Berbagai Pendekatan Kajian Agama

Pengantar

Agama dalam bahasa Barat disebut dengan religion yang berasal dari bahasa Latin religio. Maknanya adalah “penghormatan terhadap apa yang sakral, pemuliaan terhadap Tuhan atau para dewa,”[1] atau “kewajiban dan ikatan antara manusia dan para dewa”[2] Agama kemudian berkembang menjadi sistem budaya yang menciptakan makna yang kuat dan abadi, dengan mengukuhkan simbol-simbol yang menghubungkan manusia dengan kebenaran dan nilai-nilai suci.

Sebagian besar agama memiliki naratif, simbol, tradisi dan sejarah yang bertujuan memberi makna tentang manusia, alam dan kehidupan di dalamnya. Kata religion juga adakalanya dipakai dalam pengertian sistem kepercayaan (faith, ‘aqidah), namun agama selalu memiliki aspek publik. Sebagian besar agama juga memiliki serangkaian sistem perilaku, ritus, doa, sistem pengajaran dan sebagainya.

Pendekatan Filosofis

Pendekatan filosofis biasanya mencoba menjawab pertanyaan esensial ini: Apakah agama itu? Pendekatan filosofis kemudian menjawabnya dalam dua cara. Pertama, penyelidikan mendalam seputar makna agama, dan apakah agama itu benar atau tidak. Kedua, pemeriksaan menyangkut makna agama bagi kehidupan manusia.

Dalam sejarah pemikiran Islam, para filosof adalah kelompok yang paling hati-hati dalam membedakan antara aspek tekstual dan intelektual. Mereka sama sekali tidak memusuhi aspek tekstual, tapi lebih memusatkan perhatian mereka pada aspek intelektual; aspek yang menuntut manusia untuk memikirkan sendiri kebenaran sesuatu, bukan menukil atau mengutipnya saja.

William C. Chittick dalam bukunya yang berjudul, Science of the Cosmos, Science of the Soul, menjelaskan perbedaan antara pendekatan intelektual filosofis dalam agama dan pendekatan tekstual. Chittick menyatakan bahwa pendekatan filosofis dalam agama dicapai melalui verifikasi kebenaran dalam diri sendiri. Siapapun tidak dapat memverifikasi kebenaran dan realitas sesuatu tanpa mengetahuinya secara langsung, dalam jiwanya sendiri, tanpa bantuan dari siapa pun selain Tuhan. Jika pengetahuan didasarkan pada kata-kata “otoritas” atau “pakar”, ia bukanlah pengetahuan yang direalisasikan, melainkan pengetahuan tiruan.[3]

Belakangan, menurut Rob Fisher, pendekatan filosofis dalam studi agama mengalami krisis identitas.[4] Tapi kemudian dia mendaftar lima hubungan antara agama dan filsafat: (1) Filsafat sebagai agama; (2) Filsafat sebagai pelayan agama; (3) Filsafat sebagai yang membuat ruang bagi keimanan; (4) Filsafat sebagai perangkat analitis bagi agama dan; (5) Filsafat sebagai studi tentang penalaran yang digunakan dalam pemikiran keagamaan.

Pendekatan Teologis

Pendekatan teologis terhadap suatu agama pada umumnya berpijak pada tiga fungsi: menjelaskan dasar-dasar dan klaim-klaim suatu agama; membuktikan kebenaran dasar-dasar dan klaim-klaim tersebut; dan terakhir mempertahankannya dari segenap keraguan, keberatan dan serangan dari pihak-pihak luar agama. Ciri utama pendekatan teologis adalah polemik dan apologetik, dengan menggunakan metode rasional, dialektik maupun tekstual.

John Hick mengemukakan tiga sikap teologis yang dapat diterapkan tradisi keagamaan terhadap wilayah keagamaan yang lebih luas: eksklusivisme yang mengajarkan bahwa satu-satunya yang benar adalah agamanya sendiri; inklusivisme yang mengajarkan bahwa tradisi keagamaan lain juga memuat kebenaran religius tetapi di hari akhir akan dimasukkan dalam posisi yang mereka miliki; dan terakhir pluralisme yang mengajarkan bahwa segenap tradisi keagamaan mengejawantahkan diri dalam beragam konsepsi mengenai yang sejati (the Real) dan memberi respons terhadapnya, dan dari sinilah muncul jalan kultural yang berbeda-beda bagi manusia.

Pendekatan Psikologis

Pendekatan psikologis terdiri atas penerapan metode-metode psikologis terhadap sejumlah tradisi keagamaan dan individu-individu religius dan non-religius. Ada tiga fungsi utama pendekatan ini: (1) menyediakan deskripsi menyeluruh tentang objek-objek penyelidikan guna menerangkan apakah objek-objek tersebut memiliki kandungan religius atau memiliki sejumlah pengalaman, sikap dan perilaku individual; (2) meninjau fenomena-fenomena tersebut dalam kerangka psikologis; dan (3) mengklarifikasi hasil-hasil—atau buah-buah, meminjam ungkapan William James—dari fenomena-fenomena tersebut, bagi individu dan masyarakat yang lebih luas. Meskipun pendekatan psikologis boleh dibilang baru utuh pada akhir abad 19, hampir semua fungsi ini telah ada sejak masa yang lebih lama. [1]

Singkat kata, dalam pendekatan psikologis, perasaan-perasaan keagamaan dan bagaimana  perasaan-perasaan itu berdampak pada diri dan perilaku seseorang. William James, misalnya, mencoba untuk mencari akar-akar perasaan keagamaan pada jiwa seseorang dan mencoba menganalisisnya dengan menggunakan metode psikoanalisa. Dalam bukunya yang sangat terkenal, Religious Experiences banyak menerangkan kasus-kasus pengalaman keagamaan yang dialami orang-orang yang menemukan kembali semangat keagamaannya dan apa yang terjadi pada mereka.

Namun, karena definisi “agama” (religion) itu samar dan taksa, maka ahli pendekatan ini dalam beberapa dekade terakhir lehih mengutamakan istilah “spiritual” atau “spiritualitas” dibanding “agama” atau “keagamaan”. Upaya ini dimaksudkan untuk menepis konotasi institusionalisasi yang melekat pada istilah agama.

Pendekatan Antropologis

Para antropolog melihat agama dalam kaitannya dengan pranata-pranata sosial lain dan membandingkan kepercayaan-kepercayaan dan praktik-praktik agama secara lintas budaya. Pendekatan antropologis melihat agama dan praktik-praktik sosial, politik, kekeluargaan, pertanian, pengobatan dan sebagainya secara bersama-sama. Dalam tinjauan ini, agama tidak dilihat sebagai sistem otonom yang kedap terhadap dinamika masyarakat, melainkan sebagai bagian tak terpisahkan dari keseluruhan masyarakat.[5]

Pada awal abad 11, Abū Rayhān al-Bīrūnī (973-1048), menuliskan studi-studi komparatif tentang pendekatan antropologis agama dan budaya di Timur Tengah, Mediteranea dan terutama anak benua India. Pendekatan al-Biruni itu kemudian memprakarsai studi antropologi agama. Menurut Arthur Jeffery, “Di masanya, karya Al-Biruni bisa dibilang sebagai rintisan yang luarbiasa dan sangat mendalam…”[6]

Pendekatan antropologis mencapai kematangannya di tangan Emil Durkheim dalam bukunya yang berjudul Elementary Forms of Religious Life. Durkheim percaya bahwa pada dasarnya tidak ada agama yang salah. Semua agama adalah benar, menurut mode masing-masing. Semua memenuhi kondisi-kondisi tertentu dari eksistensi manusia, meskipun dengan cara yang berbeda-beda.

Salah satu konsep kunci terpenting dalam pendekatan antropologis adalah holisme, yakni pandangan bahwa praktik-praktik sosial harus diteliti dalam konteks dan secara esensial dilihat sebagai praktik yang berkaitan dengan yang lain dalam masyarakat yang sedang diteliti. Para antropolog harus melihat agama dan praktik-praktik pertanian, kekeluargaan, politik, magic dan pengobatan secara bersama-sama. Maka, agama misalnya tidak bisa dilihat sebagai sistem otonom yang tidak terpengaruh oleh praktik-praktik sosial lainnya.[7]

Pendekatan Fenomenologis

Pendekatan fenomenologis biasanya berkaitan dengan aspek-aspek eksperiensial dari agama dan mencoba menjelaskan fenomena religius dalam kerangka yang konsisten dengan orientasi para pemeluknya. Ia memandang agama sebagai sesuatu yang terdiri atas komponen-komponen yang berbeda-beda dan mengkaji komponen-komponen itu dalam lintas tradisi-tradisi agama sehingga pemahaman mengenai semua itu bisa dicapai. Pendekatan fenomenologis dalam studi agama telah ada sejak masa-masa terdahulu. Tokoh-tokoh seperti Ibn Arabi juga dianggap sebagai menggunakan pendekatan ini dalam dunia Islam. Di Barat, Pierre Daniël Chantepie de la Saussaye, William Brede Kristensen and Gerardus van der Leeuw dianggap mempelopori konseptualisasi dan pengembangan pendekatan ini.[8]

Gambaran pendekatan fenomenologis dapat diumpamakan dengan ketika seorang ahli biologi kelautan memberitahukan kepada kita aspek-aspek dunia natural dan membiarkan fenomena berbicara tentang  dirinya sendiri. Oleh karena itu, seorang fenomenolog agama harus memiliki empati yang tinggi terhadap pengalaman-pengalaman keagamaan yang dirasakan oleh subjek kajian. Dia juga tidak boleh memiliki praduga-praduga, stereotip-stereotip, apalagi prasangka-prasangka buruk. Dalam kajian Islam, nama-nama seperti Henry Corbin, Annemarie Schimmel, William Chittick, Toshihiko Isutzu dan sebagainya dipandang sebagai kampiun dalam pendekatan ini.

Asal-usul pendekatan fenomenologis di Barat dapat dilacak dari tesis Hegel bahwa esensi (wesen) harus dipahami melalui penyelidikan atas penampakan dan manifestasi (Erschinungen). Selain Hegel, pandangan Edmund Husserl tentang epoche dan eiditik. Dua istilah yang diambil dari bahasa Yunani ini memngungkapkan skop metode dan ketengangan yang ada di dalamnya. Epoche terdiri dari pengendalian atau kecurigaan dalam mengambil keputusan, sementara eidetik terkait dengan kemampuan melihat apa yang sesungguhnya.[9]

Pendekatan Feminis

Pendekatan feminis dalam studi agama tidak lain dari upaya ilmiah untuk menggunakan gender sebagai kategori analisis utamanya. Para feminis religius seperti Anne Carr memiliki keyakinan bahwa feminisme dan agama sama-sama sangat signifikan bagi kehidupan perempuan dan kehidupan kontemporer pada umumnya.

Sebagaimana agama, feminisme memberi perhatian pada makna identitas dan totalitas manusia pada tingkat paling dalam, didasarkan pada banyak pandangan interdisipliner, baik dri antropologi, teologi, sosiologi, dan filsafat. Tujuan utama dari tugas feminis adalag mengidentifikasi sejauh mana terdapat persesuaian antara pandangan keagamaan dan pandangan feminis terhadap kedirian, dan bagaimana menjalin interaksi yang paling menguntungkan antara keduanya.[10]

Selain itu, pendekatan feminis berupaya melawan persepsi umum bahwa perempuan lebih rendah daripada lelaki secara moral dan spiritual dan karenanya memiliki peran dan tugas keagamaan dan spiritual yang lebih rendah daripada lelaki.[11]


[2] Shorter Oxford English Dictionary

[3] Chittick, William C., Science of the Cosmos, Science of the Soul: The Pertinence of Islamic Cosmology in the Modern World, Oneworld Publications, 2007, Bab Kedua.

[4] Connolly, Peter, Aneka Pendekatan Studi Agama, LKiS, 2002, hal. 147.

[5] Connolly, Peter, Op.Cit. hal. 34.

[7] Connolly, Peter, Op.Cit. hal. 37.

[9] Op.Cit., Aneka Pendekatan Studi Agama, hal. 110-111.

[10] Op.Cit., Aneka Pendekatan Studi Agama, hal. 63.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s