Tujuh Keganjilan di Balik Kisruh Cicak vs. Buaya

Dari amatan sederhana atas cerita Cicak vs. Buaya ini, saya menemukan beberapa pertanyaan berikut ini.

Pertama, mengapa Anggodo tak ditahan? Mengapa Polri tak meminta Anggoro, kakak Anggodo yang menjadi penyandang dana untuk segera pulang? Padahal Deplu menyatakan siap membawanya pulang.

Kedua, dari sekian banyak orang yang diduga menerima suap di KPK, mengapa hanya Bibit dan Chandra yang dimintai keterangan, diperiksa dan kemudian ditahan?

Ketiga, menurut BAP awal Ary Muladi sebelum akhirnya dia cabut, nama yang disebut menerima suap adalah Ade Raharja. Tapi, anehnya, mengapa Ade Raharja—orang Polri di KPK—justru tak ditahan, bahkan tak dimintai keterangan oleh Tim 8?

Keempat, mengapa Polri tak segera memeriksa Ong Yuliana Gunawan—makelar kasus yang sejati? Bukankah dia bisa banyak menjelaskan fakta-fakta yang terjadi?

Kelima, mengapa identitas Edi Soemarsono baru mencuat belakangan, setelah rekaman Anggodo dibuka di MK? Apakah kemunculannya ini hanya pengalihan semata-mata?

Keenam, mengapa penyidikan tak difokuskan pada rekaman yang disiarkan MK, melainkan pada keterangan2 yang berubah2? Padahal, tak ada satu pun orang yang terlibat dalam rekaman itu menyangkal dirinya dalam rekaman itu?

Ketujuh, mengapa Wisnu Subroto yang juga termasuk saksi kunci tak diperiksa?

Teman2 silahkan menambahkan keganjilan dan pertanyaan lain…thx.

Advertisements

7 thoughts on “Tujuh Keganjilan di Balik Kisruh Cicak vs. Buaya

  1. garda revolusi says:

    terlalu banyak keganjilan. seperti kenapa susno yg mensosialisasikan istilah cicak vs buaya tapi kapolri yg minta maaf, baguslah sudah minta maaf
    lhaa tapi susnonya gimana? Kok sepertinya kapolri agak ngeper ya sama susno.

    terus para mafia peradilan yg jelas2 ikut menggembosi KPK apakah sudah demikian menakutkannya bagi penyidik yg lain untuk memeriksa mereka.

    trus ‘koor’ seia sekata senasib sepenanggungan dari para anggota komisi III DPR yg sungguh sangat memalukan justru menyiratkan pada kita bahwa memang ada sesuatu yg besar dibalik itu semua.

  2. garda revolusi says:

    dan sesuatu yg besar itu ada kemungkinan telah diselipkan kemaren disela2 hiruk-pikuk kamuflase yg mrk buat (kasus cicak vs buaya). Yaitu pengangkatan KSAD Letjen george Toisutta. jangan2 Ini kebijakan ‘titipan Israel’ Bukankah pak SBY cukup didekati Israel akhir2 ini.
    jadi ingat nostalgia masa SMP di tahun 90-an, waktu itu makhluk titipan Israel (LB Moerdani) berhasil menduduki jabatan Pangab. Untung simbah terus melawan dgn bertahan bercokol jadi pemimpin utk menahan ambisi tuh orang titipan. Berabe kalau orang titipan itu kemudian nantinya bisa jadi presiden.

  3. Uli Siagian says:

    Ada yang menganggap demo lalu dan rekayasa rekaman itu menargetkan SBY, itu terlalu jauh dan tidak gampang. Lagian media kita khususnya media yang ebrpower yaitu TV TV kita sangat lemah dan tidak berani kentut. TV TV itu sekaar bisnis belaka dengan bumbu-bumbu, liputan berta, tapi mayornya tetap bisnis belaka. Mustahil ada people power di sini. Belum ada bukti sejarah. Gerakan kerusuhan dan mahasiswa 1997&8 karena ada yang menggerakan, Paman Sam, yang sudah ngak senang dengan Suharto, waktu itu Suharto dianggap sudah memeluk nasionalisme — gayanya sendiri — mirip nasionalisme pendahulunya, Sukarno. Waktu itu Suharto mulai sulit didikte Amerika dkk khususnya IMF. Waktu itu oknum-oknum di sipil dan petinggi dalam tentara “diminta” agen-agen Amerika agar “pembantu” Amerika menjatuhkan Suharto, dengan berbagai rekayasa termasuk kerusuhan, demo menyeluruh masif dan beberapa penembakan atas mahasiswa, dan jatuhlah Suharto. Tapi sekarang SBY setia dan pro Amerika dalam segala kebijakannya, jadi Amerika mustahil membantu misalnya menjatuhkan SBY. Dengan people power? Idih…tak mungkin. Gerakan Massardi? Hanya membaca puisi. Gerakan Effendi Gazali? Juga membaca puisi dan tak jelas. Gerakan mahasiswa? Dosen-dosennya pengecut. Jadi gerakan membela rakyat, itu ku pikir hanya omong kosong dan sebatas di mulut. Semua hanya sebatas di mulut, bukan aksi bertarget. Lagian mahasiswa sekarang terlalu lemah dan mudah terpecah. Jadi jangan berhepotesa. Kalau tak ada penggerak dari luar seperti masa penjatuhan Suharto atau sebelumnya, Sukarno, oleh Suharto sendiri, tak mungkin SBY bisa jatuh. Polri dan Kejagung pun ada agenda lain. Kejagung sekadar meminta gaji naik, meskipun anak buahnya bergaji jauh dari cukup, di saat banyak rakyat negeri ini kelaparan, dan anak serta cucu mereka pada busung lapar, lihat di Nusa Tenggara dll. Jadi agenda menaikkan gaji itu membonceng juga. Hendarman membelokkan ke sana. Kita lebih senang SBY meskipun fakta menunjukkan SBY sepertinya pun tidak perduli bangsa, rakyat dan negara. Lihat, semua departemen pegawainya masih banyak dari anak-anak pejabat yang pernah bekerja disana. Kalau ayahnya hakim atau jaksa maka anaknya juga nantinya bekerja di bawah departemen dan lembaga itu. Kalau bapaknya dulu di BI maka anaknya atau menantunya juga di BI. Jadi dimana reformasi kelembagaan atau birokrasi? SBY tidak melihat penyelewengan itu kok. Untuk masuk kepolisisan dan ketentaraan juga selama ini harus menyuap jutaan rupiah. Mana yang bisa dikatakan pemerintah terutama SBy melakukan reformasi? Apa dia tahu makna reformasi? Lagian sikapnya selalu ambvalen, itu pastinya selamanya. Suatu karakter tak akan berubah. Jadi People Power di negeri ini hanya mitos, Oom. Itu baru terjadi bila ada kekuatan besar dari luar yang membantu gerakan seperti itu, Oom. Banyak yang tidak dilakukan SBY, tetapi kalian tak mungkin bisa berbuat kalau tidak berbuat nyata apapun caranya dan tidak meminta bantuan PBB dan CIA. Kalian harus kirim surat banyak-banyak ke Amnesty International, ke United Nations, ke CIA, yang semuanya tingal browse, buka di Internet websites mereka, mengeluhlah dan samaikan kebrobrokan SBY dan pemerintah itu sekarang! Ketik dan ketik, kirim dan kirim. Dan juga kalian perlu beraksi konkrit dan bertarget. Jadi bertindak dan jangan sekadar berpuisi. Tak kah Oom Oom tahu telinga semua pejabat kita sudah congekan dan mereka sudah tak punya hati nurani? Janganlah berharap keadilan dan hati nurani, itu mimpi, Oom.

  4. Ito Mirna J. Simbolon says:

    EGGY SUJANA cs vs. AHMAD RIFAI cs di TV ONE
    Aku setuju kali dengan opini kisskiss cs.
    Kali ini aku ingin kritisi argumen Eggy, yang sering diburk-burukkan sebagai pengacara hitam, versus Ahmad cs. Aku lihat Eggy orang logis dan hebat. Di TV bang ONE pagi ini Eggy tetap memperlihatkan hal itu, Eggy cerdas kali dengan berkata bahwa proses hukum atas Bibit Chandra, atau menurut saya terhadap siapapun yang sudah ada bukti-bukti awal sangkaan tindak pidana musti dilanjutkan. Negara ini negara hukum, Bung! Bukan negara opini dan perasaan yang menggampangkan alasan situasi darurat! Tidak ada alasan kuat untuk menghakimi polisi dan kejaksaan dan memihak Bibit Chandra hanya karena mereka nampak baik dan bersih, semua perlu dibuktikan di depan pengadilan yang fair. Siapapun sama di hadapan Hukum, ya nggak? Proses paling benar dan adil haruslah melalui pengadilan.
    Ahmad Rifai dan Amir Syamsudin dari Tim 8 merekomendasi proses itu dihentikan jelas salah besar apapun alasannya. Amir melihat kondisi saat ini darurat, itu bohong besar, tak pantas pengacara ternama bicara macam itu; Tim 8 terjebak terperangkap total diperalat SBY, yang mengikuti pola-pola cari aman gaya Suharto! Ini kesalahan besar pendekar-pendekar pengacara/pembela gaek seperti Buyung dan juga Todung ML. Tim 8 harusnya sadar bahwa mereka diperalat oleh SBY dan mundur demi rakyat dan kita mahasiswa. Amir maupun Tim 8 telah mendefinisikan keadaan darudat seenak udelnya. Tidak ada hal apapun saat ini apalagi mengatas namakan keresahan masyarakat dijadikan alasan keadaan darurat. Ini negara hukum! Bayang-bayang keresahan masyarakat kalaupun kelihatan dan ada tidak boleh membatalkan proses hukum, disni polisi dan jaksa ditantang untuk mampu membuktikan. Karena kalau tidak maka justru rakyat dan kita mahasiswa akan mengamuk tidak terkendali. Proses peradilan jalan terus, dan kasus baiout ilegal Bank Century juga harus dijalankan! Kita anggap argumen Eggy jitu dan benar 1000 persen bahwa semua harus diproses dalam pengadilan. Bukti-bukti awal cukup menyeret Bibit Chandra. Mereka hanya mengelak begitu ketahuan, sama seperti Antasari, yang dijebak dan terjebak. Setiap pejabat KPK harusnya waspada, sebab mereka mendapat gaji tinggi dan akses besar dan fasilitas cukup. Mereka manusia biasa yang bodoh menjebakkan diri. Seperti Antasari, Bibit Chandra pun terlena dan lalai, terjebak dalam iming-iming suap. Sikap lalai berat menyangkut kepentingan negara/publik ada proses hukumnya. Semua proses harus berjalan cepat dan jangan sampai memberi kesempatan kepada SBY menjabat 5 tahun lagi tanpa membangun negara seperti maraknya pembangunan era Suharto; Suharto jelas, SBY tidak jelas! Proses hukum Bibit Chandra dan Antasari jalan terus, dan harus bisa menjebloskan mereka dalam bui, begitu pula proses Bank Century harus jalan terus untuk menjebloskan Budiono ke Cipinang. Kita harus sadar itulah sebabnya Budiono diberi kursi empuk sebagai wapresnya SBY, ada apa? Banyak yang melihat sebagian dana talangan Bank Century untuk membiayai kampanye SBY, karena waktu itu tim SBY ketakutan dikroyok Mega, Prabowo dan Wiranto, maka Budiono dijanjikan jabatan wapres.
    Proses hukum di pengadilan ini harus jalan terus. Semua akan ketahuan nanti siapa salah siapa benar. Kalau di Caina, mereka langsung ditembak mati. Kalau SBY berani menempuh jalan itu maka negeri rakyat dengan 1001 derita ini akan berhenti, dan majulah Indonesia. Tapi kali ini negeri ini lagi lagi mendapat pemimpin negara yang palsu. Semua musti kita hentikan sekarang juga, kita musti jalankan People Power, dengan berbagai siasat dan cara, jangan patah arang, kawan, kita selalu solid dan bersama, kita ambil keputusan bila Tim 8 hanya sekadar alat SBY dan SBY tetap tidak jelas! Tak ada kekuasaan sekalipun di dunia ini yang seenaknya dan boleh mengentikan proses hukum. Ini negara hukum, kawan! Segala hal penyalahgunaan negara hukum harus berhenti. Eggy benar, ujung permasalahan negara kita kali ini adalah Presiden SBY itu sendiri yang tidak mennjukkan ketegasan. Kita semakin paham SBY selalu berbohong dan penuh kepura puraan. Tiap hari, tiap jam, tiap detik, dengan lidahnya yang tak bertulang! 5 tahun berlalu tanpa prestasi siginfikan, dan 10 tahun pada 2014 akan lewat tanpa pembangunan signifikan. Suhato berakhir dengan pembangunan pembangunan masif dan luar biasa, kami akui, masih lebih baik daripada SBY yang seperti kentuty dan kurang ajar kepada rakyat dan kita semua. SBY pandai berbohong dengan permainan kata kata dan mengelabuhi kita mahasiswa dan seluruh rakyat negeri ini, sehingga kita tidak mendapat apa-apa yang berarti. Hanya si kaya yang menikmati, si miskin mati. Tidak seperti Malaysia dan negara-negara lain di Asia ini yang justru merdeka lebih belakang, Indonesia sengaja tidak dibagun fasilitas fasilitas ramah publik seperti jaringan KRL dan monorail yang banyak, yang handal, aman dan nyaman dan murah, sementara di negeri dengan rezim biadab ini, listrik dengan alasan macam macam selalu dipadamkan bergilir terus-menerus, Uli benar kok. Kami tambahkan, juga GDP disini tidak meningkat dengan nyata kecuali statistik bohong, ini selalu dibesar besarkan SBY dan menteri ekonominya semakin menunjukkan kebohonga mereka untuk mebohongi media nasional dan internasional, dan tidak ada matauang bernilai. Rupiah tetap di kisaran di atas Rp8000 per satu dolar, ini sesungguhnya sudah kiamat, tidak bisa rezim ini disebut pemerintah atau negara ini disebut negara kecuali kampung besar yang dikuasai boneka mafia pemeras hasil bumi rakyat/negara pemilik sah, rupiah tak ada nilai sama sekali. Rakyat terpaksa mengeluarkan banyak rupiah itupun kalau mereka ada rupiah cukup). Hal kecil saja, SBY membiarkan pimpro pimpro tidak menyediakan fasilitas fasilitas publik pokok seperti WC WC umum yang harusnya gratis (lazim di semua negara manapun) yang bersih tanpa dipungut bayaran, dan rupanya inilah negaranya di bawah rezim SBY yang tidak jelas, negara yang membiarkan abadinya permakelaran, markus-markus, dan yang lain banyak lagi. Maka PROSES HUKUM TERMASUK KASUS TERPENTING BAILOUT ILEGAL BANK CENTURY HARUS JALAN TERUS. HAJAR BUDIONO YANG SOK SUCI TAPI BAJINGAN! KALAU TIDAK, KITA LAKSANAKAN PEOPLE POWER, MENGUGAT DAN MENJATUHKAN SBY YANG TIDAK BECUS DAN TIDAK JELAS. Horas!

  5. ALI ALAYDRUS says:

    ” Manusia memiliki tipi daya..Allah pun memilki tipu daya..sesungguhnya tipu daya Allah lah yg akan menang “..Kalau kasus ini tdk bs diungkap & mereka para “bedebah” merasa menang tentu ada satu hal yg jgn mrk lupa bahwa setelah ini akan ada Mahkamah Allah yg akan mengadili mereka di akhirat nanti..dan itu pasti tdk bs disulap atau pun di rekayasa..

  6. Oedixs says:

    ” Manusia memiliki tipu daya..Allah pun memilki tipu daya..sesungguhnya tipu daya Allah lah yg akan menang “..Kalau kasus ini tdk bs diungkap & mereka para “bedebah” merasa menang tentu ada satu hal yg jgn mrk lupa bahwa setelah ini akan ada Mahkamah Allah yg akan mengadili mereka di akhirat nanti..dan itu pasti tdk bs disulap atau pun di rekayasa..

  7. SAIFUL ADAM says:

    saya setuju dengan teman-teman bahkan yang harus terjadi di Indonesia adalah revolusi sosial pejabat pejabat lama atau yang pernah menjabat dihukum mati bagi yang terlibat sedikit pun kesalahannya tak penting. Yang harus terwujud adalah generasi baru yang tak mengerti cara mengatur bangsa dengan tipudaya yang memimpin negeri ini karena mereka lah yang diatur oleh rakyatnya bukan seperti sekarang ini pemimpin yang mengatur hidup-mati rakyatnya.
    lelah sebenarnya berkata-kata tak akan ada hasilnya bagi perubahan menuju yang lebih baik
    kita hanya iri pada negeri orang yang bisa sejahtera dan pemimpin mereka benar-benar membuat sejahtera rakyatnya
    kalau seperti SBY saat ini semua orang pun bisa tak perlu dia dan bergaji besar dengan gaji 1,5 juta pun bisa jadi pemimpin seperti dia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s