Sistem Islam dan Pilpres Iran (1)

PopulationProfile 

Dalam beberapa hari terakhir, saya menerima banyak pertanyaan tentang situasi Iran pasca pilpres 12 Juni pekan lalu. Ada yang hanya ingin mendengar kabar terakhir. Ada yang khawatir dan mulai panik. Dan sebagian besar lebih karena bingung. Yang bingung ini tentu saja mereka yang menyantap informasi dari media Barat.

“Apa betul republik Islam Iran akan tumbang?”

“Apa protes ini akan berakhir dengan Perang Bubat?”

“Apakah akan ada revolusi baru di Iran?”

Tentu saya tak bisa menjawab satu demi satu pertanyaan itu. Tapi saya menemukan sejumlah premis yang salah di balik tiap pertanyaan tadi. Di bawah saya akan mencoba mengurai premis2 yang salah itu secara sekilas.

Namun, sebelum bicara soal premis2 tadi, saya ingin pertama2 menegaskan bahwa gerakan populer dalam masyarakat religius seperti Iran tak bisa terjadi tanpa dukungan ulama. Atau minimal kepemimpinan ulama kharismatik seperti Imam Khomeini. Revolusi beludru (velvet revolution) seperti yang terjadi di negera2 Eropa Timur agaknya sulit terwujud. Mayoritas masyarakat Iran hanya mau berkorban untuk keuntungan duniawi yang jelas atau perintah agama (ulama) yang dipercaya. Tanpa komando ulama, rasanya yang mungkin terjadi hanyalah kericuhan sporadis yang tak mungkin bertahan lama.

Lalu, bila kericuhan massal yang kemudian terjadi, rasa2nya para demonstran pro-Mousavi yang berasal dari Tehran utara yang umumnya kaya dan suka berfoya2 tak mungkin mampu menandingi kesiapan-berkorban ratusan ribu warga miskin Tehran selatan yang pro Ahmadinejad. Demonstran Tehran utara itu jelas bukan lawan tanding warga miskin Tehran selatan pro Ahmadinejad. Ini belum lagi ditambah pasukan basij (paramiliter), polisi, militer, Pasukan Pengawal Revolusi dan lain yang takkan membiarkan kericuhan massal terjadi di luar kendali.

Lebih dari itu, Mousavi bukanlah orang yang berwibawa. Dibanding Ahmadinejad saja Mousavi sudah kalah wibawa. Retorikanya lemah, kepribadiannya introvert (bayangkan, sudah sekitar 20 tahun dia tidak muncul di pentas politik nasional), aristokrat sehingga hanya disenangi kalangan elit di Tehran utara, dan sebagainya.

Tentu ada sejumlah ulama senior, seperti Montazeri, Sanei, Ardebili, dan mungkin lainnya yang mendukung Mousavi. Tapi gabungan ulama yang tak populer ini tak bisa menandingi wibawa dan rekam jejak Khamenei seorang—apalagi di belakang Khamenei masih ada Taqi Mesbah, Muhammad Yazdi, Jannati, Ka’bi, dan hampir semua guru agama di Qom dan Mashad.

Nah, sekarang mari kita bahas premis2 keliru itu satu demi satu.

Premis Pertama: Manusia pada Dasarnya tak Religius

Menurut premis ini, manusia itu tak lebih dari makhluk biologis yang hasrat dan cita2nya juga biologis. Sistem (individual/sosial) yang religius, bagaimana pun kuatnya, cepat atau lambat pasti tumbang dan punah. Premis ini paling banyak membekam benak politisi dan wartawan Barat atau orang yang terobsesi dengan Barat.

Padahal, fakta dan argumen filosofis menunjukkan sebaliknya: manusia adalah makhluk yang pasti memiliki aspirasi-aspirasi religius dan spiritual. Sistem yang tak memberi ruang aktualisasi potensi2 spiritual manusia justru sangat rapuh. Cepat atau lambat sistem yang murni profan itulah yang bakal hancur.

Barangkali memang tak mudah berbicara tentang rasa sawo dengan orang yang sama sekali tak pernah merasakan buah sawo. Sangat melelahkan dan membuat putus asa. Tapi untungnya, dalam hal ini, orang hanya perlu sejenak melihat ke dalam hatinya, dan meminta pandangan yang sepenuhnya jujur: Apakah cita2 hidup yang sempurna, dekat dengan Sang Maha Kuasa, Maha Sempurna, Maha Pengasih lebih kita senangi ketimbang hidup yang sementara dan palsu?

Kalau orang menjawab lebih suka yang sementara, semu, palsu dan berubah2 sebentar enak dan sebentar lagi menjijikkan, maka saya rasa kita tak mungkin bertemu. Sederhananya, kita berasal dari dua spesies yang berbeda lahir dan batin.

Tapi, kebanyakan orang yang jujur pasti menjawab bahwa di dalam hatinya ada kerinduan pada Sesuatu yang lain, yang Sempurna, yang Abadi, yang Mengasihi tanpa kebutuhan akan imbalan dan sebagainya. Kerinduan inilah yang dipenuhi oleh agama, dalam hal ini Islam.

Meskipun kita harus segera tambahkan bahwa sebagian besar manusia tak mau melewati segala kesulitan untuk menemukan Sesuatu yang didambakan dan dirindukannya. Kebanyakan orang lebih mengutamakan junk food yang di depan mata ketimbang menunggu agak lama datangnya makanan yang lebih bergizi. Itulah kelemahan nyata dalam diri manusia, tapi kelemahan itu tak membuat kerinduannya bisa dihilangkan atau dimusnahkan—bagaimanapun caranya.

Kerinduan inilah agaknya yang membuat Islam menjadi agama yang pemeluknya tumbuh paling pesat di seantero dunia, terutama di negeri2 Barat. Apa yang akan terjadi pada mereka 25 tahun dari sekarang? Mungkin mereka akan menuntut sistem2 Barat yang kini sudah ketahuan belangnya dan berada di titik nadir itu berubah menjadi sistem Islam? Siapa tahu. Tapi, jelas itu bukan mustahil.

Premis Kedua: Dasar2 Agama tak Sejalan dengan Kemajuan Manusia

Premis ini kelanjutan dari premis di atas. Bahwa agama itu adalah peninggalan masa lalu, masa ketika manusia masih tinggal di celah2 gunung berbatu atau di padang pasir yang tandus. Iya, itulah masa ketika manusia belum mengenal keajaiban sains dan teknologi, belum merasakan hebatnya kekuatan pasar dan media, belum merasakan pengaruh uang dan ketenaran dan sebagainya.

Di zaman ini, zaman yang sarat godaan dan kesenangan ini, zaman ketika manusia tergila2 pada benda2 dan uang, agama menjadi rongsokan. Tak ada lagi orang yang waras-modernitas atau lebih kerennya lagi sadar-ilmu dan rindu-kemajuan sudi kembali ke agama. Bagi orang yang mau sedikit meredakan kepenatan akibat rutinitas hidup di zaman modern ini, mungkin masih bolehlah agama menjadi alternatif relaksasi yang murah meriah. Meski jelas relaksasi yg berlebihan dapat menumbuhkan barang satu atau saraf primordial yang masih tersisa dalam gen manusia modern. Di luar fungsi itu, menurut premis ini, agama hanyalah lelucon yang tak menyenangkan.

Benarkah demikian? Benarkah Islam, misalnya, membuat manusia mundur, kuper, kikuk, gagap menghadapi dinamika zaman ini? Untuk menjawab itu, marilah kita answer questions with questions: Benarkah Islam ikut bertanggungjawab atas segala pembantaian massal di Hiroshima-Nagasaki? Kematian lebih dari 15 juta jiwa sepanjang Perang Dunia II di benua Eropa? Benarkah Islam ikut bertanggungjawab membangun sistem ekonomi dunia yang memperkaya segelintir orang kaya dan mempermiskin entah berapa milyar penduduk miskin di bumi? Benarkah Islam yang membuat sejumlah ilmuwan terpikir membangun bom nuklir yang amat mematikan itu? Benarkan Islam mengilhami kerakusan sejumlah negara industri untuk mengeksploitasi sumber2 daya alam sehingga timbul bencana2 kemanusiaan yang mengerikan? Benarkah kerusakan lingkungan hidup yang sudah sampai pada tingkat sangat mencemaskan ini bersumber dari kesalehan religius seorang atau suatu masyarakat yang menjalankan ajaran2 Islam?

Ayolah…tolong hargai sedikit pengetahuan sejarah dan informasi yang tersedia bagi siapa saja. Lalu, tanyakan pada diri sendiri: ideologi dan ajaran apa yang sebenarnya mendorong semua prahara selama 100 tahun terakhir ini? Saya jadi teringat pada ungkapan ini: “You can fool some people sometime, but you cannot fool all the people all the time!”

Pelajaran selama 100 tahun terakhir menyimpulkan bahwa Islam meninggalkan jejak2 kemuliaan di hampir semua aspek peradaban manusia. Sebaliknya, jejak2 kerusakan timbul manakala materialisme, liberalisme, kapitalisme dan industrialisme menemukan momentumnya di Era Renaisans. Orang tak perlu jadi jenius atau profesor untuk meramal apa yang akan terjadi di milienium ini bila trend yang dominan sekarang dibiarkan merasuki dan mengharu biru semua ruang kehidupan manusia tanpa ada alternatif lain.

 

4 thoughts on “Sistem Islam dan Pilpres Iran (1)

  1. Trixi says:

    Salam,
    kata buku sejarah sih….yang terbunuh di Perang Dunia II adalah sekitar 60 juta orang…dan sekitar 2/3 diantaranya di medan perang Eropa.
    Yup…
    they have tried to fool us with all their got….but thank God for retaining our intelligence and common sense…

  2. dudung says:

    Salam, Menurut saya apa yang perlu diambil dari fakta-2 pilpres di Iran dapat di urai sebagai berikut :
    1. Iran dalam konstitusinya jelas-jelas menempatkan faktor kewenangan supreme leader (wali faqih) sebagai “wakil Tuhan” dalam praktek kenegaraan Iran.
    2. Sistem Iran yang “banci” (yang tidak demokrasi, juga tidak 100% teokrasi seperti vatikan misalnya,-) merupakan eksperimen tentang hubungan agama dalam negara modern yang berbasis pada nation state, sebab klaim sistim Islam sebagai agama universal direduksi dalam batas wilayah teritorial dan kebangsaan Iran untuk sementara ini. Dan mungkin cita-cita lebih jauh dari wilayatul faqih adalah menyebarkan sistemnya keseluruh dunia Islam seperti zaman Imperium Otsmani. Namun tanpa deklarasi sehingga nampak seperti menunggu “maqbuliyah” dari dunia Islam.
    3. Bisa jadi wali faqih di Iran punya souveregnity (kedaulatan) melebihi rakyat, karena haknya bisa menganulir produk Undang-undang parlemen dan seterusnya. Dalam akar filosofinya Wali faqih diyakini sebagai wakil dari kesempurnaan (Imam Mahdi), meski tak sederajat dengan Imam Ma’shum.
    4. Dengan posisi wali faqih yang demikian kuat dalam sistim politik Iran, maka amat wajar jika kontrol terhadap penyelenggaraan pemerintahan lebih besar porsi wali faqih daripada penguatan masyarakat sipilnya. Apalagi masyarakat Iran adalah masyarakat hirarkis.
    5. Jika dibandingkan dengan Indonesia yang “baru” belajar demokrasi – lepas dari apakah sistim demokrasi itu Islami atau tidak – jelas saluran penyelesaian konflik antar capres, cawapres, caleg, cagub, cawagub, cabup, cawabup, sampai perangkat desa pasti diselesaikan dihadapan hukum positif dan pengadilan (mahkamah konstitusi). Sehingga kepastian hukum atas pelanggaran pemilu dikategorikan tindak pidana yang dapat diputuskan. Di Iran – dengan model kedaulatan sistim wali faqih yang Islami – saya tidak tahu mengapa sampai terjadi kebuntuan konstitusional, atau bagaimana resolusi penyelesaian konflik antar capres? Sehingga penyelesaiannya tidak di mahkamah tapi di jalanan (demonstrasi) yang berakhir kekerasan. Uniknya korban tewas adalah rakyatnya sendiri yang “berjuang” demi kepentingan elit politik Iran (Ahmadinejad vs. Musawi). Mestinya Ahmadinejad juga Rahbar selayaknya sedih sampai terjadi korban tewas sia-sia?
    6. Apakah ini adalah bukti dari pelemahan posisi rakyat oleh “sistim Islami” terhadap dominasi elit politik atau bahkan “wakil Tuhan” di Iran? saya tidak tahu! dan ingin tahu?!
    7. Sebagai catatan, Di Indonesia pernah terjadi kerusuhan pemilu tahun 1982 di Lapangan Banteng akibat klik antar elit melalui operasi intelejen yang memakan korban tewas menurut versi Pemerintah Otoriter Soeharto. Apakah wajah Iran adalah wajah Indonesia tahun 80-an, saya tidak tahu? dan mau tahu!
    8. Mohon dibantah argumen saya bib?

  3. musakazhim says:

    Jawaban2 singkat untuk Dudung.

    Poin 1: Semua manusia juga wakil Tuhan dlm konstitusi Islam (alQur’an). Tinggal soalnya: Apakah dia menjalankan perannya dengan benar.

    Poin 2: Tak perlu disebarkan. Cukup dikaji dan dinikmati sebagai alternatif demokrasi liberal yg juga sedang mengarah pada kebangkrutan. Maqbuliyyah itu datang secara sangat panjang, bahkan dlm kasus Iran sendiri kan baru2 saja diterima (maqbul).

    Poin 3: Iran kan sudah menyatakan sebagai republik. Jadi kedaulatan tetap paling utama di tangan rakyat. Masalah pembatalan peraturan perundang2an, di Indonesia juga ada mekanismenya melalui MK, MA dan KY. Lalu, soal perwakilan kan sudah saya jawab. Manusia wakil Tuhan di bumi, bukan hanya wakil Imam. Coba Dudung dengan tenang mengkaji maksud perwakilan Tuhan di dunia via manusia, baru nanti perwakilan Imam Mahdi itu akan terasa biasa2 saja. Ga perlu dibuat tegang begitu. Piis

    Poin 4: Penguatan masyarakat madani/sipil bisa bahkan harus berjalan seiring dengan penguatan konstitusi dan penegakan hukum. Jika tdk, anarkisme yg terjadi. Itu berlaku untuk sistem pemerintahan yg model apa saja. Di Iran yg menganut wilayah al-faqih jg begitu. Masing2 punya porsinya, dan pada akhirnya wali faqih kan juga dipilih oleh Dewan Pakar yg dipilih langsung oleh rakyat.
    Apa Anda merasa untuk memperkuat kedaulatan rakyat di Indonesia, lebih baik kita bubarkan MK, MA dan KY?

    Poin 5: Tak ada kebuntuan konstitusional, Kang Dudung. Yg terjadi adalah kerusuhan akibat salah satu pihak (Mousavi) menolak mekanisme konstitusional yg sudah ada dan selalu ada. Mirip dengan kasus begini: Partai A di Indonesia kalah, lalu Partai A menolak MK karena dianggap tak independen. Nah, si pecundang menurunkan massa di basisnya. Pihak keamanan melarang, tapi tetap ngotot. Ya pastilah terjadi kerusuhan. Dan kerusuhan itu jelas bukan karena terjadi kebuntuan konstitusional sejak semula, melainkan ada yg tak mau pake mekanisme konstitusional. Kalo soal sedih atas korban, saya rasa semua juga sedih.

    Poin 6: Partisipasi 85% warga dlm pemilu menunjukkan penguatan kedaulatan rakyat. Dan rakyat sbg wakil Tuhan atau wali faqih sbg wakil Imam, justru telah sama2 saling memperkuat melalui pemilu yg semarak dan demokratis tgl 12 Juni lalu. Soal kerusuhan dan kekerasan sama sekali tak terkait dengan pemilu, melainkan dng rencana konyol yg bertujuan menggulingkan pemerintahan yg sudah pasti gagal.

    Poin 7: Wajah Iran menurut saya sudah demokratis. Sejak revolusi selalu ada kelompok2 dan faksi2, bukan satu faksi besar (Golkar) spt zaman Orba. Faksi konservatif lama berkuasa, reformis juga 8 tahun berkuasa. Skrng faksi Ahmadinejad yg non reformis dan non konservatif tradisional alias dari kalangan ulama. Tapi faksi konservatif profesional yg baru berkuasa 4 tahun.

    Poin 8: Saya mencoba menjelaskan aja, ga perlu saling berbantah.

    Makasih Kang Dudung

  4. dudung says:

    Saya menduga kesulitan kita semua adalah bagaimana cara menerima dinamika demokrasi (pemilu Iran) sebagai instrumen yang duniawi (profan) bukan hal yang sakral. Sehingga kita nggak perlu gagap menanggapi perubahan orientasi politisi-politisi Iran itu. Hal yang sama berlaku bagi seluruh elit politik dari yang intelektual, pedagang, ulama, dst.
    “Kebuntuan konstitusional” mesti dibaca sebagai sikap politik yang niscaya, seperti pilihan “abstain”, jangan dibaca tekstual. Saya kira unjuk rasa adalah akibat saluran konstitusi yang boleh jadi “mandul”. Tapi soal bertindak “represif” terhadap “sikap politik” yang berbeda adalah hal yang lazim dibawah kekuasaan otokratis.

    Wah, Kang Dudung, tampaknya tak semua gagap menghadapi dinamika demokrasi (pemilu Iran). Bila Kang bisa membaca media berbahasa Farsi, Arab atau Inggris non-mainstream, maka kegagapan itu tak muncul. Bahkan banyak pengamat Barat yg sama sekali tak gagap–melihat semuanya biasa2 aja. Dramatisasi justru datang dari pihak2 berkepentingan untuk mengacaukan Tim Teng via Iran. Lihat di sini: (http://wsws. org/articles/ 2009/jun2009/ pers-j19. shtml) atau di sini (http://www.globalpost.com/webblog/thailand/iran-more-democratic-thailand). Yg terakhir itu ditulis oleh pengamat politik Thailand yg kesohor.
    Jika Anda bilang “suara rakyat” itu profan, seolah2 Anda kurang menghargai suara rakyat. Pdhl mungkin bkn bgt maksud Anda. Mekanisme demokrasi boleh profan, dan di Iran itu sudah profan. Tapi suara rakyat tetap sakral sehingga kecurangan harus sepenuhnya dicegah–dan tak ada yg mau dituduh mencurangi suara yg sakral itu.

    Saya sudah tanggapi soal kebuntuan konstitusional. Intinya, tak ada kebuntuan dan kemandulan. Kalo ada, protes massal sudah terjadi sejak 30 tahun lalu, bukan kemarin ini. Inikan pilpres ke-10 stlh Republik Islam berdiri thn 79. Jadi, pokok soal lebih menyangkut individu Ahmadinejad dan lawan2nya, rencana “velvet revolution” yg gagal, dan sebagainya.

    Soal perubahan para politisi, saya setuju. Boleh jadi ada perubahan. Meskipun perubahan juga bisa menuju lebih baik, lantaran evolusi manusia itu menuju ke arah yg lebih baik. Terlebih jika landasannya sudah benar dan tepat serta mencakupi dimensi2 emosional/spiritual manusia.

    Tindakan represif dan kekuasaan otokratis itu kan tuduhan Anda–yg belum Anda buktikan. Jika bacaan Anda adalah media utama Barat, so pasti semua yg terjadi di Iran–bukan hanya sekarang–sejak tahun 79 itu adalah penindasan dan otokrasi. Benarkah begitu? Cobalah santap menu2 selain yg tersedia dari media arus-utama Barat. Di link ini (www.presstv.com) misalnya.

    Begitu dulu ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s