4 Perusak Keputusan yg Tepat

Tiap saat tiap orang dewasa pasti memutuskan sesuatu. Masalahnya, tidak semua orang berhasil mengambil keputusan yang tepat. Ada banyak teori tentang metode mengambil keputusan. Saya akan coba uraikan sisi lain dari pengambilan keputusan: faktor-faktor timbulnya keputusan yang salah.

 

Pertama, rasa terlanjur. Banyak orang terus membuat keputusan yang salah karena dia dihantui oleh rasa terlanjur. Perhatikan saat kita berbohong untuk pertama kali dengan pasangan kita. Biasanya susah sekali kita menahan kebohongan selanjutnya karena kita merasa terlanjur pernah berbohong. Padahal, keputusan yang didasarkan pada rasa terlanjur pasti tidak berasal dari proses kehati-hatian dan renungan yang matang.

 

Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan manusia agar tidak pernah merasa terlanjur. Karena dalam perasaan terlanjur itu terdapat keputusasaan terhadap kemampuan berubah. Tak ada orang yang boleh merasa terlanjur meyakini akidah, atau terlanjur bersikap dan berperilaku tertentu. Saat berbicara tentang orang-orang kafir, misalnya, al-Qur’an menggambarkan mereka sebagai kelompok manusia yang enggan mengoreksi keyakinan, ajaran, sikap dan perilaku lantara “terlanjur” mewarisi semua itu dari orangtua dan nenek moyang. Rasa keterlanjuran itu sebenarnya sangat membunuh kewarasan orang yang hendak mengambil tindakan, sekaligus memupus semua harapan akan perubahan.

 

Banyak orang yang sadar bahwa dirinya telah tersesat atau salah langkah, tapi sedikit yang sedikit orang yang berani membanting setir dan mengubah segalanya. Sebagian besar orang pasrah menerima semua akibat buruk dari kesesatan dan kesalahannya, hanya karena perasaan terlanjur yang konyol ini.

Jadi, setiap kali hendak mengambil suatu keputusan, buanglah perasaan terlanjur sejauh mungkin, apalagi perasaan seperti itu memang sangat sedikit gunanya.

 

Kedua, tergesa-gesa. Faktor ini sebenarnya mirip dengan yang pertama, meskipun secara urut-urutan biasanya ia mendahului perasaan terlanjur. Setiap kali tergesa-gesa, orang umumnya tak mau melihat rincian risiko dari keputusan yang akan diambilnya. Pikirannya tertuju pada hasil akhir, sehingga dia lupa akan faktor waktu dan syarat-syarat lain. Ujung-ujungnya, dia mengambil keputusan secara ceroboh dan bodoh.

 

Al-Qur’an mengaitkan orang-orang beriman dengan kesabaran, sedangkan orang kafir dengan ketergesa-gesaan. Jika kita pikir lebih mendalam, sifat ini timbul lantaran ketidakyakinan atau setidak-tidaknya keraguan akan hasil-hasil tindakan yang hendak dijalaninya. Lebih jauh biasanya dia orang yang tidak rasional atau katakanlah tidak siap berpegang pada proses sebab-akibat yang mungkin saja berjalan panjang dan melelahkan.

 

Tapi di sini kita harus membedakan antara tergesa-gesa dan cepat bertindak. Orang yang ingin cepat sebenarnya berpikir rasional dan sadar proses, yakni berpikir bahwa semua kejadian dalam hidup ini bergantung pada rangkaian sebab dan akibat. Sebaliknya, orang yang tergesa-gesa sama sekali tidak berpikir dalam kerangka sebab-akibat, melainkan berpikir dalam kerangka akibat atau hasil belaka.

 

Ambil contoh orang yang kebut-kebutan di jalanan Jakarta. Orang seperti ini jelas tidak berpikir dalam kerangka sebab-akibat. Sekiranya dia berpikir secara kausal, dia bakal sampai pada kesimpulan ini: jalanan Jakarta sering macet. Sengebut apapun Anda, pasti bakal terkurung dalam kecepatan yang menyebabkan siapa saja yang telah Anda salip berada persis di belakang Anda. Ironisnya, orang yang tergesa-gesa lazimnya justru kerap telat, karena berbagai keteledoran yang harus ditanggung akibat ketergesa-gesaannya.

 

Ketiga, takut dan terpaksa. Orang yang merasa takut atau terpaksa saat mengambil keputusan biasanya kehilangan kewarasan. Lawan dari kedua rasa takut atau terpaksa adalah merdeka. Sebagai sistem nilai, Islam melihat kemerdekaan dan kehendak sebagai asas kebaikan. Tanpa kemerdekaan, semua kebaikan menjadi tidak bermakna. Orang yang mengambil keputusan tanpa kemerdekaan sama dengan orang yang berbuat sia-sia.

 

Manakala sedang menghadapi musuh2nya di Karbala, Imam Husein mengajak semua orang untuk berpikir dan bertindak merdeka. Beliau berujar, “Kalau kalian tidak bisa merdeka dalam urusan akhirat, setidaknya merdekalah dalam urusan dunia!” Akibatnya, Alhurr kemudian beralih ke barisan Imam Husein. Saat berpikir secara merdeka, dia akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa tak ada suatu apapun yang membuatnya harus mendukung Yazid yang doyan menipu itu. Bagi orang yang merdeka, bahkan sekiranya semua urusan ini berakhir di dunia, bergabung bersama Imam Husein jauh lebih terhormat dan layak ketimbang bergabung bersama begundal seperti Yazid.

 

Keempat, ragu-ragu. Imam Ali punya ungkapan yang menakjubkan tentang hal ini. Beliau berkata yang kira-kira maknanya begini, “Berbuatlah tanpa ragu-ragu, karena biaya (psikologis) keragu-raguan lebih besar ketimbang perbuatan yang salah.” Barangkali beliau bermaksud bahwa orang yang salah bisa memperbaiki diri atau bertobat. Tapi orang yang ragu-ragu tak akan pernah berbuat, sehingga dia menjadi orang yang menyia-nyiakan hidupnya.

 

Jelas kita harus membedakan antara ragu-ragu dan hati-hati. Keraguan biasanya datang dari kebingungan dan kebodohan, sementara kehati-hatian berangkat dari pengetahuan dan keinginan untuk berbuat yang terbaik. Akibatnya, orang yang ragu-ragu tidak berbuat apa-apa, sedangkan orang yang hati-hati mencari perbuatan terbaik dari berbagai pilihan yang tersedia.

Wallahu a’lam

 

 

 

 

 

Advertisements

3 thoughts on “4 Perusak Keputusan yg Tepat

  1. aL says:

    .Kedua, tergesa-gesa. Faktor ini sebenarnya mirip dengan yang pertama, meskipun secara urut-urutan biasanya ia mendahului perasaan terlanjur. Setiap kali tergesa-gesa, orang umumnya tak mau melihat rincian risiko dari keputusan yang akan diambilnya. Pikirannya tertuju pada hasil akhir, sehingga dia lupa akan faktor waktu dan syarat-syarat lain. Ujung-ujungnya, dia mengambil keputusan secara ceroboh dan bodoh.

    saya sering tergesa-gesa…bearti saya termasuk orang yang ceroboh dan bodoh ya..

    mau tanya pak, gimana caranya agar kita live @ present? agar saya bisa menikmati setiap udara yang terhirup, view yang terlihat, dan aktifitas yang saya kerjakan? agar saya bisa memperlambat ritme hidup saya??
    mohon bantuannya ya pak…

    saya muridmu di kelas “ethics” di icas
    -alay-

  2. musakazhim says:

    Wah, ini pertanyaan menarik. Lebih menarik lagi kalau Anda pantikkan dulu masalah ini di blog Anda. Baru setelah itu saya coba tanggapi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s