Kiamat Pengetahuan: Beberapa Soal yg Menggelisahkan

Apakah realitas di sekitar kita sesungguhnya mencerminkan diri kita sendiri? Apakah kebahagiaan dan kesengsaraan kita lebih banyak berhubungan dengan diri kita sendiri ketimbang benda-benda di luar sana? Ataukah perasaan-perasaan itu berubah-ubah sesuai dengan perubahan waktu dan tempat kita berada? Adakah hubungan timbal balik yang subtil antara diri kita dan keadaan di luar sana; antara yang subjektif dan objektif; antara yang fisik dan non-fisik?

Demi kemudahan dan keinginan mengambil pilihan yang tampak paling sempurna, biasanya kita terdorong untuk mengambil jawaban yang menggabungkan sisi objektif dan subjektif. Jawaban ini terasa begitu bijak dan lengkap, mencakup semua aspek yang mungkin dipertimbangkan. Tetapi, benarkah demikian? Benarkah keadaan subjektif kita bergantung pada situasi objektif pada tingkat yang sama dengan kebergantungan situasi objektif pada keadaan subjektif kita? Benarkah realitas objektif itu sama nyatanya dengan realitas subjektif?

Sekiranya demikian, apakah reaksi dalam diri kita hanyalah akibat kesan dari rangsangan luar? Ataukah yang sebenarnya diri memulai aksi tertentu baru kemudian timbul efek dan reaksi di luar sana? Apakah realitas objektif itu tak lebih dari pantulan cermin subjektif kita? Apakah realitas eksternal itu sesuatu yang mungkin kita pisahkan, meskipun hanya untuk kepentingan analisis filosofis, dari realitas internal? Ataukah realitas itu sejatinya berpilin-pilin sedemikian rupa sehingga tak mungkin lagi ada yang mampu menarik garis pemisah antara yang subjektif dan objektif?

Apakah huruf-huruf dalam tulisan di hadapan Anda ini melesakkan pengetahuan dan makna dalam pikiran ataukah sebaliknya? Nah, jika kita melihat huruf-huruf ini dengan cara terbalik, memakai mata yang rabun, di tempat yang bising, dalam suasana hati yang galau dan pikiran yang kacau, mungkinkah rangkaian huruf yang sama ini menampilkan pengetahuan dan makna yang berbeda? Ataukah huruf-huruf ini akan menghadirkan makna dan pengetahuan yang sama dalam benak kita, terlepas dari kondisi-kondisi subjektif kita? Tentu saja kita harus segera menambahkan bahwa sifat terbalik, rabun, bising, galau dan kacau bukanlah murni objektif, melainkan jangan-jangan penilaian yang juga subjektif.

Saya ingin mengutip beberapa bagian karya masyhur M. Iqbal, Reconstruction of Religious Thought in Islam sekaitan dengan sejumlah pertanyaan di atas. Dia menuturkan: “Objek-objek pengindraan (warna, suara, dan sebagainya) adalah hal-hal yang terdapat dalam benak subjek yang mempersepsi, dan dengan demikian terlepas dari Alam yang dipandang sebagai sesuatu yang objektif. Atas dasar ini, objek-objek tersebut tidak dapat dianggap, dalam arti yang sebenarnya, sebagai kualitas-kualitas benda fisik. Ketika saya berkata: ‘Langit adalah biru’, itu hanya bisa berarti bahwa langit menghasilkan suatu sensasi biru dalam benak saya, dan warna biru itu bukanlah kualitas yang terdapat pada langit…”

Allama Iqbal melanjutkan: “Berkeley adalah filosof yang awal-awal menolak teori bahwa materi adalah sebab yang tidak diketahui dari pengindraan kita. Dewasa ini Profesor Whitehead, seorang matematikawan dan ilmuwan terkemuka, dengan pasti menunjukkan bahwa teori lama materialisme sama sekali tidak bisa dipertahankan lagi. Jelas bahwa, dalam teori, segenap warna, suara, dan sebagainya, hanyalah hal-hal yang bersifat subjektif belaka dan tidak merupakan bagian dari Alam…Alam bukanlah seperti yang biasa kita ketahui; segenap persepsi kita adalah ilusi dan tidak bisa dianggap sebagai penyingkapan hakiki Alam yang, oleh teori itu, dibagi menjadi kesan-kesan mental di satu sisi dan entitas-entitas yang tidak bisa dipersepsikan dan tidak bisa diverifikasi namun menimbulkan kesan-kesan tersebut di lain sisi… Meminjam kata-kata Profesor Whitehead, teori tersebut mereduksi separuh Alam menjadi ‘impian’ dan separuh lainnya lagi menjadi ‘prakiraan’.”[1]

Sampai di sini, kita mulai menemukan kerelatifan objektivitas itu, sehingga wajarlah kalau kita beringsut maju dengan mempertanyakan pembagian itu sendiri. Apakah pembagian objektif versus subjektif itu punya realitas? Ataukah ia sebenarnya tak punya nilai kecuali sebagai efek dari kelemahan manusia yang tak bisa menangkap keseluruhan? Kalau memang pembagian ini sebenarnya dibuat untuk meredam dampak-dampak sistemik kelemahan esensial itu, apakah itu berarti bahwa siapa saja yang mampu menembus pembagian itu justru berhasil mengatasi kelemahan terberat dalam tindak pengetahuan?

Dalam filsafat Islam kita mengenal kaidah yang disebut dengan ittihâd al-‘âlim wa al-ma’lûm, yakni penyatuan subjek yang mengetahui (al-‘âlim) dengan objek yang diketahui. Dalam kaitan ini, Toshihiko Izutsu menuliskan: “The problem of the unique form of subject-object relationship is discussed in Islam as the problem of ittihâd al-‘âlim wa al-ma’lûm, i.e. the ‘unification of the knower and the known.’ Whatever may happen to be the object of knowledge, the highest degree of knowledge is always achieved when the knower, the human subject, becomes completely unified and identified with the object so much so that there remains no differentiation between the two. For differentiation and distinction means distance, and distance in cognitive relationship means ignorance.”

(Masalah bentuk manunggal hubungan subjek-objek dibicarakan dalam [filsafat] Islam sebagai masalah ittihâd al-‘âlim wa al-ma’lûm, yakni ‘penyatuan pengetahu dan yang diketahui’. Apapun objek pengetahuannya, tingkat tertinggi pengetahuan dicapai manakala subjek pengetahuan, si manusia, menjadi benar-benar tersatukan dan teridentifikasi dengan objeknya sedemikian sehingga tidak terdapat lagi pembedaan di antara keduanya. Karena, pembedaan dan pemisahan berarti jarak, dan jarak dalam kaitannya dengan kesadaran berarti kebodohan.)[2]

Selanjutnya Izutsu menyatakan: “The correlation between the metaphysical and the epistemological means in this context the relation of ultimate identity between what is established as the objective structure of reality and what is usually thought to take place subjectively in human consciousness. It means, in brief, that there is no distance, there should be no distance between ‘subject’ and ‘object’. It is not exact enough even to say that the state of subject essentially determines the aspect in which the object perceived, or that one and the same object tends to appear quite differently in accordance with different points of view taken by the subject. Rather the state of consciousness is the state of the external world.”

(Kaitan antara hal yang metafisikal dan epistemologis dalam konteks ini berarti hubungan kesamaan yang luarbiasa antar apa yang disebut sebagai struktur realitas objektif dan apa yang dianggap berlangsung secara subjektif dalam kesadaran manusia. Secara ringkas, hal ini berarti bahwa tidak ada jarak dan tidak semestinya ada jarak antara ‘subjek’ dan ‘objek’. Rasanya bahkan belum cukup tepat untuk mengatakan bahwa keadaan subjek secara esensial menentukan sisi objek yang dipersepsi, dan bahwa satu objek yang sama cenderung tampak berbeda sesuai dengan sudut-sudut pandang yang diambil oleh subjek. Akan tetapi, lebih dari itu, keadaan kesadaran sesungguhnya adalah keadaan dunia luar itu sendiri.)[3]

Dua kutipan di atas membawa kita pada serangkaian pertanyaan lain. Apakah penyatuan itu membawa manusia pada sejenis atau satu tingkat pengetahuan yang sama sekali berbeda dengan pengetahuan yang berpijak pada pembagian objek-subjek? Apakah pengetahuan penyatuan itu menghancurkan pengetahuan yang berpijak pada pembagian objek-subjek atau tidak? Dan bila memang terjadi kehancuran, bagaimanakah bentuk pengetahuan manusia selanjutnya? Bila tidak, apakah itu berarti manusia masuk dalam keadaan bingung dan limbo? Lalu, bagaimana pula dengan kelemahan dasar manusia yang tak mampu menangkap keseluruhan? Apakah penyatuan melenyapkan objek-subjek dalam suatu keseluruhan yang sebenarnya pada tingkat itu tak ada lagi keseluruhan versus sebagian, yang sebenarnya merupakan kategori turunan dari objek dan subjek dan seterusnya?

Pertanyaan-pertanyaan bagian terakhir ini membawa kita pada ilmu dalam tingkatan yang sama sekali berbeda, yaitu ilmu yang justru berawal dari penyatuan subjek-objek dan proses panjang peluruhan pengetahuan yang bertolak dari pembedaan objek dan subjek. Itulah yang disebut dengan ‘irfan, yakni tingkatan pengetahuan yang menuntut pengalaman dan kehadiran objek dalam subjek dan peleburan keduanya dalam sebuah keseluruhan yang menolak segala bentuk pembedaan, kategorisasi, analisis dan sebagianya.

Lantas, masihkah penyatuan itu bisa disebut sebagai pengetahuan dalam penggunaan umum? Ataukah ia berubah menjadi kesadaran yang sama sekali baru? Mungkinkah ia yang dalam istilah agama disebut sebagai kiamat atau kebangkitan dari sebuah kesadaran rendahan yang kini kita sebut sebagai dunia ini? Apakah kesadaran itu harus dimulai dengan kematian dan kemusnahan fisik? Mungkinkah ia berlangsung pada manusia yang sudah mengalami sejenis kematian yang dikehendaki (al-maut al-ikhtiyari) ataukah ia harus berlangsung di alam dengan hukum-hukum yang sama sekali lain? Apakah kiamat yang dimaksud dalam teks-teks agama berkaitan dengan bangkitnya kesadaran intelektual baru manusia yang membawanya pada semacam pengetahuan dengan kehadiran?

Wallahu a’lam


[1] Allama M. Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, Adam Publishers & Distributors, New Delhi, hal. 26-27.

[2] Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence, The Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1971, hal. 5.

[3] Ibid., hal. 10.

One thought on “Kiamat Pengetahuan: Beberapa Soal yg Menggelisahkan

  1. platinum says:

    interesting…kemaren ini juga kebetulan dengar pidato ulangnya syahid Murtadha Muthari tentang ‘Life’, beliau ra seperti biasa apabila sedang berpidato begitu lantang dan tegasnya..kurang lebih beliau ra mengingatkan kita untuk menyeru panggilan Rasul Mulia saww untuk ‘bangun’ karena kebanyakan dari kita mati. Hidup menurut belia ra : bukan terdengarnya detak jantung, itu bukan hidup, hidup itu apabila seseorang mempunyai : ‘sight & ability’, dan program dalam ISLAM itu adalah ‘understanding & acting’. Jadi memahami dan berbuat adalah Islam . Orang yang hidup adalah yang mempunyai ‘pandangan’ dan kemampuan..subhanallah. Semoga Allah merahmati ruh mulia syahid Muthahari…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s