Kado Asyura—Tinjauan terhadap Pilihan Waktu (1)

makes_eat_time

Salah satu aspek penting dalam strategi Imam Husein adalah waktu gerakan yang beliau pilih untuk pergi dari Madinah menuju kesyahidannya di Karbala. Di sini saya hanya akan memberikan gambaran umum tentang rahasia pilihan waktu itu, agar kita benar-benar menyadari bahwa Imam Husein memang memilih tiap langkahnya dengan kehendak bebas, cerdas dan jitu. Tiap langkah beliau berperan penting bagi kesuksesan misi beliau mengelektrifisir semangat perlawanan umat terhadap kezaliman.

Pertama, sejarah merekam bahwa Imam Husein pergi meninggalkan Madinah menuju Mekkah pada hari ketiga bulan Sya’ban tahun 60 Hijriah. Mulai hari itu sampai tanggal 8 Dzul Hijjah tahun 60 Hijriah beliau menetap di Mekkah. Di kota suci ini, Imam Husein bertemu dengan ribuan kaum Muslim dari berbagai penjuru dunia. Beliau juga memberikan berbagai wejangan, sekaligus menjelaskan falsafah gerakan perlawanannya. Jelas bahwa keberadaan beliau di Mekkah pada bulan-bulan suci itu merupakan bagian dari rencana matang yang telah beliau persiapkan sejak semula.

 

Seperti sudah kita ketahui bersama, Sya’ban dan Ramadhan adalah dua bulan yang banyak mengandung nilai kesucian dalam Islam. Pilihan beliau untuk berangkat dari Madinah pada awal Sya’ban itu sama sekali tidak boleh dipandang sebagai kebetulan belaka. Pilihan itu jelas sekali untuk mendukung dan memperjelas posisi kesucian gerakan beliau.

 

Rajab, Sya’ban dan Ramadhan adalah tiga di antara 12 bulan Islam yang dianggap sebagai bulan-bulan ibadah. Tapi, di antara ketiganya, bulan Ramadhan jelaslah yang paling bernilai. Di bulan inilah Allah memerintahkan manusia untuk berpuasa; berpuasa dari kelalaian, kebodohan, kesombongan, pencarian dunia. Dalam banyak hadis, Nabi menyatakan bahwa ibadah yang terbaik adalah bertafakur dan mengekang diri dari segenap larangan-Nya, agar kemudian kita dapat berbuka dengan pencerahan dan kesadaran baru.

 

Sudah barang tentu tidak ada waktu yang lebih tepat untuk mengingatkan kaum Muslim akan kerusakan yang ditimpakan oleh kekuasaan Yazid atas Islam selain bulan Ramadhan. Selain akan mendukung pesan-pesan suci beliau, di bulan ini kebanyakan kaum Muslim berada pada tingkat kesucian yang lebih dari biasanya. Di bulan suci ini, Imam Husein ingin mengingatkan umat akan kewajiban tertinggi Islam yang merupakan konsekuensi langsung dari tauhid, yaitu menegakkan keadilan dan melawan penindasan.

 

Kedua, Imam Husein juga memilih pekan pertama bulan Dzul Hijjah, tepatnya tanggal 8, untuk memulai perjalanannya menuju Kufah. Kita tahu bahwa ibadah haji mempunyai dimensi sosial, politik dan ekonomi yang sangat kental. Pada momen ini, Imam Husein mulai mengumandangkan manifesto gerakannya. Lebih lagi, kita tahu bahwa dalam ibadah haji ini Allah memerintahkan kita untuk menyatakan bara’ah (lepas tangan) dari kaum Musyrik dan segala kejahatan. Nah, memilih bulan ini untuk menyerukan perintah bara’ah sangatlah strategis dan tepat sasaran. 

 

Manakala banyak Muslim berihram untuk melaksanakan ibadah haji, cucu Nabi ini justru meninggalkan Mekkah. Beliau hanya melakukan umrah dan tidak melanjutkan haji. Setelah bertawaf mengelilingi Ka’bah dan melakukan sai antara Shafa dan Marwa, beliau melepas ihram. Kejutan seperti ini beliau pakai untuk menambah bobot dalam gerakannya. Beliau berharap masyarakat Muslim bertanya-tanya dan mencari alasan di balik pilihan ini.

 

Di hadapan para jamaah haji yang datang menemuinya waktu itu, Imam Husein mengatakan bahwa tidak ada yang dapat beliau lakukan kecuali beranjak menyambut kesyahidan. Di hari terakhir keberadaannya di Mekkah, Imam Husein berkata: “Aku bisa melihat serigala-serigala padang pasir Irak menyerangku di antara Nawawis dan Karbala dan merobek-robek tubuhku. Mereka melakukannya demi memenuhi kantong-kantong harta mereka. Urusan mereka adalah memuaskan kerakusan, sedangkan urusanku adalah melawan kerusakan dalam masyarakat dan agama ini. Allah telah memilih kesyahidanku sebagai penyembuh dan jalan perbaikan keadaan… Hanya orang yang siap mengorbankan nyawanya di jalan Allah yang akan menemaniku.”

 

Sebagian pengamat menyatakan bahwa beliau tidak ingin para kolaborator Yazid merusak kesucian Mekkah dan membunuhnya di sana. Beliau khawatir tindakan itu akan menjadi preseden buruk bagi Islam di kemudian hari. Tapi, agaknya, upaya beliau meninggalkan ihram dan berangkat menuju Kufah pada tanggal 8 itu juga untuk menunjukkan sikap yang lebih fundamental: bahwa apa yang beliau lakukan lebih penting ketimbang semua ibadah ritual apapun. Beliau sedang melakukan penyelamatan Islam dari tangan-tangah para durja. Dan ini memang tampak jelas bagi siapa saja yang pada waktu itu berkumpul mendengarkan ceramah-ceramah Imam di Mekkah.

 

Saat Muhammad bin Hanafiyah memberitahukan bahwa orang-orang Mekkah dan jamaah haji bertanya-tanya mengapa dia pergi sehari sebelum hari raya Haji, Imam meninggalkan surat kepada saudaranya yang menerangkan maksudnya dengan jelas. Surat itu antara lain berisi: “Aku tidak keluar untuk melakukan huru-hara atau penindasan. Aku ingin membawa umat ini kembali ke jalan amar makruf nahi munkar. Aku ingin mengajak mereka ke jalan kakekku Rasulullah dan ayahku Ali bin Abi Thalib.”

 

Ketiga, Imam Husein tiba di Karbala pada tanggal 2 Muharam. Dan Muharam adalah bulan hijrah Nabi yang kemudian dijadikan tahun baru Islam. Imam Husein memilih tiba di sana pada awal Muharam untuk tujuan yang juga sangat penting. Salah satu tujuannya ialah mengaitkan hijrahnya dengan hijrah Nabi. Imam Husein ingin mengingatkan kita pada tujuan hijrah Nabi ke Madinah yang tak lain adalah membangun masyarakat Islam yang berkeadilan. Nabi tidak berhijrah untuk kekuasaan atau sejenisnya, demikian pula Imam Husein.

 

Tahun baru Islam ini juga beliau jadikan momentum untuk menyegarkan kembali kesadaran umat akan Islam yang dibawa Nabi Muhammad. Setidaknya ada dua esensi Islam yang didengung-dengungkan oleh Imam Husein sepanjang perjalanannya, (a) tauhid, yakni tiada tuhan dan penguasa selain Allah dan bahwa semua kekuasaan yang tidak tegak di atas perintah Allah adalah kekuasaan yang zalim; dan (b) tidak ada keunggulan satu manusia atas manusia lain kecuali dengan ketakwaan. Dan seperti kita tahu, ketakwaan dalam Islam merupakan istilah generik untuk semua kebajikan.

 

Kita tahu bahwa di zaman itu umat Islam diterpa oleh fitnah Jahiliah yang mempermainkan sentimen kesukuan, fanatisme kelompok dan semangat regional. Banyak kalangan masyarakat Arab yang kembali menjalin afinitas berdasarkan hubungan-hubungan seperti ini, sehingga Imam Husein mendesak semua orang untuk tidak berpikir dengan landasan konyol seperti itu.

 

Sejak Nabi wafat sampai kebangkitan Imam Husein, masyarakat Islam sering terpecah berdasarkan suku (tribalisme), mujahir versus non muhajir (partisanisme), Kufah versus Syam (regionalisme), dan sebagainya. Seperti juga kakeknya, Imam Husein hendak menyatakan bahwa kelebihan atau kekurangan orang adalah konsekuensi pilihan bebasnya sendiri, bukan berpijak pada hal-ihwal yang tidak bisa dipilih seperti garis keturunan, tempat kelahiran dan semacamnya. Selain itu, baik Nabi maupun Imam Husein sebenarnya sama-sama bergerak untuk menyambut permintaan warga setempat. Mereka sama-sama bergerak dengan niat melayani, bukan memerintah atau menguasai.

 

Pada kali pertama perjumpaannya dengan pasukan Ibn Ziyad di Karbala, Imam Husein berseru sebagai berikut, “Ingatlah, bila kalian melihat penguasa melanggar larangan Allah dan Rasul-Nya, bergelimang dosa dan menindas rakyat yang dipimpinnya, tapi kalian tidak berbuat apa-apa untuk menghentikan penguasa macam itu, maka di hadapan Allah kalian dan dia sama-sama berdosa.” Lalu beliau menambahkan: “Orangtuaku tidak membesarkanku untuk tunduk pada penindas yang keji. Aku adalah Imam kalian dan sudah menjadi kewajibanku untuk memberitahu kalian bahwa kalian telah menyerahkan kemerdekaan pikiran kalian pada cara-cara jahat Yazid. Jika kalian tidak peduli pada Islam, dan tidak takut hari perhitungan, maka setidaknya pedulilah pada karunia Allah yang berharga bagi kalian, yakni kemerdekaan jiwa kalian!”

 

Di samping kerupaan tujuan, hijrah Nabi dan hijrah Imam Husein juga memiliki keserupaan dalam pola dan metode. Misalnya, keduanya sama-sama mengutus delegasi untuk memastikan kesiapan warga setempat, melakukan inspeksi lapangan dan menemui pimpinan suku-suku setempat. Kesimpulannya, yang jelas, siapa saja yang membaca sejarah hijrah Nabi dan gerakan Asyura akan menemukan sekian banyak keserupaan, baik dalam tujuan maupun pola gerakan. Pemimpin Hizbullah, Sayyid Hasan Nahsrullah, dalam seri ceramah Asyura 1429 H. telah mengupas berbagai titik persamaan antara kedua hijrah tersebut.

One thought on “Kado Asyura—Tinjauan terhadap Pilihan Waktu (1)

  1. hans says:

    Salam

    Ustaz Musa al Kazim yg saya hormati,
    Izinkan saya untuk mengcopas artikel ini & Kado Asyura—Tinjauan terhadap Pilihan tempat (2)”

    Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s