Sekali lagi soal Ahmadiyah (dan soal Perbedaan Mazhab)

 

Sejak masa-masa awal, Islam telah mengenal banyak mazhab dan aliran. Orang hanya perlu melihat tradisi penulisan al-Milal wa an-Nihal—ensiklopedia aliran dan paham Islam— untuk mengetahui kekayaan interpretasi tersebut. Tradisi pembuatan ensiklopedia aliran ini secara sederhana menunjukkan tumbuh suburnya kajian Islam di satu sisi, dan keterbukaan teks-teks Islam terhadap multi-interpretasi. Dan semua itu, tentu saja, menunjukkan keunggulan Islam.

 

Realitas historis yang sepatutnya dipuji dan dilestarikan ini sering mendapat ancaman. Ada dua ancaman besar terhadap keragaman interpretasi Islam. Dua ancaman itu datang dari dua kelompok yang saat-saat ini terus menguat dan menggerogoti tubuh Islam. Pertama adalah ancaman dari kelompok yang jumud dan kaku dalam memahami Islam. Kelomok ini tidak bisa menerima perbedaan. Baginya, perbedaan sama dengan penyimpangan dan kesesatan, sehingga harus serta merta dibasmi dan dihabisi. Semakin keras dan heroik pola pembasmian itu, semakin besar pahalanya. Ini jelas adalah model pemahaman agama yang membunuh ruh agama itu sendiri.

 

Ancaman kedua datang dari kelompok yang sinis terhadap Islam. Kelompok ini biasanya dengan mudah meledek segala hal. Mereka merasa paling pandai, terbuka, maju, dan terutama paling ilmiah dalam memahami Islam. Seperti halnya sikap jumud, sikap sinis juga bisa mengubah keragaman interpretasi Islam sebagai bom waktu konflik yang serius.

 

Kedua ancaman atas keragaman Islam itu ironisnya sama-sama muncul dari sikap ekstrem. Kelompok pertama bersikap ekstrem membela pandangannya tentang Islam, dan yang kedua bersikap ekstrem meremehkan pandangan orang lain tentang Islam.

 

Sialnya, kedua sikap ekstrem itulah yang kini kerap menampakkan citra Islam di media. Setiap kali ada fenomena perbedaan paham dalam Islam, media akan meliput kedua sikap Muslim yang sama sekali tidak mencerminkan mayoritas itu. Di banyak forum media massa memperhadapkan dua wajah Islam yang sama-sama ekstrem itu: wajah jumud dan kaku di satu sisi; wajah meledek dan acuh tak acuh di sisi lain.

 

Media sendiri jelas senang dengan yang ekstrem-ekstrem ini, karena bad news is good news. Anjing menggigit manusia itu bukan berita, tapi manusia menggigit anjing itulah berita. Agamawan mengajak kasih sayang bukan berita, tapi sok agamawan mengajak orang membunuh jelas headline. Seorang Muslim yang bersikap bijak dan moderat itu bukan berita. Tapi, teriakan “bunuh, bunuh, bunuh!” dan “Muhammad manusia biasa, Muhammad orang bodoh, al-Qur’an tidak suci!” adalah berita.

 

Kontroversi seputar Ahmadiyah di media massa akhir-akhir ini berayun-ayun di antara dua ekstrem tersebut. Akibatnya, bara konflik kian memanas. Kalau dibiarkan, bara itu bakal menghanguskan seluruh ragam bunga yang tumbuh di taman budaya Islam.

 

Mengingat gentingnya situasi yang menghadang, sebuah usaha besar untuk menghidupkan sikap moderat (sikap tengah) harus segera digalakkan. Para pemikir dan tokoh Muslim harus bersama-sama menyadarkan publik bahwa Islam mengajarkan jalan tengah dalam menyikapi persoalan sosial. Kalangan cendikiawan harus menunjukkan bahwa Ahmadiyah sebagai akidah konseptual berbeda dengan Ahmadiyah sebagai fenomena sosial. Sebagai akidah, siapa saja berhak memulai dialog, debat dan polemik dengan mengajukan dalil-dalil pro maupun kontra yang paling tajam dan rigourus sekalipun.

 

Tapi, apapun hasil dialog dan perdebatan—yang boleh jadi tidak akan berakhir—itu, seseorang atau sekelompok orang tidak bisa menjadikannya sebagai dasar untuk mengambil tindakan tertentu terhadap Ahmadiyah sebagai fenomena sosial. Karena kehidupan sosial harus tunduk pada hukum yang memiliki pijakan yang tidak semata-mata berlandaskan prinsip-prinsip rasional.

 

 

Itulah mengapa Islam menyuruh semua Muslim untuk tunduk pada hukum yang berlaku dalam masyarakatnya, sekalipun hukum itu mungkin tidak persis sesuai dengan hukum Islam. Sekalipun Islam menyuruh individu berjuang secara demokratis untuk mengubah agar hukum yang berlaku itu sejalan dengan Islam, tapi ketundukan pada hukum setempat adalah bagian dari ketundukan seseorang pada hukum Allah.

Advertisements

7 thoughts on “Sekali lagi soal Ahmadiyah (dan soal Perbedaan Mazhab)

  1. Laith Ali says:

    Salaam Ustad, saya sangat senang membaca tulisan pada paragraf terakhir, bahwa Islam menyuruh semua Muslim untuk tunduk pada hukum yang berlaku di masyarakatnya. Karena hal ini sangat jarang didengungkan oleh ustad-ustad di Indonesia.

    Namun, dalam prakteknya, hal ini sangat sulit diterapkan (lihatlah kondisi lalu lintas kita yang semrawut). Saya rasa hal ini juga cukup umum di negara-negara Islam yang masih tergolong developing countries. Banyak dari masyarakatnya yang tergolong ahli ibadah, tapi begitu berhubungan dengan hukum non-Ilahi, mereka melanggarnya. Apa penyebab dari fenomena ini?
    Kenapa masyarakat barat yang rata-rata non-Muslim lebih bisa menghormati hukum-hukum negaranya?

    Dalam beberapa ceramah online, saya bahkan mendengar bahwa ada beberapa marja yang mengharamkan pelanggaran kepada hukum-hukum negara (terutama berlaku untuk seorang Muslim yang berhijrah ke negara tersebut).

    Mungkin Ustad bisa membuat analisa mengenai ini dan menuangkannya dalam tulisan untuk kita semua. Syukran.

  2. Mengenai contoh pelanggaran lalu lintas, atau peraturan non-Ilahi lainnya, tiba-tiba saya merasa bahwa secara tidak sadar, kita sesungguhnya telah berlaku sekuler yang “bertuhan”. Saya menggunakan tanda “, karena jangan-jangan kebanyakan kita menganggap Tuhan hanya hadir di mesjid, mushala, majelis taklim, dan tempat-tempat yang dipandang suci lainnya, dan kita tidak menganggap kehadiran di lampu merah, atau tempat-tempat profan lainnya. Saya jadi ingat tulisan salah seorang ulama, Jawadi Amuli, bahwa umumnya kita beriman pada Allah yang Gaib, bukan Allah yang hadir. Yang pertama, tidak akan melahirkan ketakutan, sementara yang kedua, sebaliknya. Semoga kita bisa meluruskan pemahaman tauhid dan menerapkannya dalam keseharian.

  3. musakazhim says:

    Komentar yg menarik, Arif. Memang keyakinan pada Allah itu harus bersifat menyeluruh, dalam kehadiran dan kegaiban-Nya.

  4. trus jadi ahmadiyah gimana?…jadi ahmadiyah harus nurut pemerintah khan agar tidak ada konflik di negeri kita,ingat konflik adalah akses masuk kolonial modern masuk ke negeri kita,..mereka nunggu perpecahan negeri ini,…walahualam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s