Jamu untuk Jiwa

 

Kemarin, di tengah-tengah kemacetan jalan Pancoran, saya dan teman menyaksikan fenomena yang menyentuh hati: penjual jamu yang menuntun sepedanya. Dengan wajah penuh tanda kelelahan, dia meminta jalan untuk menyebrang. Saat mendekat ke samping kiri, kawan saya berteriak “Subhanallah!”.

Saya terperanjat dan bertanya, “Ada apa?”

Ternyata dia kaget dengan kecantikan penjual jamu itu. “Liat ga penjual jamu yang menuntun sepeda itu?”

“Memang kenapa?”

“Dia sangat cantik! Lebih cantik dari banyak artis sinetron kita.

“Oh ya? Terus?” saya masih belum jelas dengan maksud pembicaraannya.

“Bila dia bukan orang yang benar-benar punya kehormatan dan menjaga keimanan,” lanjutnya menggebu-gebu, “sangat mudah baginya untuk melacurkan diri dan mendapat uang besar dalam waktu singkat.” 

Saya langsung ikut bertasbih dan bershalawat. Meski sedang menyetir di jalanan Jakarta yang super hancur lebur, saya berusaha menangkap aura kecantikan penjual jamu yang baru saja melintas itu. Luar biasa, tidak salah hasil penilaian kawan itu.

Saya pun langsung menimpali, “Iya, ya… Dia pasti perempuan yang sangat menjaga diri dan punya harga diri yang tinggi. Kalau saja dia memikirkan uang, dengan modal kecantikan itu banyak cara tidak halal yang bisa dia pakai. Pasti juga banyak orang bejat yang menggodanya. Tapi dia tetap menjual jamu yang mungkin menghasilkan uang sedikit dibanding dengan iming-iming setan yang dibisikkan padanya.”

Kami lantas silih berganti melontarkan pujian untuk perempuan cantik yang bahkan tidak kami kenal itu. Saya mulai merasa malu di hadapan Allah, betapa sering saya tak bisa menahan diri dari dosa demi manfaat sepele—padahal kebutuhan hidup penjual jamu itu jelas jauh lebih mendesak ketimbang saya.

Kalau ada dana, saya ingin mencari orang-orang seperti penjual jamu itu dan membuat feature tentang mereka. Saya ingin menunjukkan betapa mudah menjaga kehormatan di tengah himpitan ekonomi bagi orang yang mau dan bertekad. Saya juga ingin membuktikan kesalahan asumsi umum yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia itu pada umumnya korup dan bejat. Saya ingin menunjukkan bahwa para koruptor itu sama sekali bukan mencerminkan moralitas bangsa. Mereka asing terhadap bangsa ini seasing penduduk Mars. Saya makin geram melihat para korupot yang dengan segala cara memanfaatkan kepolosan dan keluguan bangsa ini.

Seribu kutukan dan laknat atas mereka!

Sudah jelas di antara kita banyak orang yang layak mendapat penghargaan, bukan karena banyaknya uang yang mereka punya, tapi karena besarnya komitmen kemanusiaan dan integritas moral mereka. Inilah yang jarang kita tonjolkan: kekuatan komitmen kemanusiaan dan integritas moral atas kebejatan dan korupsi. Imam Husein adalah teladan paling sempurna yang mengajarkan kemenangan darah atas pedang, kemenangan moral atas kebejatan, kemenangan keberanian atas kebengisan.

Tapi pikiran saya tidak berhenti di situ. Mungkin karena suka membaca literatur mistis, saya menangkap isyarat lain dari kejadian Magrib itu. Saya melihat betapa alam semesta ini sebenarnya adalah sistem yang sangat teratur. Ketika penjual jamu itu, atau siapa saja, berbuat tulus untuk Allah, maka pengaruh perbuatannya itu akan menyebar kemana-mana. Bagaimana tidak. Si cantik itu menjual jamu untuk menyehatkan badan orang, tapi pada saat yang sama dia juga berhasil memberi jamu motivasi pada jiwa kita—dan mungkin juga banyak orang lain.

Perbuatan baik itu sungguh tak pernah kecil, karena Penerimanya adalah Allah yang Maha Besar. Dia-lah yang akan melipatgandakan perbuatan kecil itu sebesar apapun yang Dia kehendaki—bahkan berlipat-lipat hingga tak terbatas.

 

11 thoughts on “Jamu untuk Jiwa

  1. denjaka syiah says:

    tenane nih Bib? kok mau2nya ya dia jadi penjual jamu. lha wong jadi artis saja bisa, atau cari suami yang cinta mati sama dia. (cewek yang ada digambar itu tho?) ane aja mau sama dia Bib. Waahh itu dianya hrsny dikejar untuk diobservasi latarbelakang tujuan dia. Soalnye ane pernah liat dg mata kepala sendiri. bagaimana kehidupan penjual jamu itu. Wkt itu di gang dalam pasar. seorang penjual jamu sedang melayani tiga org pembeli. satu tukang parkir, satu penjual brg loak, satu supir angkutan. Wahh habis penjual jamu itu dicandai ketiga org ini. Setelah itu mrk bertiga dg seenaknya melakukan perbuatan yg kurang ajar pd penjual jamu itu. meraba2 dan mencolek2 di bagian2 tubuh tterlarang si penjual jamu. penjual jamu itu juga melawan dengan menepis2kan tangannya. yahh tp gmana lagi satu lawan tiga je. Yg lebih gila lagi org2 lain di sekitar tempat itu biasa saja. dan tdak ada pembelaan. padahal ane udah marah sekali wkt itu, tp krn wkt itu ane masih kecil (SMU kls 1) jadi gak berani menegur mrk.

  2. Banyak sekali ibrah, namun sedikit sekali orang yang mengambil manfaat darinya…(Imam Ali AS)
    …Mereka asing terhadap bangsa ini seasing penduduk Mars…. very nice!

  3. Nice hikmah, sayangnya masih ada seribu satu penjual jamu atau penjual-penjual lainnya yang wajahnya tak se-Ayu penjual jamu di atas dan nasibnya jauh lebih memprihatinkan, Mudah-mudahan bisa terus menulis featurenya…

  4. Yaaa… gak semua orang berfikiran untuk cepet duit dengan cara cepat dan salah, masih banyak oran gyang masih seperti itu, tapi gak di kota, di luar sana , hanya penglihatan kita sangat terbatas aja gan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s