bisa diingkari bahwa pikiran mempunyai sumbangsih besar dalam perubahan dan pengaktualisasian. Tapi tetap saja itu hanya satu bagian dari sekian banyak hukum lainnya. Bravo, Ustadz. Tetep terusin kritik-kritisnya, biar yang jauh ini bisa dapet ‘rembesan’nya. Hehe…

  3. ranrose says:

    pa ustaz, bagaimana dengan riwayat yang mengatakan bahwa “Allah mengikuti prasangka hambaNya”, itu hampir selaras dengan hukum LOA,
    lalu ALLAh juga menyuruh hambaNya untuk meminta dan Dia akan mengabulkannya seperti di Quran, this is one of the theory THE SECREAT tell, 1.ask, 2.answer, 3, receive. teori lain, yaitu untuk selalu menyebut-nyebut anugrah/kenikmatan yang kita miliki rather then menyebut2 hal-hal yang belum kita miliki, ini juga selaras dengan Surat Dhuha, “Dan terhadap nikmat TuhanMu, hendaklah engkau sebut-sebut( Fahaddits.)” lalu ada efek Placebo, u know, the power of sugesti, obat yang tidak ada efek penyembuhan tapi karena kekuatan sugesti ternyata bisa menyembuhkan ? :d, ini banyak dipake sama dokter2 untuk penyakit2 ringan loo….

    mengenai perang, Jelas mereka tidak menarik “energi positif’, instead mereka menarik ‘energi negatif”, The Secret reveals that if you are against terrorisme or anything, using ANTI will draw more of the negative energy, that’s why mother therese was successful in saying “if there is anti-war movement, count me out, but if there is peace movement, i’m in”.

    Tapi saya setuju dengan pa ustaz, bahwa teori2 semacam in tidak bisa diambil seluruhnya karena menjauhkan dari ranah agama, dikatakan disitu bahwa tidak ada board of god, atau judgement, we are the center of the universe, master of all destiny, there is no limit in mankinds, ini jelas kufur.

    aah, maaf ya . mending nulis ngawur daripada ngomong sendirian😀
    *peace

  4. musakazhim says:

    Ranrose,
    Makasih atas masukannya. Sangat menarik, dan menantang;-)

    Menurut saya, kritik terbesar atas teori2 jenis ini adalah dua: (1) Faktor Tuhan dikebiri; (2) Dualisme yang mereka bangun: positif dan negatif. Dualisme berpikir ini justru merusak segala kebaikan yg ada, bukan menyempurnakan yg sudah baik. Tentu ini butuh penjelasan panjang–which i hopefully will come up with it soon. Yg jelas, dualisme negatif-positif itu SALAH secara filosofis dan MERUSAK secara psikologis. Penjelasan lebih lanjut…tunggu tanggal mainnya.
    Sekarang masih ada sejumlah deadline yg harus segera “dikuburkan”–karena sudah ‘dead’ semua:-)

  5. Info yang bagus, namun jujur saja The Secret dan LOA sudah terlalu populer dan membosankan. Itu sebabnya saya menulis pelajaran revolusi formula terbaru dari The Secret Law of Attraction yang terfokus pada bidang hubungan pria, wanita, romansa, dan cinta. Silakan cek sendiri di alamat

    http://www.hitmansystem.com/blog/the-secret-law-of-attraction-113.htm

    Pembahasan yang lengkap menyeluruh, berikut aplikasi poin yang praktis detil. The Secret Law of Attraction sangat direkomendasikan untuk mereka yang sudah lelah dengan Law of Attraction yang klasik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s