Mas Gaduh

Anda boleh tanya apapun padanya, dan dia pasti menjawab. Anda juga boleh minta dia mengerjakan apapun, dan dia pasti bilang BISA. Jika Anda tak berbicara dan tak perlu apa2, dia akan mengambil inisiatif.

Dengan jurus2 ampuh, dia bisa dengan mudah memutar-mutar otak Anda seperti gasing atau mengayun-ayunnya seperti yo-yo (Maaf Mbak Mega, saya pinjam istilahnya). Hampir tidak ada orang yang tidak tahu bahwa teman saya ini, sebut saja Mas Gaduh, memang serba tahu dan serba bisa.

Seorang teman malah bilang bahwa Mas Gaduh bisa mensertifikatkan lautan Hindia, mencari pembeli gunung Semeru dan sebagainya. Pokoknya memang FANTASTIS!

Suatu petang yang damai, dia menelpon saya: “Di mana? Lagi dimana, antum?”

“Di rumah,” jawab saya.

“Ok, ana mau datang. Penting!”

Sesampai di rumah, nafasnya masih tersengal. Lalu dengan tergopoh-gopoh dia minta segelas air dan kopi.  Dua menu favoritnya. Mas Gaduh memang orang yang sederhana, terutama dalam cara menilai orang lain.

Setelah basa basi sejenak, dia bercerita tentang keberadaan uang sebesar 400 juta dolar AS. Konon, uang ini milik seseorang yang tinggal di desa terpencil di wilayah Jateng. Banyak orang yang mengincarnya, tapi karena kalah sakti dengan sang pemilik, pusaka finansial itu tetap aman terjaga.

Saya terperanjat, dan tak semangat menanggapi. Imajinasi dan otak saya terus terpenjara dalam logika, silogisme dan sebagainya yang kurang bersahabat dengan alur cerita yang dia bawa.

Melihat saya kurang antusias, Mas Gaduh ga kekurangan akal. Jurus-jurus baru yang juga sebenarnya lama dia mainkan: “Ini serius. Semua dokumen dan berkas pendukung bisa langsung dilihat!”

“Bisa ana liat?” tanya saya untuk sekedar menghiburnya.

”Oh, ga bisa! Untuk melihat dokumen2 itu, perlu ritual dan puasa beberapa hari.”

“Oh begitu? Ana kayaknya ga bakal siap untuk berpuasa dengan niat khusus meliat  dokumen2 itu.”

Begitu dia melihat posisi saya yang terus melemah, mulailah dia mengulur imajinasi dan mengelus-elus harapan saya. “kan antum pasti pengen punya rumah sakit gratis, sekolah gratis, bikin ini dan itu untuk kepentingan orang banyak…” dan terus dia mengulur dan mengelus.

Situasi petang itu kian tak menguntungkan. Serangan mual di perut saya sudah tak tertahankan lagi, dan saya protes: “Ente ini kok semua tahu, semua bisa! Apa ga bikin orang jadi makin ragu2?”

“Oh ga masalah kalo orang ragu. Ana mau kerjakan semua yang halal, asal jangan diminta bawain planet Yupiter ke Condet?”

Sambil tertawa saya tanya alasannya. “Ya malas aja, di sana sering macet!”

Mas Gaduh memang satu di antara sekian banyak tanda kebesaran dan kemahakuasaan Allah dalam mencipta. Begitu kaya, begitu rumit, begitu sempurna. Mas Gaduh bisa dengan mudah mengubah keadaan serius menjadi cair, lalu serius lagi dan cair lagi. Dia juga sangat pandai menghibur, sehingga semua orang asyik maksyuk dibualinya. Mas Gaduh mengingatkan saya tentang kelemahan saya sendiri, dan memberi peringatan saya akan kebesaran Allah.

Jelas tak bisa kita menangkap segala makna di balik penciptaan, termasuk penciptaan Mas Gaduh. Tapi satu hal yang  pasti: tak mungkin kita mereduksi ciptaan menjadi seperti dugaan kita semata-mata, karena ia adalah ciptaan yang selalu berada dalam proses tak berkesudahan.

Wallahu a’lam.

Advertisements

3 thoughts on “Mas Gaduh

  1. Ranrose says:

    hmm…sepertinya penulis blog ini kayak sekali dengan orang2 unik yang serba tau, serba bisa, dan serba menghibur di sekelilingnya . 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s