Bekas2 Sujud di Jidat Si Pembunuh


Sepekan lampau seorang kawan terheran-heran mengamati jidat Ryan—penyuka sejenis yang diduga memutilasi sejumlah pasangannya itu. Pasalnya, jidat Ryan menampakkan dua bulatan hitam bekas kebanyakan sujud.

Saya ikut terheran. Saya memastikan beberapa kali pada kawan tadi atas hasil amatannya—dengan harapan dia menjadi agak ragu. Tapi dia justru semakin yakin dengan kejelian matanya, bahkan menambahkan bahwa Ryan itu adalah mantan guru mengaji al-Qur’an.

Jangan khawatir! Saya tak ingin membicarakan soal Ryan. Sudah terlalu membosankan, bukan?! Saya ingin bicara tentang hal lain: kesemrawutan orang dalam beragama.

Sewaktu masih belajar di Yayasan Pendidikan Islam (YAPI), Bangil, ada guru pengawas disiplin siswa yang juga suka menggesekkan jidatnya saat bersujud. Hitam legam bekas gesekan pun tampak jelas di jidatnya. Dulu saya berpikir bahwa bulatan-bulatan hitam itu adalah efek penyakit kulit tertentu. Tapi sekarang saya punya pikiran lain.

Saya pernah mendengar cerita tentang orang yang bertanya kepada Imam Ali Zainal Abidin yang terkenal dengan As-Sajjad (sangat sering bersujud) itu, “Mengapa bekas sujud tak terlihat di jidatmu?” Imam menjawab, “Lihatlah sajadahku!” Saat melihat sajadah Imam, orang itu menemukannya sudah lusuh dan kerobak.

Lalu, mengapa ada orang yang ingin mencari bekas sujud di jidat dan seolah melupakan untuk meninggalkan bekasnya di hati? Mengapa ada orang yang gemar menampakkan bekas itu, dan sebagian lain tak merasa perlu dengannya? Lebih jauh, mengapa ada perbedaan pendekatan yang demikian jauh terhadap sujud dan ibadah-ibadah lainnya? Dari mana datangnya perbedaan seperti itu?

Ada banyak cara untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Orang bisa dengan mudah menyatakan bahwa Ryan dan guru agama saya itu munafik, cari muka dan sebagainya. Tapi jawaban seperti ini jelas mengandung pendangkalan dan penghakiman. Jawaban lain mungkin Ryan tak meresapi sujudnya, sehingga bekas sujud hanya sampai di jidatnya tapi tidak masuk ke dalam hatinya. Tapi ini juga kesimpulan yang sulit dibuktikan, karena hanya Allah yang bisa melihat hati manusia.

Saya sendiri berpikir bahwa sumber masalah sebenarnya bermula pada makrifat tentang Allah yang tidak sempurna. Sebagian orang, terlepas apakah hati orang itu baik atau buruk, menyangka bahwa Allah itu adalah Zat Mutlak yang berada di kejauhan sana. Dia tidak melihat, tidak mengawasi, kurang mengikuti perkembangan, berlepas tangan, bersikap dingin dan sebagainya. Pandangan seperti ini berakibat pada berbagai kekeliruan ekstrem.

Di satu sisi, orang berpandangan bahwa karena Allah tidak terlibat dalam rincian proses, maka semestinya Dia tidak usah dibawa2 dalam kehidupan ini. Di lain sisi, manusia yang mau mendekat pada-Nya dan berjuang di jalan-Nya harus bergiat menampakkan bekas-bekas perjuangannya. Kalau tidak ada rekam jejak yang konkret, maka jangan-jangan Allah lalai atas rincian yang telah terjadi di dunia.

Lucunya, dalam dunia modern, pandangan seperti ini melahirkan dua aliran ekstrem yang tampaknya bertentangan tapi sebenarnya bersumber dari pijakan teologis-filosofis yang serupa: sekularisme dan formalisme. Karena itu, sama sekali jangan heran bila melihat orang sekuler yang berubah ke titik ekstrem formalis dan menuntut penegakan syariat secara membabi buta. Demikian pula sebaliknya, jangan heran bila melhat seorang formalis membuang seluruh norma agama dan berbalik menjadi sangat keji dan bengis.

Sekularisme dan formalisme atau yang secara keliru sering disebut sebagai fundamentalisme sama-sama berpijak pada praduga teologis bahwa Allah tidak hadir dalam rincian peristiwa dan kejadian dunia. Meski berangkat dengan keinginan yang berbeda (sekularisme ingin menjauhkan Allah dari kehidupan sedangkan formalisme ingin mendekatkan Allah dalam kehidupan), tapi ternyata keduanya punya praduga filosofis yang sama.

Kalau saya harus membuat satu profil psikologis tentang Ryan, maka secara sederhana saya akan menyatakan bahwa Ryan termasuk dalam kategori orang yang mungkin pada mulanya saat beragama. Tapi, karena dia punya pikiran yang keliru tentang Allah, maka dia berpikir bahwa Allah tidak bisa mengubah jalan hidupnya. Dia mengira bahwa perubahan itu haruslah berubah sesuatu yang terlihat, sama terlihatnya dengan sujud-sujud yang telah dia lakukan untuk Allah.

Wallahu a’lam

10 thoughts on “Bekas2 Sujud di Jidat Si Pembunuh

  1. Mushadiq Ali says:

    sekularisme dan formalisme: dua aliran ekstrem yang bertentangan tapi bersumber dari pijakan tologis-filosofis yang serupa; ma’rifat pada Allah yang tidak sempurna!

    wah, penjelasannya simpel n keren, ustadz!
    omong-omong bagaimana dengan tipe orang yang percaya tuhan tapi ogah beragama, ustadz? mereka masuknya kelompok mana? (jadi inget sama sensus pemeluk agama sedunia. golongan ini kan menduduki peringkat 3 besar!). ma’rifat mana lagi nih yang gak sempurna?

  2. ajak-ajak says:

    Hehehe,, dulu saya malah pernah nanya sama tetangga yg sebelumnya jidadnya baik2aja dan tau2 jidadnya rusak setelah 2 bulan ikut jama’ah tertentu. “kenapa jidadna pak?” dijawab: ini karena ana setiap hari memperbanyak sujud. “lah? bapak kan siang kerja bangunan, malam nya kan ngojek, kapan sujudnya pak?” “Sujud itu tidak perlu lama mas, yang penting membekas. Tanda inilah yang akan dilihat Nabi SAW sebagai pengikutnya di alam mahsyar nanti”
    huheheuhehee,, padahal jidadnya bapak ini ga akan ikut keakhirat, dikubur dan hancur jadi tanah. Wacana yang aneh.

  3. trixi says:

    Asumsi awal : Tuhan ada, tapi bukan di sini…
    Maka,
    mereka menciptakan tuhan-tuhan baru untuk mengisi “kekosongan kekuasaan”…
    ketika gagal, mereka mencoba mendekatkan Tuhan yang “jauh” ini.
    jadi, pertama mereka Sekuler, baru kemudian mereka jadi Formalis.
    Nice article…😀

  4. Omong-omong [1] soal jidat, dalam beberapa kasus, ada beberapa orang yang kulitnya jidatnya sangat sensitif. Maka itu, meski dia sujudnya sebentar, kulitnya menjadi cepat menghitam. Stres juga menjadi salah satu trigger kesensitifan kulit mereka. Di antara mereka, sampai bisa sebulan sekali terkena alergi kulit sehingga menimbulkan bekas-bekasnya di jidat, di antaranya. Jadi, orang yang berjidat hitam boleh jadi kulitnya sensitif.
    [2] Sekularisme dan formalisme agaknya akan terkurangi jika paradigma filosofis dipelajari. Dari situ, orang akan tidak akan cepat-cepat memvonis atau terburu-buru meninggalkan sesuatu yang dipandang “usang”.

  5. musakazhim says:

    Saya setuju Mas Arif. Tidak semua bekas sujud itu diniatkan. Ada juga yang karena kepekaan kulit dan sejenisnya. Bahkan, ada juga yang memang tanda bahwa seseorang itu ahli sujud. Saya yakin itu.

  6. luthfis says:

    Orang-orang khawarij juga ahli ibadah

    bekas sujut terlihat di jidat mereka

    setiap malam mereka juga Thajjud dan menagisi dosa,

    dzikir tidak pernah lepas dari mulut mereka,

    ibadah sunnah sudah menjadi kebiasaan wajib bagi mereka,

    tapi…..

    sekali teroris ya teroris, pembunuh ya pembunuh…

    lidah mereka t

  7. supri says:

    ketika kita suduj di masjid kadang tempat sujudnya kasar
    ketika kita bersujud di rumah kadang sujudnya lama
    ketika kita melakukan sholat dengan cara sujud yg benar maka ketujuh titik di tubuh kita akan menyentuh tanah dan tumpuan berat badan pada kepala
    Sujud benar bila perut tidak memepel dengan paha, serta punggung lurus dan hidung serta jidat menyentuh tanah
    …lakukanlah solat wajib dan sholat sunat dengan lengkap…anda akan mendapatkan tanda itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s