Preman Berjubah, Pemerintah dan Ahmadiyah

 

”Bunuh, bunuh, bunuh, BUNUH! PERANGI AHMADIYAH, BUNUH AHMADIYAH, BERSIHKAN AHMADIYAH DARI INDONESIA! Ahmadiyah halal darahnya! Persetan HAM! Tai kucing HAM! Allahu Akbar”

 

Kalimat-kalimat penuh kebencian itu dilontarkan Sobri Lubis. Dia adalah seorang tokoh Front Pembela Islam (FPI) yang berpidato dalam tabligh akbar di Banjar, Jawa Barat, 14 Februari 2008.

 

Saya memiliki rekaman pidatonya saat Sobri tampil dengan didampingi beberapa tokoh lainnya di hadapan ribuan umat Islam. Selain Sobri, ada pula Ir. M. Khattath, pimpinan Hizbut Tahrir Indonesia, yang dengan lebih tenang — dan dengan senyum dinginnya — menyatakan bila pengikut Ahmadiyah tidak mau bertobat, hukumannya mati. Juga ada Abu Bakar Baasyir yang juga dengan tenang menyatakan hukuman bagi nabi palsu sederhana: kalau ditemukan, tangkap, potong leher.

 

Kutipan-kutipan di atas sengaja diangkat untuk menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai masih adanya gerakan-gerakan radikal yang menghalalkan kekerasan dalam umat Islam di Indonesia bukanlah omong kosong. Inilah kalangan yang atas nama agama merasa berhak menghabisi mereka yang berada di luar kelompoknya. Dalam kasus terakhir ini, mereka secara bergelombang berusaha memaksa pemerintah untuk tunduk pada keyakinan mereka: bubarkan Ahmadiyah, nyatakan Ahmadiyah sebagai ajaran terlarang, paksa mereka tobat!

 

Kalau pemerintah tidak mau membubarkan, bagaimana?

 

Di sini, pantas lagi dikutip pernyataan seorang aktivis yang menyebut dirinya Panglima Gerakan Umat Islam Indonesia (GUII). Bernama asli Abdul Haris Umarela, orang yang sekarang mengubah namanya menjadi Abdurrahman Assegaf itu berfatwa: ”Darah Ahmadiyah halal,” Lalu, Umarela ini berkata pula: ”Insya Allah, dalam waktu dekat, bila pemerintah tidak menutup Ahmadiyah, jangan kami disalahkan bila kami akan memberantas mereka …”

 

Saya bukan penganut Ahmadiyah. Saya duga sebagian besar dari pembaca artikel ini bukanlah penganut Ahmadiyah. Tapi saya ingin mengingatkan Anda semua untuk melihat ancaman yang sangat nyata dari kelompok-kelompok preman berjubah – dengan menggunakan istilah Ahmad Syafii Maarif – tersebut terhadap pertama-tama, Ahmadiyah, dan juga pada gilirannya nanti, pada keragaman dalam Islam dan juga kebhinekaan di negara ini.

 

Dalam kasus Ahmadiyah ini, suasananya menjadi lebih menakutkan karena gerakan radikal ini Islam memanfaatkan MUI yang memang kerap dijadikan rujukan dalam soal-soal keislaman. Dan lebih menakutkan lagi kemudian karena mereka sudah memanfaatkan tangan-tangan negara seperti Bakorpakem, yang melalui sebuah proses pemantauan yang tak memiliki pertanggungjawaban publik yang jelas, menyatakan bahwa Ahmadiyah adalah memang ajaran yang sesat.

 

Saat ni, pemerintah belum mengeluarkan kata akhir. Surat Keputusan Bersama (SKB) yang ditunggu-tunggu kaum radikal itu belum lagi disahkan. Tapi, dalam waktu yang sempit ini, mari kita mengingatkan bahwa bila bila pembubaran Ahmadiyah terwujud maka sebenarnya kita sedang membiarkan terjadinya penzaliman terhadap jutaan warga Indonesia serta membiarkan kekuatan anti-demokrasi berkedok agama unjuk gigi mengarahkan politik di negara ini.

 

Adalah sangat penting bahwa seluruh bangsa di negara ini diyakini bahwa ini adalah negara hukum yang tidak bersikap diskriminatif. Kaum preman berjubah itu memang bisa saja berteriak, “Tai kucing itu HAM!”

 

Masalahnya, mereka harus sadar bahwa, terlepas dari senang atau tidak, Indonesia adalah sebuah negara hukum yang percaya pada perlindungan HAM sebagaimana tertuang dalm deklarasi Universal HAM dan UUD 1945. Banyak dari para ulama itu juga berargumen bahwa di negara-negara seperti Pakistan dan Saudi Arabia, Ahmadiyah dilarang. Para ulama yang buicara seperti itu lupa dua negara itu adalah negara Islam. Indonesia bukan.

 

Karena itu alasan untuk membubarkan sebuah ajaran – kalau itu memang bisa dilakukan – haruslah merujuk pada konstitusi. Dalam hal ini, terlepas dari para ulama MUI bilang apa, tak ada alasan untuk membubarkan Ahmadiyah.

 

Kalau saja Ahmadiyah adalah sebuah gerakan yang memprovokasi kekerasan dan mendorong para pengikutnya menyerang pihak lain, organisasi itu sebaiknya memang dibubarkan. Masalahnya, Ahmadiyah tidak bergaya begitu.

 

Ahmdiyah itu sudah ada di Indonesia sejak 1920an. Pernahkah kita mendengar mereka melakukan aksi kekerasan dan menyerang pihak lain? Tidak. Dan ini bisa dijelaskan dengan merujuk pada salah satu dasar ajaran Ahmadiyah. Mereka memang anti menggunakan kekerasan untuk memperjuangkan Islam.

 

Istilah jihad dalam komunitas Ahmadiyah dipercaya sebagai penyebaran ajaran dengan cara dakwah dan persuasif. Justru karena sikap anti-kekerasan inilah, Ahmadiyah dulu kerap dituduh sebagai gerakan pro kaum penjajah Barat.

 

Secara ironis harus ditunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini, umat Ahamdiyah justru menjadi korban penindasan oleh kekuatan-kekuatan yang melecehkan hukum dan pemerintah. Permukiman mereka dihancurkan, mereka diusir dan sebagian sampai sekarang harus ditempat pengungsian, masjid-masjid mereka diluluhlantakkan, secara fisik warga Ahmadiyah dipukuli, diteror. Dalam hal ini, sangat tidak masuk di akal bila dikatakan bahwa Ahmadiyah meresahkan masyarakat karena tindakan-tindakan mereka.

 

Karena itu, satu-satunya alasan untuk mempersoalkan kehadiran Ahmadiyah adalah soal penafsiran Islam. MUI memang sudah mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat. Dalam konteks demokrasi, mereka tentu berhak untuk mengeluarkan pernyataan semacam itu. Tapi itu tentu saja sebatas penilaian sejumlah ulama yang selalu mungkin salah. Bukankah untuk menentukan kapan Iedul Fitri saja, ulama bisa berbeda pendapat?

 

Celakanya, sebagian pihak berusaha meyakinkan orang bahwa karena MUI sudah berkesimpulan begitu, itulah kebenaran absolut. Ini menggelikan. Seandainya kita sempat membaca beragam ensiklopedi otoritatif di berbagai negara, terbaca jelas bahwa Ahmadiyah senantiasa dianggap sebagai sebuah aliran dalam Islam. Ensiklopedi Islam yang disusun Prof. Dr. Azyumardi Azra saja jelas-jelas menulis Ahmadiyah sebagai bagian dari Islam. Kalau Ahmadiyah memang sebuah aliran yang mengada-ada, masakan di dunia ada puluhan juta umat Ahamdiyah?

 

Perdebatan soal Ahmadiyah adalah murni soal penafsiran. Ahmadiyah sepenuhnya mengakui rukun Islam dan rukun iman, sebagaimana diyakini mayoritas umat Islam lainnya. Ahmadiyah mengakui Muhammad SAW sebagai rasul terakhir dan Al-Qur’an sebagai kitab suci mereka. Namun penganut Ahmadiyah juga meyakini bahwa di abad 19 lalu, lahir Mirza Ghulam Ahmad yang kemudian menerima wahyu dari Allah untuk merevitalisasi ajaran-ajaran yang dibawa Nabi Muhammad itu untuk menyelamatkan dunia Islam yang saat itu sedang terpuruk. Karena itulah, umat Ahmadiyah meyakini Gulam Ahmad sebagai penyelamat yang dijanjikan Allah dalam Al-Qur’an.

 

Semua penganut Ahmadiyah tidak percaya bahwa Ghulam Ahmad sejajar dengan Nabi Muhammad dan rasul-rasul lainnya. Mereka hanya percaya bahwa 6-7 abad setelah Nabi Muhamad wafat, Allah menununjuk seorang terpilih – yakni Ghulam Ahmad – untuk memimpin umat Islam meraih kembali kejayaan Islam.

 

Para ulama di MUI itu bisa saja tidak percaya dengan segenap klaim itu. Tapi di sini kita masuk dalam tataran penafsiran dan keyakinan. Selama seabad terakhir debat tentang kesahihan klaim Ghulam Ahmad merupakan salah satu isu yang penting dan terus hidup dalam dunia Islam. Tidak pernah ditemukan titik temu. Sekarang pertanyaannya, kalau ada perselisihan penafsiran dalam sebuah agama, pantaskah pemerintah campur tangan dan menentukan panafsiran mana yang benar?

 

Eropa pernah memberi pelajaran yang sangat baik soal ini. Sekitar sepuluh abad yang lalu, para pemuka gereja diberi kewenangan seperti yang dimiliki MUI dalam kasus Ahmadiyah ini. Para petinggi gereja saat itu memiliki kewenangan untuk memfatwakan siapa yang disebut sebagai menyimpang dari ajaran Kristen dan dengan itu dapat menggunakan negara untuk menghukum mereka yang dinyatakan para petinggi agama itu sebagai murtad, kafir, dan sesat.

 

Karena hubungan negara dan agama yang mesra dan saling memanfaatkan ini Eropa mengalami abad-abad kegelapan terburuknya, yang diwarnai dengan penindasan, pembunuhan, penyiksaan, pemerkosaan, penzaliman mereka yang berada di luar ajaran Kristen resmi. Eropa terpuruk ketika petinggi agama berkuasa.

 

Kita tahu semua, abad kegelapan itu juga sekaligus adalah abad keterbelakangan Eropa. Di bawah para petinggi agama yang dengan yakin merasa menjalankan amanat Tuhan untuk menjaga kesucian dunia, rakyat hidup dalam ketakutan – takut berpikir, berbicara, mencari ilmu pengetahuan, berkarya. Lebih buruknya lagi, tatkala tahu bahwa tidak ada kontrol terhadap mereka, para petinggi agama itu justru kemudian menyalahgunakan kekuasaannya untuk mengangkangi berbagai kenikmatan duniawi. Mereka menjadi korup!

 

Karena konteks itulah, setelah abad itu dilalui, Eropa tidak pernah lagi memberikan ruang bagi para petinggi agama untuk mengambil keputusan dalam kehidupan politik. Dalam demokrasi, agama adalah agama, negara adalah negara. Agama disingkirkan karena dianggap tidak memberi ruang bagi hak untuk memiliki keragaman pendapat – sesuatu yang justru sangat esensial dalam demokrasi yang menghormati hak-hak asasi manusia.

 

Ini yang sekarang persis terlihat dalam kasus gerombolan ’preman berjubah’ di Indonesia ini. Mereka nampaknya percaya bisa menyetir negara ini sesuai dengan tafsiran sempit mereka. Mereka seperti bermimpi bisa menempati kedudukan menakutkan para petinggi gereja abad kegelapan yang justru adalah pangkal keterbelakangan Eropa.

 

Sekarang, semua bergantung kepada pemerintah. Secara sederhana, ada kubu pilihan. Yang satu adalah kubu yang menghalalkan kekerasan atas nama agama, yang percaya pada gagasan yang menolak keberagaman, gagasan bahwa hanya ada satu tafsiran tunggal seraya meniadakan yang lain. Di sisi lain, ada kubu yang percaya pada arti penting hak asasi manusia, pada hak berbeda pendapat dan keyakinan, serta hidup dalam suasana yang tidak merestui kekerasan.

 

Semoga pemerintah mengambil pilihan yang benar.

 

 

(Ditulis oleh Ade Armando, redaktur majalah “Madina”) 

 

25 thoughts on “Preman Berjubah, Pemerintah dan Ahmadiyah

  1. caung says:

    Pertanyaan yang sering mengganggu saya bukanlah tentang apakah ahmadiyah itu sesat atau tidak, karena saya sampai saat ini masih berkeyakinan(tapi gak tau nanti ya) bahwa agama itu urusan private sama privatenya dengan urusan milih istri mau cantik kek mau jelek kek itu urusan gua, lo gak usah ikut campur, emang minta makan ama lo apa.
    yang mengganggu pikiran saya justru, pasca reformasi justru pemikiran dan perilaku ekstrim justru berkembang luar biasa di indonesia. baik itu dari premanisme, gank motor, sampe kelompok agama, waduh bukan main.
    saya malah berpikir apakah ini justru dikembangkan oleh penguasa ? sampai saat ini tidak ada upaya pemerintah memberikan ketentraman kepada rakyatnya. seandainya premis ini mengandung kebenaran (mudah2an salah ya) negara atau pemerintah telah gagal menjamin keamanan dan kelangsungan hidup warga negaranya sendiri. Kekerasan demi kekerasan tidak memiliki penyelesaian yang baik. jangan kan untuk menyelesaikan masalah kekerasan dimasa lalu yang telah membinasakan jutaan nyawa yang tidak berdosa namun tampaknya sampai saat ini perilaku fasisme dimasa lalu masih terbawa sampai dengan sekarang. namun yang berbeda hanya instrumennya saja.
    jangan2 issue ini justru dibiarkan berkembang untuk menutupi berbagai masalah yang sampai saat ini belum ada yang tuntas, baik itu KKN, busung lapar, pelanggaran HAM,TKI, sampai dengan pengangguran yang semakin menganga, atau juga penjagaan issue naiknya harga minyak yang akan segera dilakukan oleh pemerintah.
    Semestinya negara menjamin keamanan setiap warga negaranya sehingga rakyat merasa penting untuk berperan serta dalam setiap pembangunan bangsa, …………..
    Jangan biarkan preman dan premanisme menjadi bagian dari hidup kita,….

  2. ranrose says:

    hmm kayaknya emang musti diadakan diskusi terbuka ga sih antara pemuka Ahmadiyah di indonesia dengan MUI atau pimpinan ormas, jangan cuman bisanya bilang : bunuh, bakar…
    karena yg bakar2 and ngamuk2 itu juga ga ngerti tuh kayaknya ISLAM nya seperti apa…
    bukan untuk Shifting the point fingers tapi kayaknya masih banyak yang ga ngerti soal paham asli Ahmadiyah dan apa yang diperselisihkan…ada yg blg mereka percaya nabi Muhammad Rasul terakhir ada yg blg..Mirza Ghulam setara dengan Nabi dll…sama juga dengan banyak yang ga ngerti soal HAM..eheheh apa2 dibilang melanggar HAM..haduuh mas, enak’o semua nya dibilang HAM…manusia semuanya pengen sak’enak’e dewe..!
    ada Hak ada Kewajiban…sok Make the other way around
    KAM : Kewajiban Asasi Manusia….

  3. donnyrahman says:

    Saya sangat terganggu dengan kata-kata “korban”, “ham”, “kebebasan” yang menyangkut ahmadiyah ini. Seakan-akan jadi satu-satunya senjata untuk meraih opini publik. Kenapa enggak bikin siaran TV live (kalo berani) ungkapkan kenapa ahmadiyah itu berhak ada di Indonesia tanpa iming-iming “Ham dan Kebebasan”, buktikan ajaran ahmadiyah benar secara ilmu. Kalo benar toh masyarakat bisa menilai dengan sendirinya, Kalo terbukti salah ya ahmadiyah bubar bikin aliran baru tanpa embel-embel islam. Beres!!

    Saya sudah bosan melihat manuver-manuver standar buatan kaum anti islam yang itu-itu aja, jelas terlihat tujuan pemecahan umat islamnya!! yang berusaha menegakkan islam diberitakan anarkis, preman, dll. Yang menyimpang dilindungi atas nama ham dan kebebasan..mereka yang dibilang preman berjubah tidak ada apa-apanya dibandingkan penegakan hukum jaman nabi (dan mereka menegakkan hukum dengan benar). Emangnya sekarang! koruptor, pelacur, pembunuh, maling bebas berkeliaran asal punya beking kuat!! payah!!

  4. trixi says:

    Ya ini lah konsekuensi negara melempem….
    Pertanyaan saya adalah:
    Hak apa dan atas otoritas siapa ada sekelompok orang di negara berdaulat penuh yang menuntut pembunuhan/pembubaran paksa/tobat paksa kelompok lain yang sama-sama bernaung di negara yang sama, sama-sama bayar pajak, sama-sama dijamin dalam konstitusi dan UU, sama-sama warga negara di suatu negara yang berdaulat penuh.
    Anda bayangkan kalau ada aspirasi yang menginginkan kemusnahan suatu kelompok? Apakah UU yang berlaku, yang menjamin keamanan dan perlindungan bagi mereka yang hidup dalam Tumpah Darah Indonesia, bisa menerima aspirasi keji semacam ini?
    Dan, dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia, bukankah yang paling tinggi posisinya adalah UUD 1945? Adakah dalam UUD’45 yang membolehkan upaya pembinasaan seperti ini?
    Ini Indonesia bung!! Ini negara hukum!! Praktik penindasan dan penumpasan G30S/PKI dan gerakan Islam radikal jaman dahulu adalah pelanggaran atas prinsip UUD dan UU lainnya, jadinya tolong jangan dijadikan tolok ukur.
    Hidup Indonesia!!!

  5. Frodo says:

    Dear …

    Gak penting dialog !! (dengan mereka yang punya naluri “BRINGASSS” dan “HAUS DARAH”).
    Sama dengan gak pentingnya melihat mereka terus2an bawa2 nama ISLAM.

    Yang penting itu “Bengkel” Otak dan “Ketok Magic” mental 24 Jam !!

    Kalo gak bisa juga … Yahhh doa sama ALLAH, mohon diberi kekuatan dan “ketabahan” terpaksa hidup berdampingan dengan Gorila dan Beruang Bersorban, Monyet2 Militan, Keledai2 Kebodohan, dan Anjing2 Kekerasan.

    Welcome to JUS’LAMIC PARK (islam compang-camping) … when animals drive the world !!

    Semoga Allah SWT mendengar jeritan mereka yang tertindas.

  6. mas donny, Tuhan saja menjamin hak azasi manusia untuk iman atau kafir kepada-Nya. Kenapa manusia tidak?
    Masalah Ahmadiyah sepanjang pengetahuan saya yang terbatas adalah masalah penafsiran munculnya seorang nabi atau yang disetarakan dengan nabi pada akhir zaman, dimana kalangan Ahmadiyah meyakini bahwa personnya adalah Mirza Ghulam Ahmad, untuk (meminjam istilah Ade) merevitalisasi ajaran Islam. Sementara sebagian kalangan Sunni meyakini akan munculnya kembali Nabi Isa as dan Imam Mahdi pada akhir zaman untuk menyelamatkan umat manusia.

    Boleh dong adanya perbedaan penafsiran dalam Islam, sebagaimana adanya mazhab2. Jangan lupa perbedaan dalam Islam bukan hanya fiqih lho ! Kalau kita teliti masalah usuludin dikalangan Sunni sendiri kita temukan adanya pertentangan yang cukup tajam antara Ahli Hadis yang mengharamkan akal versus kelompok yang membolehkan penggunaan akal dalam menafsirkan agama yang berujung saling kafir mengkafirkan.

    Apa iya cara-cara anarkis seperti itu dicontohkan oleh Nabi Muhammad saaw untuk menegakkan Islam ?

  7. absoen says:

    wah, mas donni lg jatuh cinta ama cerita2 jaman dulu ya? Jamannya khalifah “super” umar n sohib nya bakar yg abu ya? Duh itu mah jaman yg beda tipis ama jaman jahiliah mas, jangan ditiru deh apalagi jatuh cinta, semua yg didapet dari paksaan tu pasti gak enak dan gak baik. Mas mau dipaksa masuk ahmadiyah?! Mau gak? Kalo gak mau ya jangan maksa orang ahmadiyah utk bertobat donk, gak adil namanya (tu namanya umar atau bakar abu)!!!!

  8. caung says:

    om, doni,……
    kekafiran itu simbol moral dan ahlak bukan simbol akidah bisa anda buka kembali almaidah:69 dan albaqarah :62) jangan kan ahmadiyah, yahudi nasrani dan orang yang tidak masuk kedalam agama pun dijamin keselamatannya oleh allah selama mereka menjadi saleh dihadapan allah swt. sehingga janganlah anda menjadi garda agama, tidak satu aliran pun berhak menjadi pengadil atas sesat atau tidaknya suatu aliran.

    kebebasan untuk berideologi adalah hak setiap orang. maka janganlah kekerasan menjadi halal demi merasa menyelematkan agama, islam tidak perlu diselamatkan, allah sendiri telah berjanji untuk menjaga islam itu sendiri sampai dengan akhir jaman.

    kekerasan tetap lah kekerasan atau dengan kata lain kezaliman. allah mengutuk siapa saja melakukan kezaliman dimuka bumi ini. Yang berhak dikutuk bukanlah ahmadiyah tapi yang melakukan dan membenarkan tindakan kekerasan dan kezaliman terhadap orang lain. Islam tidak lah identik dengan kekerasan, kekerasan identik kezaliman kezaliman dengan kekafiran.

    seandainya kesesatan seseorang biarlah allah sendiri menjadi pengadilnya, kita hanya manusia yang terbatas pengetahuannya. Bahwa kebenaran Allah itu mutlak, hal itu benar dalam bahasa langit, namun setelah dimuka bumi menjadi terpecah dan sangat relatif dan multi tafsir, bagai suatu sinar murni masuk kedalam prisma menjadi begitu banyak cahaya.

    mari kita hentikan kekerasan apalagi menghalalkan kekerasan mengatasnamakan agama, itu perilaku yang sangat keji dan tidak bisa diterima akal sehat. yang melakukan kekerasan itu lebih keji dari korban kekerasan.

    Biarkan setiap manusia dan aliran berkembang secara alamiah, proses alam akan menseleksi dengan sendirinya. saya mungkin belum sepakat dengan kebenaran ajaran ahmadiyah tapi saya sudah pasti tidak sepakat dengan kezaliman dan anarkisme dan membenarkan dan melakukan tindakan kezaliman dan kekerasan thd orang lain,..

    mari bangun diskusi dan dialog dengan bermartabat, ini bukan zaman tribalisme apa lagi zaman kanibalisme,,..

    wassalam,…

    apa yang kita ketahui dan pelajari hari mungkin sangat berbeda suatu saat nanti,

  9. ranrose says:

    wah jadi seru ya…saya jadi tertarik sama pendapat mas caung🙂
    tidak satu aliran pun berhak menjadi pengadil atas sesat atau tidaknya suatu aliran. –> bener ni?
    banyak kan aliran ‘sempalan’ yang juga dikatakan sesat, termasuk dalam mazhab AB sendiri,
    nah apa Ahmadiyah ini bisa disebut Aliran atau cuman ‘sempalan’ dalam Islam, apa Ahmadiyah punya struktur prinsip yang kuat?
    Makanya masyarakat yang putus asa antara pro dan kontra menuntutnya : kalo mau, bikin Agama baru aja..ga usah bawa2 islam.

    *nulis ngawur lagi😀 maap….

  10. caung says:

    maaf ya ustad musa jadi kita yang banyak diskusi dan tanggapannya ni, hehehehe
    sempalan atau tidak suatu aliran agama itu wilayah politik dan diciptakan tendensi politik bukan wilayah agama, mestinya kita bisa membedakan apakah sedang memasuki ruang agama dan akidah atau ruang politik. permasalahan akidah tidak bisa dilihat hanya dari permukaan, bukankah telah saya sajikan beberapa ayat tuhan yang membuktikan bahwa setiap aliran, pun dianggap sempalan ,berpotensi mendapatkan keselamatan diakhirat nanti dalam ayat tersebut pada tanggapan saya yang kedua diatas. menurut saya bukan suatu aliran agama tertentu yang pasti mendapatkan keselamatan tetapi seberapa besar pengkhidmatan kita kepada manusia, alam semesta, dan tuhan lah pembimbing keselamatan manusia dihari akhir nanti, alangkah sombongnya kita, telah mengkapling surga hanya untuk aliran tertentu saja, bukankah allah itu maha adil kepada seluruh alam semesta, runtuhlah premis keadilan tuhan bila keselamatan
    pada akhir nanti eksklusif untuk aliran tertentu saja.
    yang mengetahui secara jelas dan pasti siapa yang benar2 berada dijalan yang lurus menurut saya itu dalam hukum tuhan,itu pendapat pertama.

    saya tidak ingin berdebat masalah teologi ahmadiyah disini karena terlalu kecil ruang untuk memperdebatkannya.

    tetapi yang ingin saya katakan adalah siapa yang sesat sebenarnya?
    apakah ahmadiyah yang ingin beribadah menurut keyakinan mereka berdasarkan referensi dan keyakinan yang mereka miliki dan yakini?
    atau kah sesat yang melakukan kekerasan dan kezaliman kepada sekelompok orang yang ingin beribadah menurut keyakinannya?

    menurut saya kebenaran ahmadiyah masih debatable, masih terlalu dini untuk diambil satu kesimpulan.

    tapi melakukan kezaliman, membakar masjid, penistaan terhadap kelompok ahmadiyah dan keluarganya apakah tidak sesat dan berjiwa iblis?

    termasuk membenarkan dan mendukung tindakan kekerasan terhadap kelompok ahmadiyah bisa dianggap benar?

    mungkin itu yang menurut saya penting untuk diperdebatkan.
    malah mungkin agak ekstrim kali ya,…..
    rene descrates, hegel,… mungkin masuk syurga,……

    setelah wafatnya nabi, belum ada yang diberi wewenang oleh nabi untuk menjadi polisi agama, ,…..

    agama itu menurut saya adalah urusan privat (sekuler yah!), sangat personal dan hubungan keintiman yang tidak bisa diukur oleh seseorang atau sekolompok aliran agama tertentu, tingginya tingkat keintiman seseorang kepada allah swt, menurut saya tercermin dari akhlak seseorang yang tinggi dan agung?
    setiap orang yang merasa didalam kebenaran semestinya tidak membenarkan setiap tindakan kekerasan, brutalisme, dan kezaliman,…

    sekian dan terima kasih,
    kalo salah mohon maaf ya,…
    wassalam,…

    caung

  11. ranrose says:

    maaf, satu lagi pertanyaan terakhir buat caung🙂

    bukankah Allah itu maha adil kepada seluruh alam semesta, runtuhlah premis keadilan tuhan bila keselamatan pada akhir nanti eksklusif untuk aliran tertentu saja. –> maaf, apa pendapat anda ini berlaku juga untuk agama tertentu? karena anda bilang rene descrates, hegel,… mungkin masuk syurga,……kalo jawaban mas caung iya, selesailah sudah pertanyaan saya…kalo jawabannya tidak, bagaimana anda menjelaskan banyak hadits2 dan ayat2 yang mewajibkan mengikuti Nabi dan Ahlul baytnya supaya selamat ?🙂

    *Mohon maaf sebesarnya pada pa ustaz..comment nya jadi dipake begini, tapi i promise this is my last question* terima kasih untuk mas caung sudah mau menjawab….

  12. musakazhim says:

    Silahkan berdiskusi…ini ruang terbuka kok. Meksi tentu saja semua opini di komentar ini tdk mewakili pandangan pribadi saya.

  13. caung says:

    jawaban saya berlaku untuk semua agama (ini pendapat pribadi lo ya).
    tuhan hanya menciptakan satu syurga dan neraka untuk semua ummat manusia termasuk islam, kristen, yahudi, majusi sekaligus, budha, hindu, dan sekte2 yang lain(almaidah:69 dan albaqarah :62)

    tuhan memberikan perintah, para nabi adalah perterjemah seluruh perintah tuhan dimuka bumi terhadap manusia, bumi dan alam semesta.

    menurut saya yang membedakan satu dengan yang lain adalah syari’at yang tidak berada dalam satu agama pun mungkin bertauhid, dengan kata lain berjalan dijalan ahlul bait tetap tujuan akhirnya menuju tuhan. yang membedakan dengn ahlul bait, mazhab ahlulbait adalah shortcut jalan pintas dan cepat menuju tuhan. kalo yang lain masih jalan kaki ahlul bait berjalan dengan kecepatan tinggi dengan roket bahkan lebih cepat dari itu sehingga kita akan sangat cepat mencapai pada pemahaman2 yang tinggi yang mungkin aliran agama lain sangat lambat untuk mencapai pada kesadaran dan pemahaman yang tinggi tersebut.

    bahwa, potensi setiap manusia untuk menuj$u pada kebenaran dan keselamatan diberikan kesempatan yang adil dan sama kepada setiap manusia.

    bukankah imam ali pernah bersabda agama itu adalah akal, selama manusia memfungsikan akalnya dengan maksimal, insya allah akan menuju kepada keselamatan. cerminan semua nya itu terefleksi adalah kepada ahlak yang agung?

    pertanyaan saya kemudian mana yang layak mendapatkan surga menurut prinsip keadilan?
    1. seorang rahib yang bukan islam namun berahlak agung yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk kepentingan penghidmatan kepada manusia dan alam semesta sampai akhir hayatnya apakah seorang yang ktp nya muslim tetapi melakukan pembantaian dan kezaliman kepada manusia yang senang berperang?

    bahkan bukan saja rene descrates, hegel, mungkin plato, aristoteles, budha gautama sangat mungkin masuk syurga.

    mohon maaf ustad kebanyakan tanggapan saya disini, ngotorin halaman ustad aja,..

    saya tidak mengajak ranrose atau orang lain untuk bersepakat dengan saya, namun yang ingin saya katakan disini adalah bahwa, janganlah kita merasa yang paling benar dan telah masuk dalam kebenaran belum tentu apa yang telah kita lakukan dan pikirkan itu benar seluruhnya, apa lagi bersikap ekstrim dan skripturalis, membaca tanpa makna.

    setiap pandangan menjadi relatif karena kita melihat dari satu atau beberapa sudut pandang tertentu saja berdasarkan pemahaman, ilmu yang kita miliki yang terbatas ini. Bila Rasul atau para wali allah mengatakan nya dapat saya pastikan itu menjadi absolut. Nabi saja tidak memaksa orang masuk islam tapi menyeru, mengajak, dan membimbing tanpa paksaan.

    bila masih merasa belum puas terhadap pandangan saya, bila ranrose menginginkannya, saya mohon kepada ustad musa, untuk bisa mengirimkan email saya kepada ranrose.

    semua itu pandangan pribadi saya selaku orang yang berwawasan masih sempit, dan semua adalah pandangan pribadi saya.
    wassalam,..

  14. ranrose says:

    waduh panjang bener….saya setuju garis besarnya mas caung, bahwa
    Islam terlalu besar untuk hanya mengkaplingkan surga,
    tapi pertanyaan anda juga terlalu sederhana ?😀 itu kayaknya butuh posting lain lagi de…about Pluralisme atau apalah,saya jg msh ga ngerti..
    tapi yang saya fahami. setiap agama tentu mengclaim yang paling benar..ISlam sendiri berasal dari kata salama..artinya selamat. Di Alquran ada jalan menuju selamat itu dan juga ada ancaman. buat apa ada hal-hal demikian kalo semua orang bisa berkata tujuan kita sama..yaitu Tuhan yang esa….
    “Sesungguhnya Agama disisi Allah itu adalah agama ISlam…(Quran)”
    walaupun saya juga yakin seorang rahib atau nonmuslim mendapatkan balasan atas kebaikannya disisi Tuhan,…
    dan satu lagi saya setuju dengan anda, bahwa, potensi setiap manusia untuk menuj$u pada kebenaran dan keselamatan diberikan kesempatan yang adil dan sama kepada setiap manusia. itulah makanya anda benar, bahwa kita diberi Akal…kitapun belum tentu berislam dengan benar…tugas kita terus mencari dan bukan hanya mengatakan semua sama….

    *Maaf pa ustaz, saya melanggar janji untuk posting terakhir😦 *

  15. caung says:

    inti dari keberagamaan itu paling tidak (ini menurut ustad saya dulu yah)
    1. kebertuhanan
    2. adanya pembawa risalah
    3. adanya hari pembalasan
    tiga kompoonen keyakinan ini menjadi pokok keyakinan, kemudian yang lain menjadi turunan.

    maka setidaknya apa bila orang yakin dengan akal dan hatinya, mensaksikan itu, maka menurut saya tidak akan ada perbedaan atau eksklusifitas satu agama diatas yang lainnya kebenaran semuanya dari allah. pada setiap sudut bumi telah diturunkan sebelum suatu masyarakat menjadi sesat.

    yang ingin saya katakan kekafiran tidak bisa disifatkan pada agama diluar islam apa lagi didalam islam sendiri, sehingga akibatnya kita menghalalkan darah orang yang dianggap kafir. Karena sampai saat ini berdasarkan sedikit literatur yang saya baca, kekafiran adalah perilaku jahiliah bukan simbol akidah, maka siapa saja yang berperilaku biadab termasuk saya bisa setiap saat menjadi kafir karena perilaku tidak bisa tumbuh menjadi baik dari perilaku jahiliah.

    terserah apa namanya, apakah namanya plural, atau apapun penyebutan yang lain.

    mendingan kita diskusi lewat email aja,

  16. Saya bukan Ahmadiyah, dan I don’t care about their faith. Tetapi saya mendukung hak mereka untuk hidup dan beragama sesuai dengan keyakinan mereka. Sekaligus juga saya haqqul yaqin kalau berislam secara individual (atau bisa juga disebut agak-agak ‘uzlah) jauh lebih baik di zaman sekarang ketimbang ikut-ikutan jadi bebek di organisasi A, atau B, atau Jamaah A atau Jamaah B.

    Ada dua problem besar yang sama-sama kita hadapi sekarang di Indonesia dalam hal kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam untuk menghalalkan aksi kekerasan mereka:

    (1) Globalisasi mentalitas Wahabi
    Wahabi (dari pendirinya Muhammad ibn Abdul Wahab sampai Syaikh ibn Baz, Utsaimin, dan Jibrin di zaman ini) amat sangat gampang mengkafirkan sesama muslim. Kalau kafir maka boleh dibunuh menurut mereka.

    Tidak tanggung-tanggung, seluruh ulama thariqat-tasawuf adalah pelaku bid’ah, murtad dan kafir. Bahkan para “ulama” Wahabi sangat berani ketika mereka menetapkan bahwa Quthubul Awliya Syaikh Sayyid ‘Abdul Qadir Jailani, pendiri thariqat Qadiriyah adalah kafir. Para mufassir Qur’an, filosof muslim, para fuqaha dan mutafaqqih sebagian besarnya adalah kafir dan pengikut syaitan menurut Ibn Abdul Wahhab. yang selamat hanyalah Ibnu Taimiyah dan sebagian fuqaha madzhab Hanabilah. Mentalitas Kafir dan boleh bunuh ini yang sekarang mengglobal, masuk ke benak orang-orang yang sebenarnya bukan Wahabi tulen.

    Yang menjadi menarik adalah tahukan Muhammad Al-Khattat dan para pengekornya di Hizbut Tahrir kalau Syaikh Ibn Baz, dedengkot Wahabi yang sudah mati itu mengkafirkan dan memurtadkan Hizbut Tahrir bersama-sama dengan Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh, semua thariqat sufi, dan juga Syi’ah (apalagi syi’ah, ini musuh besar Wahabi)?

    (2) Negara yang lemah lunglai
    Mungkin aneh kalau kita melihat Pemerintah NKRI membiarkan satu organisasi yang tujuannya mengubah dasar negara dan haluan NKRI tumbuh dan mempunyai ruang ekspresi yang sangat luas. Yang saya maksudkan adalah Hizbut Tahrir.

    Saya tidak akan memperdebatkan masalah khilafiyah tentang kewajiban menegakkan kekhalifahan Islam di sini. Tapi ini adalah masalah upaya subversif merongrong ideologi dan haluan negara. Dari NKRI diupayakan berubah menjadi Kekhalifahan. Bukankah ini sama saja dengan gerakan-gerakan komunisme internasional (masih ada gak ya?) yang berupaya mengubah ideologi negara. Mengapa Hizbut Tahrir yang subversif ini dibiarkan?

    Dalam hemat saya, sistem demokrasi atau iklim kebebasan tidak bisa membiarkan kelompok-kelompok predator seperti HTI, MMI, FPI, GUI, FUUI yang hidup di dalamnya yang justru akan menghancurkan prinsip-prinsip demokrasi dan kebebasan.

  17. yang penting ya saling menghormati dan saling menyayangi, tidak fanatis dan menyalahkan pihak lain
    toh belom pernah ada orang yang mati trus idup lagi dan bersaksi bahwa aliran A salah dan B benar…

  18. Tidak ada agama yang membolehkan umatnya untuk berkata2 kotor. Syetan dan iblis bisa merasuki manusia dengan cara halus dan kasar. Ujian pertama manusia adalah menghentikan ucapan kotor dan ujian Tuhan yang paling halus (tsir/ rahasia) adalah menghilangkan rasa riya walau sekecil apapun dalam dirinya.
    Jikalau dalam tindakan mengatasnamakan ISLAM dan berkata kotor, jelas syaitan lah yang berkuasa atas manusia itu. Jangan mengatasnamakan Islam, bersihkan hatimu dengan dzikir yang lemah lembut, karena Tuhan akan turun kepada hamba Nya dalam kasih sayang, bukannya hujatan dan makian. Semoga Tuhan Pencipta Alam Semesta berkenan melindungi manusianya dari jeratan syetan dan iblis. Bagi Front Pembela Islam : “Lembutkan hatimu, sirami hatimu dengan kalam yang Maha Lembut, sadarlah bahwa manusia hanya berumur jagung, tidak lebih. Kebenaran hakiki adalah di tangan Tuhan (Allah SWT), bukan di tangan manusia yang meneriakkan kata2 ironis yang bertentangan dengan Islam. Sadarlah sebelum engkau sebelum adzab menimpa mu. Untuk bangsa Indonesia, mari kita intropeksi diri, tidak Islam ataupun lainnya, semua sudah menuju kehancuran. HANYA JANJI TUHAN YANG PASTI, BARANGSIAPA YANG MENGERTI HIDUP DAN TUGAS MANUSIA DI MUKA BUMI INI DAN MEMAHAMI BAGAIMANA HARUS MENJADI KHALIFAH YANG ARIF DAN BIJAKSANA WALAU TERHADAP PERBEDAAN YANG ADA, MAKA MANUSIA TERSEBUT ADALAH SOSOK YANG AGUNG DI MATA ALLAH SWT KARENA DENGAN BERANEKARAGAMAN MANUSIA TERSEBUT MAKA AKAN TERCETUS INISIATIF DAN IKHTIAR UNTUK MENGAJAK KEBAIKAN SESUAI KALAM ILLAHI YANG MAHA LEMBUT DENGAN AKAL DAN PIKIRAN YANG SUDAH DIALIRI OLEH NUR ILAHI NYA, SEHINGGA AKAN MENIMBULKAN SIMPATI DAN EMPATI. Barangsiapa yang berdakwah dengan cara apapun, gampang saja melihat siapa yang menggerakkan jiwa2 manusia itu. Bila tidak ada simpati dan terdapat ketakutan dan was-was, emosi, dan lain lain sifat syaitan, maka dapat dipastikan bahwa orang tersebut sudah terasuki naluri jahat dari syetan dan jajarannya. SEMOGA KITA DILINDUNGI DARI GODAAN SYETAN YANG TERKUTUK. AMIN—dari manusia hina dina untuk bangsa tercinta…yang terdiri dari berbagai ragam suku dan budaya

  19. alex says:

    Mencraaaat semua opini dan debat kusir tentang AHMADIYAH, sayang ga satupun yang benar mengerti literatur tentang file sosok AHMADIYAH ini dan ajarannya, hingga komen anda semua menjadi kontraproduktif dan bullshiit semua kaya anak keciil yang berebut permen….Diskusinya jadi carut marut dan out of konteks….sy cuma pingin kasih respon: “TULISAN DAN OPINI ADE ARMANDO di atas SANGAT TIDAK LAYAK UNTUK DIJADIKAN REFERENSI KARENA ANALISIS DAN TEORINYA TIDAK DIDUKUNG OLEH BACKGROUND PENDIDIKANNYA… ADE BUKAN SARJANA AGAMA, JADI TIDAK KREDIBEL (BUKAN TIDAK BOLEH ATO TIDAK PANTAS) UNTUK NGOMONGIN WACANA TEOLOGIS YANG BUKAN BIDANG KAJIANNYA…JIKA DIPAKSAKAN, YA .. SEPERTI TULISAN DI ATAS, YANG SANGAT TIDAK BERBOBOT…

  20. alex says:

    ps: INI KOMEN ADE: Perdebatan soal Ahmadiyah adalah murni soal penafsiran. Ahmadiyah sepenuhnya mengakui rukun Islam dan rukun iman, sebagaimana diyakini mayoritas umat Islam lainnya. Ahmadiyah mengakui Muhammad SAW sebagai rasul terakhir dan Al-Qur’an sebagai kitab suci mereka. Namun penganut Ahmadiyah juga meyakini bahwa di abad 19 lalu, lahir Mirza Ghulam Ahmad yang kemudian menerima wahyu dari Allah untuk merevitalisasi ajaran-ajaran yang dibawa Nabi Muhammad itu untuk menyelamatkan dunia Islam yang saat itu sedang terpuruk. Karena itulah, umat Ahmadiyah meyakini Gulam Ahmad sebagai penyelamat yang dijanjikan Allah dalam Al-Qur’an.

    AH AH ADE… SOK-SOK TAU WACANA TEOLOGI ISLAM AJA…TERLALU SIMPLISTIK… MUNGKIN KARNA BUKAN SARJANA AGAMA, YA.. PALING BISA NGOMONG ITU DENGER DARI KOMENTAR ORANG JG ATO BACA DARI SECONDARY RUJUKAN…

  21. alex says:

    GIMANA BUNG MUSA? SY KOK NGERESA KALI INI MULUT ANDA KO TERKUNCI RAPAT DAN PELIT KASIH KOMEN… JGAN2 KRN ADA KAITANNYA DENGAN IDIOLOGI AHLUL BAIT ANDA YANG “SUCI” SPT SOSOK MIRZA JUGA… KASATRIA PININGIT YANG HADIR DI AKHIR ZAMAN ANTAH-BERANTAH MEMBENAHI ISLAM DI DUNIA…

  22. Nyata Islam itu masih tidak lengkap bila seorang Nabi lain muncul selepas kewafatan Nabi Muhammad SAW. Sila rujuk ayat 3 Surah al-Maaidah berhubung keterangan lengkapnya Islam (dari semua sudut) seperti yang dijamin Allah.

    Tidaklah harus ummat itu sesat seperti sesatnya kaum Nasrani dengan ratusan fahaman yang sangat menyempang.

    Jalan menuju kepada Allah itu cuma satu, iaitu jalan Islam seperti yang dipanduk Nabi Muhammad SAW. Sesungguhnya Ahmad Kadyan telah mengubah tanda dan arah jalan itu. Makanya ajarannya mesti ditolak, tanpa kompromi, untuk mengelakkan ummat berpecah.

    Sebenarnya orang lain sangat gembira melihat Islam itu dan umatnya sentiasa berantakan sampai bila-bila. Maka arah jalan yang asal itu harusnya jangan coba-coba diubah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s