Masalah Kebahagiaan

Dalam jurnal American Sociological Review edisi April 2008, Yang Yang melakukan survei tentang masalah kebahagiaan atas 1500 sampai 3000 orang dengan cara melakukan wawancara langsung sejak tahun 1975.

 

Survei atas masyarakat Amerika menunjukkan bahwa banyak orang tua merasa cukup bahagia (quite happy). Lebih dari setengah laki-laki dan perempuan kulit hitam di atas usia 80 tahun menyatakan “sangat bahagia (very happy), baru kemudian disusul oleh manula berkulit putih.

 

Dalam masalah kebahagiaan, remaja jauh tertinggal. Hanya sepertiga laki-laki kulit putih berusia 18 tahun menyatakan bahwa mereka “sangat bagahia”, dan 28 persen perempuan kulit putih menyatakan hal yang sama. Remaja kulit hitam malah kurang bahagian dibanding remaja kulit putih.

 

Apa sebenarnya makna dan releavnsi survei ini? Apakah survei ini bertujuan menunda pertanyaan tentang kebahagiaan orang sampai usia lanjut? Atau justru ingin memberi optimisme kosong akan datangnya masa bahagia itu dengan bertambahnya umur?

 

Bukan rahasia lagi bahwa masyarakat modern jarang merasa bahagia—untuk tidak mengatakan telah terjadi krisis mental yang akut. Saya sendiri sering menemukan orang menghindari pertanyaan ini dan menyibukkan diri dengan berbagai urusan agar pertanyaan fundamental ini tidak mengganggu pikirannya. Jelas ini cara paling bodoh untuk menghidar dari tuntutan fitrah manusia untuk menemukan kebahagiaan.

 

Pada sisi lain, survei di atas sebenarnya bisa dijadikan sebagai argumen tandingan sebagian besar orang yang menyatakan bahwa kebahagiaan sama dengan pekerjaan yang menyenangkan, kehidupan seks yang penuh gairah, kesehatan prima, kecantikan tubuh dan sejensinya. Kalau di masyarakat Barat yang lebih sering tertimpa krisis kebahagiaan para manula lebih bahagia daripada remaja, maka kebahagiaan itu berarti tidak datang dari faktor-faktor material seperti yang lazim dipersepsikan.

 

Lantas, bila pekerjaan yang menyenangkan, gairah seks, kesehatan dan kecantikan fisik dan sejensinya bukan faktor-faktor penentu kebahagiaan seseorang, apakah unsur utama yang bisa menimbulkan kebahagiaan seseorang? Survei American Sociological Review edisi April 2008 itu sayangnya tidak mampu menjawab pertanyaan paling penting ini.

 

 

8 thoughts on “Masalah Kebahagiaan

  1. Attar says:

    Kebahagiaan merupakan tujuan manusia, hanya masing-masing orang berbeda terhadap apa itu bahagia?
    Bila tujuan orang di gantungkan pada hal sesaat maka rasa bahagia yang di nikmatipun sifatnya sesaat, sebaliknya bila tujuan tersebut pada hal yang langgeng maka rasa bahagianya pun akan langgeng dinikmatinya. Janganlah bergantung pada dahan yang rapuh bergantunglah pada pokok yang kokoh dan kuat, Kalau ingin membahagiakan Jiwa jangan menggantungnya di dunia karena bersifat sementara dan fana, namun kalau ingin bahagia sesaat nikmatilah dunia sepuas-puasnya tapi ingat bahwa dunia bukan tempat berlabuhnya ruhani, dunia adalah tempat kehancuran jasad apapun.Believe it or not !!!

  2. pelangie says:

    Yup !
    Bahagia itu pilihan.
    Kadang kita yakin, dengan punya banyak uang, sukses dalam karir merupakan alat ukur seseorang bahagia.
    Tapi ternyata tidak ya ?

  3. vivi jamal says:

    bahagia? hmmm …
    cuma kita yg bisa artiin bahagia buat diri kita …
    gak ada teorinya dah😀

    tapi gak tau ya, bahagia buat orang uzur seperti ranrose itu apa …. hehhehe …

  4. Attar says:

    Bahagia itu kalau ke inginanmu pas sesuai dengan takdir/ketentuan yang ditetapkan Allah. Jadi sesuaikanlah keinginanmu dengan taqdirNya, bagaimana caranya? belajarlah membaca tanda-tanda dariNya yang turun setiap saat menghampirimu.

  5. Menarik sekali apa yang dipaparkan Ustaadz!

    Dalam salah satu ajaran Zen, ketidakbahagiaan adalah mencari sesuatu yang tidak ada. Dengan demikian, kebahagiaan adalah mensyukuri sesuati yang ada. Syukur bukan berada pada wilayah materi krn tak ada pembilang. Syukur bersifat spiritual, wilayahnya imateri.

    Untuk menjadi bahagia, ane percaya bahwa hidup itu adalah rekreasi. Re-creation, penciptaan ulang. Apa pun yang kita lakukan, kita seyogiayanya mencipta ulang ke-diri-an kita dalam setiap detik yang kita jalani. Alaa inni bidzikrillahi tahmainul quluub…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s