Barca dan PKS

BarcaCup_468x341

Meski menyukai dan menjagokan “sepakbola indah” Barcelona sejak awal, saya tak menyangka mereka bisa bermain sebagus tadi malam, sekaligus membabat Manchester United dengan angka telak, 2-0.

Saya bahkan semula tidak yakin benar Barcelona bisa mengalahkan United, yang punya pemain mumpuni dari depan hingga belakang. Saya sudah siap Barcelona kalah dan jikapun kalah saya akan tetap memujinya untuk permainan indah mereka sepanjang musim ini. Kalah yang bermartabat.

Ternyata Barcelona menang. Tapi, itu sebenarnya hanya bonus. Proses lebih penting dari hasilnya.

Beberapa tahun lalu saya salut kepada supporter Blackburn, salah satu klub Liga Inggris, yang meski tim mereka kalah, mereka berdiri tepuk tangan menggemuruh untuk menyemangati timnya yang keluar lapangan dengan lunglai. Itu pertandingan yang menentukan. Blackburn terdegradasi, turun dari Liga Utama ke Divisi I.

Proses lebih penting dari hasilnya. Tidak hanya dalam kompetisi sepakbola, tapi juga dalam politik.

Dalam kancah politik Indonesia sekarang, banyak jajak-pendapat mengunggulkan pasangan Yudhoyono-Boediono dalam pemilihan presiden nanti. Meski tak suka pada platform ekonomi pasangan ini, harus saya akui merekalah yang potensial akan memenangkan pertandingan.

Sepakbola tidak sama dengan politik. Tapi, memilih presiden pada dasarnya adalah memilih platform kebijakan publik, atau ideologi, sama seperti kita memilih Barcelona karena suka bagaimana Messi dan Xavi bermain di lapangan.

Kita bukan memilih mereka yang potensial menang, tapi yang memang kita sukai ideologi atau platform-nya.

Dalam konteks ini, sikap Partai Keadilan Sejahtera (PKS) belakangan ini hanya menambah kekecewaan bagi saya. Jika berita Kompas.com pada 25 Mei 2009 bisa dipercaya, Wakil Sekjen PKS Zulkieflimansyah mengucapkan kalimat yang melukiskan sikap oportunistik partai yang mengusung bendera Islam ini.

Zulkieflimansyah mengatakan alasan utama mendukung koalisi Yudhoyono adalah dari “elektabilitas dan besarnya peluang SBY untuk menang” dilihat dari berbagai jajak-pendapat.

Bagi saya, tidak penting benar PKS mau mendukung siapa (saya tak memilih mereka dalam pemilu lalu). Tapi, argumen Zulkieflimansyah melukiskan sikap lazim yang merusak dalam politik kita. Partai mendukung koalisi bukan berdasar ideologi atau platform kebijakan publik, tapi berdasar peluang.

Tidak ada prinsip. Tidak ada sikap. Oportunistik.

Sikap politisi seperti itu juga sebenarnya menjangkiti banyak pemilih. Di Indonesia masa kini, martabat orang cenderung ditakar dari kemenangan. Kekalahan dan kegagalan adalah nista. Tak heran jika banyak pemilih cenderung memilih kandidat yang potensial menang dilihat dari hasil jajak-pendapat, tanpa peduli kebijakan publik yang kelak akan diambil. Inilah yang disebut “bandwagon-effect” .

Jajak-pendapat tidak perlu dilarang. Tapi, mengingat efek seperti ini, jajak pendapat harus benar-benar bisa diuji metodenya. Para penyelenggaranya harus benar-benar transparan membuka metodologi mereka.

Kembali ke sepakbola, saya mendukung Barcelona bukan karena peluangnya untuk menang, melainkan karena suka akan gaya permainannya. Dan dalam pilihan presiden, saya mendukung Mega-Prabowo karena platform kebijakan publik yang mungkin akan diambil, meski peluang mereka untuk menang lebih kecil ketimbang Yudhoyono-Boediono. Saya akan tetap menghargai platform itu meski mereka kalah.

Proses dan detil platform yang ditawarkan lebih penting dari hasilnya. Kalah dengan menjaga martabat serta prinsip bukanlah suatu yang hina.

fgaban

4 thoughts on “Barca dan PKS

  1. iklil says:

    Terinspirasi dari ulasan Sindhunata, kerinduan untuk menyaksikan pertandingan yang indah dan ‘ideologis’. Barca menyajikan permainan ala total football. Yang berlaku adalah ideologi ‘menyerang adalah pertahanan terbaik’. Mereka tak mencoba pragmatisme ala catenaccio yang memuja hasil alias kemenangan dan mengorbankan proses yakni bersepakbola itu sendiri, sehingga disebut negative football.
    Kapankah politik di negeri ini lebih mengedepankan ideologi, prinsip, dan cara yang elegan serta visi misi yang jelas tinimbang pragmatisme yang mudah berubah haluan dan mendewakan kursi?

  2. Saya juga pengagum El-Barca krn permainan mereka yg indah dan “attack is the best defense”, sama spt kungfu Shaolin :p Tp koq fotonya foto lama, Ustaadz? :p (protes seorang Barcelonista:))

  3. ilham says:

    Salam,
    Saya tidak kira, ternyata Sayid juga pengagum El Barca.
    Satu lagi yang layak dikagumi dari kesebelasan ini adalah;
    Mereka tidak terlalu memperdulikan dengan taktik/strategi yang akan diterapkan lawan, dan bagaimana mementahkannya. Itu tidak penting!
    Yang jadi fokus; bagaimana mereka bermain dengan konsisten, menyerang atraktif dengan pola 4-3-3 sepanjang musim.
    Hebat!

    Wassalam,

  4. Assalaamu A’laikum,
    Saya penggemar Alex Ferguson bukan MU karena gaya kepemimpinan AF dalam mendidik anak-anak asuhnya. Saya penggemar Messi bukan Barcelona karena Messi memiliki karakter di dalam dan di luar lapangan yang cukup “berakhlaq”. Saya warga NU tulen dengan amalan Nahdliyin sehari-hari tetapi saya pilih caleg dari PKS yang kebetulan caleg tsb juga warga NU bukan caleg dari partai lain yang tidak suka dengan warga NU. Dalam memilih, saya tidak tergantung kepada nama besar tim atau partai, cukup pribadi yang dipilih dengan keunggulan karakter masing-masing. Untuk Pil-Pres saya akan pilih Jusuf Kalla – Wiranto, bukan karena JK dari Golkar dan Wiranto dari Jawa tetapi karena keunggulan karakter beliau dan kejelasan platform dalam memperjuangkan nasib seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Alhamdulillah, meskipun bukan dengan pertimbangan peluang untuk menang, sejak saya menjadi pemilih di PILKADA, PILGUB, PEMILU-LEG, dan PIL-PRES, yang saya pilih ternyata menang dan cukup amanah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s