Manisnya Sebuah Musibah

Ini memang cerita sedih, setidaknya bagi saya. Tapi terpujilah Allah yang Maha Kreatif itu!!! Sungguh Dia selalu punya cara untuk membuatnya terasa manis dalam jiwa.

 

Menjelang puasa dua tahun lalu, saya berada dalam kondisi keuangan yang serba sulit, pas-pasan. Sejak awal Ramadhan, saya telah mempersiapkan diri dan istri untuk tidak mudik. Namun, ternyata Allah berkehendak lain. Seorang dermawan datang dan memberi tiket untuk kami berdua, lengkap dengan mobil yang mengangkut kami ke Cengkareng dan mobil yang menjemput kami di Juanda. Suatu pemberian yang sempurna.

Hampir saja kami tak mampu mengucapkan “Terima kasih”. Lidah ini terasa kelu! Tapi, untung dermawan ini juga seorang yang cerdas untuk bisa menangkap sinyal-sinyal di wajah kami. Di situ memang tergambar jelas ucapan terima kasih.

Seperti biasa, hari-hari keberadaan di Jawa Timur saya isi dengan menjalani silaturahmi, yang berarti mondar-mandir dari satu kota ke kota lain, menjalin tali-tali persaudaraan yang mengendur akibat tarikan ruang dan waktu.

Sore hari itu, setelah mampir di Bangil untuk berziarah ke maqam Abah, saya menuju ke Malang untuk menemui Bunda. Sepanjang jalan, pikiran saya melayang-layang, membayangkan apa yang akan saya kerjakan di Jakarta kelak sekembalinya dari liburan ini. Sekalipun mata menatap ke depan, tapi batin saya sebenarnya merajut tumpukan bayang-bayang dari dunia lain, dunia yang secara keren kita sebut sebagai masa depan.

Di daerah Purwodadi, di jalan bebas hambatan itu, pikiran saya semakin karam dalam dunia nun abstrak di sana. Menjelang Magrib, pada saat indra penglihatan semakin melemah, sebuah truk besar yang lebih mirip gajah besi mendadak melamban. Saya langsung menduga bahwa truk bongsor itu, seperti nenek-nenek usia 80 tahun, kehabisan tenaga untuk mendaki jalan yang menanjak. Dengan cepat mobil saya geser ke kiri untuk menyalip, seperti yang lazim berlaku di seluruh jalur Pantura.

Tiba-tiba saya melihat truk derek yang sedang mengevakuasi traktor yang terguling di tepi jalan. Rem langsung saya injak dalam-dalam, tapi rupanya ceceran oli bekas tabrakan sebelumnya justru membuat laju mobil kian kencang. Hukum alam memaksakan kuasanya dan terjadilah apa yang terjadi. Bemper depan mobil saya menghantam buritan truk derek. Dan truk derek ini pada gilirannya bergerak tak terkendali menghantam polantas yang sedang mengatur lalu lintas di depannya.

Mobil saya sendiri baru terhenti setelah beberapa meter. Pintu pun langsung saya buka dengan paksa, dan…Ya Allah, seorang polantas muda terkapar dengan mulut penuh busa dan badan yang kejang-kejang tak jauh dari tempat saya berdiri. Massa yang sejak beberapa waktu telah berkumpul menyaksikan tabrakan sebelumnya langsung berteriak-teriak marah. Spontan saya kembali masuk mobil dan menutup pintu. Seseorang dari kerumunan yang marah itu mengancam akan membakar mobil. Saya pun langsung tercekam.

Tidak berapa lama, seorang polisi muda yang berwajah tampan mendobrak pintu, memukul kaca jendela dan memaksa saya keluar. Begitu berada di luar, tangannya yang menggenggam tongkat langsung mendarat di kepala berkali-kali. Ditambah beberapa orang lain yang menendang perut, dada, muka dan lagi-lagi kepala. Saya hanya bisa mengucap Astaghfirullah sekeras-kerasnya.

Syahdan, seseorang berbaju preman merangkul saya dan membawa saya lari dari kerumunan. Dia menyuruh saya meloncat ke atas motornya dan memboyong saya ke kantor polsek setempat. Dalam perjalanan dia mengaku kenal Abah, dan tahu nama saya. Dia mencoba menenangkan, dan menyatakan akan menyelamatkan saya dari amukan teman-teman korban. “Biar aman, kamu tinggal di sel ini dulu,” katanya dengan suara santun.

Di dalam sel itu saya hanya dapat memanggil-manggil nama Yang Maha Kuasa. Saya  menelpon beberapa orang, tapi tak ada yang menyahut. Sampai akhirnya mertua balik menelpon dan mendengar kabar buruk ini. Setelah itu saya menelpon adik ipar saya, Ustad Zahir, untuk melihat korban yang telah dibawa ke RS Saiful Anwar. Manusia serba bisa, cekatan, penuh kematangan dan ketenangan ini segera mengatur segala sesuatu yang bisa meringankan seluruh beban saya selanjutnya. Semoga Allah memanjangkan umurnya dan melanggengkan pelayanannya untuk umat.

Malam itu juga saya dipindahkan ke Polres Pasuruan, dan berdiam di sana sampai sembilan hari.

Di kantor itu, banyak teman dan saudara yang berdatangan dan menelpon. Ada yang tanpa sadar menyatakan bahwa kejadian ini pertanda bahwa saya kena tulah, kurang sedekah, kurang amal saleh dan sebagainya. Ada pula yang datang sekadar untuk menghibur. Dan ada pula yang datang dengan tujuan membantu tapi malah membebani. Ada segala rupa jenis orang.

Tapi, sekarang, bila semua itu saya kenang kembali, saya menemukan banyak hal yang teramat penting dan manis. Salah satu pelajaran penting yang segera saya pahami adalah tiadanya batas dalam kewaspadaan. Seberapa waspadapun kita, ketahuilah bahwa kita masih harus lebih waspada lagi. Pelajaran lainnya, dan ini akan terasa begitu manis bila kita cicipi dengan akal yang jernih, bahwa musibah itu merupakan proses pengejawantahan doa kita. Sebagai contoh, saat kita meminta kesabaran pada Allah, maka salah satu cara untuk mengalami dan mendapatkan kesabaran itu adalah melalui musibah. Anehnya, kita sering tidak mau menerima musibah, tapi tetap kita meminta sabar. Inilah kontradiksi yang sering membuntukan cara berpikir kita. Demikian pula bila kita meminta keberanian dari Allah. Maka tidaklah salah bila Allah menggiring terjadinya suatu peristiwa menakutkan yang pada gilirannya menumbuhkan keberanian dalam diri kita. Dan begitulah seterusnya.

Sejak lama saya meminta pada Allah agar saya diberi kesabaran dan keberanian. Dua sifat ini memang masih terlalu sempurna untuk saya sandang. Tapi saya selalu meyakinkan diri saya bahwa saya harus punya dua sifat itu, sekalipun dalam tingkat yang paling tidak sempurna atau pada tingkat yang paling sederhana.

Hal manis lain lagi yang segera saya rasakan sebagai karunia Allah adalah solidaritas saudara-saudara non-biologis saya. Ada yang datang memberikan dukungan moril, ada yang membawakan makanan, pakaian, dan ada yang khusus datang untuk mengocok perut. Di saat-saat seperti itulah saya sadar betapa mahalnya persahabatan dan persaudaraan. Dan dua hal itu tak bisa digantikan dengan apapun, apapun juga.

Orang yang tidak pernah mengalami musibah akan sulit memahami arti penting semua itu, sama sulitnya seperti orang yang tidak pernah sakit maag untuk merasakan dampak-dampak asam lambung pada perut.

Namun, aneh bin ajaib, peristiwa yang sangat berpengaruh pada saya itu sering jadi bahan guyonan orang tentang saya di hadapan saya. Saya pikir mereka mungkin ingin saya tidak trauma, dan memang saya tidak pernah trauma. Tapi cara mereka melakukannya membuat saya bingung. Untuk apa guyonan berkenaan dengan suatu musibah yang menimpa orang lain? Mungkin juga musibah orang merupakan kesenangan buatnya. Na’udzu bi’LLAH, semoga Allah menjaga kita dari sifat busuk semacam itu.

8 thoughts on “Manisnya Sebuah Musibah

  1. Ranrose says:

    Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
    (QS AlBaqoroh-100)

  2. Salam.

    Habib Musa, inilah cara Allah mendidik dan memperkuat jiwa kita, agar kita lebih waskita – waspodo lan wisesa, lebih peka terhadap tanda-tanda alam dan fenomena untuk menyatu dan lebur bersama entitas-entitas manifestasi wajah Ilahi, dan lebih menghargai kemanusiaan sebagai salah satu manifestasi mikro kosmos, makhluq Tuhan yang paling sempurna.

    Kenangan manis antum atas Musibah itu sangat berharga buat Antum, dan juga buat orang tahu cerita sebenarnya atas kejadian itu. Ana pun Bib, sudah berkali-kali kecelakaan kendaran bermotor: Jatuh dari sepeda pancal diserempet motor di depan istana Bogor tahun 1977 sampai dirawat seminggu di RS, Lalu Motor saya menabrak mobil sedan orang, dan saya jatuh terpental, Motor Ringsek total, tahun 1982, Jatuh dari Vespa dalam keceepatan tinggi, karena ada oli di jalan di ParungKuda Sukabumi, sampai vespaku terguling berputar-putar menggelinding terbanting-banting di jalanan dan akupun berguling-guling koprol dan remek badan dan tangan & kaki, 1998. Lalu hampir mati tenggelam digulung ombak dan tersedot arus bawah laut di Pantai Selatan Pelabuhan Ratu tahun 1992. Menabrak Taksi yang berhenti mendadak di dekat UNAS Pejaten, tahun 2005, sampai garpu depan motor honda bebekku patah dan ringsek, tapi Taksi yang kutabrak malah kabur ketakutan, dll. kejadian musibah berkali-kali. Sampai akhirnya kusadar bahwa jiwa dan ragaku ini bukanlah milikku lagi yang bisa sepenuhnya kukendalikan sekehendak hatiku. Ada Dzat yang Maha Kuasa yang secara hakiki mengendalikan seluruh gerak molekul materi dan energi alam raya ini: Allah SWT.

    Wallahu ‘Alam bi Shawab,

    Salam kangen dari teman seperjalanan ruhani.
    Ahmad Y. Samantho

  3. dr.saidi says:

    salam, ustadz…….
    terus bangkitkan semangat yg hilang, hilangkan trauma yg timbul perlahan2…, sungguh banyak hikmah yg bisa di ambil dari peristiwa ini….., sholu ala nabi wa alihi……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s