Polisi Tidur yang Buat Publik Tak Bisa Tidur

Bagi para pembaca yang tinggal di Jakarta dan sekitar serta kota-kota besar lainya, sesekali cobalah hitung sendiri berapa jumlah polisi tidur yang musti dilewati semenjak berangkat dari rumah hingga ke tempat kerja! Dan pernahkah pula menghitung kerugian ekonomis dari kendaraan yang dimiliki akibat menghantam polisi tidur itu setiap bulannya?

Sepanjang yang saya ketahui, belum ada sebuah penelitian mengenai dampak ekonomis masyarakat akibat keberadaan polisi tidur. Pun tanpa ada penelitian akibat berantainya sudah jelas: mulai dari ausnya suku cadang kendaraan bermotor, borosnya bahan bakar akibat sering mengerem dan berganti gigi, kurang lancarnya mobilitas perekonomian (sektor riil) masyarakat dan sebagainya.

Kalau mau tunjuk hidung, pihak yang menangguk untung besar (samar-samar atau terang benderang) dari keberadaan polisi tidur ini yakni pabrikan kendaraan bermotor. Penjualan suku cadang (spare parts) mereka laku keras. Cobalah amati bengkel-bengkel kendaraan bermotor setiap akhir pekan: penuh dengan kendaraan yang antri untuk diservis. Disamping kondisi prasarana dan sarana jalan yang jelek, polisi tidur sedikit atau banyak turut andil dalam memperpendek usia komponen-komponen kendaraan bermotor itu.

Dari keberadaan polisi tidur, kita dapat menangkap gambaran betapa rusaknya basis sosial masyarakat yang seharusnya mengandaikan adanya kesadaran masing-masing warganya untuk tahu dan taat aturan. Polisi tidur, juga mengungkapkan bahwa tidak ada lagi kepercayaan atas kesadaran masing-masing warga. Semua orang dianggap tidak tahu diri dan aturan, maka perlu dipaksa supaya sadar aturan.

Di samping itu, keberadaan polisi tidur adalah cerminan betapa kita di alam kemerdekaan ini telah gagal menjadi manusia Indonesia yang berdiplin dan bertanggung jawab di jalan. Kegagalan ini juga sebagai indikator bahwa kita belum siap sebagai bangsa yang maju dan modern. Jika soal berlalu-lintas saja kita masih “semrawut” seperti saat ini, kesampingkan dulu kemauan menjadi bangsa maju dan modern.

Karena bangsa yang maju dan modern bukan diukur secara kulit luarnya saja, namun ukurannya lebih pada substansi dan esensi. Yakni penghargaan kita sebagai sesama makhluk sosial yang berketuhanan dan berkemanusian yang adil dan beradab!

Nilai-nilai itu telah menjadi dasar negara, namun kita senantiasa alpa mempraktekkannya dalam kehidupan nyata. Salah satu contohnya, yakni dalam hal kesantunan kita berlalu lintas. (ERY-BP)

 

Sumber: http://beritaprotes.com/2014/04/mimpi-buruk-polisi-tidur/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s