Hebat! Reportase ‘The Observer’ tntg Hizbullah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di Lebanon Selatan, mayat-mayat berjajar mengawasi orang-orang hidup dari sisi-sisi gendung dan tiang-tiang penerang jalan. Wajah mereka menatap garang dari poster-poster besar yang terpancang megah di berbagai sudut. Itulah gambar para martir Hizbullah: orang-orang yang terbunuh saat berperang melawan Israel sebelum tahun 2000 atau terlibat dalam berbagai pertempuran setelahnya, termasuk perang 2006 yang sengit itu.

 

Foto-foto itulah mungkin satu-satunya pengakuan terbuka akan keberadaan para individu dalam lembaga paling rahasia ini: sayap militer Hizbullah.

 

Bagaimanapun, investigasi Mitchell Prothero dari The Observer (27 April 2008) menunjukkan bahwa organisasi rahasia ini terus menggantikan mereka yang telah gugur dan melipatgandakan upaya rekrutmennya sebagai antisipasi atas perang baru yang jauh lebih brutal. Hizbullah telah memulai perluasan besar-besaran dalam kemampuan tempurnya dan sekarang sedang mengirim ratusan, atau malah ribuan, pemuda ke kamp-kamp pelatihan intensif di Lebanon, Suriah dan Iran. Tujuannya ialah mempersiapkan perang dengan Israel. “Ini bukan masalah jika,” kata salah seorang pejuang. “Ini adalah masalah kapan Sayyed Hasan Nashrallah [pemimpin Hizbullah] memerintah kita.”

 

Kebijakan Hizbullah untuk menolak semua pembicaraan tentang urusan militer dipegang teguh hingga pucuk pimpinan. Dalam berbagai ceramah dan wawancaranya, Nashrallah menolak menjawab pertanyaan paling sederhana menyangkut sayap militer Hizbullah. Dia sendiri bahkan tidak pernah menyebut anak tertuanya, Hadi, sebagai salah seorang pejuang sampai gugur di medan laga. Hidup seorang pejuang Hizbullah adalah tanpa nama sampai ajal menjemputnya.

 

Pertemuan dengan sejumlah pejuang dan aktivis, aparat keamanan negara, pasukan penjaga perdamaian PBB sepanjang perbatasan, para penduduk Lebanon Selatan dan daerah pinggiran Beirut selatan yang dikenal dengan Dahia, memberikan gambaran sekilas ihwal cara kerja kelompok yang sangat jarang membuka diri pada kalangan luar ini. Tak satu pun nama sumber informasi dari dalam kelompok ini yang bisa kita sebutkan. Sejak kematian misterius komandan tingginya, Imad Mughniyeh, pimpinan Hizbullah dengan tegas meminta semua kadernya untuk tidak berbicara kepada media Barat menyangkut masalah militer organisasi itu.

 

“Hal paling penting adalah tidak pernah berbicara pada siapa pun,” kata salah seorang pejuang, yang setuju untuk berbicara tentang Hizbullah tanpa menyebut nama atau fungsinya di dalam kelompok ‘Perlawanan Islam Lebanon’, sebuah nama poppuler untuk sayap militer Hizbullah. “Sejak latihan pertama, kita selalu disuruh melakukan dua hal: jangan pernah membangkang dan jangan pernah berbicara tentang gerakan perlawanan. Hizbullah bukan pekerjaan, juga bukan keluarga. Ia adalah campuran antara agama, kehormatan, kemuliaan dan disiplin. Inilah hidup saya.”

 

Tapi, satu hal yang semakin tampak, sekalipun Hizbullah berusaha menyembunyikannya, ialah fakta bahwa kelompok ini sedang menggelar rekrutmen, membangun kembali pasukan persenjataan dan bunker yang tidak pernah terjadi sebelumnya sebagai persiapan menghadapi perang yang hampir semua orang—entah di pihak Lebanon maupun Israel—sama-sama menganggapnya sebagai takdir yang tak terhindarkan. “Desa-desa di Selatan kosong dari lelaki,” kata seorang pejabat PBB yang dimintai keterangan oleh The Observer. “Mereka semua pergi berlatih di Lembah Beka, Suriah dan Iran.”

 

Perjalanan darat reporter The Observer, Mitchell Prothero, membenarkan pernyataan pejabat PBB tersebut. Hampir semua desa di jantung Hizbullah terlihat sangat lengang. Hampir tidak dijumpai pria usia muda. Yang tampak sepanjang jalan hanyalah poster-poster martir baru. Tidak seperti umumnya martir, mereka tidak diberi nama dan pangkat militer. Menurut penduduk setempat, poster-poster martir muda itu adalah mereka yang gugur dalam rangkaian latihan di Iran. Di kota Tyre, jajaran poster bergambar remaja yang tewas dalam latihan juga bertebaran di mana-mana. Salah satunya adalah Ahmad Hasyem, terbunuh saat melatih anggota baru menggunakan RPG (roket pelontar granat).

 

Latihan dan seleksi anggota baru dilakukan di Lebanon, sementara Iran dipakai untuk latihan tahap lanjutan—penggunaan sejumlah senjata yang membutuhkan keterampilan khusus, pengunaan RPG dan misil anti-tank—yang membutuhkan pada medan latihan yang lebih besar dan lebih rumit. “Sebagian besar latihan di Iran adalah untuk dimensi teoretis: filsafat, agama, akidah dan sejenisnya. Latihan tahap akhir untuk bertempur tetap di sini, di Lebanon,” kata seorang pejuang. “Kita begitu dengan Israel di sini, sehingga latihan itu terasa benar-benar nyata.”

 

Pernyataan Israel bahwa perekrutan anggota baru Hizbullah ini terjadi akibat korban besar yang mereka derita pada 2006 adalah miskalkulasi belaka. Sumber-sumber dari dalam Hizbullah dan juga militer AS menafikan pernyataan Israel. Sampai kini Israel masih beranggapan bahwa antara 500 sampai 700 pejuang Hizbullah gugur dalam perang 2006. Hizbullah sendiri mengumumkan antara 80 sampai 100 pejuang yang syahid. Sumber-sumber lain mengaku angka versi Hizbullah itu bisa berarti 200 karena sebagian lain masih terus dicari, sedangkan laporan militer AS telah memutuskan jumlah korban di pihak Hizbullah adalah 184 orang.

 

“Bagaimana mereka [Israel] bisa berbohong sejauh itu?” tanya seorang penduduk desa di daerah Selatan. “Masyarakat di sini bakal berang jika anak atau sanak keluarganya yang gugur tidak dimakamkan secara terhormat. Upacara pemakaman itu sangat penting buat semua pihak. Kalau angka 700 itu benar, kita semua pasti tahu. Jika ternyata Hizbullah memanipulasi angka, kita akan mendengar keluhan di mana-mana dari keluarga korban. Selain itu, di mana orang bisa menyimpan 700 mayat di Lebanon Selatan? Wilayah ini terlalu kecil untuk hal-hal semacam itu.”

 

Terlepas dari jumlah korban, sebelum perang 2006 sebagian besar pengamat juga terlalu melebih-lebihkan kuantitas militer Hizbullah. Sebagian analis malah memberikan angka 5000 pasukan dengan jumlah pasukan cadangan mencapai 10.000, termasuk dari milisi sekutunya, Amal, yang kini mendukung Hizbullah. “Menggelikan,” kata seorang anggota Hizbullah. “Sebelum 2006, kita hanya memiliki 1000 pasukan, termasuk orang-orang yang berada di dalam bunker dan melakukan operasi militer full-time. Sisanya adalah pemuda lokal yang dilatih dan dipersenjatai, tapi mereka hidup layaknya orang biasa kecuali bila ada panggilan tugas untuk situasi darurat.”

 

Penilaian di atas sebenarnya didukung oleh data intelijen dari negara-negara kawasan dan kelompok-kelompok Syiah Lebanon lain yang tidak tergabung dalam Hizbullah. Hanya saja, semua angka dan estimasi itu akan segera berubah secara dramatis dalam waktu dekat. Ekspansi Hizbullah dalam beberapa bulan terakhir ini menggentarkan musuh-musuh domestik dan internasionalnya.

 

Studi militer AS menggambarkan sayap militer Hizbullah sebagai ‘sepenuhnya terdesentralisasi’. Jajaran komandan lapangannya mengambil sikap independen paling heroik saat mereka menolak perintah komando tertinggi mereka untuk meninggalkan Bint Jbeil pada 2006. Waktu itu, Bint Jbeil digempur habis-habisan oleh pasukan elit Israel. Namun kenyataannya kota itu tidak pernah jatuh ke tangan Israel. Penolakan meninggalkan kota itu akhirnya menjadi titik balik dalam strategi perang 2006. Fakta itu makin mengukuhkan doktrin militer Hizbullah untuk memberikan independensi sebesar-besarnya pada jajaran komandan lapangan. Para komandan inilah yang dalam beberapa bulan terakhir turun merekrut remaja Lebanon dan melatih mereka memiliki urat saraf berperang tanpa kenal mundur ini. Mereka biasanya memilih anak-anak paling berbakat untuk dilatih lebih jauh saat mereka beranjak dewasa.

 

Para pejuang Hizbullah sendiri sebenarnya terdiri atas rangkaian unit yang terdiri dari para pakar berbagai bidang—misalnya, tim roket, ahli senjata berat, unit infantri, unit insinyur dan reparasi, dan sebagainya. “Sebagian unit ada yang dikirim untuk latihan selama satu atau bahkan dua tahun. Sebagian lain tetap bekerja atau belajar. Biarpun seorang itu bekerja atau belajar, hidupnya tetap untuk misi Hizbullah. Bila mereka dipanggil dan begitula—Anda pergi. Mungkin Anda harus beralasan pada bos atau profesor Anda bahwa Anda akan pergi bersama keluarga ke Qatar, umrah atau alasan-alasan keluarga. Tak ada anggota Hizbullah yang menyatakan alasan sebenarnya.”

 

Keputusan untuk melebarkan sayap militer bukan muncul karena besarnya jumlah korban pada perang 2006, tapi justru muncul karena kesuksesan Hizbullah menahan serangan kekuatan militer konvensional dalam perang tersebut. Salah seorang jenderal dari Angkatan Bersenjata Lebanon yang sering mengadakan hubungan dengan Hizbullah membenarkan keputusan itu. “Sebelumnya mereka hanyalah kelompok gerilyawan yang berusaha mengusir tentara Israel semasa pendudukan, tapi kemudian mereka mengejutkan Israel karena mampu bertahan dan bertempur melawan pasukan besar dan canggih dari posisi-posisi tempur yang tetap. Meski kalah dalam jumlah, para pejuang Hizbullah ini mampu mempertahankan pos-pos mereka dari serangan tank dan pesawat tempur Israel dengan jumlah korban sangat minimal,” kata komandan tersebut. “Sekarang mereka ingin memperlebar sayap untuk memastikan bahwa dalam serangan Israel mendatang, mereka bisa mengalahkan Israel sebelum pasukan tank mereka sampai di dataran lembah Bekaa, tempat di mana Israel biasanya memperoleh keunggulan.”

 

 (Sumber: Mitchell Prothero, The Observer, 27 April 2008).

 

4 thoughts on “Hebat! Reportase ‘The Observer’ tntg Hizbullah

  1. Hebuattt…..

    Mantap sekali postingnya. Sumbernyapun dari media barat yang sering kali berlawanan dengan kepentingan Hizbullah.

    Mantaaap…..!

  2. trixi says:

    Mantapp…..a secret and nameless Army…..no ranks, no medal, nothing. Only after death are they going to be known…
    Allah-lah sebaik-baiknya pembalas jasa.

  3. jacky says:

    bagaimanapun canggihnya musuh tidak bisa mengalahkan kekuatan tauhid kepada Allah swt, selamat berjuang saudaraku doa kami menyertaimu. amin

  4. al-khairi says:

    salut hisbullah, meski saya suni saya ingin orang suni memiliki semangat pantang mundur apalagi hanya melawan setan israel. kecil itu israel kita harus kompak gebukin israel dan hapuskan dari peta dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s