Sinyal Interlagos: Sesendok Teh Harapan dari Obama

Dalam sepekan ini, saya menyaksikan dua kemenangan yang menakjubkan. Pertama terjadi secara dramatis di Sirkuit Interlagos, Sao Paulo, Brazil. Lewis Hamilton berhasil menjadi pembalap termuda berkulit hitam pertama yang berhasil menjuarai Formula Satu.

 

Tak mudah menjadi pembalab kulit hitam di ajang balapan mobil paling bergengsi ini, apalagi menjadi juara. Banyak rintangan dipasang untuk menggagalkannya, tapi Hamilton seperti anak panah yang terus melesat. Ada kekuatan tak terbendung dalam dirinya yang seolah didukung oleh energi alam. Ada arus kehendak yang menyeretnya meraih kemenangan gemilang di hari itu, karena terlalu banyak variabel yang jelas-jelas di luar kendalinya dan kendali semua orang lain.

 

Malam itu, saat menonton balapan itu, sayang sangat bersemangat. Lalu, secara tak sengaja, benak saya mengasosiasikan hasil balapan itu dengan Pilpres di AS. Dari mana datangnya asosiasi itu pun tak bisa saya pertanggungjawabkan secara ilmiah. Saya seperti orang yang sedang menunggu sinyal dari Interlagos.

 

Akhirnya sinyal itu datang juga: Lewis Hamilton berhasil keluar sebagai juara dalam situasi paling dramatis sepanjang sejarah Formula Satu. Jika bukan berkumpulnya rangkaian variabel yang rimut, kemenangan Hamilton pastilah tinggal kenangan.

 

Entah mengapa, malam itu, saya tiba-tiba yakin dengan hal yang terus saya ragukan: kemenangan Barack Hussein Obama. Seperti umumnya orang yang menyimak seluk beluk Pilpres AS tahun 2000 dan 2004, saya merasa kemenangan akan terselip dari tangan Obama. Tapi, sinyal dari Interlagos malam itu memaksa saya percaya sebaliknya.

 

Syukurlah akhirnya Obama terpilih. Saya yakin bahwa kemenangannya sedikit bisa mengobati luka hati jutaan orang yang menjadi korban agresi politik, ekonomi dan militer rezim Neokon di Washington. Saya percaya bahwa kemenangan Obama bukan karena keunggulan pribadinya, tapi berasal dari fakta yang jauh lebih besar: doa rakyat tertindas di berbagai belahan dunia, termasuk warga AS sendiri, yang mengharapkan perubahan besar di AS.

 

Buat saya, kemenangan Obama membawa kita pada satu keyakinan yang lebih dekat dengan Ibu Pertiwi: bila sebagai bangsa kita ingin berubah, tak ada kekuatan, sebesar apapun, yang bisa menghalaunya. Seluruh kekuatan alam dan keadilan Ilahi akan menyorong tekad bersama itu menemukan jalanya ke alam nyata—tentu saja selalu dengan cara-cara yang menakjubkan.

 

Sebagai Muslim yang hidup di dunia Muslim, saya ingin Obama bisa terus memandang dengan dua mata yang adil. Saya ingin dia tahu persis bahwa doa (dan perlawanan) orang tertindas jauh lebih digdaya ketimbang uang (dan kekejaman) para penindas. Jika dia mau berpihak pada kaum tertindas, maka tak ada kekuatan yang bisa mengalahkannya. Sebaliknya, jika dia berpihak pada penindas, maka tak ada kekuatan yang bisa menolongnya—persis seperti yang sudah dia saksikan sendiri dalam perjalanannya menuju Gedung Putih.

 

Saya makin percaya bahwa beberapa kali demo di depan Kedutaan Besar AS pada Jum’at terakhir bulan Ramadhan suatu saat akan membawa perubahan. Saya makin percaya bahwa sekecil apapun sumbangan kita untuk memperbaiki kehidupan umat manusia, menyuarakan keadilan dan melawan kezaliman pasti ada pengaruhnya. Kecil di jalan kebenaran itu bersifat besar, kuat dan abadi. Sebaliknya, tindakan sebesar apapun di jalan kebatilan itu pada hakikatnya bersifat kecil, remeh dan pasti hancur.

 

Saya juga makin percaya bahwa kekuatan kebaikan di alam ini tumbuh dengan pesat. Berbeda dengan sebagian orang yang memahami Akhir Zaman sebagai babak kehancuran umat manusia, saya percaya bahwa Akhir Zaman adalah puncak penyempurnaan umat manusia. Berbeda dengan sebagian orang, saya percaya bahwa konsep Kiamat dalam Islam itu bukan bermakna kehancuran alam dan seluruh penduduknya, melainkan bermakna Kiamat secara harfiah: kebangunan dan kebangkitan.

 

Saya sangat optimis dengan keadaan bumi beserta seluruh penduduk di dalamnya. Saya percaya bahwa Allah tidak menciptakan sesuatu untuk kemudian dihancurkan, meski terkadang makhluk bisa salah memahami penyempurnaan sebagai penghancuran.

Saya ingin memaksa diri sendiri untuk selalu berpikir positif dalam menatap masa depan. Saya juga berusaha terus melatih diri untuk sepenuhnya percaya pada keadilan Ilahi yang selalu memendarkan kilatannya dalam tiap peristiwa di segenap sudut alam ini.

 

Saya jadi sadar bahwa alam ini adalah sebuah sistem kompleks yang saling terkait. Tak ada peristiwa yang berdiri sendiri atau bahkan bisa dipahami terlepas dari keseluruhan. Kemenangan Revolusi Islam Iran yang dipimpin oleh ulama renta yang secara lugas menyatakan berakhirnya era penindasan dan dimulainya kebangkitan mustadh’afin tidaklah bisa dimaknai terpisah dari berbagai perstiwa lain abad silam: runtuhnya Tembok Berlin; pudarnya dominasi Uni Soviet; terjungkalnya puluhan rezim diktator di berbagai belahan dunia; naiknya Ahmadinejad dan sejenisnya ke panggung politik dunia; kemenangan militer Hizbullah tahun 2006 atas entitas ekonomi dan militer terbesar di Timur Tengah; krisis ekonomi global, kemenangan Hamilton di Interlagos; kemenangan Obama; jari-jari yang sedang mengetik kata-kata ini; mata Anda yang sedang membaca. Semua itu saling terkait, dan semuanya menunjukkan berlakunya keadilan dan kebijaksanaan Ilahi.

 

Dan sudah barang tentu saya bersyukur dapat lahir di dunia ini untuk menyaksikan semua itu bergulir secara mengasyikkan dan menakjubkan. Semoga Allah berkenan menjaga pikiran dan indra kita untuk terus melihat sinyal-sinyal positif mendesakkan agenda penyempurnaan di alam ini.

 

 

 

 

11 thoughts on “Sinyal Interlagos: Sesendok Teh Harapan dari Obama

  1. Ema Rachman says:

    The hope of humanity….seperti janji Allah SWT…dan setiap kita harus punya ‘harapan’…Insya Allah will comming soon……believe in it…work for it ….be with it!!! salam

  2. luthfis says:

    Justru kemungkinana besar Armagedon terjadi pada zaman Obama…

    Obama tak beda jauh dengan Bush (bahkan mungkin lebih).

    ya…

    kita liat aja nanti….

  3. luthfis says:

    Justru kemungkinana besar Armagedon terjadi pada zaman Obama…

    (mungkin juga Imam afs. malah perang melawan Obama….kalee)

    Obama tak beda jauh dengan Bush (bahkan mungkin lebih).

    ya…

    kita liat aja nanti….

  4. Obama n BUsh sama saja. JIka yg 1 perampok, 1 nya lagi perompak. Dulu di AS negro jadi Budak bule. Skrg Negro mimpin orang bule. Di indonesia orangnya aneh2. Pengennya jadi budak terus. Gak ada bule, negro pun jadi. Senaangnya minta ampun obama pernah di Indonesia. Obama nya sendiri malah malu pernah tinggal di Indonesia. Pengalaman masa yang lalu yg ingin dihilangkan, begitu dia menyebutnya. Lagian.. di AS gak ada tuh yang senang pas SBY atau Gus Dur jadi presiden. Pdhl juga mrk pernah di sana.

  5. linda1900 says:

    he is the breakthrough… we can compare him with our president SBY… Both of these men are similar… they are lucky new comers
    Hopefully… Mr.B will provide alot of sholarships for indonesia students and one of them is me hE HE HE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s