Ponari Jilid 1, 2, 3…

Tetangga Ponari, Dewi, kini mengaku punya “batu petir” yang lebih ampuh daripada milik Ponari. Batu petir ini sendiri adalah sarana pengobatan yang diperoleh secara gaib—apapun maknanya.

Klaim ini sebenarnya bukan hal baru di Indonesia, atau di dunia mana pun yang masyarakatnya minim prestasi, kompetensi, kreativitas, dan kompetisi yang sehat. Alih-alih berbagi prestasi dan pencapaian, di masyarakat demikian biasanya tumbuh tendensi untuk berbagi kemiskinan, kekurangan prestasi, dan kelemahan dengan cara paling instan: merendahkan keberhasilan, prestasi, kompetensi, kreativitas orang lain.


Saya sendiri pernah mengalami kekonyolan mirip di atas. Saya terpaksa menuliskan sedikit pengalaman ini sekadar sebagai bahan renungan atau lebih tepatnya guyonan—terserah dari sudut mana Anda mau mengambilnya, yang jelas keduanya cukup bergizi dan menyehatkan.

Ceritanya begini. Suatu kali saya mencoba dengan keberanian besar untuk mengalih-bahasan sebuah buku daras filsafat Islam. Dalam benak saya waktu itu ada tekad untuk membawa khazanah filsafat Islam itu dalam kesadaran masyarakat Indonesia. Saya pun memilih bahasa Jawa dengan pertimbangan bahwa bahasa ini paling saya mengerti dan dimengerti oleh mayoritas penduduk Indonesia juga paling akrab dengan literatur filsafat dan mistik.

Tekad itu lalu saya tuangkan secara hati-hati, dengan membandingkan teks-teks terjemahan buku tersebut dalam bahasa Arab dan Inggris, seraya terus bersungguh-sungguh menemukan rasa bahasa di balik pilihan diksi dan kata yang saya pakai. Selama dua tahun saya memirit kata demi kata, menggamit diksi demi diksi, secara pelan-pelan, untuk bisa merajut teks yang berbobot tapi juga punya landasan kebahasaan dalam kesadaran kolektif masyarakat Jawa. Kamus-kamus Jawa kuno sengaja saya beli untuk membantu petualangan saya itu.

Semua itu tentu saja saya kerjakan dengan segenap kemampuan dan kecerdasan—maksud saya dengan segenap kemampuan dan kecerdasan yang setara dengan rata-rata orang, termasuk para penggugat itu sendiri. Sejauh ini belum ada bukti bahwa saya idiot, atau para penggugat itu jenius. Jadi, rasanya sah-sah saja jika saya masih berpegang pada hipotesis kemampuan dan kecerdasan rata-rata itu:-D

Selanjutnya, sebelum buku itu dicetak, saya berusaha berkonsultasi dengan staf redaksi penerbit buku. Staf redaksi ini tentu lebih akrab dengan buku, teks, dan bahasa ketimbang saya atau[un kedua penggugat saya. Setelah beberapa kali konsultasi, saya masih mengedit lagi berulang-ulang. Dan demikian seterusnya, sebuah prosedur ekstra rendah-hati saya terapkan untuk petualangan pengalihbahasaan yang menurut saya kreatif itu. namun, sayangnya, nasib buku itu seperti umumnya nasib buku2 akademis: lapuk di gudang toko.

Tiba-tiba, di suatu petang yang tenang, setelah nonton bareng piala dunia, seorang kawan saya yang cerdas dan juga karib saya di Australia memberi tahu soal adanya gugatan keras, pedas dan sinis atas karya saya. Saya kaget dan kawan saya itu lebih kaget lagi karena saya ternyata tak tahu menahu ihwal gugatan itu. Para penggugat itu memang tidak pernah terlebih dahulu mengkonfirmasi saya tentang gugatannya. Kalau ada konfirmasi seperti itu, setidaknya saya bisa sisipkan tanggapan, apresiasi, protes atau sejenisnya. Saya baru tahu gugatan itu setelah beberapa minggu nangkring di sebuah situs dan beredar di milis.

Saya mula-mula kecewa melihat gugatan asal-asalan dari dua sarjana filsafat Islam itu, apalagi keduanya calon doktor. Atau sedikit di bawah doktor—saya kurang paham persisnya.

Dua hari setelah membaca gugatan itu, saya berusaha menjawab. Dalam jawaban itu saya tunjukkan kekecewaan saya. Paling mengecewakan saya tentu saja nada otoritatif yang hendak dipaksakan dalam gugatan itu pada para pembaca, dan juga pada saya. Kesan yang paling kuat dalam gugatan itu: para penggugat ini sekaligus hakim-hakim yang entah ditunjuk oleh siapa untuk mengadili saya di kursi pesakitan.

Eh rupanya, kekecewaan saya itu ditanggapi dengan nada lebih sinis dan lebih otoritatif lagi. Bahkan, lebih jauh ada gugatan atas moralitas dan kredibilitas saya sebagai penerjemah. Ada kata-kata berkenaan dengan motif pencarian uang di balik kerjaan saya, atau yang kira2 seperti itu.

Saya makin kecewa, sekaligus mengurungkan niat untuk berbalas tanggapan dengan para penggugat. Dalam batin saya, diskusi ini sudah tidak sejajar lagi: saya harus berhadapan dengan jaksa penuntut yang juga menempatkan diri sebagai hakim. Ada kesan dalam diri saya, dan beberapa kawan lain, bahwa kedua sarjana itu sudah memutuskan dalam pikiran mereka bahwa merekalah yang paling tahu soal2 filsafat Islam dan paling otoritatif. Sekalipun sayangnya karya mereka dalam bidang ini jauh dari klaim mereka, baik berupa tulisan atau terjemahan. Bahkan, beberapa kawan yang sempat mengikuti kuliah2 salah seorang penggugat mengaku kecewa dengan mutu dan bobot kandidat doktor ini.

Tapi lama kelamaan saya justru tertawa geli, melihat betapa konyol upaya saya atau bahkan lintasan pikiran saya untuk menanggapi gugatan-gugatan ini. Malah semestinya saya mengapresiasi para penggugat yang sudah menyediakan waktu untuk meneliti terjemahan saya, sekalipun di sana sini dalam tulisan itu terkesan ada cemoohan atas moralitas pribadi saya.

Saya hanya berharap gugatan2 itu tidak bersumber dari sikap poverty-sharing atau berbagi kekurang-kreatifan. Saya juga berharap ia tidak berasal dari hasrat menghambat petualangan berani untuk melahirkan karya-karya yang jauh lebih baik dan kreatif ketimbang yang saya milik.

Saya juga berharap kedua penggugat bisa menunjukkan karya2 yang jauh lebih berbobot dan berani dan kreatif dan inovatif ketimbang milik pribadi saya. Karena saya sepenuhnya mengakui betapa banyaknya kekurangan dalam karya saya. Saya yakin ekspektasi masyarakat Indonesia pada mereka untuk melahirkan karya-karya filsafat yang lebih berbobot sangat besar. Sangat disayangkan kalau para penggugat itu tidak berhasil melahirkan karya spektakuler dalam bidang ini.

Setelah tiga hari lalu saya nonton TVOne tentang kabar hadirnya tetangga Ponari yang mengaku punya “petir batu” yang lebih sakti, saya jadi geli sendiri dan teringat kembali episode lucu dalam hidup saya seperti di atas. Lalu, kemarin, saya lihat bocah lain di Semarang yang juga mengaku2 punya kesaktian sejenis Ponari.

Advertisements

5 thoughts on “Ponari Jilid 1, 2, 3…

  1. saya punya batu apung yang bisa mengapung.
    batunya pernah dijilat kura-kura tak bertempurung (naked turtle)..
    hayooOoo……mau berobat ke saya tak!?
    tapi harganya pasti mahal lho…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s