Adu Argumen IRIB vs. KOMPAS

Teriakan rakyat Iran yang menyuarakan “kemerdekaan, kebebasan, dan Republik Islam” 30 tahun yang lalu hingga kini masih terngiang-ngiang di telinga. Namun, teriakan yang menyuarakan impian dan harapan akan adanya kebebasan dan suasana demokratis di Iran masih juga belum terwujud. Demikian Situs Koran Kompas mengawali laporan tendensius mengenai perjalanan revolusi Islam Iran yang memasuki dekade keempat, Selasa, tanggal 10 Februari 2009.

Dua hari lalu, Koran Kompas memberikan catatan negatif mengenai pemilihan umum di Iran. Pada hari selanjutnya, koran tersebut masih mengulangi laporan salah kaprahnya. Kali ini, Koran Kompas melaporkan bahwa harapan bangsa Iran di awal revolusi Iran hingga kini belum terwujud. Dalam Cakrawala Indoensia sebelumnya, kami menjelaskan sedemikian rupa mengenai praktik demokrasi dan pemilihan umum Iran di empat tingkat. Jika menengok kembali sejarah Revolusi Islam Iran, kita akan menyaksikan bahwa Imam Khomeini ra sejak awal sudah menerapkan sistem demokrasi dan meyakini suara rakyat sebagai pondasi sistem pemerintahan. Setelah kemenangan Revolusi Islam Iran, Imam Khomeini langsung menyerahkan keputusan selanjutnya kepada rakyat Iran melalui referendum. Hasilnya menunjukkan bahwa 98,2 persen memilih Republik Islam Iran sebagai sistem pemerintahan.

Yang menariknya lagi, sistem pemerintahan Islam Iran menggunakan istilah republik. Dengan demikian, status republik yang diimbuhkan pada sistem pemerintahan Islam, menunjukkan basis rakyat dalam sistem ini. Keputusan Imam Khomeini sangatlah bijak dengan mengimbuhkan republik pada sistem pemerintahan Iran. Untuk itu, inovasi Imam Khomeini tersebut disambut baik oleh masyarakat Iran yang mayoritasnya adalah muslim. Imam Khomeini juga sangat menyadari bahwa seideal apapun sebuah sistem tidak akan berjalan tanpa didukung oleh rakyat. Syarat aksepabilitas (makbuliat) merupakan hal yang sangat urgen dalam sistem pemerintahan Islam. Terkait hal ini, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran saat ini, Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei, dalam berbagai pernyataannya menekankan demokrasi agama. Bahkan, Ayatollah Al-Udzma Ali Khamenei yang akrab dipanggil Rahbar, menegaskan bahwa salah satu keberhasilan besar Revolusi Islam Iran adalah berhasil menyatukan demkorasi dengan agama. Dalam sistem pemerintah Islam Iran, demokrasi sama sekali tidak bertentangan dengan agama. Pasca Revolusi Islam Iran, masyarakat agamis negara ini sepakat memilih Islam sebagai landasan sistem pemerintahan.

Seperti yang dijelaskan dalam Cakrawala Indoenesia sebelumnya, sistem Republik Islam Iran menerapkan empat pemilihan umum di negeri ini. Keempat pemilihan umum tersebut adalah pemilu Dewan Ahli Kepemimpinan (Majles-e Khebregan-e Rahbari), Parlemen ‎‎(Majles-e Shura-e Islami), Presiden dan Dewan Kota. Dewan Ahli Kepemimpinan berfungsi untuk memilih Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran atau Rahbar, yang juga diistilahkan dengan Wali Faqih. Selain itu, para anggota Dewan Ahli Kepemimpinan yang dipilih rakyat, juga mengawasi kinerja Wali Faqih yang kini dijabat oleh Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei. Sementara Dewan Kota berfungsi memilih Walikota dan mengawasi kinerjanya. Dengan demikian, Iran merupakan negara yang sangat demokratis yang juga sekaligus agamis. Untuk itu, sangat mengherankan jika Koran Kompas dalam laporannya menyebutkan bahwa Iran belum mampu mewujudkan demokrasi dan kebebasan di negeri ini.

Lebih lanjut Koran Kompas menyebut Dewan Pengawal Revolusi Islam Iran sebagai kendala untuk menerapkan demokrasi di negara ini. Dilaporkan, kehadiran Dewan Pengawal Revolusi dinilai tak mencerminkan suasana demokratis karena selama bertahun-tahun dewan itu telah membatalkan pencalonan kandidat anggota parlemen dan presiden yang sebagian besar dari kalangan reformis. Dewan itu juga telah membatalkan banyak rancangan undang-undang, terutama yang disahkan parlemen yang didominasi reformis antara tahun 2000-2004.
Menanggapi laporan tersebut, Dewan Pengawal Revolusi Islam Iran merupakan sebuah lembaga yang harus ada dalam sebuah pemerintahan. Pemerintah Indonesia sendiri mempunyai lembaga serupa, yakni Mahkamah Konstitusi (MK). Sistem pemerintah Islam Iran yang dibentuk berdasarkan suara rakyat, harus dipelihara sedemikian rupa, melalui instansi seperti Dewan Pengawal Revolusi yang berfungsi sama seperti MK di Indonesia. Untuk itu, Dewan Pengawal Revolusi Islam Iran berkewajiban menolak kandidat-kandidat dan keputusan yang bertentangan dengan amanat rakyat Iran. Seorang kandidat yang menentang sistem pemerintah Islam Iran akan ditolak untuk menjadi pejabat yang menentukan kebijakan di negara ini. Di Indonesia sendiri, jika ada seorang kandidat yang menentang sistem Pancasila, ia akan ditolak.

Lebih lanjut Koran Kompas melaporkan, Republik Islam diproklamasikan 1 April 1979. Konstitusi Iran yang mulai berlaku setelah melalui proses referendum 12 Desember 1979 itu meresmikan otoritas Ayatollah Khomeini. Di posisi itu, ia menjadi pemimpin yang memberi arahan atau petunjuk terkait hukum agama.

Dalam laporan tersebut, Kompas kembali memberikan keterangan tendensius. Dalam Cakrawala Indonesia sebelumnya, kami menjelaskan mengenai jabatan tertinggi di Republik Islam Iran. Ada baiknya, kami kembali memberikan penjelasan lebih detail mengenai jabatan itu yang juga disebut dengan istilah Wali Faqih. Wali itu berarti pemimpin, sedangkan faqih itu mempunyai arti ulama pakar fikih. Dengan demikian, Wali Faqih dapat diartikan sebagai kepemimpinan ulama pakar fakih.

Sepeninggal Imam Khomeini ra, jabatan tersebut dijabat oleh Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei, hingga kini. Mengingat rakyat Iran memilih Islam sebagai sistem pemerintahan di negeri ini, jabatan tertinggi Wali Faqih dalam sistem pemerintahan negeri ini sangatlah tepat. Dengan demikian, pemimpin negara ini harus mengatur pemerintahan sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Untuk itu, pemimpin negara ini adalah seorang faqih atau ulama pakar fikih. Selain itu, kinerja Wali Faqih tersebut dipantau oleh Dewan Ahli Kepemimpinan yang seluruh anggotanya dipilih oleh rakyat. Untuk itu, siapapun yang menjabat Wali Faqih tidak dapat menggunakan otoritas secara sewenang-wenang tanpa koridor yang jelas.

Lebih lanjut Koran Kompas melaporkan, Impian negeri demokratis dengan suasana penuh kebebasan makin jauh dari kenyataan. Partai-partai non-Islam berpandangan liberal dan marxisme dilarang di Iran. Bahkan, berbagai kelompok yang pernah berperan penting dalam revolusi Islam, seperti Kekuatan Nasional Religius dan Gerakan Pembebasan, justru tersingkir dari arena politik setelah kandidat-kandidat dalam pemilu dijegal.

Kelompok-kelompok yang semula mendukung revolusi, tetapi kemudian melawan kekuasaan Republik Islam, menjadi buronan setelah tahun 1979. Banyak pengikutnya dihukum. tokoh terkemuka, Ebrahim Yazdi, yang kerap menentang rezim. “Kita belum punya kebebasan dan kemerdekaan yang diimpikan. Kebebasan dasar warga negara tidak digubris.”
Jika penindasan berlanjut dan kebebasan rakyat tidak dihargai, aspek republik atau Islam dalam revolusi Iran tidak akan tersisa.

Yazdi menambahkan, “Demokrasi akan menang dalam masyarakat di mana ‘ikan besar tak memakan ikan kecil’. Berbeda dengan Rezim Shah (kekuasaan pada satu orang), kini banyak kelompok di arena politik Iran yang sama-sama berkuasa, tetapi tidak cukup kuat saling menendang.”
Menanggapi laporan tersebut, Koran Kompas sebelum menulis laporan tersebut harus menyadari bahwa Republik Islam Iran dibangun atas dukungan mayoritas telak rakyat negara ini. Republik Islam Iran adalah amanat rakyat Iran yang harus dijaga. Untuk itu, jika tetap menghargai nilai-nilai demokrasi, mereka harus menghargai sistem pemerintahan pilihan rakyat Iran. Sangatlah wajar bahwa Ibarahim Yazdi dan kelompok-kelompok lainnya tidak dapat memaksakan pendapat mereka untuk mengubah sistem pemerintahan Islam Iran yang disepakati dengan 98, 2 persen suara.

Seluruh kebijakan pemerintah Islam Iran harus disesuaikan dengan amanat rakyat Iran yang mayoritas memilih Islam sebagai sistem pemerintahan. Dalam praktiknya, sistem Islam sangatlah ideal untuk diterapkan di Iran. Bahkan kelompok-kelompok non-muslim juga mendapat jatah kursi di parlemen. Dengan demikian, Islam telah mengayomi semua rakyat Iran dengan berbagai latar belakang. Inilah yang dikhawatirkan Barat bahwa Republik Islam Iran dapat menjadi alternatif sistem pemerintahan di dunia.

Pilihan rakyat Iran, 30 tahun lalu, tidaklah keliru. Hal itu terbukti dengan independensi Iran selama ini. Republik Islam Iran berhasil mencapai teknologi nuklir sipil. Bahkan baru-baru ini, Iran berhasil meluncurkan satelit Omid. Inilah di antara buah kegigihan rakyat Iran semenjak kemenangan Revolusi Islam Iran, 30 tahun lalu.

sumber: http://www.irib.ir

18 thoughts on “Adu Argumen IRIB vs. KOMPAS

  1. Arwen says:

    Dear …

    I agree with Democrazy and Enlightment like K****S ilustrated as equal as an opinion as a freedom to say to K****S : “Shut Up”.

    Saya juga memahami K****S dengan segala ARGUMENTASInya mengenai kebebasan dan perubahan seiring dengan perubahan dan kebebasan untuk “mem-bredel” (ORBA-term) K****S dari Jurnalistik Nasional.

    Saya juga menyatakan, seperti K****S menyatakan bagaimana rakyat Iran berharap lebih akan “Kebebasan”, bahwa rakyat Indonesia berharap K****S lebih tidak Mbe-O, dan menampilkan kontent berita serta informasi yang Independen dan ndak ‘Ngin-TiLi’ jurnalis Asing, bila tidak BUBAR saja.

  2. Quito Riantori says:

    Demokrasi ala Kompas adalah rakyat yang dininabobokan oleh Kuasa-kuasa Fulus…Hanya orang2 yang berduit saja yang bisa mengkampanyekan utk menjadi Presiden bak Di Indon dan Di AS. Orang Miskin? No Way! Itulah demokrasi utk rakyat berduit! Sebaliknya Iran betul2 berdiri bersama rakyat jelata dengan Presiden terpilih seperti Ahmadinejad dari rakyat yg juga tdk berduit. AS memuji bahwa India adalah negeri yang paling demokratis…he..7x Padahal kita juga tahu di sanalah korupsi juga paling merajalela! Yah..Democarzy ala AS lah yang diinginkan oleh KOMPAS dan yg semacamnya…

  3. Presiden Republik Islam Iran yang dari kelompok orang miskin / orang tak ber-DUIT :
    1. Presiden ke-2 : Raja’i (yang menjabat sebagai presiden beberapa bulan saja di tahun 1981, lalu menjadi Shahid karena ledakan bom kaum munafiq).
    2. Presiden ke-3 : Khamene’i (presiden masa jabatan 1981-1989 … julukannya : The Living-Shahid ).
    3. Presiden ke-6 : Ahmadinejad (presiden masa jabatan 2004-2009 … semoga juga akan tetap menjabat sebagai presiden di masa jabatan 4 tahun berikutnya).

    Banyak para anggota Majles Shura Republik Islam Iran, periode :
    1980-1984;
    1984-1988;
    1988-1992;
    1992-1996;
    1996-2000;
    2000-2004;
    2004-2008;
    2008-2012
    berasal dari kaum menengah ke bawah …
    ini karena rakyat Republik Islam Iran mengikuti anjuran Shahid Ayatollah Modarres bahwa sebaiknya wakil rakyat itu adalah orang-2 dari kelompok menengah ke bawah … sehingga benar-2 dapat mengapresiasi orang-2 ‘kecil’ dan mewakili aspirasi dari orang-2 ‘kecil’.
    Coba bandingkan dengan siapa-2 yang menjadi anggota Senat US-Amerika dan menjadi anggota DPR/MPR Indonesia ?
    Anggota Senat US-Amerika adalah orang-2 ber-DUIT !!!

    Anggota Majles Khubregan Republik Islam Iran, periode :
    1982-1990;
    1990-1998;
    1998-2006;
    2006-2014
    semua tak menerima gaji !!!
    Caba bandingkan dengan anggota Senat US-Amerika, berapa gaji anggota Senat US-Amerika ?

  4. muhamad says:

    salam ustad,

    saya mohon informasi tentang ibrahim yazdi yang beberapa kali ustad sebutkan namanya. 2 bulan kemarin orang ini datang ke malaysia dan ketemu 4 mata sama anwar ibrahim.

    terima kasih

  5. cheppy says:

    Gimana dengan sistem demokrasi Indonesia?
    Apakah demokrasi berarti artis2 jadi caleg?
    Ada urusan apa sih ngurusin demokrasi di Iran, hei kompas,
    urusan Indonesia jauh lebih ruwet. Lihat aja berbagai pilkada yang sudah berlangsung ruwet di berbagai daerah.

  6. pazdaran says:

    ass.wr.wb
    itu kompas suruh ngaca yang besar, abis itu suruh mandi biar bersih
    otak dan hatinya.ini sekarang semua pilkadal pilkadal diindonesia ruwet dan bundet.karena otak dan hati nya kotor dan pekat jadi ngga bisa liat mana yang haq dan mana yang batil.

  7. Ali Z.A. Alaydrus says:

    Ya ayuhal kompas coba deh jgn ambil berita ttg Iran dr Musuh Iran, pastilah yg ente dpt cuma yg busuk2 aje..coba sekali-kali kirim wartawan ente kesana..duduk deh 1 bulan kek disana..tiap hr jgn bengong di Iran ( soalnya wanitanya pd cuantiiik2) cari info ttg Iran, baru dah habis gitu bikin tulisan ttg Iran yg isinya ane yakin pasti kgk busuk lagi…ane doain si wrtawan kgk pindah mazhab & cocok sm makanan Iran

  8. Pak Ali ZA Alaydrus … biar sudah 6 tahun tinggal di Iran dan berkeluarga dengan orang Iran, saya masih nggak doyan sama makanan Iran … alias nggak cocok sama makanan Iran lho !
    Bagaimana bisa 1 bulan tinggal di Iran lalu jadi cocok sama makanan Iran ! … heheh …

  9. Cuma mau menambah info saja & berbagi-pengalaman, kebetulan di Republik Islam Iran pernah ikut pemilu/entehobot majles Shura tahun 2004 dan tahun 2008 (masing-2 ada 2 putaran pemilu/entehobot), juga pernah ikut pemilu/entehobot majles Khubregon tahun 2006 …

    Wah, sempat pusing … soalnya model pemilu/entehobot majles-2 ini harus langsung pilih orang-nya … bukan pilih partai.
    Nah, karena harus pilih orang … jadi kan harus baca itu semua bahan-2 kampanye setiap calon anggota majles, juga baca biografi-nya, baca track-record-nya, baca pemikiran-2-nya, baca program-2-nya kalau ybs kepilih jadi anggota majles … dll, dsb …

    Kebayang kan susah-nya buat bisa pilih anggota majles yang paling tepat … ada ratusan orang calon anggota majles Khubregon (yang adalah ulama-2), dan ada lebih dari seribu orang calon anggota majles Shura (yang adalah orang-2 berpendidikan baik).

    Juga harus bandingkan si calon-2 anggota majles itu dengan acuan kriteria anggota majles … (misal acuan adalah hasil pemikiran Shahid Ayatollah Modarres) … apa cocok apa nggak.

    Lalu waktu pas pemilu/entehobot-nya … setelah kita putuskan kita mau pilih siapa-2 saja … kita datang ke TPS, antri, setelah dapat form pemilu terus kita harus menuliskan nama-2 dari calon anggota majles yang kita pilih itu di form pemilu … kita harus tulis nama lengkap plus julukannya dari orang tsb, pake tulisan Persia, juga harus tulis kode orang tsb dan harus tulis nomor urut si orang tsb … lalu masukkan ke kotak suara.

    Kita cuma bisa bisa ikut pemilu sekali saja, karena ketika kita datang ke TPS itu, kita harus bawa buku identitas kita, selain juga harus bawa kartu identitas kita.
    Nah, di buku identitas kita itu di-cap, bahwa kita memberikan suara di TPS itu, jadi kita nggak bisa memberikan suara lagi di TPS lain di seantero Iran atau di embassy-2/konsulat-2 Iran di negara-2 lain.

    Tapi enaknya ada, kita bisa memberikan suara di sembarang TPS. Misal kita tinggal di Tehran tapi pas hari pemilu kita sedang ada urusan di Isfahan, ya kita datang saja di TPS terdekat dari tempat kita nginap di Isfahan untuk memberi suara … sekali itu saja, nggak perlu lalu kita harus balik ke Tehran untuk memberikan suara.

    Di majles Khubregon itu anggota-2-nya bukan cuma ulama-2 islam mazhab shiah saja, tapi juga banyak yang mazhab sunni, dan juga dari agama-2 lain seperti : Zoroaster, Kristen/Nasrani, Yahudi, dll …

    Di majles Shura juga ada orang-2 zoroaster, kristen, yahudi, dll …

    Yahudi memang dapat 1 kursi di majles Shura dan 1 kursi di majles Khubregon … meski umat Yahudi cuma ada sekitar 20 ribu-an orang di Iran.
    Kristen dapat kursi lebih banyak dari Yahudi, sekitar 3 sampe 5 kursi karena memang jumlah umat-nya di Iran ini lebih banyak dari jumlah umat Yahudi, ada sekitar lebih dari 500 ribu-an.
    Zoroaster dapat kursi lebih banyak lagi dari Kristen dan Yahudi, karena memang jumlah umat-nya di Iran ini lebih banyak daripada jumlah umat Kristen, Yahudi.
    Dan Islam mazhab sunni juga dapat kursi lebih banyak lagi dari Zoroaster, Kristen, Yahudi, karena memang umat-nya di Iran ini lebih banyak daripada jumlah umat Zoroaster, Kristen, Yahudi. … Ini tentang Islam mazhab sunni dari 4 mazhab lho: Hanafi, Syafe’i, Maliki, Hanbali …

    Nah, sekarang kalau kita bandingkan dengan apa yang ada di Senat US-Amerika dan apa yang ada di Kongres US-Amerika, bagaimana ?

    Saya bukan orang IRIB lho, juga bukan orang Kompas … dan bukan orang dari media-berita apa-pun …
    Saya cuma rakyat jelata biasa … dulu waktu di Indonesia, … dulu dan kini waktu di Iran.

  10. oya, lupa memberitahu.
    Dari hasil sensus terakhir di Iran tahun lalu, jumlah penduduk Iran sekitar 71 juta +sekian orang …
    Yang boleh ikut pemilu adalah yang umurnya sudah lewat 15 tahun.

  11. brahmonoakbar says:

    segala bentuk propaganda mengenai Republik ISlam Iran tidak akan meluntur kan semangat saya untuk selalu mendukung cita – cita Mulia REVOLUSI 1979.

  12. daniel zero says:

    yah jelas kalo kompas agak tendensius berita tentang islam atau iran karena puncak cahaya islam hanya satu satunya tinggal iran dan perlu di mengerti nama kompas itu yang di pake koran tersebut bukan petunjuk arah tapi nama sebenarnya kompas adalah komando pastur pendirinya yakob utama jadi kalau tendensius ya memang sudah lahiriahnya dan kurang senang terhadap islam ya itulah mangkanya bj habibi dulu untuk mengimbangi kompas mendirikan koran republika dan untuk mengimbangi persatuan ilmuwan kristen didirikanlah icmi terima kasih bravo untuk iran

  13. tafik delfi says:

    menurut saya kompas harus bersih, jgn ada intervensi/asutan2 kpd pihak ke 3 atas dasar ketidak sukaannya kepada RII. ini merupakan hasutan pihak asing yg pengen mendapatkan hati rakyat,bahwa “gue yang benae”r…asal tau aja benernya pihak AS & zionisme sama aja dengan setan /dajal berwajah manusia.

  14. Ahmad Rofiq says:

    Yach begitulah mayoritas Pers didunia kapitalistik seperti saat ini…. segalanya akan tunduk pada sang pemegang kuasa yaitu modal….

    Jangan berharap kompas, tempo, jawa pos, dll akan mampu bersifat netral dan objektif dalam pemberitaannya… sesungguhnya mereka sedang sibuk menghambakan diri mereka pada Tuhan-nya kapitalisme yang tidak lain adalah : Modal.

    Bahkan jika kita amati lebih mendalam media-media muslim seperti republika sekarangpun udah mulai goyah dalam menyuarakan kebenaran dan keperpihakan kepada Islam…

    Terus berjuang ustadz…. teruslah menyuarakan kebenaran..!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s