Dua Ciri Kedunguan

stupidity

Kita sudah sering dengar kata dungu. Namun, sudahkah kita betul2 mengerti maknanya?  Secara bahasa, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dungu diartikan sebagai orang yang “sangat tumpul otaknya, tidak cerdas, bebal dan bodoh.” Makna bahasa ini cukup umum, mencakup banyak aspek. Misalnya, aspek fisik yang tertuang dalam kalimat “sangat tumpul otaknya”. Aspek ini sepertinya terkait dengan masalah kekurangan gizi dan sebagainya. Ada juga sisi kecerdasan yang lazimnya dikaitkan dengan kapasitas mental dan intelektual. Dua kata terakhir yang dipakai KBBI justru makin melebarkan medan makna dungu.

Para penerjemah kita lazim memadankan ahmaq dalam bahasa Arab dengan dungu dalam bahasa Indonesia. Tapi, kata ahmaq biasanya tidak merujuk pada kekurangan gizi atau cacat otak, melainkan lebih berhubungan dengan soal-soal mental. Untuk orang idiot atau tumpul otak, bahasa Arab memakai kata safih, sedangkan bodoh atau orang yang tidak mengetahui secara umum disebut dengan jahil.

 

Imam Ali bin Abi Thalib sangat sering berbicara tentang ciri-ciri orang dungu (al-ahmaq). Boleh jadi karena beliau memang harus menghadapi pengikut setia yang dungu dan pengkhianat yang pandai. Itulah mengapa beliau menggambarkan masa itu sebagai masa fitnah: carut marut yang menyebabkan kebenaran tampak seolah-olah seperti kebatilan dan kebatilan tampak seolah-olah seperti kebenaran.

 

Saat diminta menjelaskan orang dungu, Imam Ali menjawab, “Al-Ahmaq la yadhunnu bi khair, li annahu yashifu an-nas bi washfi nafsih.” Terjemahan bebasnya: “Orang dungu tidak bersangka baik, lantaran dia menyifati orang dengan sifat dirinya.” Pertanyaannya, mengapa orang jadi dungu hanya dengan menempelkan sifat dirinya pada orang lain? Saya kira jawabannya cukup jelas: orang mustahil tahu tentang orang lain sebaik pengetahuannya tentang dirinya. Ketika orang mengira bahwa dia bisa mengetahui orang lain seperti pengetahuannya tentang dirinya berarti dia telah mengambil kesimpulan yang tergesa-gesa dan serampangan.

 

Pada puncaknya orang ini akan menemui jalan buntu. Bagaimana tidak buntu? Untuk mengetahui dirinya saja semua manusia itu memerlukan proses intelektual dan spiritual yang melelahkan, meminta bantuan Allah agar tabir-tabir penutup jiwanya terbuka bagi dirinya sendiri. Nah, kalau tujuan yang lebih mudah ini saja susah dicapai, bagaimana dengan tujuan mengenali orang lain.

 

Selain itu, keinginan menyelidiki orang lain itu biasanya muncul dari kurangnya orang melakukan evaluasi diri dan otokritik. Keinginan ini bisa lebih gawat lagi jika ditambah dengan keinginan untuk menjatuhkan dan merendahkan orang lain. Dari sini saja kita bisa tahu betapa dungu orang yang sudi membuang waktunya untuk menyelidiki orang lain—kecuali ada sebab-musabab rasional dan Syar’i yang jelas.

 

Lebih dari itu, anggapan bahwa orang lain itu seperti diri kita berasal dari kecenderungan mendangkalkan kompleksitas manusia. Ada dugaan yang salah dalam diri orang dungu bahwa manusia di hadapannya adalah makhluk remeh, sepele, mudah direduksi, bisa dikategorisasi dan layak dilabelisasi . Padahal penyelaman ke dalam subjektivitas diri sendiri saja membutuhkan taufik Allah, apalagi ke dalam subjektivitas orang lain. Sikap peremehan ini pada gilirannya jelas memunculkan keengganan untuk mendengar pendapat apalagi belajar dari orang lain. Orang dungu mengira bahwa ilmu dan pengalaman pribadinya setara dengan keluasan ilmu dan pengalaman manusia yang tidak terbatas itu.

 

Kalau paradigma di atas terus berkembang dalam pikiran orang, maka tidak mustahil ia melahirkan watak hajat dalam hati. Misalnya, watak takabur, bangga diri, prasangka buruk pada orang lain dan sebagainya. Padahal, satu saja watak itu timbul dalam hati, seluruh kebaikan kita bisa-bisa tak berarti. Upaya kita membersihkan diri pun bisa gagal total.

 

Makna ucapan “Al-Ahmaq la yadhunnu bi khair…” sangat luas dan kaya. Saat kita melihat orang sedang kesusahan mencari nafkah atau gelisah menambah penghasilan, maka sudah saatnya kita melabelisasinya sebagai pencinta dunia. Boleh jadi cinta dunia itu sifat yang memenjara diri kita sendiri, sementara orang lain yang sedang getol mencari tambahan penghasilan itu sedang punya misi berbakti pada orangtua atau ingin menyenangkan keluarganya secara wajar. Jangan-jangan kitalah pencinta dunia, bahkan bagian paling buruk dari dunia, yakni dunia labelisasi, sementara orang lain lepas dari keburukan dan kekejian ini.

 

Oleh karena itu, menurut saya, Islam sudah memberikan pegangan yang adil untuk bersikap pada orang lain: hukumi dan nilailah perbuatan orang, dan jangan hukumi sifat-sifat yang ada dalam hatinya! Jika kita pakai pegangan ini, maka kita tak akan terjebak menetapkan sifat pada orang karena sifat memang abstrak. Jadi, kita hanya boleh bersikap tentang perbuatan konkret seseorang, yakni bukan sifatnya yang mustahil kita pahami apalagi kita hakimi.

 

Tapi masalah orang dungu tidak berhenti sampai di sini. Imam Ali menyatakan,  Al-Maiqu yuzayyinu fi’lah wa yuriduka an yaf’al mitslah.” Terjemahan bebasnya: “Orang dungu senantiasa menghiasi perbuatannya dan ingin agar engkau berbuat seperti dirinya.” Di sini Imam Ali menjelaskan ciri lain orang dungu yang sudah sadar bahwa perbuatan adalah satu-satunya sasaran penilaian yang absah.

 

Tapi dasar orang dungu, saat menilai perbuatan orang lain, dia tetap saja melakukan pendangkalan. Dia terjebak dalam ciri utama kedunguan yang sama: pendangkalan, peremehan dan labelisasi atas objek penilaiannya. Akibatnya, dia menghiasi perbuatannya supaya tampak indah sembari mengajak orang lain berbuat seperti dirinya, kemudian menjelek-jelekkan perbuatan orang lain. Orang dungu memajang karyanya sembari menginjak-injak karya orang lain; melambungkan prestasinya sembari terus menggembosi prestasi orang lain.

 

Orang dungu adalah jenis hewan paling buruk—kata al-Qur’an. Hewan yang bisu, tuli, buta dan tidak berakal. Dia mengira seluruh ilmu dan karya dan kebaikan di dunia sebagai hak pribadinya, sedangkan semua orang lain mesti meminta izin memiliki semua itu darinya. Sebaliknya, ciri utama orang pandai ialah bersikap bahwa dirinya tak lebih dari bagian kecil alam penciptaan yang maha luas. Atau, meminjam bahasa agama, orang pandai menyadari betul hakikatnya sebagai hamba Allah yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Sempurna, Maha Bijaksana; Allah yang hadir dalam semua peristiwa; Allah yang tersucikan dari segala kelemahan; Allah yang mutlak dalam kesempurnaan-Nya.

7 thoughts on “Dua Ciri Kedunguan

  1. M3 says:

    Salam Ustadz,

    ana numpang copy paste ya … hihihi:mrgreen: … lagi perlu dengan penjelasannya … muantap kali …😆

    Biar antum mungkin lagi cukup sibuk di Senayan, tapi sesekali ajak2 nongkrong boleh dong.

    Ba’da iznak Ustadz … afwan wa syukran.

  2. akhwat says:

    Maaf klo agak menyimpang pertanyaannya. Kalau “dungu” versi bahasa Malaysia apa ya? Saya serius tanyanya, Ustad. Karena pasti beda konotasi. Seperti kata seronok. Kalau di Indonesia “seronok” berkonotasi negatif, sedang di Malaysia berarti “senang” berkonotasi positif.

  3. Attar says:

    Salam,
    Analisanya menarik, Saya berharap bisa dilanjutkan pebahasan ini dengan sifat-sifat dasar manusia yang lainya. Kalau dulu ada Ibnu Miskawaih yang membahas dua kutub ekstrim sifat manusia dan sifat baik merupakan jalan tengahnya apakah hal-hal/ sifat-sifat tsb bisa didekati lewat pembahasan yang antum bahas dari khazanah Imam Ali, Ini akan menarik setidaknya buat saya. Syukron

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s