Kilas Balik Revolusi Islam Iran (2)

Tiga belas tahun kemudian, tepatnya 6 November 1977, semua orang dikejutkan oleh kabar duka kematian Musthafa, putra sulung Imam Khomeini. Kematian yang sungguh misterius. Suatu ketika, Imam Khomeini menyebut Musthafa sebagai “cahaya mataku”. Dia memang dikenal sangat dekat dengan ayahnya, terutama sejak mereka sama-sama tinggal di pengasingan di Najaf, Irak. Tapi, saat kabar tragis ini disampaikan kepadanya, airmukanya tidak berubah. Tetap tenang dan tunak. Seperti sudah lama mendengarnya, Khomeini menanggapi berita itu dengan cara terbalik: “Kematian Musthafa adalah salah satu rahasia kebaikan Allah.”

“Rahasia kebaikan” yang dimaksudkan Ruhullah memang segera tampak saat berita kematian Musthafa menyebar di Iran. Peristiwa ini terbukti menjadi salah satu faktor yang mempercepat kematangan Revolusi Islam Iran dan pembusuhan rezim Syah. Kebanyakan rakyat menduga kuat bahwa SAVAK berada di balik pembunuhan itu.

Pada peringatan hari ketujuh wafatnya Musthafa, Imam Khomeini menjelaskan: “Dunia ini hanyalah perlintasan; ia bukanlah tempat yang seharusnya kita tinggali. (Dunia) ini hanyalah jalan, inilah Titian Sempit… Apa yang disebut Kehidupan di dunia ini bukanlah Kehidupan melainkan Kematian… Kehidupan sejati hanyalah yang tersedia di Akhirat… Kita berada di sini, dalam Kehidupan rendah dan hina ini sekadar untuk melaksanakan tugas-tugas yang Allah tentukan bagi kita. Boleh jadi, karena kebodohan, kita menganggap segenap tugas itu sebagai sukar; namun sebenarnya semua tugas ini adalah bukti paling nyata dari kemurahan Allah (kepada kita)…Tak seorang pun menjadi manusia hakiki tanpa melintasi Titian Sempit ini.”

Tak lama kemudian, pada sore hari di penghujung bulan Desember 1977, Murtadha Muthahhari menerima surat dari Imam Khomeini yang membuatnya senang bercambur gelisah. Surat yang ditulis oleh Ahmad Khomeini, putra bungsu Ruhullah Khomeini, di atas kertas robekan dari buku sekolah salah seorang anaknya itu berisi pesan yang mendebarkan. Dari pengasingannya di Najaf, Imam Khomeini menyerukan semua rakyat untuk terus berjihad. Dia menyatakan bahwa “pemakzulan Syah”, “pembubaran Parlemen”, “pembatalan seluruh hukum perdata” dan “pemboikotan total terhadap Pemerintahan Setan” harus cepat dilaksanakan. Imam Khomeini mengakhiri suratnya dengan pernyataan yang digarisbawahi berikut ini: “Segenap penderitaan umat pasti akan segera berakhir.”

Meski bingung dengan pesan dramatis ini, Muthahhari percaya penuh pada gurunya. Dia telah mengenal Ruhullah cukup lama untuk bisa memastikan bahwa Ruhullah bukan orang yang ceroboh. Pada masa-masa ketika masih menjadi muridnya di Qom, Muthahhari mengenal Ruhullah sebagai guru yang konsisten, realistis, praktis, penuh pertimbangan dan kehati-hatian. Tapi kebingungan itu tak bisa ditepiskan begitu saja. Muthahhari memutuskan mengundang beberapa murid Ruhullah lain untuk menanggapi pesan tersebut.

Malam mulai merayap manakala para tamu berkumpul di rumah Muthahhari. Muhammad Husein Bahesyti, Mohieddin Anwari, Ali Golzadeh Ghafuri, Ahmad Mowlawi, Ali Akbar Hasyemi Rafsanjani dan Muhammad Jawad Bahonar. Enam orang ini bertemu untuk membincangkan kandungan pesan Imam Khomeini dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Pertemuan yang berlanjut hingga tengah malam itu berhasil menelurkan modus vivendi untuk melaksanakan pesan ini.

Setelah beberapa pertemuan lanjutan, tujuh mullah politisi ini lantas menghasilkan rencana aksi protes dan demonstrasi di seantero Iran. Ruhullah menyetujui dan mendukung rencana itu. Di Najaf, menurut penuturan Haji Ibrahim Dardasyti, “Imam Khomeini mulai lebih sering mengunci diri di dalam kamar. Beliau begitu karam dalam berbagai ibadah dan munajat panjang yang penuh tangisan.” Inilah moment of realization bagi Imam bahwa janji Ilahi sudah semakin dekat.

Mula-mula, Muthahhari memperkirakan bahwa rezim Syah masih akan bertahan sampai beberapa tahun lagi. Tapi perkembangan dramatis yang senantiasa selaras dengan pengarahan Imam Khomeini semakin memperteguh keyakinan Muthahhari dan keenam sejawatnya akan kebenaran jalan yang mereka ambil di belakang Sang Guru. Muthahhari yang dikenal paling moderat di antara semua murid Ruhullah belakangan semakin tersedot dalam radikalisasi Ruhullah.

Fakta ini memang tidak bisa dipahami oleh orang yang munggunakan mata sains: perkembangan sosial dan politik Iran begitu selaras dengan perkembangan detak jantung dan tekanan darah Ruhullah nun jauh di samping pusara kakeknya, Ali bin Abi Thalib, di Najaf. Saat Imam menaikkan nada bicaranya, rakyat Iran merespons dengan luapan emosi yang setimpal. Ada kesatuan organik yang tak bisa dipungkiri antara rakyat dan pemimpin dalam revolusi paling populis di abad 20 ini.

Pada 11 Januari 1978, sekelompok pelajar agama mengadakan unjuk rasa di Qom. Mereka mengutuk pemuatan cerita yang menghina Imam Khomeini di media massa pro-Syah. Unjuk rasa itu kontan menyulut bentrokan dengan aparat keamanan. Beberapa pelajar agama mati tertembak. Pihak revolusioner menyatakan korban mencapai angka 70 orang.

Memperingati 40 hari tragedi di Qom, 18 Februari 1978, rakyat Iran di berbagai daerah turun ke jalan. Bentrokan dengan pasukan keamanan tak bisa dielakkan. Keadaan semakin tidak berpihak pada Syah. Semua langkah yang diambilnya justru berbalik memukulnya. Terlihat bahwa Raja yang bergelar Syahensyah (Raja Diraja) ini mulai terserang neurastenia. Kanker ganas menggerogoti jaringan sel dan organ Syah, membuatnya kian terpuruk dalam kegelapan tanpa ujung.

Sejumlah pelajar agama di Qom melancarkan aksi demo pada medio Mei tahun yang sama. Begitu keadaan tidak terkendali, mereka melarikan diri ke rumah Ayatullah Kazem Syariatmadari. Ulama besar yang dekat dengan keluarga kerajaaan ini terkesiap melihat seorang pelajar yang bersembunyi di rumahnya ditembak mati di hadapannya. Ini adalah pelanggaran tradisi yang nyata. Sang Ayatullah naik pitam, menyerukan perlawanan terhadap Syah. Tangan Tuhan memang berpihak pada Ruhullah, sekalipun pada mulanya semua tak berada di sisinya.

Antara bulan Juni dan Agustus tahun 1978 itu e’lamiyeh (pesan) Ruhullah muncul dalam frekuensi lebih tinggi. Parvis Sabeti, kepala ‘satuan tugas anti-subversi’ SAVAK, memperkirakan jumlah pesan berupa pamflet maupun rekaman suara Ruhullah yang menyebar di tengah rakyat mencapai seratus ribu keping kaset dan satu juta lembar buletin stensilan. Rakyat juga bisa mendengar hampir semua e’lamiyeh Ruhullah melalui berbagai media lain, termasuk Radio BBC berbahasa Persia.

Dalam pesan-pesan itu, Ruhullah selalu mengingatkan bahwa gerakan yang telah dimulai sejak 15 tahun sebelumnya ini bersifat “suci”, bertujuan untuk “menegakkan keadilan dan menentang penindasan yang diperagakan oleh hegemoni Timur dan Barat atas dunia Muslim”, di bawah bimbingan “para ulama” dan dengan “dukungan rakyat Iran dan kaum mustadh’afin”. Beliau menyebutkan: “Gerakan ini masih rapuh, mudah mati. Ia membutuhkan darah syuhada agar bisa tumbuh menjadi pohon yang menjulang tinggi.”

Rakyat kembali dikejutkan oleh kecelakaan aneh paling mengenaskan dalam proses Revolusi Islam Iran pada tanggal 18 Agustus tahun 1978. Bioskop Rex, salah satu teater terbaik di kota Abadan yang kaya minyak, sedang menayangkan film dokumenter berdurasi pendek tentang hasil-hasil pembangunan Syah. Tiba-tiba api dengan cepat melahap keseluruhan gedung bioskop tersebut. Seribu penonton yang mencoba melarikan diri ternyata tidak menemukan pintu keluar, terkepung oleh api yang menjilat-jilat dengan ganas. Lebih anehnya lagi, deretan blangwir (fire engine) yang tiba di tempat kejadian tak dapat beroperasi karena tidak adanya air di daerah sekitar. Pada saat itu, bau hangus dari daging manusia sudah menyebar ke semua arah. Enam ratus orang mati terpanggang secara memilukan, sedangkan empat ratus orang sisanya terbakar sekujur tubuhnya.

Syah semakin terpuruk. Tragedi ganjil ini sangat memukulnya. Tidak habis dia pikirkan bahwa semua rencana serangan baliknya pada Imam Khomeini berjatuhan, bahkan masing-masing rencana itu berubah menjadi kutukan atasnya.

Tak ada reaksi langsung dari Imam menyangkut kejadian ini. Kemungkinan besar lantaran Agustus tahun itu bertepatan dengan bulan Syakban. Terbetik berita bahwa pada bulan Syakban dan Ramadhan tahun itu, Imam Khomeini tenggelam dalam ibadah dan doa. Dia memang suka membaca munajat bulan Syakban Imam Ali bin Abi Thalib. Salah satu cuplikan doa yang paling dikagumi dan kerap disitir dalam kuliah-kuliahnya berbunyi sebagai berikut:

Ilahi, anugerahilah daku dengan kepasrahan-mutlak kepada-Mu. Sinarilah mata hatiku dengan pancaran pandangan-Mu, hingga ia sanggup menyibak hijab (yang menutupi) cahaya-Mu dan mencapai sumber Keagungan-Mu. Jadikan ruh kami senantiasa terpancang kuat dalam ambang Kekudusan-Mu. Ilahi, jadikanlah aku termasuk yang menyahut tatkala Kau panggil dan yang terjatuh pingsan oleh Kedahsyatan-Mu tatkala Kau tatap.

Memperingati perayaan Idul Fitri yang jatuh pada bulan September 1978, masyarakat Iran di berbagai kota turun ke jalan dalam jumlah besar. Babak baru revolusi dimulai. Yel-yel Revolusi Islam ini pun diperkenalkan: “Allahu Akbar, Khomeini Rahbar” (Allah Maha Besar, Khomeini Pemimpin); “Allah, al-Qur’an dan Khomeini”; “Mark bar Syah” (Mampus Syah); “Satu-satunya Jalan Keluar adalah Iman, Perang Suci dan Kesyahidan”. Setelah berbaris di jalanan kota-kota utama Iran, para demonstran biasanya menuju ke gedung-gedung pemerintahan untuk membacakan pernyataan sikap.

Syah benar-benar insaf bahwa tak ada lagi alasan baginya untuk menyombong. Semua tali yang dipegangnya putus, dan busana kebesarannya retas. Raja yang selama bertahun-tahun larut dalam megalomania ini mendadak menampakkan kerendahan diri. Dalam ungkapan manipulatif, Syah menyatakan: “Bangsa Iran telah bangkit melawan tirani dan korupsi. Revolusi bangsa Iran harus saya dukung, baik sebagai Raja maupun warga Iran…Dengan ini saya menjamin (tercapainya) apa yang ingin diberikan oleh syuhada kalian. Dalam revolusi bangsa Iran melawan kolonialisme, tirani dan korupsi ini, saya berada di sisi kalian.”

Imam Khomeini langsung menanggapi tipu daya ini sebagai berikut: “Sekarang kau mengatakan akan memberikan kebebasan untuk rakyat. Dengar, hai orang tengil! Bisa-bisanya kau mau memberikan kebebasan? Hanya Allah yang memberikan kebebasan. Hukum Islam dan Konstitusi yang bisa memberikan kebebasan. Apa yang kau maksud dengan pernyataanmu: kami telah memberi kalian kebebasan? Kapan pula kau pernah memberikan sesuatu pada kami? Sadarkah kau siapa dirimu sebenarnya?”

Sepanjang September, di sana-sini terjadi benturan antara demonstran dan polisi. Para pendukung Khomeini semakin yakin dengan datangnya the unthinkable: Syah mundur. Keyakinan ini tidak datang sekonyong-konyong. Dalam banyak Sokhanrani-e Mazhabi (Ceramah Agama), Imam Khomeini senantiasa membawa tema tauhid, kekuasaan Ilahi dan bantuan gaib (imdad ghaybi) dengan bahasa sederhana yang dipahami oleh rakyat jelata pada umumnya.

Pada 5 September, Perdana Menteri Syarif Emami menetapkan status keadaan darurat militer di Tehran dan 23 kota besar lainnya lewat tengah malam. Setidaknya 10 juta orang terkurung dalam rumah akibat hukum perang tersebut. Pada 6 September, Tehran tampak seperti Stalingrad tahun 1942. Lengang dan mencekam.

Jumat tanggal 8 September, sejumlah besar orang berkumpul di sekitar Alun-Alun Jaleh, dekat gedung Parlemen, untuk memenuhi undangan Syaikh Muhammad Nasiri seminggu sebelumnya. Pasukan yang menjaga gedung Parlemen melaporkan adanya sekelompok orang berkumpul kepada komandan mereka lewat pesawat radio. Pasukan segera diminta membubarkan kerumunan. Satu detasemen tambahan ditugaskan untuk membantu pasukan. Karena panik mendengar teriakan Allahu Akbar yang begitu bertalu-talu, pasukan sekonyong-konyong memuntahkan timah panas ke arah massa. Ratusan orang menjadi korban. Perkiraan awal menunjukkan tidak kurang dari seribu korban jiwa melayang.

Suasana Tehran semakin tidak bisa diredam. Desas-desus beredar di tengah masyarakat bahwa tidak kurang dari 15.000 syahid gugur di Alun-alun Jaleh, “dibantai oleh pasukan Zionis Israel.” Amir Taheri menyatakan bahwa desas-desus itu bermula dari logat Kurdistan yang digunakan secara tidak sengaja oleh salah seorang anggota pasukan pengendali huru-hara asal etnik Kurdi yang berada di lokasi kejadian. Karena penduduk Tehran tidak begitu mengerti logat ini, mereka mengira bahwa Syah telah menyewa tentara Israel untuk memusnahkan revolusi. Kemungkinan besar desas-desus ini sengaja disebarkan oleh kalangan Komunis untuk memancing anarki yang lebih besar.

Pada saat itu, kaum buruh mulai ikut menentang Syah—sesuatu yang sama sekali tidak terduga oleh elit sebelumnya. Buruh industri minyak yang menjadi andalan Syah dan perusahaan listrik negara mogok kerja. Ekonomi Iran praktis terhenti total.

Pada bulan yang sama, Syah meminta Saddam untuk mengusir Khomeini dari kota suci Najaf. Syah mengira bahwa keberadaan Ruhullah di Najaf akan memperkuat posisi religius dan spiritualnya. Untuk menunjukkan solidaritas, melalui saudara kandungnya, Barzan Tikriti, Saddam menawarkan diri untuk membunuh Ruhullah. Barzan bahkan sudah mempersiapkan skenario kecelakaan mobil untuk menghabisi nyawa Ruhullah.

Syah menolak, dan menganggap bahwa kematian Ruhullah hanya akan mengglorifikasinya sebagai syahid. Seluruh milisi dan gerilyawan yang bersimpati pada Ruhullah dan revolusinya bakal langsung menyambut kabar itu dengan perlawanan bersenjata di seantero negeri. Bila hal itu terjadi, Syah mungkin akan mati di tiang gantungan dalam sebuah pengadilan rakyat—seperti yang dituntut oleh faksi komunis dalam kelompok revolusioner. Farah, permaisuri Syah, punya firasat kuat bahwa kematian Ruhullah akan mendatangkan prahara besar buat keturunanya dalam waktu yang lebih lama.

Memperkuat berita di atas, Alexandre de Marenches, Kepala Dokumentasi Eksternal dan Dinas Counter-Espionage (yang lebih dikenal dengan DGSE), menyatakan bahwa Perancis telah mengusulkan kepada pihak Syah untuk “merekayasa pembunuhan Khomeini”, tapi Farah menolak tawaran tersebut. Bagaimanapun, tawaran seperti itu mungkin mudah dilakukan oleh pemerintahan manapun yang sempat disinggahi oleh Khomeini. Tapi Allah punya rencana lain.

Alur sejarah memang selalu berpihak pada Ruhullah. Sejak awal gerakan ini, Ruhullah selalu menekankan pentingnya mencapai kemenangan dengan sesedikit mungkin unjuk kekuatan. Ini sejalan dengan perlawanan model al-Husein di Karbala pada peristiwa Asyura yang berlandaskan slogan “Darah yang Mengalahkan Pedang”. Bagi kaum Syiah, puncak ketertindasan hanyalah berarti puncak kemenangan; semakin tertindas dan tak berdaya seseorang, semakin besar kemenangan dan kejayaan yang bakal diraihnya.

Mendengar kabar bahwa Barzan Tikriti menuju Iran untuk urusan genting pada awal Oktober, Ruhullah bersiap-siap menghadapi segala risiko. Dan seperti dalam semua situasi genting lain, Ruhullah menitipkan surat wasiat yang sudah disegelnya kepada Ahmad. Semua merasa terkejut sekaligus lega saat utusan Barzan hanya meminta Ruhullah meninggalkan Irak dalam waktu 48 jam. Setelah ditolak oleh semua negeri Islam yang bertetangga dengan Iran, Ruhullah menerima tawaran Sadeq Ghotbzadeh untuk menetap di Perancis.

Dengan berpindah ke Perancis, Ruhullah justru memiliki ruang manuver yang jauh lebih besar. Dari rumah kecilnya di Neauphle-le-Chateau itu, Ruhullah bisa langsung melakukan kontak telepon dengan Muthahhari yang menjadi komandan lapangannya di Tehran. Setelah lebih dari 14 tahun tidak bersahut suara, kontak telepon Ruhullah dengan Muthahhari, Bahesyti, Khamenei dan murid-murid lainnya sering berlangsung sangat lama. Tidak kurang dari 500 orang berkunjung ke rumahnya setiap hari. Selama empat bulan di Perancis, dia berhasil memberikan 132 wawancara radio dan televisi. Rakyat Iran semakin mengikuti degup dan denyut revolusi.

Zbigniew Brzezinski, penasehat keamanan Presiden Jimmy Carter, meneleponn Syah untuk menegaskan dukungan AS sampai titik darah penghabisan. Tapi, Syah menangkap isyarat lain dari Washington sore tanggal 8 November 1978 itu. AS pelan-pelan bakal menelantarkannya di belantara ketidakpastian. Bertahun-tahun kemudian, Nikki Keddie menyitir ucapan pejabat senior AS, Alan Blumenthal, setelah mengunjungi Syah pada waktu itu: “Saya baru saja bertemu dengan zombie di sana.” Jimmy Carter sendiri tidak segan-segan mengadakan kontak dengan Ibrahim Yazdi, salah satu orang dalam lingkaran Ruhullah di Paris. Tanpa dukungan AS, Syah yang sejak menggantikan ayahnya secara misterius terlalu bergantung pada AS itu semakin kelimpungan.

Seorang wanita salehah di kota suci Qom mengabarkan bahwa dia berjumpa dengan sesosok makhluk gaib yang memberinya kabar gembira tentang kepulangan Khomeini. Kalangan revolusioner memanfaatkan berita dan meminta rakyat Iran menaiki atap rumah masing-masing dan meneriakkan takbir pada bulan purnama tanggal 27 November. Gema takbir membahana di seluruh negeri. Jutaan orang secara bersamaan menyatakan telah menyaksikan wajah Imam Khomeini di bulan. Sebuah koran nasional Iran, Navid, menuliskan: “Rakyat kita, yang sedang berjuang melawan Imperialisme di bawah pimpinan AS, telah melihat Imam dan pemimpin mereka, Khomeini Sang Penghacur Berhala, tergambar di bulan. Segelintir orang tidak bisa menyangkal sesuatu yang disaksikan oleh mata kepala seluruh bangsa.”

Pada 2 Desember 1978, lebih dari 2 juta orang turun ke jalan di Alun-alun Syahyad Tehran pada bulan Muharam. Imam Khomeini selalu menekankan pentingnya perayaan Muharam dan Safar bagi kemenangan Revolusi Islam Iran tahun 1979. (Cari pernyataan Imam Khomeini mengenai hal ini).

Menjelang akhir Desember 1978, ribuan demonstran mati tertembak peluru tentara Syah di berbagai kota besar Iran. Seorang mullah bergegas menghubungi Ruhullah dan memohonnya untuk meminta rakyat mundur dari jalanan demi menghindari korban yang lebih banyak. Ruhullah mengabaikan permintaan itu. Dia punya “suara lain” yang harus didengarnya. Itulah suara yang berbunyi: Katakanlah, ‘Aku memerintahkan kepadamu satu hal saja—yakni Engkau bangkit demi Allah, berpasangan atau sendiri, kemudian berpikirlah’ (QS 34: 46).

Bagi Ruhullah, ayat di atas merupakan ketetapan bahwa “jalan satu-satunya menuju reformasi di bumi adalah dengan bangun dari tidur yang melenakan dan bangkit dari jurang ketakberdayaan.” Menurutnya, “kebangkitan di jalan Allah” adalah cara mengatasi kondisi menyedihkan kaum tertindas, terutama umat Muslim, di dunia dewasa ini. Tanpa kebangkitan dan pengorbanan di jalan itu, segenap persoalan takkan bisa diatasi. Dan di akhir jawabannya, Ruhullah mengejutkan mullah tersebut: “Pasukan Syah tak lebih dari bayang-bayang dan bayang-bayang takkan bisa bertempur.”

Hasan Nazih, seorang pengacara yang beralih profesi menjadi politisi, mengunjungi Imam Ruhullah Khomeini di rumah pengasingannya di Neauphle-le-Chateau. Dia melihat orang yang begitu “determined dan tidak pernah ragu mengambil tindakan.” “Orang ini,” kenang Hasan, “yakin bahwa dirinya selalu berhubungan dengan Allah.”

Ruhullah adalah pemimpin yang energik, sekalipun hidup penuh kebersahajaan. Dia terbiasa tidur di atas lantai, memakan roti dan keju kering (panir). Dalam ratusan ceramahnya, dia selalu merujuk dirinya sebagai “pelayan kalian”, “bukan siapa-siapa”, “pelajar agama kecil” atau “seseorang lanjut usia di akhir-akhir hidupnya”. Banyak pemimpin asing yang memberikan kesaksian bahwa Ruhullah adalah manusia suci. Andrew Young, Perwakilan Tetap AS di Perserikatan Bangsa-bangsa dan penasihat Presiden Carter, melukiskan Ruhullah sebagai “Santo abad 20”.

Dalam usianya yang sudah mendekati 80 tahun dan kondisi hidup yang serba menderita itu, Ruhullah bisa bekerja 12 sampai 14 jam sehari. Bandingkan dengan keadaan musuhnya, Syah, yang pada saat-saat ini hidup dengan bantuan kemoterapi. Hari-hari akhirnya di Iran diisi dengan menelan puluhan jenis pil anestetis dan sedatif.

Ide-ide konyol mulai mengaduk-aduk otak Syah. Mulai dari ide Jeneral Gholam-Ali Oveissi, penguasa militer Tehran, untuk memenjarakan 20.000 aktivis di pulau Kish, sampai usulan Jenderal Mir-Shapour untuk menginvasi Afganistan demi mengalihkan perhatian, sampai Hasan Emami, imam masjid Tehran, untuk menyogok Ruhullah dengan uang tunai senilai 9 juta poundsterling. Ide terakhir ini bahkan sempat digulirkan oleh Alinaqi Kani, Menteri Urusan Wakaf, dengan pertama-tama mengontak Syaikh Zayed Ibn Sulthan al-Nahiyan, Amir Abu Dhabi. Al-Nahiyan langsung menyetor uang itu kepada Iran.

Hanya saja, tak ada penengah yang berani atau sudi melaksanakan ide konyol itu. Semua go-between menyatakan kemustahilan tercapainya usaha gila itu. Ruhullah yang terkenal sangat zuhud ini bukan hanya akan menolak, tapi pasti akan tersinggung dengan orang yang melontarkannya.

Media massa pemerintah mulai mengulang-ulang berita bahwa Syah akan melakukan “lawatan singkat ke luar negeri”. Keadaan dalam negeri semakin tidak terkendali, lebih-lebih setelah Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Abbas-Karim Gharabaghi diam-diam mengalihkan kesetiaan pasukannya kepada Imam Khomeini. Dia mengakui bahwa sekalipun pemerintah Iran memiliki Angkatan Bersenjata terkuat ke-6 di dunia, tapi pasukannya tidak akan mampu menghadapi kekuatan Khomeini dan rakyat yang mendukung di belakangnya.

Syah dan Ratu Farah akhirnya bertekuk lutut di hadapan rangkaian takdir yang menimpa mereka. Pada 16 Januari 1979, Shapour Bakhtiar meminta mereka meninggalkan Istana Niavaran yang sejak September tampak begitu angker. Pemutusan aliran listrik yang diorkestrasi oleh kalangan revolusioner ini membuat istana terbesar Syah ini lebih mirip rumah hantu ketimbang kediaman seorang Syahensyah (Raja Diraja).

Imperium Persia yang pada bulan Oktober 1971 genap berusia 2.500 tahun ini akhirnya runtuh. Perayaan ulang tahun yang diselenggarakan di Persepolis dengan biaya mencapai 120 juta dolar ini ternyata sekaligus menjadi obituarinya dengan cara paling ironis. Pakar politik dan ahli strategis paling visioner sekalipun tak akan menyangka bahwa ulama tua dari Qom ini akhirnya mampu, meminjam kata-katanya sendiri, “menjotos rahang Syah.”

Segala kesombongan dan kebejatan Syah memang tidak datang sekonyong-konyong. Imam Khomeini pernah mengingatkan: “Semua kerusakan di dunia ini terjadi secara perlahan.” Kerusakan dan kesesatan manusia tidak terjadi dalam sehari semalam. Demikian pula dengan perbaikan dan penyempurnaannya. Imam Khomeini dan Syah adalah dua contoh dalam dua jalur berbeda ini.

Begitu ditinggal Syah, suasana seluruh kota besar di Iran semakin mencekam. Hampir setiap saat terjadi bentrokan antar pasukan pemerintah dan gerilyawan bersenjata di bawah payung organisasi komunis Partai Tudeh maupun kelompok-kelompok ultranasionalis seperti Mujahidin Khalq. Teror dan penjarahan di berbagai daerah berpenduduk kaya ditebar oleh kedua faksi tersebut, sehingga menyebabkan keadaan tidak terprediksi sama sekali.

Saat terbang dengan pesawat Jumbo jet milik maskapai Air France menuju Tehran yang masih diliputi suasana tegang, Khomeini terlihat begitu hening dan tenang. Banyak orang di sekitarnya, termasuk wartawan yang hadir dalam pesawat itu, terbelalak menyaksikan ketenangan misterius yang mengalir di seluruh sel darah Khomeini. Wartawan Le Monde bernama Paul Balta tak kuasa menahan diri dan mengajukan pertanyaan berikut: “Bagaimana perasaan Yang Mulia dalam perjalanan kembali ke tanah air setelah 15 tahun hidup dalam pengasingan?” Kontan Ruhullah menjawab: “Hic ehsasi nadaram (Saya tidak merasakan apa-apa).”

Mendengar jawaban ajaib itu, jurnalis senior asal Amerika Serikat, Peter Jennings, meminta juru kameranya untuk mendekat dan menanyakan kembali hal serupa. Jawaban Ruhullah ternyata persis sama. Wartawan Iran, Mansur Taraji, merekam semua adegan itu dan menayangkannya ke seluruh penjuru Iran. Ternyata, ini hanya satu dari berbagai sikap “aneh” Khomeini sepanjang memimpin Iran.

Bagi orang yang membencinya, semua hal menyangkut Khomeini hanya akan memperkuat prasangka bahwa dia adalah diktator bengis, gembong teroris atau pembunuh berdarah dingin yang tidak manusiawi. Bagi mereka yang mengenalnya dari dekat, jawaban itu adalah manifestasi pengendalian dirinya yang sudah mencapai tingkat tertinggi. Orang bisa melihat sikap itu dari sudut mana pun dan mengemukakan pandangan apa pun, tapi jelas Khomeini dan warisannya tidak akan bergeser akibat komentar-komentar kita. Dia telah sampai pada suatu keyakinan dan hubungan dengan Sang Mutlak sehingga apa pun selain-Nya menjadi tidak berarti atau kurang relevan.

Ratusan ribuan pendukung Khomeini menyambut kedatangannya di Bandara Udara Mehrabad. Rakyat Iran hari itu merasakan kegembiraan yang tidak pernah disaksikan sebelumnya. Jutaan orang menyambut dan menunggu untuk bertemu dengan “Sang Imam”. Untuk menghormati syuhada yang telah gugur dalam perjuangan menumbangkan Syah, Imam Khomeini langsung menuju ke pemakaman baru Tehran, Behesyt-e Zahra.

Di pemakaman itu, Imam Khomeini mengecam rekayasa dan penipuan panjang Syah terhadap rakyat Iran. Dia juga menentang upaya Syapour Bakhtiar untuk menggantikan Syah dalam suatu pemerintahan transisi. Dia bertekad “merontokkan gigi (Bakhtiar)” bila membandel.

Inilah untuk pertama kali rakyat Iran melihat Sang Imam dari dekat setelah hampir enam belas tahun berpisah. Kepada sejumlah orang kepercayaannya, Khomeini menyatakan bahwa “keadidayaan regional” Syah yang terlihat begitu besar itu ternyata tidak berarti apa-apa. Sehabis menyampaikan pidato berapi-apinya, Khomeini menuju sekolah menengah Refah yang telah diubah menjadi pusat markaz komando revolusi. Ratusan ulama, tokoh masyarakat, mantan pejabat dan wartawan berdesak-desakan menuju gedung sekolah ini.

Ahmad mempersiapkan sebuah konferensi pers untuk Khomeini, dibantu oleh Muhammad Ali Raja’i, mantan guru di sekolah Refah dan calon perdana menteri dan presiden pertama Iran setelah era Bani Sadr. Ketika para wartawan nasional dan internasional sudah berkumpul, tiba-tiba Khomeini memanggil Ahmad dan menanyakan waktu shalat Magrib. Ahmad mendesak ayahnya untuk melakukan konferensi pers terdahulu sebelum menunaikan shalat, mengingat penjelasan Imam Khomeini pada saat itu akan menentukan masa depan revolusi. Imam Khomeini menjawab: “Tidak ada masalah yang lebih besar daripada shalat. Bila saya menghadap Allah, maka semua tugas lain akan Dia tangani.”

Sejak Syah meninggalkan Iran dan Imam Khomeini datang, tidak ada yang sepenuhnya dapat meramalkan apa yang bakal terjadi dengan Iran sebagai bangsa dan negara. Apa saja bisa terjadi, dalam tempo yang singkat, dan menjungkirbalikkan segala sesuatu yang telah direncanakan. Bagaimana tidak! Semua tentara Syah masih utuh. Pasukan Garda Kerajaan yang dijuluki dengan “Abadi” masih berjaga di Istana Syah. Bakhtiar masih berkuasa, dan mengendalikan militer. Milisi gerilyawan Kiri juga menguasai daerah-daerah pinggiran kota dan menyita sejumlah besar gudang persenjataan. Kaum nasionalis sekuler pro Mossadeq juga tak bisa begitu saja diabaikan.

Tapi, sejarah sepertinya berhenti melangkah, menunggu aba-aba dari Sang Imam. Begitu kuat tenaga yang dimilikinya, sehingga semua faksi yang semula saling bertentangan tertahan di tempatnya masing-masing. Ini bukan sekadar pengaruh karisma, tapi kombinasi selaras dari berbagai faktor. Paling penting ialah ketiadaan ego dalam diri Sang Imam. Jika salah satu faksi merasa ada permainan di balik langkah Imam, maka mereka akan melawan dan mengakibatkan kekacauan total. Imam Khomeini meminta semua faksi mendukung kerja komite-komite revolusi di bawah komando Muthahhari dan Bahesyti.

Pada 4 Februari, Khomeini menunjuk Mahdi Bazargan untuk menjadi Perdana Menteri tandingan Bakhtiar. Masa jabatan Bazargan hanya bersifat transisional, sampai semua persiapan selesai untuk mengadakan referendum nasional. Pada waktu bersamaan, Imam Khomeini meminta Musthafa Chamran, seseorang yang telah Imam Khomeini kenal sebagai pribadi teknis sekaligus revolusioner, untuk mengotaki pembentukan Pasdaran-e Inqelobe Islam (Garda Revolusi Islam).

Imam Khomeini memulai kampanye untuk menggalang dukungan bagi pembentukan pemerintahan Islam sesuai prinsip wilayah al-faqih dan pemerintahan Islam yang telah diwacanakannya beberapa tahun lampau. Bahesyti, Muthahhari, Khamenei, Rafsanjani dan sebagainya membentuk Partai Republik Islam (Hezb-e Jumhuriye Islami). Imam menyerukan slogan: “Tidak Timur, tidak Barat, Republik Islam! (La Syarqiyyah, wa la Gharbiyyah, Jumhuriyyah Islamiyyah).”

Tanggal 11 Februari 1979, setelah berbagai pertempuran antara Angkata Udara Iran yang pro-Khomeini dan Garda Kerajaan, Dewan Tertinggi Militer menyatakan kenetralannya. Periode 1 sampai 11 Februari ini kemudian dijuluki sebagai “Dekade Fajr,” yang dirayakan sebagai Hari Kemenangan Revolusi Islam.

Jauh sebelum periode ini, Imam Khomeini senantiasa mengemukakan bahwa pelaksanaan komprehensif atas hukum-hukum Islam tidak mungkin terjadi tanpa pembentukan pemerintahan Islam dalam kehidupan sosial. Imam Khomeini menegaskan, “Islam identik dengan pemerintahan Islam. Perintah-perintah Islam adalah tanda-tanda (keharusan) pemerintahan Islam, karena semua itu ditujukan untuk pembentukan pemerintahan Islam.” Imam Khomeini menegaskan,

“Sifat hukum Islam yang komprehensif—mulai dari hukum terkait dengan hubungan dengan tetangga, hukum anak-anak, keluarga, urusan-urusan pribadi, pernikahan, hukum-hukum dalam situasi perang dan damai, hubungan-hubungan dengan negara-negara lain, hukum-hukum ekonomi, perdagangan, industri, dan pertanian— menunjukkan bahwa semuanya dimaksudkan untuk mengelola kehidupan masyarakat…Kedua, tilikan singkat atas sifat perintah-perintah Syariat akan membuktikan keniscayaan untuk membentuk sebuah pemerintahan dalam rangka mengeksekusi berbagai macam hukum Islam yang kaya tersebut. Tanpa membentuk pemerintahan yang demikian, mustahil hukum-hukum itu bisa dilaksanakan.”

Lebih jauh, lantaran pemerintahan Islam itu terkait erat dengan jihad seorang manusia untuk melaksanakan hukum-hukum Syariat, maka pemegang wewenang dalam pemerintahan itu haruslah seseorang yang mengerti hukum Islam atau faqih. Bila tidak, pemerintahan tersebut tidak akan mengarah atau diarahkan demi mencapai tujuan tersebut. Inilah yang beliau maksudkan dengan wilayah al-faqih. Beliau menyatakan, “Tanpa wilayah al-faqih dan tuntunan Ilahi, thaghut (penguasa tiran) akan menang. Thaghut pada akhirnya bisa dikalahkan apabila pemimpin adil ditentukan melalui (sistem) yang dikehendaki oleh Allah.”

Pada 30 dan 31 Maret (10 dan 11 Farvardin) rakyat Iran menjatuhkan pilihan untuk pembentukan Republik Islam. Lebih dari 98.2% suara menyetujuinya. Khomeini menyebut hasil itu sebagai kemenangan “kaum mustadh’afin atas mustakbirin.”

Bagi Imam Khomeini, pemerintahan Islam dan wilayah al-faqih adalah syarat mutlak demi melakukan jihad melawan setan dari jenis manusia. Inilah setan yang kerap beliau rujuk sebagai mustakbirun (para penyombong). Berkenaan dengan kewajiban melawan kaum mustakbir yang disimbolkan dengan Fir’aun dalam al-Qur’an, Imam Khomeini berkata, “Sudah sering kita membaca al-Qur’an dan senantiasa kita membacanya bahwa Fir’aun berbuat demikian dan Nabi Musa berbuat demikian. Tapi, kita tidak merenungkan semua itu. Baiklah, untuk apa kiranya al-Qur’an menyebutkan semua kisah ini?…Tentu agar kau menjadi seperti Musa dan melawan Fir’aun di zamanmu.”

Melalui pemaknaan ini, dengan mudah kita bisa memahami alasan filosofis dan teologis di balik kegigihan Imam Khomeini menyerukan perlawanan atas dominasi Amerika Serikat (AS) dan Israel. Bagi beliau, AS dan Israel bukan saja simbol setan, melainkan penampakan konkret dari setan batin. Jihad melawan setan konkret dalam bentuk AS dan Israel ini sama pentingnya dengan jihad menegakkan prinsip-prinsip moral dan membina karakter-karakter sempurna di dalam jiwa.

Tujuh belas tahun kemudian, semua yang beliau katakan tentang AS dan Israel sejak awal-awal Revolusi yang terdengar aneh pada waktu itu sekarang terlihat nyata di hadapan mata kita. Ratusan ribu nyawa tak berdosa melayang akibat kebiadaban AS dan Israel selama kurun waktu 4-5 tahun belakangan ini saja. Di mata kita semua sekarang sudah sangat jelas bahwa Pemerintah AS di bawah George W. Bush patut diberi gelar sebagai setan besar (syaithan-e buzurg)—gelar yang 26 tahun lalu terasa begitu pejoratif. Setan kecil yang ada dalam batin kita tidak punya senjata pemusnah massal dan dana seperti AS dan sekutu-sekutunya yang sewaktu-waktu bisa dipakai untuk membantai bocah-bocah Palestina, Lebanon, Irak, Afghanistan dan entah bagian dunia yang mana lagi.

9 thoughts on “Kilas Balik Revolusi Islam Iran (2)

  1. Ema rachman says:

    Allah Akbar! bravo ustad….Tulisan yang luar biasa cemerlang…semoga tulisan ustad dalam mengurai dan mengelaborasi sejarah perjuangan wali Allah Ruhullah Imam Khomeini yang antum tulis menjadi sebab turunnya taufik dan inayah kepada antum dan sekaligus menjadikannya sebagai cahaya yang menerangi mustadafin indonesia yang sedang terhempas dalam kegelapan dan keterpurukan!! Adrikna ya Mahdi…..

  2. damartriadi says:

    16 tahun rakyat Iran terpisahkan dengan Imamnya, sayyid Ruhullah.
    13 abad sudah kaum mukmin terpisahkan dengan “Sang Imam Zaman” mereka.
    Sebagaimana Shah yang perlahan-lahan dilemahkan kanker, perlawanan rakyat yang semakin menguat, begitu pula musuh-musuh Imam Zaman kini sedang mengalami pelemahan kronis stadium V, sementara perlawanan kaum Mustadhafin dunia semakin menemukan momentumnya…hingga akhirnya:
    Kalau dahulu Imam Khomeini kembali dari Paris dan disambut di Mehrabad…
    Imam-nya Ruhullah akan kembali di depan Ka’bah…disambut pecintanya…Insya Allah.

  3. lebih dari 70-ribu orang di seantero iran menjadi syahid dalam mendukung revolusi-islam-iran disepanjang tahun 1977-1979 … ini merupakan salah satu ‘cost’ dari kemenangan revolusi-islam-iran.

    di iran kala itu, rakyat/masyarakat iran memang siap untuk melakukan revolusi-islam, disamping sang pemimpin (Ayatollah Ruhullah Khomeini ra) juga siap untuk melakukan revolusi-islam. ketika rakyat/masyarakat mendukung pemimpin atau pemimpin didukung oleh rakyat/masyarakat untuk melaksanakan revolusi-islam … maka hasilnya adalah kemenangan, meskipun harus ada ‘cost’ yang dibayar … maka menanglah revolusi-islam-iran dan berdirilah republik-islam-iran.

    di sisi lain, di iraq, sang pemimpin (Ayatollah Baqir Sadr) siap melakukan revolusi-islam, tetapi rakyat/masyarakat iraq tidak siap melakukan revolusi-islam. rakyat/masyarakat iraq tidak mendukung pemimpin atau pemimpin tidak didukung oleh rakyat/masyarakat untuk melaksanakan revolusi-islam … maka hasilnya adalah terbunuhnya Ayatollah Baqir Sadr oleh rezim baath-iraq saddam-hussein … Ayatollah Baqir Sadr menjadi syahid … dan negara & rakyat/masyarakat iraq terus menderita dibawah penguasaan rezim baath-iraq hingga 23 tahun kemudian … dan lalu disambung lagi dengan penderitaan dibawah penguasaan rezim US-Amerika cs hingga kini, 6 tahun telah berjalan, dan entah sampai kapan …

    itu yang terjadi di iran …
    dan itu yang terjadi di iraq …

    lalu bagaimana dengan di indonesia ???

  4. abdillah husin says:

    Allahu Akbar Khomeini Rahbar!!

    Syukron Ustad,

    Tulisan antum menambah wawasan mengenai latar belakang Revolusi Islam Iran. Ana pribadi begitu tercengang dengan tingkat religius Imam Khomeini dan keyakinannya yang tidak tergoyahkan bahwa Al-Kabir Al-Muta’al tidak pernah meninggalkan manusia yang taat di jalan-Nya.

    Responsenya agar beliau melakukan konferensi pers terlebih dahulu baru shalat sungguh mencerminkan bahwa beliau telah mencapai tingkat pemahaman keberagamaan yang kokoh.

    Memandang wajah ulama adalah ibadah, demikian bunyi hadis. Maka ulama seperti Imam Khomeini inilah manifestasi dari hadis tersebut.

    Salam

  5. MONIQUE says:

    makasih.. banyak.. ustad.. untuk.. info & tulisan tentang “kilas balik revolusi islam iran” soalnya aku sudah lama sekali.. mencari info tentang revolusi iran yang lengkap…..( dapat nya cuma dikit doang) sekarang aku dapat yang lengkap dari ustad..sekali lagi terima kasih banyak..
    ( buka blog ustad.. jadi makin pinter aja.. aku.. he.he.he))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s