Sekali lagi soal Jihad: Ketegangan antara Teori dan Praktik

Latar Belakang Masalah

Insiden pengeboman dua menara kembar WTC dengan menggunakan pesawat yang terjadi awal milenium lalu mencuatkan kembali polemik ihwal konsep dan praktik jihad menurut Islam. Meski polemik ini telah ada sejak lama dalam khazanah pemikiran Islam, tapi serangkaian peristiwa pasca 11 September yang berpuncak dengan perang saudara di Irak dan Suriah (yang dipandang sebagai jihad oleh sebagian) mengantarkan topik ini dalam konteks yang lebih luas dan lebih serius.

Osama bin Laden, pucuk pimpinan dan ikon al-Qaedah yang menjadi organisasi induk dari berbagai gerakan Islam berbasis ideologi Wahabi, mengakui keterlibatannya dalam peristwa 11 September (CBC, Oktober 2004). Dalam rekaman video lain yang ditayangkan sejumlah jaringan televisi internasional pada tanggal 27 Desember 2001, Osama bin Laden menyatakan bahwa, “Terorisme atas Amerika layak untuk disanjung karena ia merupakan respons terhadap ketidakadilan, bertujuan untuk memaksa Amerika menghentikan dukungannya atas Israel, yang membunuh umat kita.” (CBC, Oktober 2004).

Konsep dan praktik jihad model Al-Qaedah mendapatkan dukungan dari sejumlah tokoh gerakan Islam. Jihad untuk melawan kaum kafir di seluruh dunia merupakan tujuan yang disahkan oleh sejumlah ulama dengan kecenderungan ideologi Wahabi. Salah satu tokoh yang ikut mendukung konsep dan praktik jihad Al-Qaedah adalah Abu Bakar Ba’asyir. Osama bin Laden disebutnya sebagai “pejuang” yang akan masuk surga karena “pengorbanan-pengorbanan besar” yang diberikannya bagi Islam, kata Abu Bakar Ba’asyir beberapa saat setelah kematian Osama bin Laden. Ba’asyir kemudian menyatakan bahwa bin Laden adalah “mujahid besar.” Sekretaris Jenderal Front Pembela Islam (FPI), Ahmad Shobri Lubis, dalam tahlilan mengenang kematian Osama bin Laden di markas syariah FPI menganggap Osama telah mati syahid. (Yahoonews.com, 2011).

Di Indonesia, setahun setelah peristiwa WTC di atas, terjadi peristiwa bom bunuh diri pada malam hari tanggal 12 Oktober 2002 di kota kecamatan Kuta, pulau Bali, Indonesia. Peristiwa ini menelan 202 korban jiwa dan mencederi 209 yang lain, kebanyakan merupakan wisatawan asing. Setelah peristiwa bom bunuh diri di Bali 2002 itu, Indonesia terus mengalami berbagai bom bunuh diri lain, termasuk beberapa kali di Ibukota Jakarta. Otak pelaku maupun para pelaku yang ikut tewas dalam peristiwa itu semuanya mengaku melaksanakan jihad di jalan Allah dalam memerangi orang-orang kafir. (Kompas, Juni 2011).

Namun demikian, di sisi lain, kita menyaksikan sejumlah ulama dan gerakan Islam lain yang menentang konsep dan praktik jihad model Al-Qaidah atau Jamaah Islamiyah ini. Syaikh Yusuf al-Qardhawi dan Muhammad al-Sayyid Thanthawi mengutuk aksi-aksi tersebut. (Situs The American Muslim, 2009).

Pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, Ayatullah Ali Khamenei, dan ulama Syiah Irak, Ayatullah Ali al-Sistani, sama-sama mengutuk aksi tersebut. Al-Sistani bahkan mengeluarkan fatwa yang memerintahkan seluruh Muslim untuk mematuhi hukum yang berlaku di tiap negara yang ditinggalinya. “Setiap Muslim dan Muslimah harus bertindak demi kepentingan tertinggi negara tempat tinggalnya dan menjaganya dari segala tindakan yang membahayakan.”(Situs The American Muslim, 2009).

Yang lebih menarik, menurut catatan Amal Saad- Ghorayeb (2002), dalam hampir semua peristiwa di atas maupun peristiwa-peristiwa serupa yang terjadi pada sasaran-sasaran sipil, Hizbullah Lebanon, sebuah gerakan Islam yang sering diklaim sebagai teroris oleh Amerika Serikat, pemerintah-pemerintah dan media massa Barat, justru selalu memberikan pernyataan kutukan.

Nawaf al-Musawi, ketua departemen luar negeri Hizbullah, Lebanon, secara tegas menolak serangan terhadap warga sipil World Trade Center. Dia mengecam tindakan itu sebagai aksi terorisme. Pernyataan resmi Hizbullah mengutuk aksi Al-Qaeda yang menyasar masyarakat sipil New York, tapi tidak memberikan pernyataan soal serangan ke Pentagon. Hizbullah juga mengutuk rangkaian aksi pembantaian di Aljazair oleh kelompok bersenjata Islam GIA, serangan-serangan Al-Jama’ah Al-Islamiyyah, serangan pada para wisatawan di Mesir, pembunuhan Nick Berg, pengeboman Gereja Koptik di Aleksandria (Situs Muqowama, 2011) dan yang terakhir pengeboman Bandara Moskow. (Amal Saad- Ghorayeb, 2002, hal. 20).

Hasan Nashrullah, sekretaris jenderal Hizbullah, dalam berbagai kesempatan mengutuk aksi-aksi kekerasan terhadap sasaran-sasaran sipil yang mengatasnamakan jihad. Dia juga mengungkapkan bahwa ada perbedaan mendasar antara sasaran-sasaran sipil dan militer di dalam dan di luar Israel. “Di tanah pendudukan Palestina, kita tidak bisa membedakan antara sipil dan tentara, karena mereka semua adalah penjajah, perampok dan perampas tanah.” Sebaliknya, Hizbullah mengutuk keras seluruh aksi kekerasan, terutama bom bunuh diri, yang dilakukan kelompok-kelompok perlawanan bersenjata yang berafiliasi dengan Al-Qaedah di tempat-tempat ibadah dan ruang-ruang publik lainnya, terutama di Gaza, Irak, Pakistan, dan Afghanistan terhadap kelompok-kelompok Muslim yang berbeda mazhab. (Amal Saad- Ghorayeb, 2002, hal. 24).

Hasan Nashrullah, dalam sebuah wawancaranya dengan televisi Al-Manar (Oktober, 2011), menyatakan bahwa musuh utama bangsa Arab dan umat Islam dewasa ini ada tiga: politik Amerika Serikat di Timur Tengah; gerakan Zionis; dan aliran takfiri (al-tayyar al-takfiri) yang cenderung mengkafirkan kelompok-kelompok Muslim di luar lingkaran sempitnya dan mendorong penggunaan senjata dalam merealisasikan program-program politiknya. Oleh karena itu, dia mengajak mayoritas Muslim Ahlus Sunnah, minoritas Muslim Syiah, dan minoritas Kristen di Timur Tengah untuk melawan ketiga musuh itu secara bergandengan tangan. (Situs Al-Manar, 2011).

Perbedaan konsep dan praktik jihad menjadi semakin rumit ketika dikaitkan dengan konsep takfir (pengkafiran) yang secara luas diadopsi oleh gerakan-gerakan Islam Wahabi yang bernaung di bawah Al-Qaedah. Salah satu gerakan jihad yang dibentuk pada tahun 1990-an oleh Abu Mus’ab al-Zarqawi dengan nama al-Tawhid wa al-Jihad dan kemudian bergabung di bawah komando Al-Qaidah dengan jelas melancarkan aksi-aksi kekerasan terhadap mayoritas Muslim Syiah di Irak yang telah dikafirkannya. (Hassan Mneimneh, hal. 2-3).

Dalam pandangan kelompok-kelompok ini, takfir adalah cara efektif untuk mengidentifikasi sasaran jihad yang absah dan merupakan konsep yang khas dari ideologi Wahabi. Konsep inilah yang membawa gerakan-gerakan Islam di bawah metonimi Al-Qaidah memiliki kultur jihad yang sangat eksklusif. Ia tidak mengenal aliansi, koalisi atau sekadar kerjasama dengan kelompok yang tidak sejalan dengan ideologinya. Bahkan, dengan mudah kelompok ini dapat berpecah dan bertikai satu sama lain hanya karena salah satunya berkoalisi dengan kelompok-kelompok di luar lingkaran eksklusif ideologinya.

Di sisi lain, Hizbullah sebagai sebuah organisasi gerakan Islam tidak mengenal diskursus takfir dan dengan demikian tidak bermusuhan dengan kelompok-kelompok Muslim lain. Bahkan, ia menjalin hubungan politik dan strategis dengan kelompok-kelompok sekuler atau penganut-penganut agama lain. Muhammad Fnyasy, anggota legislatif dari fraksi Hizbullah di Parlemen Lebanon, mengecualikan kalangan sekuler yang “menghina prinsip-prinsip dan kesucian-kesucian Islam” atau yang memaksakan sekularisme sebagai ideologi negara.(Amal Saad- Ghorayeb, 2002, hal. 20).

Dalam kenyataannya, Hizbullah selalu melakukan aliansi, koalisi dan kerjasama dengan berbagai kelompok Muslim maupun non-Muslim lain dalam kerangka perjuangan politik dan militernya melawan Israel. Di pentas politik nasional Lebanon, misalnya, Hizbullah menjalin koalisi yang kuat dengan Gerakan Patriotik Merdeka (Free Patriotic Movement atau Al-Thayyar Al-Wathani Al-Hur) yang dipimpin oleh Jenderal Michel Aoun dari Kristen Maronit. Pada tahun 2006, Gerakan Patriotik Merdeka yang sudah berubah menjadi partai politik Maronit terpopuler, menandatangani memorandum kesepahaman dengan Hezbollah. Untuk menghindari sensitivitas dan eksklusivitas dalam istilah jihad, Hizbullah lebih sering menggunakan istilah muqowamah (perlawanan, resistence) dalam pernyataan-pernyataan politiknya.

Implikasi serius lain yang muncul dari perbedaan pandangan dalam penerapan jihad ialah penentuan musuh dan wilayah yang diistilahkan oleh sejumlah teoritisi jihad dengan dar al-harb (wilayah perang) sebagai lawan dari dar al-Islam (wilayah Islam). Dalam konteks ini, kita dapat kembali melihat perbedaan pandangan yang mencolok antara Hizbullah dan Al-Qaedah. Mengikuti teori fiqih Syiah, Hizbullah tidak mengakui dikotomi yang dicetuskan oleh Abu Hanifah dan dikembangkan oleh Ibn Taymiyyah ini. Oleh karena itu, dalam pandangan Hizbullah, tidak terdapat legitimasi untuk mengangkat senjata melawan negara Lebanon. Malah sebaliknya, Hizbullah menuntut penguatan negara Lebanon dalam segala bidang, termasuk bidang militer. (Amal Saad- Ghorayeb, 2002, hal. 40).

Sebaliknya, dalam pandangan gerakan-gerakan Islam Wahabi yang bernaung di bawah organisasi induk al-Qaedah, Lebanon termasuk dalam dar al-harb yang membolehkan diterapkannya jihad melawan negara. Hal ini, misalnya, bisa dilihat dari perilaku Fatah Al-Islam yang berafiliasi dengan Al-Qaedah di Lebanon. Pertempuran antara Fatah Al-Islam dan militer Lebanon di kamp pengungsi Palestina, Nahr Al-Barid, menurut Hassan Mneimneh, pada bulan Mei tahun 2007, menunjukkan jihad model al Qaeda terhadap konsep negara Lebanon. Dari berbagai pengakuan yang diberikan oleh para militan Fatah Al-Islam terungkap adanya rencana untuk mengumumkan berdirinya “imarah” di Lebanon utara dalam rangka mengguncang negara Lebanon. Mneimneh menjelaskan bahwa para pemikir dan ideolog Al-Qaedah mendukung dan memuji Syakir al-Absi, pemimpin Fatah al-Islam kelahiran Yordania yang selamat dari pertempuran tersebut. (Hassan Mneimneh, hal. 15).

Beberapa kasus di atas menggambarkan betapa kompleksnya konsep dan praktik jihad di kalangan gerakan-gerakan Islam, sehingga muncul pertentangan yang ekstrem antara aktor-aktor jihad. Kompleksitas ini sering menimbulkan persepsi yang distorif dan membingungkan tentang jihad dalam opini publik dunia, sehingga sering diidentikkan secara tidak adil dengan terorisme.

Rumusan Masalah

Penelitian ini akan menjawab beberapa pokok persoalan berikut:

  1. Bagaimana diskursus jihad berkembang dalam literatur Islam kontemporer?
  2. Bagaimana gerakan Hizbullah mengembangkan konsep dan praktik jihad dalam segenap aspeknya di Lebanon?
  3. Bagaimana Hizbullah menjalankan roda organisasi dan melahirkan sikap-sikap politiknya berdasarkan konsep jihad yang dianutnya?

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

  1. Menggambarkan tentang jihad sebagai konsep yang menyeluruh dan prinsip Islam yang tidak terbatas pada aspek-aspek militeristik sebagaimana yang selama ini dipersepsi oleh opini publik.
  2. Memberikan gambaran tentang perbedaan konsep jihad yang berkembang di tengah gerakan-gerakan Islam Timur Tengah, khususnya dalam kasus Hizbullah vis-à-vis gerakan-gerakan Islam lain di Lebanon.
  3. Menunjukkan konsep dan praktik jihad Hizbullah dalam berbagai aspek gerakan organisasi perlawanan bersenjata.

Pembatasan Masalah

 

Secara umum, tesis ini akan membahas konsep dan praktik jihad yang berkembang di lingkungan gerakan Islam di Timur Tengah. Secara khusus, tesis ini akan memfokuskan pembahasan pada kasus jihad yang berkembang di dalam gerakan Islam Hizbullah dari tahun 1982-2011 dan gerakan-gerakan Islam lain yang memiliki tendensi ideologi Wahabi seperti Al-Qaedah dan Fath Al-Islam di Lebanon.

Kerangka Konsep

1 Konsep Jihad

Menurut Hussein Fadhlallah (1996, hal. 12), kata jihād berarti “juang”. Kata jihad dalam berbagai derivatnya kerap dipakai dalam dalam al-Qur’an dan sering digunakan dalam ungkapan “berjuang di jalan (jihad fi sabil Allah)”. Kemudian pribadi yang melakukan jihad disebut mujahid. Secara umum, jihad adalah konsep yang memiliki makna, cakupan dan dimensi yang sangat luas dan bertingkat dalam al-Qur’an.

Berikut ini beberapa ayat yang menjelaskan makna jihad. Firman Allah dalam surat At-taubah ayat 41 : Artinya : Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” Dalam surat Al-Hajj ayat 78, Allah berfirman: “Artinya : dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan Jihad yang sebenar- benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia(Allah) telahmenamai kamusekalianorang-orangMuslimdari dahulu[993], dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, Maka Dialah Sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong.” Lalu dalam surat al-Insyiqaq ayat 6, Allah berfirman: Hai manusia, Sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh- sungguh menuju Tuhanmu, Maka pasti kamu akan menemui-Nya.” Bagaimanapun, Al-Qur’an tidak pernah membatasi makna dan cakupan jihad pada satu dimensi semata-mata, melainkan selalu membuka seluruh dimensi dalam berjihad. Jihad dalam arti berperang di jalan Allah diungkapkan secara khusus dengan istilah qital. (Hussein Fadhlallah, 1996, hal. 12).

Dalam sebuah hadis yang sangat terkenal disebutkan bahwa suatu ketika Rasul Saw. melihat pasukan kembali dari sebuah peperangan. Kemudian beliau bersabda, “Selamat datang, wahai orang-orang yang telah melaksanakan jihad kecil dan masih tersisa bagi mereka jihad akbar.” Ketika orang-orang bertanya tentang makna jihad akbar itu, Rasul Saw. menjawab, “Jihad melawan diri sendiri (jihâd al-nafs).”

Berpijak pada hadis ini, literatur spiritual Islam membahas jihâd al-nafs (jihad di dalam diri) sebagai dimensi spiritual dan moral dari jihad yang lebih besar daripada dimensi fisik dan militernya. Berdasarkan hadis ini, Ayatullah Khomeini (2009, hal. 1-32) membangun paradigma jihad yang sangat luas, mencakup aspek batin dan lahirian manusia. Tulisnya, “jihâd al-nafs adalah jihad akbar yang lebih unggul dibandingkan dengan jihad berperang (jihad militeristik) di jalan Allah. Dalam tahap ini, jihad akbar berarti usaha manusia untuk mengendalikan seluruh daya dan kekuatan fisiknya untuk patuh pada semua perintah Allah dan membersihkannya dari seluruh unsur dan pengaruh setan dalam diri kita.

Ibn Rusyd, dalam Muqaddimāt (Morgan, Diane, 2010, hal. 55), membagi jihad dalam empat jenis: “Jihad dengan hati; dengan lidah; dengan tangan dan dengan pedang.” Pembagian ini juga disebutkan dalam sebuah hadis saat berbicara tentang amar makruf nahi munkar, dengan menyebut jihad hati sebagai selemah-lemahnya iman. Muhammad Husein Al-Thabathaba’i (2001, Vol. 3, hal. 126), seorang mufasir Al-Qur’an, menyatakan bahwa “Hakikat jihad yang diperintahkan oleh Allah di sini memiliki pengertian yang luas.”

Husein Fadhlallah (1996), ideolog dan pemimpin spiritual Hizbullah, menyatakan bahwa Islam adalah “agama jihad yang terus berlangsung di semua medan. Ia berupaya untuk mewujudkan prinsip-prinsip kejayaan, kemuliaan, dan kebebasan (Muslim) dari segenap jenis imperialisme dan perbudakan.” Dengan demikian, jihad bukanlah semata-mata perjuangan militeristik sebagaimana yang diklaim oleh Bernard Lewis dalam karya klasiknya, The Political Language of Islam. (1988).

 Konsep Mustadhafin-Mustakbirin

Dalam al-Qur’an kata mustadhaf (yang tertindas) telah disebut berulang-ulang dalam berbagai derivatnya sebagai lawan dari mustakbir. Namun, ayat yang bisa dipakai untuk membangun teori mustadhaf adalah ayat ini: “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).”(QS. 28:5). Ayatullah Khomeini merupakan pemikir dan pemimpin revolusioner yang mengajukan konstruksi teoretis yang komprehensif menyangkut konsep mustadhafin dan mustakbirin. Berbeda dengan dikotomi dar al-islam dan dar al-harb yang merupakan klasifikasi dengan muatan religius yang sarat, dikotomi mustadhafin dan mustakbirin lebih memiliki muatan humanistik. (Saad-Ghorayeb, 2002, hal. 101).

Jihad menurut Ruhullah Khomeini

Berdasarkan hadis masyhur di atas, Ayatullah Khomeini membangun konsep jihad yang komprehensif, mencakup dimensi batin dan lahirian manusia, “Manusia adalah makhluk istimewa yang memiliki dua dimensi dan dua alam: dimensi lahiriah fisik (mulki) dan duniawi, yaitu tubuhnya; dan dimensi batin yang gaib dan malakûti, yang berasal dari alam lain. Jiwa manusia—yang berasal dari alam gaib dan malakût—memiliki beberapa maqâm dan derajat. Jumlah maqâm dan derajat itu biasanya dibagi menjadi tujuh, empat, tiga atau hanya dua.”[1]

Untuk menunjukkan keseiringan jihad batin dengan jihad fisik, Khomeini memakai terminologi peperangan fisik. Dia menulis, “Pada setiap derajat ada sekelompok pasukan khusus. Pasukan Ilahi dan aqlâni (intelektual) menarik jiwa ke arah alam malakût yang tertinggi dan mengajaknya kepada kebahagiaan, sedangkan pasukan setan dan kejahilan menariknya ke arah malakût yang terendah dan mengajaknya kepada kesengsaraan. Selalu ada perseteruan dan pertempuran di antara keduanya, dan manusia adalah medan peperangan dari kedua pasukan itu. Bilamana pasukan Ilahi memperoleh kemenangan, maka manusia akan mendapat kebahagiaan, rahmat dan bergabung dengan para malaikat serta dibangkitkan dalam kelompok para nabi, para wali, dan orang-orang saleh. Akan tetapi, bilamana pasukan setan dan serdadu kejahilan yang memperoleh kemenangan, maka manusia akan mendapat kesengsaraan, kemarahan dan dibangkitkan dalam kelompok para setan, orang-orang kafir dan orang-orang gagal.”[2]

Kemudian beliau menegaskan, “Ketahuilah bahwa tahapan jiwa yang paling rendah adalah eksistensi lahiriah dan duniawi manusia yang mencakup tingkat-tingkat awal perkembangan jiwa dan perwujudan lahiriahnya. Percikan dan sinar Ilahi memancar pada rangka jasmaniah untuk melahirkan eksistensi manusia di bumi ini, serta memberi jiwa kehidupan aksidentalnya dan memperlengkapinya dengan pasukan kebaikan dan keburukan. Dalam tubuh ini, ada kekuatan-kekuatan (fisik) yang terletak di tujuh kawasan (iqlîm), yaitu telinga, mata, mulut, perut, alat kelamin, tangan, dan kaki. Seluruh kekuatan yang tersebar di tujuh wilayah kehidupan itu berada di bawah kendali jiwa yang berada di tahap (maqâm) daya imajinasi (wahm). Daya imajinasi adalah penguasa atas seluruh kekuatan jiwa, yang terlihat maupun tidak. Jika daya imajinasi dapat berkuasa, dengan sendirinya atau dengan bantuan setan, atas seluruh kekuatan lainnya, maka semuanya akan berubah menjadi pasukan setan sehingga kerajaan ini akan sepenuhnya tunduk pada dominasi setan. Dalam keadaan itu, pasukan Ar-Rahmân (Sang Maha Pengasih) dan akal bakal surut dan melarikan diri dari kerajaan ini untuk diserahkan sepenuhnya kepada setan. Adapun bila daya imajinasi dapat ditundukkan oleh akal dan syariat, sehingga seluruh gerak dan diamnya terikat oleh displin, akal dan syariat, maka kerajaan ini akan menjadi kerajaan ruhani dan akal sampai terusirlah seluruh pasukan setan darinya.”[3]

Beliau menyimpulkan, “Dengan demikian, jihad diri adalah jihad akbar yang lebih unggul dibandingkan dengan jihad berperang di jalan Allah. Dalam tahap ini, jihad akbar berarti usaha manusia untuk mengendalikan seluruh daya dan kekuatan fisiknya untuk patuh pada semua perintah Allah dan dibersihkan dari seluruh unsur setan dan kekuatannya dalam diri kita.”[4]

Tahap kedua dari jihad berlangsung di kerajaan (alam) dan dimensi lain, yaitu kerajaan batin dan dimensi malakût (non-fisik). Menurut Khomeini, “Di dalam dimensi batin ini, (kekuatan) pasukan jiwa lebih banyak dan lebih signifikan ketimbang di kerajaan lahiriah atau fisik. Pertarungan dan konflik antara pasukan Sang Rahman dan pasukan setan berlangsung dengan lebih keras dan juga lebih menentukan, sehingga kemenangan dan dominasi di alam itu akan bernilai lebih besar dan lebih penting. Bahkan, semua hasil yang diperoleh di alam lahiriah/fisik berasal dari alam itu dan merupakan manifestasi darinya. Pasukan mana pun yang menang di alam ini—baik pasukan Sang Rahman ataupun pasukan setan—pasti akan menang di alam fisik ini. Oleh karena itu, jihad diri atau perjuangan batin amat penting bagi seluruh guru besar suluk dan akhlak. Tahap ini dapat dipandang sebagai sumber seluruh kebahagiaan atau kesengsaraan, sumber kemajuan dan kemuliaan atau kerendahan dan kehancuran diri.[5]

Lebih lanjut, Khomeini menegaskan, “Jihad merupakan benteng dan perisai Allah yang kukuh…Namun demikian, kewajiban suci ini sebagaimana banyak kewajiban dan konsep Islam lain telah terserang distorsi dan misrepresentasi di masa lalu dan masa kini, terutama pada tataran praktis dan pelaksanaannya. Akibatnya, jihad menjadi identik dengan pedang yang terhunus untuk memuaskan kegemaran sia-sia atau melaksanakan ambisi politik. Banyak aksi anti kemanusiaan yang dibungkus dengan busana jihad dan klaim membela agama, padahal agama Allah, jihad dan agama sungguh jauh dari semua itu. Jihad bukanlah tindakan berperang yang dilakukan sekelompok Muslim demi meraih tujuan-tujuan yang boleh jadi sebagian besarnya merusak, melainkan ia merupakan tindakan berperang di jalan Allah sesuai perintah Allah yang telah ditentukan oleh pimpinan Islam yang bijak sebagai wakil dari Nabi dan Imam maksum dan berpijak pada ajaran-ajaran Islam dan petunjuk-petunjuk Al-Qur’an. Jihad yang yang suci merupakan perang yang berlandaskan tujuan yang benar dengan motif Ilahi yang tulus, dengan niat yang juga tulus di jalan Allah, sehingga motif-motif egois, faktor-faktor sektarian dan golongan maupun kecenderungan-kecenderungan materialis tidak mempengaruhinya. Dengki, iri atau amarah nafsu bukanlah yang menggerakkannya, melainkan amarah untuk Allah dan untuk orang-orang yang tertindas dari segenap hamba-Nya sekaligus untuk menegakkan yang benar.”[6]

Kemudian dia melanjutkan, “Sebelum sebagai aksi peperangan, jihad merupakan aksi pengorbanan, kesabaran, ketabahan, konsistensi dan keteguhan. Jihad bukan merupakan pertarungan sesaat yang dipengaruhi oleh situasi-situasi dan kejadian-kejadian tertentu melainkan ia merupakan kesiapan terus-menerus dan kesigapan penuh. Untuk kelangsungan ini, umat perlu mengerahkan segenap dayanya dan memobilisasi semua kapasitas sumberdaya manusia dan material. Tentu saja ini tak bisa dilakukan semata-mata oleh sebuah lembaga ketentaraan yang secara khusus berkonsentrasi pada peperangan militer melainkan harus bersandarkan pada bangsa yang kuat dan siap berkorban. Ia harus bertolak dari kehendak seluruh elemen masyarakat berbagai negara dan wilayah. Karena lembaga-lembaga tertentu, betapapun besar dan kuatnya, akan mengalami kelelahan dan karapuhan dalam perlawanan dan konfrontasi yang berkelanjutan ini jika segenap elemen bangsa yang mengiringi dan menopangnya dengan materi dan moral serta yang terpenting adalah kehendak bertempur dan berjuang tanpa kenal lelah dan bosan…Jika jihad kita ini memiliki basis populer, maka kita tidak akan takut terhadap kekuatan apa pun di alam semesta ini, karena kita bangkit untuk Allah dan bangsa kita bangkit untuk Allah. Dan bangsa yang telah bangkit untuk Allah tidak akan takut apapun dan tidak akan terkena bahaya sama sekali.”[7]

Dari berbagai kutipan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa Khomeini mencoba untuk membangun ideologi jihad yang komprehensif, mencakup dimensi lahiriah dan batiniah manusia, dimensi spiritual dan militer. Namun demikian, dalam berbagai dimensi itu ternyata jihad memiliki unsur-unsur yang sama: perenungan (tafakur) yang dapat disetarakan dengan perencanaan strategis dalam konteks militer; tekad yang dapat disetarakan dengan semangat tempur; pengkondisian diri (musyârathah) yang dapat disetarakan dengan persiapan, penggelaran dan mobilisasi; pengawasan (murâqabah) yang dapat disetarakan dengan koordinasi; dan penilaian diri (muhâsabah) yang dapat disetarakan dengan evaluasi taktis. Persamaan unsur-unsur dalam kedua jihad ini dipertegas oleh Khomeini dalam pemakaian istilah pasukan dalam jihad dimensi lahiriah maupun batiniah. Untuk mempertajam konsep jihad sebagai pertarungan abadi dalam berbagai dimensi ini, Khomeini menulis sebuah buku tebal yang secara khusus membahas masing-masing pasukan dari kedua kubu yang bertempur ini dengan judul Junûd Al-Aql wa Al-Jahl (Pasukan Akal dan Kejahilan).[8]

Hal penting lain yang dapat disimpulkan ialah bahwa jihad bukan merupakan tindakan segelintir orang yang bergerak sporadis tanpa otoritas dari kepemimpinan yang bijak dan responsif, melainkan ia merupakan gerakan Ilahi yang bersumber dari perintah-perintah Rasulullah yang dijalankan oleh sebuah sistem kepemimpinan yang bijaksana dan melanjutkan misi profetik. Kaitan inilah yang melahirkan korelasi ideologi jihad dengan strategi wilâyah al-faqîh dalam gerakan Hizbullah.

Pandangan jihad Imam Khomeini ini kemudian melahirkan apa yang oleh Profesor Jawadi Amuli disebut dengan revolusi cinta Ilahi; sebuah antusiasme dan aktivisme politik yang bermuara pada simpati spiritual dan intelektual yang mendalam. Dalam konteks ini, jihad pada prinsipnya dan pada hakikatnya bukanlah aksi fisik, melainkan aksi spiritual yang secara efektif mengemuka dalam perwujudan material. “Oleh sebab itu, jihad Almarhum Imam (Khomeini) bukanlah kebangkitan seorang manusia merdeka yang menyerukan keadilan sebagaimana ia juga bukan kebangkitan yang timbul dari visi egoistik-individualistik. Kebangkitannya tidak lain merupakan sambutan terhadap himbauan religius dan teks Al-Qur’an serta teladan para manusia suci. Gerakannya merupakan gerakan seorang Muslim yang sepenuhnya sadar bahwa hidup dan matinya bersumber dari satu mataair, yakni Allah SWT.”[9]

Senada dengan ungkapan Profesor Amuli, Michel Foucault menjelaskannya dalam kerangka spiritualitas politik. Foucault menulis, “Ada persoalan lain menyangkut sudut kecil bumi yang di atas maupun di bawah permukaanya memiliki nilai penting strategis pada tingkat global ini. Bagi masyarakat yang menempati tanah ini, titik pencarian mereka, meski harus dengan mengorbankan nyawa mereka, ialah sesuatu yang kemungkinannya telah kita lupakan sejak Renaisans dan krisis hebat yang menimpa Kristianitas, yakni spiritualitas politik. Saya sudah bisa mendengar orang Perancis tertawa sekarang, tapi saya mengetahui bahwa mereka keliru.”[10]

Jihad menurut Husein Fadhlalah dan Taqi Misbah Yazdi

Husein Fadhlallah, pemikir Islam asal Lebanon yang banyak mengilhami gerakan Hizbullah, menyatakan bahwa Islam adalah “agama jihad yang terus berlangsung di semua medan. Ia berupaya untuk mewujudkan prinsip-prinsip kejayaan, kemuliaan, dan kebebasan (Muslim) dari segenap jenis imperialisme dan perbudakan.”[11]  Fadhlallah melanjutkan, “Pandangan Syariat (Islam) terhadap jihad tidak terbatas pada aspek instrumental dan operasional (dengan jiwa dan harta), melainkan juga melihat pada aspek ideal dan tujuan yang berkisar pada ‘memerangi orang-orang kafir (harbi) dan pemberontak (bughât)’ serta ‘mengagungkan kalimat Allah dan mendirikan syiar-syiar keimanan.”[12]

Beliau melanjutkan, “Yang menarik, syariat menuangkan semua persyaratan jihad dengan ungkapan umum yang komprehensif, yakni ‘di jalan Allah’ (fî sabîlillâh). Dengan demikian, ia membuka cakrawala jihad yang lebih luas dari yang sudah secara khusus dimaktubkan dalam Al-Qur’an. Ungkapan ini membuka diskusi ihwal tema jihad dalam ranah baru seluas ranah ‘di jalan Allah’ (fî sabîlillâh).”[13]

Menurut Fadhlallah, penggunaan istilah jihad dalam Syariat menunjukkan bahwa ia memiliki definisi fungsional. Jihad bukanlah tujuan dalam dirinya sendiri, melainkan sesuatu yang bergantung pada pertimbangan-pertimbangan dasar yang mengikatnya, seperti membela kehormatan diri, ajaran, imam sebagai simbol legitimasi dan sistem atau menjaga keutuhan, kesatuan dan keseimbangan internal komunitas Muslim supaya tidak terjadi perpecahan yang dapat mengguncang unsur-unsur persatuan komunitas dan meluasnya huru-hara yang merusak kerekatan dan keseimbangan sosial. Demikian pula jihad dalam rangka pertimbangan memerangi kaum kafir musyrik atau gerakan musuh akidah yang berfungsi menanggulangi dampak-dampak buruk hubungan tarik-menarik yang berpijak pada pengakuan dan penerimaan timbal-balik atau dalam rangka pertimbangan dakwah membebaskan manusia secara utuh.[14]

Profesor Taqi Misbah Yasdi berpendapat bahwa jihad dalam pengertian qitâl dalam sejarah Islam senantiasa terjadi sebagai reaksi atas pengkhianatan musuh terhadap perjanjian yang telah disepakati. Rasulullah tidak pernah memulai jihad dengan tujuan untuk dominasi dan ekspansi, melainkan melakukannya karena musuh berkhianat dan tidak bisa dipercaya untuk menjalani hidup bersama dalam sebuah masyarakat atau hidup berdampingan sebagai perkumpulan manusia yang saling menghormati.[15]

2. Daftar Referensi

2.1 Buku

  • Al-Nablusi, Syakir (2007). Bin Laden wa Al-Aql Al-Araby. Irak: Mansyurat Al-Jamal.
  • Al-Agha, Yusuf. (2008). Hizbullah: Al-Tarikh Al-Idyulujy wa Al-Siyasi. (Nadin Nashrullah). Irak: Dirasat Iraqiyyah.
  • Aytani, Fida. (2008). Al-Jihadiyyun fi Lubnan: Min Quwwat Al-Fajrila Fath Al-Islam”. Beirut: Al-Saqi.
  • Fadhlallah, Muhammad Hussein. (1986). Khuthuwat ala Thariq Al-Islam. Beirut: Dar Al-Milak.
  • Fadhlallah, Muhammad Hussein. (1996). Kitab Al-Jihad. Beirut: Dar Al-Milak.
  • Khomeini, Ruhullah. (2009). 40 Hadis, (Edisi II). Bandung: Mizan.
  • Lewis, Bernard. (1988). The Political Language of Islam, Chicago
  • Muthahhari, Murtadha. (1992). Al-Hijrah wa Al-Jihad. Beirut: Al-Majjah Al-Baydha.
  • Peorwandari, E. Kristi (2011). Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku Manusia. (Edisi Ke-4). Indonesia: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
  • Saad-Ghorayeb, Amal. (2002). Hizbullah: Politics and Religion. London: Pluto Press.
  • Thabathabai, Muhammad Hussein. (1999). Al-Mizan fi Tafsir Al-Quran. Qom: Dar Al-Ihsan.
  • Qassem, Naim. (2008). Blueprint Hizbullah: Rahasia Manajemen Ormas Islam Tersukses di Dunia. Jakarta: Ufuk Press.

2.2 Publikasi Elektronik


[1] Khomeini, Ruhullah. (2009). 40 Hadis. Mizan, Bandung. Hal. 2.

[2]  Ibid. Hal. 2.

[3] Ibid. Hal. 3.

[4] Ibid. Hal. 3-4.

[5] Ibid. Hal. 13.

[6] Khomeini, Ruhullah. (2011). Khatt Al-Imâm: Idhâat alâ nahj wa fikr al-Imâm Al-Khomeini. Dar Al-Saadah. Beirut. Hal. 43.

[7]  Ibid. Hal. 44-45.

[8] Khomeini, Ruhullah. (2001). Junûd Al-Aql wa Al-Jahl. Al-A’lami, Beirut.

[9] Amuli, Abdullah Jawadi. (1422 H.). Al-Imâm Al-Khumayni: Tsaurat Al-Isyq Al-Ilâhi. Ummul Quro, Lebanon. Hal. 37-38.

[10]Afary, Janet & Anderson, Kevin B. An excerpt from Foucault and the Iranian Revolution Gender and the Seductions of Islamism.  10 April, 2012. http://www.press.uchicago.edu/Misc/Chicago/007863.html

[11] Fadhlallah, Muhammad Hussein. Op.Cit. Hal. 11.

[12] Fadhlallah, Muhammad Hussein. Op.Cit. (1996). Hal 15.

[13] Ibid. hal. 15.

[14] Ibid. hal. 18.

[15] Yazdi, Taqi Misbah. (2003). Jang wa Jihad dar Quran. 2003. Dar Nasyr Muassasah Imam Khomeini. Qom. Hal. 192.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s