Istri Baridin Ragukan Temuan Bom

Laporan wartawan Tempo Interaktif dari Cilacap ini layak mendapat penghargaan. Paling tidak, dia BERANI meragukan keterangan polisi, pede dengan reportasenya sendiri dan, ini mungkin yang paling penting, mau keluar keringat bicara sama kepala desa Pasuruhan dan keluarga Baridin.

(Banyak laporan teve tentang “penemuan bom” di tempat yang sama tapi, rasa-rasanya, tak pernah ada satu pun yang mewawancarai sumber-sumber itu).

Tentu saja, kurangnya masih buanyak. Dia masih perlu menambah sumber, memasukkan detil siapa2 saja saksi saat penggeledahan, mana dokumen2 penunjang, dll, dlsb. Dia juga masih perlu menelpon ke Datasemen 88 dan tanya atas alasan apa istri dan anak perempuan Baridin “dibawa entah kemana”, sehat-sehat saja kah keadaan mereka, atau bagaimana.

Topmarkotop kalau dia menelpon pengamat macam Sidney Jones, yang belakangan sering bicara soal “hubungan” Baridin dengan Noordin M Top. Siapa tahu dia mau berkomentar soal itu atau soal bocah perempuan 3 tahun, anak Arina, yang kabarnya juga ikut “dibawa” polisi. Ala kulli hal, bravo untuk laporan ini.

. ———— ——— ——— ——— ——— —–

Istri Baridin Ragukan Temuan Bom di Belakang Rumahnya

Rabu, 22 Juli 2009 | 21:33 WIB TEMPO Interaktif Cilacap –

Istri Bahrudin Latif alias Baridin meragukan temuan bom Detasemen Khusus 88 Antiteror di belakang rumahnya adalah milik suaminya. Hal itu ia kemukakan pada Kepala Desa Pasuruhan Kecamatan Binangun, dua hari sebelum ia dicokok Densus. “Ia kaget ada temuan bom di belakang rumahnya,” terang Kades Pasuruhan, Watim Suseno, seperti dikutip dari ucapan Astuti, istri Baridin.

Watim sempat bertemu dengan Astuti dan Arina pada Senin lalu. Saat ini, Astuti dan Arina masih dibawa Densus 88 entah kemana. Kepada Watim, Astuti mengakui kalau tong berwarna biru yang digunakan untuk menanam bom adalah miliknya.

Hanya saja, ia tidak tahu mengapa bom itu bisa digunakan untuk menanam bom. “Sebelum ke Jogja, tong itu masih ada di belakang rumah saya. Kenapa tiba-tiba jadi ada bomnya,” kata Watim menirukan Astuti.

Hal senada juga diungkapkan oleh Aris Bunyamin, sepupu Baridin beberapa waktu lalu. “Saya curiga kenapa di atas tong ada jerami, padahal waktu itu belum musim panen,” kata Aris.

Selain itu, kata Aris, sebelum keluarga pergi ke Jogjakarta untuk kondangan, tong tersebut masih tergeletak di belakang rumah Baridin. “Mustahil Pak Baridin terlibat teroris, setiap hari ia hanya mengurusi pondok,” katanya.

Dari pantauan Tempo di Desa Pasuruhan, jalan desa Nampak lengang. Beberapa polisi Nampak sesekali melintas di jalan itu. “Di sini masih normal kok, aktifitas sehari-hari warga masih berjalan biasa,” ujar Watim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s