Beberapa Pandangan seputar Jihad

Berikut ini adalah petikan dari buku saya yang membahas seputar jihad. Di sini akan saya sebutkan 3 pandangan ulama Syiah seputar jihad. Semoga bermanfaat.

A. Jihad menurut Ruhullah Khomeini

Berdasarkan hadis masyhur yang menuturkan prioritas jihad melawan diri dibanding jihad fisik, Ayatullah Khomeini membangun konsep jihad yang komprehensif, mencakup dimensi batin dan lahirian manusia, “Manusia adalah makhluk istimewa yang memiliki dua dimensi dan dua alam: dimensi lahiriah fisik (mulki) dan duniawi, yaitu tubuhnya; dan dimensi batin yang gaib dan malakûti, yang berasal dari alam lain. Jiwa manusia—yang berasal dari alam gaib dan malakût—memiliki beberapa maqâm dan derajat. Jumlah maqâm dan derajat itu biasanya dibagi menjadi tujuh, empat, tiga atau hanya dua.”1

Untuk menunjukkan keseiringan jihad batin dengan jihad fisik, Khomeini memakai terminologi peperangan fisik. Dia menulis, “Pada setiap derajat ada sekelompok pasukan khusus. Pasukan Ilahi dan ’aqlâni (intelektual) menarik jiwa ke arah alam malakût yang tertinggi dan mengajaknya kepada kebahagiaan, sedangkan pasukan setan dan kejahilan menariknya ke arah malakût yang terendah dan mengajaknya kepada kesengsaraan. Selalu ada perseteruan dan pertempuran di antara keduanya, dan manusia adalah medan peperangan dari kedua pasukan itu. Bilamana pasukan Ilahi memperoleh kemenangan, maka manusia akan mendapat kebahagiaan, rahmat dan bergabung dengan para malaikat serta dibangkitkan dalam kelompok para nabi, para wali, dan orang-orang saleh. Akan tetapi, bilamana pasukan setan dan serdadu kejahilan yang memperoleh kemenangan, maka manusia akan mendapat kesengsaraan, kemarahan dan dibangkitkan dalam kelompok para setan, orang-orang kafir dan orang-orang gagal.”2

Kemudian beliau menegaskan, “Ketahuilah bahwa tahapan jiwa yang paling rendah adalah eksistensi lahiriah dan duniawi manusia yang mencakup tingkat-tingkat awal perkembangan jiwa dan perwujudan lahiriahnya. Percikan dan sinar Ilahi memancar pada rangka jasmaniah untuk melahirkan eksistensi manusia di bumi ini, serta memberi jiwa kehidupan aksidentalnya dan memperlengkapinya dengan pasukan kebaikan dan keburukan. Dalam tubuh ini, ada kekuatan-kekuatan (fisik) yang terletak di tujuh kawasan (iqlîm), yaitu telinga, mata, mulut, perut, alat kelamin, tangan, dan kaki. Seluruh kekuatan yang tersebar di tujuh wilayah kehidupan itu berada di bawah kendali jiwa yang berada di tahap (maqâm) daya imajinasi (wahm). Daya imajinasi adalah penguasa atas seluruh kekuatan jiwa, yang terlihat maupun tidak. Jika daya imajinasi dapat berkuasa, dengan sendirinya atau dengan bantuan setan, atas seluruh kekuatan lainnya, maka semuanya akan berubah menjadi pasukan setan sehingga kerajaan ini akan sepenuhnya tunduk pada dominasi setan. Dalam keadaan itu, pasukan Ar-Rahmân (Sang Maha Pengasih) dan akal bakal surut dan melarikan diri dari kerajaan ini untuk diserahkan sepenuhnya kepada setan. Adapun bila daya imajinasi dapat ditundukkan oleh akal dan syariat, sehingga seluruh gerak dan diamnya terikat oleh displin, akal dan syariat, maka kerajaan ini akan menjadi kerajaan ruhani dan akal sampai terusirlah seluruh pasukan setan darinya.”3

Beliau menyimpulkan, “Dengan demikian, jihad diri adalah jihad akbar yang lebih unggul dibandingkan dengan jihad berperang di jalan Allah. Dalam tahap ini, jihad akbar berarti usaha manusia untuk mengendalikan seluruh daya dan kekuatan fisiknya untuk patuh pada semua perintah Allah dan dibersihkan dari seluruh unsur setan dan kekuatannya dalam diri kita.”4

Tahap kedua dari jihad berlangsung di kerajaan (alam) dan dimensi lain, yaitu kerajaan batin dan dimensi malakût (non-fisik). Menurut Khomeini, “Di dalam dimensi batin ini, (kekuatan) pasukan jiwa lebih banyak dan lebih signifikan ketimbang di kerajaan lahiriah atau fisik. Pertarungan dan konflik antara pasukan Sang Rahman dan pasukan setan berlangsung dengan lebih keras dan juga lebih menentukan, sehingga kemenangan dan dominasi di alam itu akan bernilai lebih besar dan lebih penting. Bahkan, semua hasil yang diperoleh di alam lahiriah/fisik berasal dari alam itu dan merupakan manifestasi darinya. Pasukan mana pun yang menang di alam ini—baik pasukan Sang Rahman ataupun pasukan setan—pasti akan menang di alam fisik ini. Oleh karena itu, jihad diri atau perjuangan batin amat penting bagi seluruh guru besar suluk dan akhlak. Tahap ini dapat dipandang sebagai sumber seluruh kebahagiaan atau kesengsaraan, sumber kemajuan dan kemuliaan atau kerendahan dan kehancuran diri.5

Lebih lanjut, Khomeini menegaskan, “Jihad merupakan benteng dan perisai Allah yang kukuh…Namun demikian, kewajiban suci ini sebagaimana banyak kewajiban dan konsep Islam lain telah terserang distorsi dan misrepresentasi di masa lalu dan masa kini, terutama pada tataran praktis dan pelaksanaannya. Akibatnya, jihad menjadi identik dengan pedang yang terhunus untuk memuaskan kegemaran sia-sia atau melaksanakan ambisi politik. Banyak aksi anti kemanusiaan yang dibungkus dengan busana jihad dan klaim membela agama, padahal agama Allah, jihad dan agama sungguh jauh dari semua itu. Jihad bukanlah tindakan berperang yang dilakukan sekelompok Muslim demi meraih tujuan-tujuan yang boleh jadi sebagian besarnya merusak, melainkan ia merupakan tindakan berperang di jalan Allah sesuai perintah Allah yang telah ditentukan oleh pimpinan Islam yang bijak sebagai wakil dari Nabi dan Imam maksum dan berpijak pada ajaran-ajaran Islam dan petunjuk-petunjuk Al-Qur’an. Jihad yang yang suci merupakan perang yang berlandaskan tujuan yang benar dengan motif Ilahi yang tulus, dengan niat yang juga tulus di jalan Allah, sehingga motif-motif egois, faktor-faktor sektarian dan golongan maupun kecenderungan-kecenderungan materialis tidak mempengaruhinya. Dengki, iri atau amarah nafsu bukanlah yang menggerakkannya, melainkan amarah untuk Allah dan untuk orang-orang yang tertindas dari segenap hamba-Nya sekaligus untuk menegakkan yang benar.”6

Kemudian dia melanjutkan, “Sebelum sebagai aksi peperangan, jihad merupakan aksi pengorbanan, kesabaran, ketabahan, konsistensi dan keteguhan. Jihad bukan merupakan pertarungan sesaat yang dipengaruhi oleh situasi-situasi dan kejadian-kejadian tertentu melainkan ia merupakan kesiapan terus-menerus dan kesigapan penuh. Untuk kelangsungan ini, umat perlu mengerahkan segenap dayanya dan memobilisasi semua kapasitas sumberdaya manusia dan material. Tentu saja ini tak bisa dilakukan semata-mata oleh sebuah lembaga ketentaraan yang secara khusus berkonsentrasi pada peperangan militer melainkan harus bersandarkan pada bangsa yang kuat dan siap berkorban. Ia harus bertolak dari kehendak seluruh elemen masyarakat berbagai negara dan wilayah. Karena lembaga-lembaga tertentu, betapapun besar dan kuatnya, akan mengalami kelelahan dan karapuhan dalam perlawanan dan konfrontasi yang berkelanjutan ini jika segenap elemen bangsa yang mengiringi dan menopangnya dengan materi dan moral serta yang terpenting adalah kehendak bertempur dan berjuang tanpa kenal lelah dan bosan…Jika jihad kita ini memiliki basis populer, maka kita tidak akan takut terhadap kekuatan apa pun di alam semesta ini, karena kita bangkit untuk Allah dan bangsa kita bangkit untuk Allah. Dan bangsa yang telah bangkit untuk Allah tidak akan takut apapun dan tidak akan terkena bahaya sama sekali.”7

Dari berbagai kutipan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa Khomeini mencoba untuk membangun ideologi jihad yang komprehensif, mencakup dimensi lahiriah dan batiniah manusia, dimensi spiritual dan militer. Namun demikian, dalam berbagai dimensi itu ternyata jihad memiliki unsur-unsur yang sama: perenungan (tafakur) yang dapat disetarakan dengan perencanaan strategis dalam konteks militer; tekad yang dapat disetarakan dengan semangat tempur; pengkondisian diri (musyârathah) yang dapat disetarakan dengan persiapan, penggelaran dan mobilisasi; pengawasan (murâqabah) yang dapat disetarakan dengan koordinasi; dan penilaian diri (muhâsabah) yang dapat disetarakan dengan evaluasi taktis. Persamaan unsur-unsur dalam kedua jihad ini dipertegas oleh Khomeini dalam pemakaian istilah pasukan dalam jihad dimensi lahiriah maupun batiniah. Untuk mempertajam konsep jihad sebagai pertarungan abadi dalam berbagai dimensi ini, Khomeini menulis sebuah buku tebal yang secara khusus membahas masing-masing pasukan dari kedua kubu yang bertempur ini dengan judul Junûd Al-‘Aql wa Al-Jahl (Pasukan Akal dan Kejahilan).8

Hal penting lain yang dapat disimpulkan ialah bahwa jihad bukan merupakan tindakan segelintir orang yang bergerak sporadis tanpa otoritas dari kepemimpinan yang bijak dan responsif, melainkan ia merupakan gerakan Ilahi yang bersumber dari perintah-perintah Rasulullah yang dijalankan oleh sebuah sistem kepemimpinan yang bijaksana dan melanjutkan misi profetik. Kaitan inilah yang melahirkan korelasi ideologi jihad dengan strategi wilâyah al-faqîh dalam gerakan Hizbullah.

Pandangan jihad Imam Khomeini ini kemudian melahirkan apa yang oleh Profesor Jawadi Amuli disebut dengan revolusi cinta Ilahi; sebuah antusiasme dan aktivisme politik yang bermuara pada simpati spiritual dan intelektual yang mendalam. Dalam konteks ini, jihad pada prinsipnya dan pada hakikatnya bukanlah aksi fisik, melainkan aksi spiritual yang secara efektif mengemuka dalam perwujudan material. “Oleh sebab itu, jihad Almarhum Imam (Khomeini) bukanlah kebangkitan seorang manusia merdeka yang menyerukan keadilan sebagaimana ia juga bukan kebangkitan yang timbul dari visi egoistik-individualistik. Kebangkitannya tidak lain merupakan sambutan terhadap himbauan religius dan teks Al-Qur’an serta teladan para manusia suci. Gerakannya merupakan gerakan seorang Muslim yang sepenuhnya sadar bahwa hidup dan matinya bersumber dari satu mataair, yakni Allah SWT.”9

Senada dengan ungkapan Profesor Amuli, Michel Foucault menjelaskannya dalam kerangka spiritualitas politik. Foucault menulis, “Ada persoalan lain menyangkut sudut kecil bumi yang di atas maupun di bawah permukaanya memiliki nilai penting strategis pada tingkat global ini. Bagi masyarakat yang menempati tanah ini, titik pencarian mereka, meski harus dengan mengorbankan nyawa mereka, ialah sesuatu yang kemungkinannya telah kita lupakan sejak Renaisans dan krisis hebat yang menimpa Kristianitas, yakni spiritualitas politik. Saya sudah bisa mendengar orang Perancis tertawa sekarang, tapi saya mengetahui bahwa mereka keliru.”10

B. Jihad menurut Husein Fadhlalah dan Taqi Misbah Yazdi

Husein Fadhlallah, pemikir Islam asal Lebanon yang banyak mengilhami gerakan Hizbullah, menyatakan bahwa Islam adalah “agama jihad yang terus berlangsung di semua medan. Ia berupaya untuk mewujudkan prinsip-prinsip kejayaan, kemuliaan, dan kebebasan (Muslim) dari segenap jenis imperialisme dan perbudakan.”11 Fadhlallah melanjutkan, “Pandangan Syariat (Islam) terhadap jihad tidak terbatas pada aspek instrumental dan operasional (dengan jiwa dan harta), melainkan juga melihat pada aspek ideal dan tujuan yang berkisar pada ‘memerangi orang-orang kafir (harbi) dan pemberontak (bughât)’ serta ‘mengagungkan kalimat Allah dan mendirikan syiar-syiar keimanan.”12

Beliau melanjutkan, “Yang menarik, syariat menuangkan semua persyaratan jihad dengan ungkapan umum yang komprehensif, yakni ‘di jalan Allah’ (fî sabîlillâh). Dengan demikian, ia membuka cakrawala jihad yang lebih luas dari yang sudah secara khusus dimaktubkan dalam Al-Qur’an. Ungkapan ini membuka diskusi ihwal tema jihad dalam ranah baru seluas ranah ‘di jalan Allah’ (fî sabîlillâh).”13

Menurut Fadhlallah, penggunaan istilah jihad dalam Syariat menunjukkan bahwa ia memiliki definisi fungsional. Jihad bukanlah tujuan dalam dirinya sendiri, melainkan sesuatu yang bergantung pada pertimbangan-pertimbangan dasar yang mengikatnya, seperti membela kehormatan diri, ajaran, imam sebagai simbol legitimasi dan sistem atau menjaga keutuhan, kesatuan dan keseimbangan internal komunitas Muslim supaya tidak terjadi perpecahan yang dapat mengguncang unsur-unsur persatuan komunitas dan meluasnya huru-hara yang merusak kerekatan dan keseimbangan sosial. Demikian pula jihad dalam rangka pertimbangan memerangi kaum kafir musyrik atau gerakan musuh akidah yang berfungsi menanggulangi dampak-dampak buruk hubungan tarik-menarik yang berpijak pada pengakuan dan penerimaan timbal-balik atau dalam rangka pertimbangan dakwah membebaskan manusia secara utuh.14

Profesor Taqi Misbah Yasdi berpendapat bahwa jihad dalam pengertian qitâl dalam sejarah Islam senantiasa terjadi sebagai reaksi atas pengkhianatan musuh terhadap perjanjian yang telah disepakati. Rasulullah tidak pernah memulai jihad dengan tujuan untuk dominasi dan ekspansi, melainkan melakukannya karena musuh berkhianat dan tidak bisa dipercaya untuk menjalani hidup bersama dalam sebuah masyarakat atau hidup berdampingan sebagai perkumpulan manusia yang saling menghormati.15

 

1 Khomeini, Ruhullah. (2009). 40 Hadis. Mizan, Bandung. Hal. 2.

2 Ibid. Hal. 2.

3 Ibid. Hal. 3.

4 Ibid. Hal. 3-4.

5 Ibid. Hal. 13.

 

6 Khomeini, Ruhullah. (2011). Khatt Al-Imâm: Idhâat ‘alâ nahj wa fikr al-Imâm Al-Khomeini. Dar Al-Saadah. Beirut. Hal. 43.

7 Ibid. Hal. 44-45.

8 Khomeini, Ruhullah. (2001). Junûd Al-‘Aql wa Al-Jahl. Al-A’lami, Beirut.

9 Amuli, Abdullah Jawadi. (1422 H.). Al-Imâm Al-Khumayni: Tsaurat Al-‘Isyq Al-Ilâhi. Ummul Quro, Lebanon. Hal. 37-38.

10Afary, Janet & Anderson, Kevin B. An excerpt from Foucault and the Iranian Revolution Gender and the Seductions of Islamism. 10 April, 2012. http://www.press.uchicago.edu/Misc/Chicago/007863.html

11 Fadhlallah, Muhammad Hussein. Op.Cit. Hal. 11.

12 Fadhlallah, Muhammad Hussein. Op.Cit. (1996). Hal 15.

13 Ibid. hal. 15.

14 Ibid. hal. 18.

15 Yazdi, Taqi Misbah. (2003). Jang wa Jihad dar Qur’an. 2003. Dar Nasyr Muassasah Imam Khomeini. Qom. Hal. 192.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s