Ceceran Amal Saleh, Masihkah Dianggap Saleh?

Banyak orang ingin beramal saleh, tapi lebih banyak lagi yang tak tahu persisnya bagaimana beramal saleh. Al-Qur’an sudah menyatakan jauh-jauh hari bahwa beramal saleh itu bergandengan dengan beriman. Di sini al-Qur’an mengikatkan amal saleh dengan keimanan sebagai kesatuan. Amal saleh yang terlepas dari keimanan tidak bisa disebut sebagai amal saleh, karena efek amal itu justru bisa memperkuat keburukan.

 

Amal saleh adalah sistem perbuatan dan aksi yang mengorganisasi dan mengkoordinasi seluruh kebaikan dalam payung keimanan, ideologi dan visi hidup yang jelas. Ia bukan sejenis perbuatan yang tercecer, tidak teratur dan mentah.

 

Sebagai ilustrasi, pekerjaan membangun rumah itu adalah juga sebuah sistem. Menumpuk2 bahan2 bangunan yang terpisah dari pekerjaan membuat gambar bangunan dan mempersiapkan tukang dan sebagainya jelas tidak bisa dianggap sebagai pekerjaan membangun rumah. Jadi, pekerjaan “membangun rumah” memang punya rangkaian unit kerja yang bila dipisah-pisahkan dari keseluruhan maka ia tidak lagi bisa disebut sebagai “membangun rumah”.

 

Bahkan, memisahkan satu unit kerja dari keseluruhan pekerjaan “membangun rumah”, misalnya menumpuk bahan-bahan bangunan di atas sebidang tanah, justru bisa menghambat pekerjaan membangun rumah. Ia bisa mengacaukan sistem dalam pekerjaan “membangun rumah”.

 

Demikian pula halnya dengan beramal saleh. Amal-amal saleh yang tidak diorganisasi dalam sistem kesalehan dan kebajikan seringkali berujung pada menghambat dan menghancurkan kesalehan. Sistem kesalehan dan kebajikan itu juga tak punya makna tanpa keimanan yang menjadi esensinya.

 

Ambil contoh berikut ini: kembali kepada al-Qur’an sebagai sumber hukum adalah suatu amal saleh, bahkan kewajiban dasar orang beragama. Tapi, upaya kaum Khawarij memaksa Imam Ali untuk kembali kepada al-Qur’an justru berujung pada rusaknya sistem kebaikan dan keadilan yang sedang ditata oleh beliau. Akibatnya, tindakan baik berupa upaya kembali kepada hukum Allah yang diusung oleh Khawarij itu malah berujung dengan rusaknya sistem kebaikan dan keadilan.

 

Contoh-contoh amal saleh yang tidak tersistemasi dan tak terorganisasi ini sangat banyak. Tidak sedikit orang merasa sudah beramal saleh dengan membezuk orang sakit, membantu orang miskin, menyantuni anak yatim, menolong orang sakit dan seterusnya. Tapi dia tidak mau terikat dengan sistem yang mengorganisasikan ceceran amal-amal saleh itu dalam sebuah kesatuan.

Padalah, kita tahu bahwa ceceran amal saleh itu yang tak bersistem sering berdampak menyuburkan perbuatan buruk dan kerusakan.

 

Mungkin itulah mengapa Imam Ali menyatakan bahwa kebatilan yang mempunyai sistem dan organisasi akan mengalahkan kebenaran yang tanpa sistem dan organisasi. Pandangan seperti ini jelas berangkat dari pemahaman yang tepat tentang alam sebagai sebuah sistem, di mana tiap aktivitas di dalamnya juga menuntut pada pengaitan dengan sistem tersebut. Entah aktivitas itu untuk kebaikan ataupun untuk keburukan.

 

Mungkin karena itu pula al-Qur’an mengaitkan shalat dengan upaya mencegah perbuatan keji dan mungkar. Demikian pula hubungan antara pendustaan agama dan mengabaikan hak2 kaum tertindas dan lemah (kaum miskin, anak yatim dan sebagainya).

 

Salah satu ayat yang juga mendukung argumen di atas adalah ayat yang mengajak manusia untuk masuk Islam secara kaaffah (menyeluruh). Ayat itu ingin menegaskan bahwa satu unit kesalehan yang terpisah dari sistem keimanan, kebenaran, keadilan dan sebagainya tak bakal membuahkan efek seperti yang diharapkan.

 

Barangkali sebab utama munculnya kemunduran umat Islam belakangan ini adalah kenyataan bahwa sebagian besar mereka cenderung menghindari pendalaman terhadap sistem keimanan dan ideologi Islam. Mereka beranggapan bahwa Islam itu menyuruh shalat, puasa, haji, zakat, sedekah, berbakti kepada orangtua dan sebagainya secara terpisah-pisah. Padahal, al-Qur’an dan Islam itu adalah sebuah keseluruhan yang utuh. Meninggalkan sebagian sembari mengerjakan sebagian tak akan mengantarkan kita pada tujuan.

 

 

Wallaua’lam

 

 

Advertisements

8 thoughts on “Ceceran Amal Saleh, Masihkah Dianggap Saleh?

  1. Ranrose says:

    Pa ustaz, this writing is intriguing..tapi mgkn di lain kali bisa dibahas atau sudah pernah dijelaskan. ..afwan.

    Soal kebaikan/amal shaleh yang dikerjakan oleh non-muslim, seperti Mother Theresa yang mengabdikan hidupnya untuk kaum sakit dan malang di india dengan penuh kasih sayang, atau ketika saya melihat acara kick andy, Mama Bule yang mengabdi untuk para penderita kusta di NTT tanpa pamrih.

    Mereka mungkin tidak atau belum mengerti mengenai sistem keimanan atau ideologi islam, tapi amal kebaikan mereka mencerminkan sekali ideologi islam.

  2. ema rachman says:

    sedih memang…makanya PR para ustad dan yang peduli masih banyakkk sekali untuk memberi pemahaman yang utuh..karena masyarakat islam sini , pahamnya islam itu bagian dari agama yang dimana bila ia sudah melaksanakan shalat, zakat, puasa ,haji ,berarti pekerjaan selesai. Setelah itu dia akan kembali mengeksplor ‘keinginan diri’nya…yang bertolak belakang dengan nilai agama itu sendiri…

  3. azerila says:

    Kasian Oprah 😀 udah (mencoba) beramal baik tapi jadi fatamorgana nantinya (istilah Al-Quran).. Insyallah dapet hidayah. Allah Mahaadil.

  4. attar says:

    Dalam do’a Kumail ada disebutkan;

    Aku memohon padaMu dengan kebenaran dan kesucianMu, dengan ke Agungan sifat dan AsmaMu.
    Jadikanlah waktu-waktu malam dan siangku dipenuhi dengan dzikir pada Mu, dihubungkan dengan kebaktian pada Mu, diterima amalku disisiMu, sehingga jadilah AMAL dan WIRIDku seluruhya wirid yang SATU, dan kekalkanlah selalu keadaanku dalam berbakti padaMu………..

  5. musakazhim says:

    Sebelum terlalu jauh, saya perlu ingatkan bahwa dalam Al-Qur’an istilah Islam tidak dipakai untuk merujuk pada Syariat Nabi Muhammad, melainkan pada sebuah sistem kebenaran dan kesadaran untuk pasrah/tunduk/taat kepada Allah. Semua amal yang tak masuk dalam sistem ini adalah SIA-SIA, karena amal2 saleh itu hanya untuk memenuhi kebutuhan ego semata2. Kalo Mother Theresa dll masuk dalam sistem kebenaran dan kesadaran untuk tunduk pada ALLAH, maka amal salehnya berguna bagi dirinya.

    Meskipun demikian, Islam dalam pengertian Syariat Nabi Muhammad adalah sistem penghambaan dan ketundukan kepada ALLAH yang paling sempurna, universal, up-to-date, dan sebagainya.

    Pada artikel2 lalu saya juga sudah menyinggung beberapa penggunaan kata ISLAM dlm Al-Qur’an yang rujukannya mencakup semua nabi dan rasul sebelum Baginda Nabi Muhammad.

  6. atrie says:

    Maaf saya awam sekali, jadi agak pusing maksud artikelnya dan deg2 plas neh kalau tnyata amalan saya salah jalan. Kalau ada waktu, mail me please. Mudah2an bisa bantu memperjelas “jalan” saya. Wass.

    • iya nih. sy juga merasa seperti ada kesan menghakimi dalam tulisannya.

      “Tidak sedikit orang merasa sudah beramal saleh dengan membezuk orang sakit, membantu orang miskin, menyantuni anak yatim, menolong orang sakit dan seterusnya. Tapi dia tidak mau terikat dengan sistem yang mengorganisasikan ceceran amal-amal saleh itu dalam sebuah kesatuan.
      Padalah, kita tahu bahwa ceceran amal saleh itu yang tak bersistem sering berdampak menyuburkan perbuatan buruk dan kerusakan.”

      organisasi di situ maksudnya apa?
      kenapa bisa “ceceran” amal sholeh berdampak menyuburkan perbuatan buruk dan kerusakan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s