Basa Basi Basi

Pernah dengar orang menyapa begini, “Baik ya, baik?!”

Atau begini: “Gmana keadaanya? Sehat ya, sehat?!”

Teman saya, sebut saja namanya Sensitif bin Peka, suka sewot mendengar basa-basi seperti itu. Pikirannya jadi negatif, apalagi intonasi basa-basi itu umumnya datar-datar saja. Menurutnya, secara psikologis, basa-basi ini mengesankan ketidaksiapan menerima kabar yang tidak baik dari lawan bicara. Ekspektasi pembicara adalah mendengar yang baik-baik dan enak-enak dari lawan bicara, sehingga seolah pembicara tidak siap atau tidak sudi menerima kabar buruk atau keluhan lawan bicaranya.

 

“Padahal, bukankah basa-basi itu sejenis sopan santun yang menuntut, paling tidak, kesiapan mental seseorang untuk mendengar keluhan lawan bicaranya,” ungkap Kang Sensitif suatu ketika kesal.

 

Di kalangan warga Indonesia turunan Arab, Kang Sensitif sering mendengar basa-basi seperti ini, “Bekher? Bekher?” atau “Mabsut ya, mabsut?!” ‘Bekher’ artinya baik dan ‘mabsut’ artinya berhasil.

 

Dalam amatan Kang Sensitif, ada dua jenis orang yang berbasa-basi dengan kalimat-kalimat di atas. Pertama, orang yang memang ingin kita berhasil, dan kedua orang yang hanya ingin ikut serta dalam keberhasilan kita tapi tidak dalam penderitaan kita. Jenis kedua ini lebih banyak, dan biasanya langsung ngacir jika lawan bicara mulai berkeluh kesah.

 

Kang Sensitif lalu melanjutkan pengamatannya atas berbagai basa-basi lain, semisal “Sudah makan?” Menurutnya, basa-basi ini ingin sekali kita sudah makan, dan jangan sampai kita belum makan. Harapan pelaku basa-basi ini agar kita teringat pada kata “sudah”, bukan kata “makan” dalam kalimatnya.

 

Basa-basi lain yang juga tidak luput dari amatannya: “Kapan pulang?” ketika kita berkunjung ke daerahnya. “Semua ini kesannya negatif,” kata Kang Sensitif.

 

Bandingkan, misalnya, kata Akang, dengan basa-basi begini: “Makan di rumah ya!” atau “Ayo kita makan!” Kalimat basa-basi yang disebut terakhir ini lebih menunjukkan keseriusan, ketimbang basa-basi yang basi.

 

Akang Sensitif memang sensitif. Semoga dia keliru mengamati dan mengubah pandanganya. Tapi renungannya saya rasa cukup menarik, setidaknya membuat kita lebih berhati-hati dalam berbahasa J

 

 

 

 

 

12 thoughts on “Basa Basi Basi

  1. renungannya emang menarik, tapi terlalu nganggur dan merepotkan, juga penuh prasangka…
    kang sensitif itu kok ya sensitif banget sih, akhirnya orang jadi males mau nawar2in ke dia klo tau dia berpikiran gtu….

    pakabar ustadz? kmana aja kok ga pernah posting?

  2. Ranrose says:

    Loh fik..emang seringnya orang2 yang terlalu banyak basa basi itu tidak siap menerima kabar buruk, itu namanya basa basi…yang basi!
    perasaan aku kmrn post comment ko ga ada ya..cerita orang nanyain pakabar, temennya jawab kena diagnosa kanker paru2, yang tanya malah blg…oh bagus, trus gimana bisnis kita….
    saking ga sensitiv and ga perhatiannya…
    menurutku kang sensitive itu justru sensitive yang pintar !😀 he …

  3. lhah.. masa sih?
    siap ato tidak menerima kabar buruk ya tetep aja bilang pakabar? baik? baik? bkher? bkher?
    karena ini menurutku mengeluarkan energi positive thinking atas orang yang ditanyain….

  4. incriv says:

    @Rindu

    kayaknya bilang Insya ALLAH udah jadi Budaya jelek yah,,
    maksudnya, kalo langsung bilang ‘enggak’ kan ga enak,, mendingan basa-basi basi bilang Insya ALLAH…

  5. Aq hanya manusia biasa

    basa basi ngk papkan? Dr pd ngk nyapa, ntr diblg somse gmn hayoo?
    Yg ptg niat kt lillahi ta’ala berTutur salam..

    Assalamualaikum…
    (‘0’)

  6. musakazhim says:

    Makasih atas komentar teman2 semua. Kang Sensitif hanya memberi pendapat. Dia bisa salah, bisa benar, bisa setengah salah dan setengah benar. Yg jelas, saya merasakan selera humor Kang Sensi di balik pandangannya itu.
    Jadi, Adit, baik-baik semua, ga pernah ga baik. Antum sendiri bekher, bekher, bekher ya (memaksa bekher!)🙂

  7. Lebih baik basa-basi dari pada tidak berbasa-basi. Kalo tidak berbasa-basi, Bung Sensistif bisa bilang bahwa kita sombong. Bayangkan saja, kita bertemu dengan orang tapi tidak berbasa-basi. Nanti, kita bisa dibilang “Tsaqil Dam” atau ketus. Alhasil, lebih baik basa basi deh, tapi tetap pilih kata-kata yang tepat seperti yang dianjurkan Bung Musa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s