Obama: Sekuntum Bunga Paradoks

paradox201

Semua orang mafhum bahwa sejak peristiwa 11 September, rezim Bush secara sewenang-wenang mengidentikkan Islam dengan terorisme. Perang Bush melawan terorisme, kata Robert Fisk, tak lebih dari perang melawan Islam. Puluhan pangkalan militer dan ratusan ribu pasukan AS di Timur Tengah adalah pernyataan perang yang blak-blakan terhadap umat Islam. Eufemismenya untuk membedakan Islam damai dengan Islam radikal terasa seperti ninabobo yang membosankan.

 

Masyarakat AS pelan-pelan mengidap fobia yang sama. Hal-ihwal yang berhubungan dengan Islam segera menyulut kemuakan dan kebencian. Diskriminasi menjadi gejala umum di ruang-ruang publik. Banyak orang berwajah Timur Tengah dan bernama Islam harus menanggung dosa bawaan. Tak jarang semua itu harus berujung dengan perendahan martabat manusia.

 

Fobia ini kemudian menjalar ke negara-negara Barat lain, terutama yang ikut mengusung bendera perang melawan terorisme. Seorang pelantun lagu-lagu Islam dari Indonesia sampai harus tertahan beberapa jam di bandara Sydney gara-gara namanya berakar dari bahasa Arab. Wajah dan nama yang bukan pilihan anak yang dilahirkan ke dunia ini pun harus ikut menjadi sasaran.

 

 

Di puncak suasana itu, aktivis-aktivis Muslim berpendidikan Barat merasa resah dan gundah. Dengan berbagai cara, mereka merangkai kata dan istilah guna mengubah citra Islam di Barat. Sebagian berpijak pada otokritik yang sehat, sementara sebagian besar lain hanya mengumbar sinisime dan sarkasme.

 

Para pengumbar sinisme itu lantas mati-matian bekerja menampilkan Islam pro Barat atau Islam Barat. Beberapa dari mereka menawarkan jampi-jampi aneh untuk menyulap citra Islam. Ada yang bilang bahwa Islam harus dilepaskan dari bahasa Arab. Ada yang menuntut al-Qur’an ditafsir ulang sesuai kebutuhan modern—atau lebih tepatnya kebutuhan kapitalis global. Ada lagi yang ingin mengusung Islam Indonesia sebagai tandingan Islam Timur Tengah, dan dengan demikian mewujudkan mimpi utama imperium Bush untuk memecah-belah umat. Ada pula yang melangkah lebih jauh dengan mengajak umat Islam menghinakan diri sendiri, mencerabut sakralitas agama, demi mendapat kasih sayang orang Barat.

 

Walhasil, Islam menjadi seperti adonan yang bisa dibentuk sesuka hati, atau seperti layangan yang bisa diulur-ulur seenaknya atau seperti pualam yang bisa dipotong-potong seenak perut. Islam bukan lagi menjadi wahyu Ilahi yang datang pada manusia suci, melainkan kisah dalam sinetron yang kapan saja bisa ditambah dan disensor semau sang sponsor.

 

 

Para aktivis ini berpikir seperti para staf bidang pemasaran perusahaan otomotif. Atau lebih kerennya, mereka berpikir seperti para pialang saham di pasar bursa yang suka menggoreng-goreng sebuah perusahaan. Mereka tak ingin saham Islam terdera sentimen negatif, sehingga nilainya terkoreksi habis dan anjlok. Di belakang otak mereka jelas ada dugaan kuat bahwa Islam ini tak punya hubungan dengan kuasa Ilahi atau realitas yang lebih tinggi.

 

Parahnya lagi, di saat para aktivis ini berjuang mati-matian memperbaiki citra Islam, sejumput kasih sayang Barat pada Islam dan umat yang didambakan itu tak kunjung tiba. Malah sebaliknya, orang Barat makin tak bisa memahami Islam. Dan karena tujuan semua ini semata-mata untuk mendongkrak nilai saham Islam di pasar bursa Barat, maka banyak bagian integral Islam harus disunat. Akibatnya, Islam tampil bak wajah artis yang gagal operasi plastik. Wajah barunya belum tampak utuh, sementara wajah lamanya sudah ruka dibedah-bedah.

 

Rasa-rasanya tak enah bila sebagian media Barat bersorak melihat aksi Geert Wilders dkk yang mencoba mengaudit “wajah sejati Islam”. Bagi sebagian media Barat, Wilders bak auditor kawakan di tengah-tengah upaya pialang menggoreng citra Islam ini.

 

Korban utama transaksi saham bohong-bohongan ini adalah umumnya umat Islam sendiri dan sebagian publik Barat yang dengan tulus ingin memahami Islam. Di pihak umat Islam, ada perasaan bahwa para aktivis ini telah kehilangan kelayakan untuk berbicara atas nama atau menguraikan Islam. Di pihak publik Barat sendiri, Islam tampak seperti agama-agama lain yang sudah lama mereka kenali dan kehilangan vitalitasnya dalam kehidupan modern.

 

Dalam pada itu, Allah punya rencana lain. Dia membolak-balik persepsi-persepsi orang. Tepat di saat dunia Barat pada umumnya dan publik AS pada khususnya digambarkan enggan dengan segala yang berbau Islam, Barack Hussein Obama terpilih sebagai presiden AS. Wajahnya yang mirip dengan umumnya orang Timur Tengah dan namanya yang “Islam” tak menghalanginya untuk tampil sebagai pemenang. Nama Hussein tak menghalanginya untuk menduduki pucuk eksekutif AS. Padahal, tak lama sebelum ini, nama Hussein menjadi momok paling menakutkan karena pemilik senjata pemusnah massal yang tiap saat mengancam AS adalah Saddam Hussein.

 

Entah apa makna-makna mistis di balik semua ini? Kalau kita tanya pada ahli isyarat, maka kita bisa menemukan banyak jawaban. Misalnya, Saddam dalam bahasa Arab artinya “pembentur”, sementara Barack artinya “berkah”. Jadi, itung-itungan mistisnya, Barack diberkahi pemilik asli nama ini, yakni Imam Hussein cucu Nabi. Tapi namanya isyarat, jelas tak selalu bisa menemukan pertanggungjawaban ilmiah atau rasional.

 

Sekiranya para aktivis itu dapat melihat paradoks ini, tentu mereka akan belajar banyak tentang kuasa Allah yang telah berjanji menjaga agama para nabi suci ini. Mereka akan berpikir seperti Abdul Muththalib. Saat dituntut membela Ka’bah dari serangan pasukan gajah Abrahah, beliau hanya berujar: “Inna li hadzal baiti Rabban yahmih.” Artinya, “Rumah ini punya Pemilik yang akan menjaganya.

 

Obama memang cuma sekuntum bunga paradoks dalam taman. Ada jutaan paradoks lain yang sering kita saksikan dalam hidup ini. Dan paradoks itu seolah datang untuk mengingatkan kita akan kehadiran Yang Maha Kuasa di tengah segala rincian kejadian di alam ini. Sentuhan-Nya selalu mampu membius semua pikiran dan rencana insan.

 

 

 

6 thoughts on “Obama: Sekuntum Bunga Paradoks

  1. damartriadi says:

    hehehe…very nice article
    jadi say good bye aja deh sama orang yang mati2an “mengharmoniskan” Islam dan Barat….(maksudnya, yang mem-Barat-kan Islam)

  2. alifnews says:

    Ustadz Musa, mohon ijin untuk meng-copas tulisan ini plus tulisan2 lain di blog ini ke webblog kami ya?

    Blog Ustadz pun sudah kami link disana.

    Terimakasih.

    esha r yudhi
    Yayasan Islam Al Muhibbin – Probolinggo – Jawa Timur

  3. Salam Hormat,

    Perkenalkan, saya Endy. Kebetulan (Alhamdulillah) saya menguasai sebuah teknik yang diberi nama SEFT (Singkatan dari Spiritual Emotional Freedom Technique). Teknik ini saya pelajari dari penemu dan pendiri SEFT, yaitu Ahmad Faiz Zainuddin. Beliau sekarang terus mengembangkan Teknik SEFT. Untuk itu ia mendirikan LoGOS Institute (www.LoGOS.co.id).
    Jadi bagi siapapun yang mengalami kasus ini, silahkan saja datang ke LoGOS Institute. Setiap hari Minggu (jam 10:00 – 13:00) ada Preview Gratis mengenai SEFT ini. Bisa langsung coba terapinya juga. Jangan kuatir. Free of Charge. Penjelasan mengenai SEFT juga bisa dilihat di http://LOGOSSEFT.Blogspot.com
    Semoga Informasi Ini Bermanfaat
    Salam Sejahtera
    Wassalam Wr. Wb.,

  4. BULJA says:

    ustad, sebaiknya ‘font colour’ nya pake yang kontras aja, biar bacanya enak gak harus mengernyitkan dahi..kalo warnanya kuning gitu mah pusing ngeliatnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s