Jargon2 yg Mati sebelum Berkembang (1)

Zaman terus berganti, tapi pimpinan bangsa Indonesia punya kebiasaan yang tak pernah hilang: ternak jargon. Sialnya, kebiasaan ini tidak diikuti dengan disiplin untuk merawat, menumbuhkan, mendidik dan mendewasakannya. Akibatnya, begitu banyak jargon yang layu sebelum berkembang. Mereka jadi wacana yang tak pernah matang.

Di Zaman Orde Lama, Seokarno doyan menernak jargon. Di antaranya adalah jargon “revolusi dan revolusioner”. Jargon ini lantas menjadi roh jahat yang terus gentayangan. Siapa saja yang berhasil menyematkan cap revolusioner pada dadanya langsung layak menjadi pahlawan. Demikian pula sebaliknya.

 

Di Zaman Orde Baru, penyakit lama itu kambuh lagi. Kali ini dengan tingkat yang jauh lebih akut. Seoharto mula-mula mengusung jargon “pembangunan”. Siapa saja yang dicap sebagai melawan atau menghalangi pembangunan bisa masuk neraka tanpa hisab. Seoharto punya stok jargon lain yang lebih panas: Pancasila, UUD 45 dan subversi. Penduduk dusun yang baru bangun tidur atau kelar mandi besar bisa diangkut ke Jakarta hanya gara-gara dicap sebagai “anti Pancasila”. Dai yang tak tahu isi UUD ’45 sering harus meringkuk di penjara selama bertahun-tahun dengan alasan tak menghormati UUD ’45.

 

Nah, Zaman Reformasi ternyata tak kurang produktif dalam sektor ini. Sekarang ini, apa saja dan siapa saja yang tersentuh noda pelanggaran HAM, korupsi, kolusi, nepotisme, monopoli, gratifikasi dan serumpunnya tak mungkin lolos dari azab yang pedih. Segala rupa komisi pengawas, komisi pemantau, komisi penyidik, komisi pemberantas, komisi penindak, pengadilan dan sebagainya dibentuk khusus untuk jergon-jargon itu. Di sisi lain, demokrasi, keterbukaan informasi, transparansi, akuntabilitas publik dan sebagainya menjadi mantra pembuka harta karun yang tak berhingga.

 

Masalahnya bukan pada definisi yang tak jelas, tapi pada penerapan yang serampangan dan tak terukur. Jargon-jargon ini, seperti jargon zaman-zaman lampau, sering diterapkan secara arbitrer dan post hoc. Seolah memang ada tangan-tangan jahil yang bekerja mengoyak semua upaya kesepakatan yang utuh dalam penerapan jargon-jargon tersebut. Korban-korban tak berdosa pun tak urung berguguran. Saat ada korban berupaya melawan, datang palu godam media menghantam tepat di batok kepalanya. Dan korban tak berdosa kembali kena kutukan.

 

Sekarang, marilah kita uji beberapa jargon yang bermunculan belakangan ini. Korupsi secara sederhana bisa didefinisikan sebagai tindakan pejabat atau warga biasa yang merugikan pihak lain, bangsa dan negara. Meksi bercerai berai bak kelereng tumpah dari kaleng, rasanya tak sulit kita bersepakat dengan definisi di atas. Penerapannya pada orang-orang yang terlibat kasus BLBI juga mudah disepakati. Tapi, anehnya aparat penegak hukum terus saja kelimpungan mencari bukti korupsi BLBI. Komisi Pemberantasan Korupsi secara resmi menyatakan bahwa berkas Kejaksaan Agung terlalu minim untuk mengusut apalagi menyeret orang-orang yang terbabit kasus ini. Al Capone pun harus tertunduk malu menyaksikan prestasi koruptor-koruptor BLBI ini dalam memanipulasi sistem di negeri ini.

 

Kolusi juga punya definisi yang tak kalah jelasnya: permufakatan atau kerjasama secara melawan hukum antar-penyelenggara negara atau antara penyelenggara negara dan pihak lain yang merugikan orang lain, masyarakat dan atau negara. Misalnya, pengusaha A meminta pejabat B untuk meloloskan izin tertentu yang menyebabkan terjadinya monopoli atau sejenisnya. Contoh lain yang lebih konkret, bupati A menunjuk kontraktor swasta B untuk menggarap proyek tertentu semata-mata dengan motif memperoleh komisi di belakang hari.

 

Masalahnya bakal runyam jika kasusnya seperti ini: seorang pejabat sudah melakukan semua prosedur legal untuk melaksanakan proyek. Tiba-tiba, pemenang tender proyek adalah konco lawas sang bupati. Apakah lantas orang bisa dengan gampang menuduh bupati tersebut sebagai pelaku kolusi? Apakah lantas kolusi itu harus diterapkan sedemikian sehingga semua pejabat publik tak boleh punya teman dan memutus hubungan dengan semua kawan lama? Jelas tidak, meski tuduhan serupa berseliweran di media.

 

One thought on “Jargon2 yg Mati sebelum Berkembang (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s