Iya, Saya Juga Manusia!

intergrity20of20being2 

Anda pasti pernah dengar ungkapan2 seperti ini: “Saya kan juga manusia”, “Seleb kan juga manusia”, “Presiden kan juga manusia”, “Polisi kan juga manusia” dan seterusnya. Jika kita teliti, maksud ungkapan2 itu tak lain adalah untuk meminta pemakluman atas keburukan, kejahatan dan sebagainya. Dalam ungkapan2 itu ada kesan bahwa manusia wajar2 saja berbuat buruk dan jahat. Bahkan, di balik ungkapan2 itu ada asumsi bahwa manusia itu sebenarnya makhluk buruk, lantaran keburukan dan kejahatan itu telah menjadi watak bawaannya.

 

Benarkah demikian?

 

Sebagai makhluk, manusia tentu punya banyak kelemahan. Tapi manusia bukan makhluk yang memiliki cacat bawaan, sehingga ada alasan untuk memaklumi keburukan manusia tanpa syarat. Poin ini pernah saya uraikan secukupnya dalam posting “Kado Maulid Nabi”.

 

Dalam ungkapan2 di atas terkesan ada imbauan untuk mewajarkan keburukan seseorang semata-mata karena dia adalah manusia. Sekiranya ada pemakluman tanpa syarat atas manusia sebagai makhluk paling sempurna di alam raya ini, maka pemakluman atas kelemahan2 sistemik lain menjadi lebih masuk akal. Timbul dalam benak orang bahwa kalau makhluk paling sempurna saja sudah memiliki cacat2 bawaan, bagaimana dengan makhluk2 lain yang secara esensial lebih rendah dibanding manusia.

 

Implikasi lanjutannya, muncul gugatan yang absah atas keadilan Ilahi: mengapa Allah yang diasumsikan sebagai Tuhan Maha Sempurna menciptakan tatanan yang penuh dengan kelemahan intrinsik seperti ini? Dan lebih gawatnya lagi, untuk apa kemudian Allah menetapkan balasan dan pahala bagi keburukan manusia yang sudah bawaan itu?

 

Pandangan yang menjatuhkan segala kelemahan dan keburukan pada manusia itu sebenarnya datang dari sikap nihilis dan absurdis. Bagi orang yang berpandangan seperti ini, manusia sejatinya adalah sebuah virus—mengutip ungkapan Agent Smith dlm film The Matrix. Ia hadir untuk merusak tatanan. Fungsinya tak lebih dari faktor penghambat, bukan pendorong, evolusi alam. Karenanya, kehidupan manusia pasti berakhir dengan kehancuran dan kemusnahan.

 

Sikap nihilis Agent Smith terhadap manusia itu sialnya menyusupi pandangan agama ihwal manusia. Dalam banyak literatur, kiamat itu digambarkan sebagai puncak perjalanan manusia menemui kehancurannya. Ada anggapan bahwa kiamat itu adalah malapetaka yang harus dipetik oleh kehadiran manusia yang asing di alam yang tertata sempurna ini.

 

Benarkah manusia itu adalah faktor penghambat evolusi alam? Benarkah takdirnya dipastikan menjadi biang kerok kerusakan di bumi dan alam raya? Jika tidak, apakah makna kiamat itu? Mengapa ada gambaran kehancuran bumi dan segala isinya di hari kiamat itu?

 

Pada kesempatan lain kita akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu satu demi satu. Untuk sekarang, cukuplah kita memahami bahwa arti harfiah “kiamat” yang dipakai oleh teks-teks suci al-Qur’an dan hadis itu adalah “kebangkitan”, dan bukan “kehancuran” atau “kemusnahan”.

 

Ada banyak cara kita memandang manusia. Tapi cara paling nista adalah dengan mengutuk manusia itu sendiri dan membebankan segala keburukan dan kesalahannya pada pola kejadiannya sendiri. Cara ini bakal berujung dengan pembebasan setiap orang yang bersalah dari segala keburukan pribadi, dan mengembalikan semuanya pada Tuhan yang menciptanya.

 

Salah satu langkah paling jitu untuk mengubah pandangan nihilis tentang manusia itu dengan secara lugas menyebut pribadi yang berbuat salah sebagai “binatang”, atau dalam istilah al-Qur’an, “lebih sesat daripada binatang”. Dengan begitu, kita telah mengembalikan keburukan manusia pada kegagalan individu mendidik dirinya dan mengolah dimensi kebinatangannya secara produktif.

 

Sebaliknya, kita harus memakai ungkapan “Saya kan juga manusia”, “Presiden kan juga manusia”, dan sebagainya sebagai pujian atas prestasi seseorang. Maksudnya, kita tujukan pujian pada aspek kemanusiaan orang yang telah berhasil lolos dari tarikan kebinatangan dalam dirinya.

 

Inilah pandangan saya, karena SAYA KAN JUGA MANUSIA!!!

 

 

 

12 thoughts on “Iya, Saya Juga Manusia!

  1. frs says:

    Saya pernah hadir di suatu majelis rutin yang diadakan dari rumah ke rumah, ustadznya (kayaknya aktifis suatu partai Islam di Indonesia) menjelaskan Nabi juga tidak lepas dari perbuatan salah dan dosa karena dia juga manusia. Bingung aku ??

  2. Absoen says:

    Salam,
    untuk frs, pasti Ustad yg anthum temui itu temannya “nabi”, makanya dia bisa dengan yakin menyatakan “..nabi juga tdk lepas dari perbuatan salah dan dosa…”, dan itu sah-sah aja mas, persoalannya adalah “nabi” yg mana?! Yang pasti itu BUKAN NABI saya karena Nabi saya adalah manusia sempurna! Saya berharap itu juga bukan Nabi anthum.

  3. Mushadiq Ali says:

    sikap mempermaklumkan diri sebagai ‘saya juga manusia’ yang negatif ini saya pikir lebih karena kepengecutan person-nya saja. biasa, untuk membenarkan diri sendiri agar tak terlalu dicela di dunia yang penuh sesak dengan bertumpuk pencitraan dan simbol ini. ya, tentu baik langsung maupun tidak langsung ini terimbas dari kesalahan pemahaman tentang penciptaan, pengaturan dan keadilan Tuhan, sih.

    whatever thus, memang sudah saatnya ‘saya juga manusia’ diarahkan ke arah yang positif dan membangun. ‘presiden kan juga manusia’, ‘ilmuwan kan juga manusia’, ‘ayatullah kan juga manusia’, …..tentu dalam sisi positifnya yang konstruktif dan maju. bukan sekedar untuk menutupi dan membenarkan kedunguan sendiri.

    salam.

  4. Ustad… aku bermaksud ngasi pertayaan….
    neh cuma mau ngasi tahu… Qta dari Jogja Rencana Mau undang ustd untuk diskusi dijogja…. nanti setelah ujian kita hubungi ustad lagi. by… RausyanFikir jogja (jl Kaliurang)

  5. ema rachman says:

    salam,
    memang gejala itu sudah membudaya, dengan mempertahankan dimensi kebinatangan dalam diri dan tak suka pada tantangan ingin jadi BENERAN MANUSIA..selalu ada ekskuse pada kebodohan dan kebiasaan buruk dan bukannya ingin diperbaiki tapi cenderung pada ‘saya ingin tetap seperti ini…, kamu harus maklum dong…’ Masya Allah….capek banget Allah kirimkan para Nabinya yang banyak itu hanya untuk tetep kita jadi ‘binatang’…nauzubillah..

  6. Mariam says:

    Kalo diliat, Al-Insan (Insan=manusia) memiliki beberapa arti :
    Salah satunya Nasiya, mengandung arti lupa dan menunjukkan adanya kaitan dengan kesadaran diri atau kealpaan. Manusia lupa terhadap sesuatu karena ia kehilangan kesadaran terhadap hal tersebut.

    Menarik kl bisa dielaborasi🙂

  7. Assalaamualaikum dan salam sejahtera.

    Untuk memperkatakan mansui atau bukan, kita haruslah melihat dari sudut akal umum keseluruhan, kewajran norma kejadian dan dalil al-Quran dan sunnah.

    Manusia adalah bebeza dengan haiwan hanya dengan kurnian jisim halus yang berfungsi sebagai akal dan hati nurani. Al-Quran dan sunnah menentukan apakah akal dan hati nurani itu benar pada pandangannya.

    Dan manusia biasa berbeza dengan Nabi dan Rasul ialah, Nabi dan Rasul dipimpin langsung dari ALLah Taala. Maka sesiapa yang mengatakan Nabi dan Rasul melakukan kesalahan atas hawa nafsu, adalah orang yang telah hilang sebahagiaan kemanusiaannya.

    Manusia hanya mempunyai kemanusiaan jika akal, hati nurani dan al-Quran, dan sunnah berfungsi pada dirinya. Jika satu darinya ditinggalkan maka dia akan hilang satu dari syarat kemanusiaannya. Maka ketika itu dia akan disebut sebagai beruk, mungkin.

    …Lebih baik menjadi manusia berwajah beruk daripada menjadi beruk yang berwajah manusia…Manusia yang berwajah beruk adalah manusia tetapi beruk yang berwajah manusia adalah beruk…

    Wassalam
    shahil://wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s