8 x 6 di TVOne

 Tanggal 25 April lalu saya dapat sms dari manajer penerbit Hikmah, Kang Deden. Isinya meminta saya bersiap tampil di TVOne pada hari Rabu 30 April. Saya duga penampilan itu untuk beberapa menit saja, seperti di episode “Bukan Istri Pilihan” sebelumnya. Saya langung OK.

Kang Deden yang super kocak itu mengakhiri smsnya dengan motto yang langsung membuat saya terkekeh2, “Bercermin pada sejarah, berpikir demi ilmu dan bertindak demi omzet!” Agaknya ini motto baru Kang? Syukurlah kalo akhirnya bisa menemukan motto di tengah banyak orang yang masih pusing mencari-cari:-)

Tidak berapa lama, datang sms susulan dari Kang Iqbal—isinya adalah permintaan konfirmasi kesiapan. Bedanya kali ini Kang Iqbal membawa-bawa nama Mbak Olin yang menjadi penghubung Mizan dan TV One. So, saya langsung menyatakan kesiapan.

Tanggal 27 siang, saya dapat sms dari Mas Gerry. Sepertinya Gerry ini adalah produser acara. Dia mengajukan 8 tema yang harus saya sampaikan: 1. Nikmatnya Bersyukur; 2. Mengajarkan Shalat pd Anak; 3. Adab Bertetangga dlm Islam; 4. Hidup adalah Persiapan untuk Akhirat; 5. Tuntutlah Ilmu hingga ke negeri Cina; 6. Menjaga Panca Indra; 7. Sayangilah Anak Yatim; dan terakhir 8. Membelanjakan Harta di Jalan Allah.

Saya shock berat! Dada saya seperti mendadak ada pengeras suara dari dalamnya. Delapan tema dengan enam menit bunyi-bunyian yang harus bermakna??? Apa ga salah ini?

Keesokannya, saya mendapat 2 sms lain dari Adi yang memberi tahu waktu dan lokasi syuting. Lalu malamnya, ada Reza TVOne yang memastikan perihal 8 tema tadi. Dia juga meminta saya meringkas apa yang akan saya bicarakan. Tapi sejauh ini saya tidak tahu bagaimana bentuk acara itu.

 

Semua kejutan tadi masih ditambah dengan pengajuan acara yang seharusnya berlangsung Rabu tanggal 30 menjadi Selasa tanggal 29. Saya lemas. Praktik di depan kaca semalaman tampaknya bukan ide menarik. Saya malah merasa aneh harus berlatih seperti itu lagi di usia kepala 3 ini.

Jadi Senin malam itu saya isi dengan membuat corat-coret tntg apa yang akan saya utarakan di depan kamera besoknya. Pagi hari sebelum menuju lokasi syuting, saya ajak istri. Dia menolak, karena sedang banyak tugas di rumah. Wuuuuuuiiiiiiiiiih!

Saya minta bantuan Alfian, my spin doctor, untuk mendukung saya yang sedang lemas.

Sesampainya di Masjid At-Tin, semua kejutan di atas terasa kecil dibanding apa yang saya saksikan. Seorang mubalig sedang berdiri menyampaikan uraian, seperti reporter bangkotan yang sudah terbiasa di depan kamera.

Pasti saya akan terlihat seperti stand up comedian yang ga lucu nih! Mulailah pikiran2 konyol menyembur seperti lumpur Lapindo di benak saya.

Jelas ini sama sekali jauh dari apa yang saya pahami dari pembicaraan sebelumnya: “Nanti Pak Ustad akan ditanya, dan jawab. Itu saja.”

Di depan beberapa orang, termasuk dua orang ANteve yang kebetulan teman Mbak Olin, saya mulai berlatih. Tapi, hasilnya sangat mengecewakan. Teman2 mulai meragukan kemampuan saya. Saya sendiri seperti orang yang karam di lautan pasifik.

Di tengah tekanan besar itu, saya bilang ke Kang Iqbal, “Saya ini tipe orang yang kalau ditekan biasanya justru bisa berhasil.” Ini memang mantra untuk menenangkan diri sendiri. Cara ini biasanya cukup efektif.

“Tiap kali mendekati deadline, saya justru memiliki kemampuan lebih dari biasanya,” ungkap saya selanjutnya.

Sambil mengulum senyum aneh, Kang Iqbal yang biasanya sopan itu bilang begini: “Yah…tapi Syekh (ini panggilannya untuk saya yg sudah mulai saya nikmati) seperinya Anda sekarang ga mampu. Malah tambah grogi. He, he, he…”

Alfian yang biasanya menjadi sumber motivasi juga sudah mulai tdk banyak bicara. Asyik sendiri mencorat-coret buku kecil yang dibawanya.

Saya lalu mengajak Alfian ke pojokan. Di atas bebatuan, di samping deretan pohon itu, saya mulai membual di depan Alfian. “bla, bla, bla, bla, bla…….”

Alfian tampak senang. “Nah…harusnya begitu donk! Harusnya memang membual dengan tenang, seperti biasanya ente bicara ke ana.”

Dalam keadaan normal, omongan Alfian itu bisa saya pahami sebagai ledekan, tapi sekarang saya malah melihatnya sebagai dukungan. Aneh.

Sialnya, begitu orang2 lain datang, dan Alfian meminta saya kembali mengulang apa yg sblmnya bisa saya lakukan, lidah saya mendadak kelu. Jantung juga berdenyut-denyut seperti penari darwisy. Saya memang benar2 sedang grogi!!!

Tapi, subhanaLLAH, ketika saya sudah harus berhadapan dengan tekanan paling berat, saat urat-urat saraf dan lutut sudah makin lemas, persis di saat Adi bilang “4, 3, 2, 1…”, segalanya justru jadi enteng. Ada lejitan kekuatan yang saya rasakan.

Meski tetap tidak sempurna, tapi mulut saya lancar berbicara—jauh lebih lancar dari perkiraan kawan2 dan saya sendiri.

Pengambilan gambar berlangsung 8 setengah jam. Tidak kurang dari 4 jam, saya terus konsentrasi mengingat tema, kandungan orasi, berdiri, duduk, mengingat-ingat gerakan yang boleh dan tidak boleh, menatap lampu merah kecil di tengah kamera tanpa kacamata, dan sebagainya dan sebagainya.

Semua itu saya rasa tidak mungkin saya lakukan tanpa kekuatan dari dalam jiwa, apalagi bila saya ingat bahwa sebelumnya kepala saya dipenuhi negative thinking yang sangat visual. Plus inilah untuk pertama kali dalam hidup saya merasakan langsung kedahsyatan “efek kamera”. (Hari berikutnya memang saya terpaksa seharian berbaring di rumah akibat kelelahan).

Tapi kejadian hari itu makin meyakinkan saya pada fakta ini: apabila tekanan sudah sedemikian kuat, manusia akan meledakkan potensi yang tersembunyi di dalam dirinya! Saya sering melihat hukum ini sebagai cara indah Allah untuk menyadarkan kita pada potensi maha dahsyat yang Dia anugerahkan pada kita.

Saya sering terus meyakinkan diri sendiri untuk tidak menghindari tekanan atau tantangan. Apalagi dengan cara tipuan dan kebohongan. Saya yakin bahwa semua tekanan—atau ujian dalam bahasa agama—itu akan berakhir indah dan menyenangkan. Inna ma’al ‘usri yusra, inna ma’al ‘usri yusra (sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan!!!) Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

Memang tidak mudah menemukan keberanian menghadapi tekanan dan kesulitan, tapi seringkali itulah satu-satunya jalan menuju kesuksesan dan kemudahan.

 

15 thoughts on “8 x 6 di TVOne

  1. ranrose says:

    mabruk pa ustaz…shodaqta, Inna Ma’al Yusri Yusroo..
    Jangan lupa annoucement tayangnya pa ustaz….set the reminder this time🙂

  2. musakazhim says:

    Yg bener adalah inna ma’al ‘usri yusroo..sudah mulai tayang tanggal 6 kemarin sampai akhir pekan ini.

  3. muhajir says:

    as.wr.wb.
    pada episode adab bertetangga,ana ada masalah sekaligus pertanyaan bwt ust.musa.begini ustad ; ana punya tetangga(Ibu-ibu usia 50 thn) , beliau buka warung. istri ana pernah punya kesalahan karena bercanda dan menyakitkan tetangga ana. tanpa menunggu waktu istri ana meminta maaf bahkan sampai bersimpuh sampe nangis. stelah itu istri ana terus berbelanja dan terus menyapa,namun beliau tidak pernah membalas sapaan tersebut. bahkan ketika belanja,wajahnya tidak pernah melihat istri ana. akhirnya,istri ana takut menyakiti hati beliu dan sekarang raguuntuk berbelanja dan bertegur sapa. gimana Bib?ana dosa gak?syukro

  4. musakazhim says:

    Salam

    Menurut saya, Allah menyuruh berusaha. Itu perintah-Nya. Kalo kita melakukan kesalahan, kita disuruh pertama2 menyadari kesalahan itu, lalu melakukan perbaikan atas kesalahan itu. Salah satu cara memperbaiki adalah dengan meminta maaf. Sekiranya permintaan maaf kita ditolak, itu sudah bukan urusan kita lagi. Kini beban sudah berada di pihak orang yg kita mintai maaf. Tapi, sebaiknya kita tetap berhubungan baik dng orang seperti ini. Mungkin saja permintaan maaf itu tdk datang sekaligus, perlu waktu untuk sampai benar2 dimaafkan. Kalo memang itu syaratnya, ya kita patut melakukannya.
    Seperti halnya sakit hati itu juga tdk mudah hilang, mungkin begitu juga mengobati orang sakit hati.
    Semoga berguna dan menjawab pertanyaan.

  5. musakazhim says:

    Ga ada info siapa saja yang terliba, Pak! Tapi saya siap menghadap ke kantor bila Bapak perlukan:-)🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s